Cokelat


“ DUK ! “

“ Aduh, eh. Sakit? “

“ Dikit sih. Tapi ngga apa kok.”

“ Kenalin, gue Leoni.”

“ Gue Adam. Eh lo anak teater, ya ? “

“ Kok tahu ? Dari pin gue, ya ? “

“ He-eh, temen gue anak teater juga.”

Begitulah, awal perkenalan Leoni dengan Adam. Singkatnya, mereka jadi semakin dekat dan 3 bulan kemudian mereka jadian. Suatu hari, Adam mengajak Leoni makan malam untuk merayakan suksesnya pementasan teater Leoni.

“ Le, kamu pake baju warna cokelat ya. Soalnya cokelat itu warna favoritku. Aku pingin kamu pake baju warna cokelat di candle light dinner pertama kita.”

“ Oke deh. Nanti malem jemput jam 7, ya.”

***

Makan malam itu berjalan lancar. Leoni senang sekali. Malam itu sikap Adam sangat romantis dan pada malam itu juga, Leoni mendapatkan ciuman pertamanya dengan Adam.

“ Le, kamu seneng nggak ? “

“ Seneng, seneng banget. Aku jadi makin sayang sama kamu.”

“ Nih, buat kamu.”

“ Apaan nih ? Cokelat ? Kamu bener – bener maniak cokelat ya ? “

“ Dimakan dong, masa diliatin melulu.”

“ Oke deh.”

Cokelat itu terasa manis. Benar – benar manis. Semanis senyuman Adam yang membuat Leoni bertekuk lutut.

“ Dam, aku kok jadi ngantuk ya ? Nanti kalo dah nyampe rumah, tolong bangunin ya ? “

Adam tidak menjawab. Tanpa sepengetahuan Leoni, dia tersenyum sinis.

***

“ Aduh pusing banget. Di mana nih ? Dam, kamu di mana ? Duh, dingin banget lagi. Aw, aw, sakit banget.”

Leoni merasakan sakit yang teramat sangat pada bagian bawah perutnya. Perlu waktu beberapa menit untuk menyadari bahwa sekarang ia ada di suatu rumah reyot dengan keadaan setengah telanjang dan tidak membawa apapun. Adam sudah tidak ada lagi disampingnya.

Leoni berteriak – teriak memanggil Adam. Sekuat tenaga, ia berusaha bangkit berjalan tertatih – tatih untuk mencari Adam. Tapi Leoni tidak dapat menemukannya. Ia hanya menemukan sepucuk surat di dekat tempatnya terbaring tadi.

Dear Leoni,

Waktu kamu bangun, kamu pasti nyariin aku. Aku kasih tahu ama kamu, jangan pernah nyariin aku lagi. Aku mau ngucapin terima kasih buat semua yang udah kamu kasih ke aku.

Bodi kamu bagus juga. Coba daftar foto model aja. Pasti laku. Hp kamu, perhiasan kamu, dompet kamu, secepatnya aku jual. Kamu bisa cari di rumah – rumah gadai, kalo kamu masih niat dapetin barang – barang kamu lagi.

Apa lagi ya ? Oh iya, ini aku tinggalin 100 ribu buat ongkos pulang sisanya buat beli test pack sama obat anti hamil, soalnya aku udah agak lama nggak nidurin cewek jadi mungkin tadi agak kelewat nafsu.

Sekali lagi aku ucapin terima kasih. Aku juga ninggalin ktp kamu, sim card, sama kartu telfonmu, kali aja kamu butuh. Thanks ya.

Dari Adam, yang pernah menyukaimu

Leoni membatu. Ia tak menyangka Adam tega merusaknya.

“ ADAM………….”

Semenit kemudian, Leoni ambruk.

***

Leoni tersadar di suatu tempat asing. Sepertinya di rumah sakit. Tapi ia tak bisa bergerak ataupun bicara. Ia hanya bisa mendengar suara Mamanya.

“ Leoni, Leoni sayang. Ini Mama, nak. Kamu sudah sadar, nak ? Le, Le, ayo bicara. Bicara sama Mama, sayang.”

Isak tangis Mama menyayat hati Leoni. Tapi Leoni tidak mampu berkata apa – apa. Lidahnya membatu. Ia hanya dapat menitikkan air mata.

“ Le, kenapa menangis sayang ? Dokter, Dokter, sebenarnya ada apa dengan anak saya ?“

“ Begini, Nyonya. Putri Anda mengalami trauma dan shock berat. Menurut hasil visum, putri Anda telah diperkosa.”

“ Apa ? Tidak mungkin. Tidak mungkin ! “

Leoni memang tidak dapat bergerak maupun berbicara. Tapi ia dapat mendengarkan percakapan Mamanya dengan dokter. Dan begitu mendengar kata ‘diperkosa’, emosinya langsung memuncak. Leoni mengamuk, mengagetkan dokter dan Mama. Lalu dokter itu menyuntik tubuhnya. Tubuhnya terasa lemas dan mengantuk.

***

Leoni kembali tersadar. Kali ini di sebuah tempat dengan banyak tempat tidur. Ia sudah bisa bergerak. Ia bangun dari tempat tidur dan mencoba memanggil Mamanya, tetapi tidak terdengar apapun. Ia masih belum bisa berbicara. Ia berjalan keluar kamar, menyusuri koridor, lalu masuk ke suatu ruangan besar. Di dalamnya banyak orang – orang aneh. Ada yang duduk diam di pojok, ada yang berjalan sambil menggumamkan kata – kata tidak jelas, ada yang menghampiri Leoni kemudian mencoba memeluknya. Hal itu membuatnya teringat pada Adam. Leoni emosi lalu mendorong orang itu sampai jatuh. Orang itu lari ketakutan. Leoni terkejut ketika tiba – tiba ada orang yang menyentuh bahunya.

“ Maaf, kamu pasti Leoni. Kamu pasien baru di sini, ya ? Pasti kamu belum mengenalku. Namaku Indra. Panggil saja Dokter Indra.”

Hah, Adam. Tidak ! Aku harus pergi ! Trauma yang begitu berat membuat semua lelaki terlihat mirip dengan Adam di mata Leoni. Hal itu membuatnya ketakutan.

Leoni berlari. Berlari sekencang mungkin meninggal Dokter Indra yang sedang kebingungan. Ia kembali ke tempat tidurnya. Ia membaringkan diri, berusaha untuk tidur dan menganggap semua ini hanya mimpi buruk.

***

Dokter Indra masih melongo menyaksikan kepergian Leoni sampai teriakan salah satu pasien menyadarkannya. Ia menghampiri pasien tersebut lalu menenangkannya. Setelah itu, Dokter Indra berjalan menuju ruang prakteknya. Dilihatnya arsip milik pasien yang bernama Leonora Hadikusuma.

“ Trauma psikologis berat akibat perkosaan. Hmmm korban perkosaan rupanya.”

Dokter Indra menghela napas panjang. Teringat di benaknya, wajah Sissy, pacarnya yang telah tiada. Sissy meninggal karena bunuh diri setelah diperkosa kakak tirinya. Membayangkan sosok Leoni serasa melihat bayang – bayang Sissy. Tapi Dokter Indra tahu, Leoni bukan Sissy. Dan Dokter Indra sadar, ia ada di sini agar tidak ada lagi orang yang bernasib tragis seperti Sissy.

Dokter Indra tak putus asa berusaha mendekati Leoni. Semula memang berat. Tiga bulan pertama, Leoni selalu lari, berteriak – teriak, bahkan pernah berusaha melukai Dokter Indra. Tapi setelah Dokter Indra membawa Mama Leoni bersamanya, perlahan – lahan Leoni mulai mau diajak bicara.

Ternyata selama ini Leoni sangat merindukan orang – orang terdekatnya. Leoni yang mengalami depresi berat malah dijauhkan dari orang – orang yang disayanginya. Hipotesis Dokter Indra ini terbukti dengan adanya kemajuan yang dialami Leoni setelah satu persatu orang – orang terdekatnya mengunjunginya.

Tak terasa sudah setahun berlalu. Banyak sekali perubahan yang terjadi pada diri Leoni. Ia sudah terlihat sangat normal. Seperti tak pernah terjadi sesuatu padanya. Sekarang ia menjadi kekasih Dokter Indra. Leoni terlihat sangat bahagia. Bahagia untuk yang kedua kalinya.

***

Malam itu Dokter Indra mengajak Leoni makan malam bersama orangtua Dokter Indra. Makan malam bersama calon mertua itu berjalan lancar. Kedua orangtua Dokter Indra sangat ramah dan tampaknya mereka menyukai Leoni. Bahkan mereka menyarankan agar Leoni dan Dokter Indra segera bertunangan.

Tiba saatnya pulang. Orangtua Dokter Indra pulang dengan mobil mereka sendiri, sementara Dokter Indra mengantar Leoni.

“ Le, tolong ambilin sepatu ketsku di bagasi dong.”

“ Ye, males ah. Ambil sendiri dong,” Leoni menolak sambil memasang tampang kecut. Ia heran, tidak pernah ada mantan – mantan Leoni sebelumnya yang minta tolong padanya. Leoni tiba – tiba teringat Adam. Ah, Adam. Apa kamu masih ingat aku ? Tidak, tidak boleh. Aku tidak boleh mengingatnya. Leoni segera menepis ingatan tentang Adam dari benaknya.

“ Ya ampun Leoni. Minta tolong gitu aja nggak mau. Males banget sih kamu. Pake ngelamun lagi.”

“ Iya deh, aku ambilin.” Akhirnya leoni mengalah.” Mana ? Nggak ada tuh. Yang ada cuman bungkusan kado. Buat siapa nih ? “

“ Coba buka deh. Kali aja sepatu ketsku ada di dalemnya.”

“ Oke. Bungkusnya tebel banget sih. Nggak ada tuh sepatu ketsnya. Yang ada cuman, ya ampun Indra…..”

Dokter Indra sudah ada di sampingnya sambil tersenyum penuh harap. “ Gimana ? Kamu suka surpriseku ini ? Cincinnya bagus nggak ? And would you marry me ? “

“ Ya ampun, Indra. Aku nggak nyangka. Aku bener – bener bahagia. Aduh, aku nggak bisa ngomong apa – apa. “ Leoni langsung memeluk Dokter Indra, kemudian membisikkan kata – kata ‘ I do ‘ di telinganya.

Sepasang sejoli yang sedang dilanda kebahagiaan itu kembali ke dalam mobil.

“ Cincin itu cocok banget di tangan kamu. Nanti di rumah langsung kasih tahu Mama – Papa tentang rencana pernikahan kita, ya.”

“ Beres. Eh, ngomong – ngomong bungkusan yang satunya isinya apaan ? “

“ Oh, itu hadiah kedua buat kamu. Buka aja.”

“ Cokelat…..“ Dada Leoni terasa nyeri. Pikirannya melayang pada Adam. Adam…..

“ Iya. Kata Mama kamu paling suka makan suka makan cokelat makanya aku beliin kamu cokelat. Dimakan dong.”

“ Kayaknya aku makan di rumah aja deh. Kenyang banget nih.”

“ Oh, ya udah. Hati – hati jangan sampe leleh, ya. Nanti nggak enak rasanya.”

“ Iya.” Maaf, Ndra. Bukannya aku nggak menghargai pemberian kamu. Tapi aku bener – bener nggak bisa makan cokelat lagi. Aku bener – bener nggak bisa ngelupain peristiwa pahit itu. Adam, Adam, di mana kamu sekarang. Aku… Aku masih sayang kamu…..

Sepanjang jalan, Leoni memeluk cokelat pemberian Dokter Indra sambil bertahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s