Aal Izz Well


This is my unusual holiday.

Ya, liburan yang tak seperti biasanya. Biasanya aku akan pulang kampung, ke kota metropolitan tempat ayah berdomisili 5 tahun terakhir ini. Tinggal di rumah yang nyaman, dengan makanan lezat dan suasana hangat.

Menghabiskan waktu dengan berbelanja, bermain dengan kerabat jauh di sana. Semuanya berbau hedonisme. Anggap saja hiburan sejenak, pelarian, pelepasan dari tekanan selama satu semester belakangan.

Ya, rutinitas yang membosankan, kata seorang teman.

Kali ini ada sedikit perubahan, liburan yang biasa menjadi tak biasa. Tak ada pulang kampung, tak ada suasana hangat, tak ada hedonisme. Aku sendiri. Entah kesepian atau tidak, aku sendiri.

Bangun, mandi, bercengkerama dengan notebook, makan, mandi, bercengkerama dengan notebook (kembali), mungkin makan, lalu tidur. Sesekali disela sedikit obrolan formalitas di depan televisi ruang keluarga. Perkara keluar rumah, bukannya dilarang. Hanya, menurut kebiasaan, alangkah baiknya tidak dilakukan kecuali ada keperluan mendesak. Keadaan seperti ini, hmm, juga tak bisa disebut tidak membahagiakan, karena akupun kadang cukup betah mengasingkan diri.

Ya, sekali lagi rutinitas yang membosankan, kata seorang teman lainnya.

Kali ini, aku ingin berbagi cerita. Ada hal menarik yang kualami. Dimulai saat kelelahan dan kurang tidur akibat menonton pertandingan final Piala Dunia 2010, 2 hari berikutnya aku terbangun dengan mata berkunang-kunang. Mungkin tekanan darah yang drop, atau kadar gula yang drop, entahlah itu tak penting disebutkan dalam cerita. Berlanjut sarapan dengan makanan yang mungkin kurang higienis sehingga hari naas itu ditutup dengan diare, mual, dan demam.

My mom told me to take some medicine and go to sleep, but I can’t. I had slept all day long the day before and this day I wanted to do something useful, at least for myself. So I decided to turn on my notebook, downloaded some movies and watched some old movies while waiting for the finished movie downloads.

I chose a Korean movie “A Moment to Remember” and a Hindi movie “3 Idiots”. I kept those movies on my hard disk but I never had a spare time to watch it. Siang itu dimulai dengan menonton film dan berakhir dengan air mata (what a drama queen).

A Moment to Remember

(A Moment to Remember)

3 Idiots

(3 Idiots)

Ya, air mata.

“Berlebihan!” Itukah isi pikiranmu? Tolong segera tepis pikiran negatif tersebut dari otakmu, karena aku tak sedang menangis karena terbawa suasana film. Jika kaukira sisi sensitifku sedang tersentuh karena menonton film romantis, tolong segera tampar pipimu, agar pikiran menyedihkan tersebut lenyap.

Aku menangis karena tersadar seberapa jauh sudah kaki ini melenceng dari jalan impian yang kurangkai dengan susah payah. Ibarat Rancho yang selalu berkata “All Izz Well” yang makin lama makin tertekan. Aku bukan Rancho maupun orang yang terinspirasi oleh Rancho. Aku hanya sedang tertekan, sedang berusaha lari, menghibur diri dengan tawa, melakukan hal konyol, dan berkata “Aal Izz Well”.

Rancho (3 Idiots), played by Aamir Khan

(Rancho, dari 3 Idiots, diperankan oleh Aamir Khan)

Yes, I’m not well, definitely not well. Kerangka yang dibangun susah payah dengan “all is well” berakhir dengan “unwell”. Why? I am not well, because I’m too scared and not confident.

Jika kita berjalan mengikuti arah yang kita yakini, dan kita berusaha seoptimal mungkin (constructively), meskipun keadaan saat itu terlihat kurang kondusif dan realistis, percayalah bahwa kesuksesan pasti akan mengikuti kita, dan ya, kesuksesan benar mengikuti kita.

Setelah kutentukan arah yang kuyakini, justru di titik itulah kepercayaanku sedikit demi sedikit terkikis oleh realita. Tanpa sadar, kekhawatiran dan ke-tidak-percaya-diri-an mengarahkan realita untuk menekanku (padahal seharusnya realita menjadi bahan pembelajaran).

Itulah yang terjadi selama ini. Realita bahwa hidup tidak cukup hanya dilalui dengan kesenangan hari ini membuatku tertekan. Raut muka bahagia orangtua pun membuatku tertekan. Memang benar, materi akan membuat kita bahagia, tetapi kebahagiaan tidak terbatas diukur dengan materi. Toh orangtuaku tidak akan bahagia jika mengetahui putrinya memberi mereka kemewahan dengan diliputi tekanan. I do realize it but don’t know why I keep living my life that way.

Ada satu hal lagi. Entah sejak kapan aku berubah jadi penyombong, tak lagi bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Terlepas dari masalah tekanan, perubahan ini datang dari dalam diri. Greediness, ketamakan. Juga kelicikan. Entah sudah seberapa hitam isi hati ini.

Entah berapa lama waktu yang masih tersisa untuk meminta maaf, bersyukur, dan berterima kasih, akan kuusahakan seoptimal mungkin. I love myself. I love all the things I have, all the things I’ve done. I love all the people around me. And I thank God who has arranged this kind of life for me.

Ini pembelajaran baru bagiku, sekaligus penyadaran. Tentang hidup, tentang pola pikir, tentang persahabatan, tentang kebahagiaan. Aal Izz Well.

Sumber gambar:

http://yesasia.com

http://parapenonton.blogspot.com

http://renalapaisano.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s