Apa dan Mengapa, lalu Bagaimana


Apa yang membuatku perlu memahamimu ?

Apa yang membuatku perlu memaafkanmu ?

Dan apa yang membuatku (masih) perlu peduli terhadapmu ?

Tak ada. Baru saja kuputuskan, tak ada. Tak ada lagi. Dan takkan pernah ada lagi. Selanjutnya aku takkan pernah kembali menjadi seperti dulu lagi. Karena sesungguhnya hidup ini hanya berjalan sekali dan waktu takkan pernah bisa diputar kembali.

Ya, waktu takkan pernah bisa berbalik mundur. Meski seringkali dipaksa dan diharap-harap mundur, namun waktu tak pernah melakukannya, demikian pula diriku. Betapapun inginnya aku kembali menoleh ke belakang, merangkai serpihan masa lalu, kemungkinan terjadinya hal ini hampir sama besar dengan kemungkinan bertelurnya sapi.

Dan kalaupun suatu saat nanti tiba-tiba aku menoleh ke belakang, andaipun aku mengalah pada entah hal apa yang menunggu di depan sana, lalu terengah mengais tanah mencari serpihan masa lalu yang semburat di sana, toh akupun belum tentu berhasil merangkainya kembali. Besar kemungkinan serpihan itu sudah hancur serapuh debu, beterbangan ke sana kemari menyatu dengan udara yang kuhirup sehari-hari, tak mungkin dirangkai kembali.

Entah sudah berapa lama aku memendam pemikiran ini dalam hati, bergulat dengan tanya, dan bergelut sendiri dalam ketidakpastian. Ingin berbuat sesuatu namun tak yakin seberapa baik tindakanku ini akan memberi dampak pada orang-orang di sekitarku.

Sering aku menjerit sendiri dalam hati saat melihat ia, orang yang memang paling banyak menerima dampak dari keputusanku ini, menderita dan perlahan semakin mengalami kemunduran. Kemajuan yang dialaminya selama 1 semester kemarin dengan susah payah sekarang beranjak hancur dengan kecepatan yang luar biasa. Hal ini tak hanya dirasakan olehnya, aku yakin itu, tetapi juga dirasakan semua orang yang ada di sekitar kami.

Tetapi hidup hanyalah sekumpulan pilihan – pilihan yang harus kita ambil. Memilih satu hal berarti mengorbankan lain hal. Masing – masing ada manfaat dan resikonya. Dan inilah pilihannya, juga pilihanku. Inilah pilihan kami, resiko yang harus kami pikul bersama.

Bukan berarti aku tak menyayanginya. Justru pilihan ini kuambil karena aku menyayanginya. Aku harus membuatnya belajar memahami bahwa dia bukan anak kecil lagi yang akan selalu kumanjakan bak pangeran. Mungkin sekaranglah saatnya aku mundur dan cukup memerhatikanmu dari kejauhan. Diam-diam membantumu dan menghilang sebelum sempat kausadari aku pernah datang.

Ini bukan soal apa ataupun mengapa. Sudah bukan jamannya lagi kita bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi ataupun mengapa semua ini terjadi. Mengapa semua ini terjadi padaku ataupun apa salahku hingga semua jadi seperti ini. Ini adalah masalah bagaimana. Bagaimana kita menyikapi hal yang sudah terlanjur panjang seperti ini.

Apa aku masih mencintaimu ? Entahlah. Aku tak tahu apakah cinta masih merupakan kata yang cocok untuk menggambarkan rantai yang erat membelit kita akhir-akhir ini.

Apa aku masih menyayangimu ? Iya, aku tetap menyayangimu dan akan selalu begitu. Aku akan selalu ada di belakangmu dan mendukungmu. Cukup aku yang perlu tahu hal ini, kau tak perlu menyadari keberadaanku.

Ini adalah masalah bagaimana. Bagaimana aku memaklumi keenggananmu mengungkapkan perasaanmu dan rencana-rencanamu tentang semua ini kepadaku. Bagaimana aku harus menghadapimu selanjutnya. Bagaimana aku bisa mengerti berbagai macam tindakan irrasional yang dilakukan berbagai macam orang di sekitarku. Bagaimana aku menyikapi situasi ini dengan caraku sendiri, untuk diriku sendiri, dan untukmu.

Kalaupun sempat terbersit kekhawatiran di benakmu, tenanglah, sesungguhnya aku tak pernah benar-benar meninggalkanmu :)

 

Sumber gambar: http://malikazir.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s