Jarak Terlebar Di Antara Kami adalah Keyakinan


Dan jarak terlebar di antara kami adalah keyakinan…

Itulah sebaris kalimat yang akhirnya terucap setelah ia meninggalkanku beberapa hari terakhir ini dalam keraguan.

Dan ketika kurefleksikan pada batinku sendiri. Apa arti keyakinan bagiku ?

Sekedar percaya pada suatu konsep ketuhanan tertentu tetapi tak pernah sekalipun menerapkan ajarannya ?

Dan ketika dia membenturkan aku dengan keyakinanku sendiri, membuatku menata ulang pola pikirku tentang suatu konsep keyakinan, aku semakin tenggelam dalam keraguan.

Dan kini aku terjebak dalam lingkaran setan. Bukan karena pemikirannya yang menggoyahkan imanku. Ini adalah masalahku dengan diriku sendiri. Selama ini aku cukup percaya diri dengan pemahamanku mengenai konsep ketuhanan yang aku yakini. Sekarang aku disadarkan bahwa pemahaman saja tidak cukup. Sejenak aku merasa malu padanya.

Dan kini aku tersesat dalam hutan batinku sendiri. Sedikit aku melupakan bahwa pada dasarnya manusia memiliki sifat dinamis. Aku tak mengira hutan batinku sudah berkembang sejauh ini. Aku tak tahu sudah sejauh apa batinku berubah. Terlepas dari masalah keyakinan, aku juga merasa tersesat dalam pemikiranku sendiri mengenai suatu perasaan ingin memiliki.

Dan sekali lagi, jarak terlebar di antara kami adalah keyakinan…

Satu hal yang aku pikirkan sejak aku mengenalnya pertama kali tetapi aku tak menyangka justru bukan aku yang mengungkapkannya lebih dulu.

Sama sekali tak ada maksud meremehkannya. He’s just a normal guy with a goodlooking face and many talents. He’s charming. He’s so rock and roll. Sepintas seakan tidak ada tempat tersisa dalam dirinya untuk secuil keyakinan.

Dan selanjutnya aku semakin kagum dengan pembawaannya. Sedikit ironis kadang, tetapi semakin lama semakin terbaca keunikannya.

Dan kini ada semacam perasaan bersalah dalam batinku. Aku belum bisa menjadi sosok orang yang mendukungnya dalam hal keyakinan. Aku sendiri masih bergulat dalam keraguanku. Tetapi dapat kujanjikan satu hal, semangat belajarku tak pernah pudar. Bukan berarti aku mengkhianati keyakinanku, hanya saja aku ingin mempelajari semuanya dengan kesadaranku. Keyakinan didapat melalui pemikiran, pengetahuan, dan kesadaran. Keyakinan tidak didapat melalui warisan dan dogma.

Dan apabila dia masih berpikir bahwa jarak terlebar di antara kami adalah keyakinan…

Mungkin inilah saatnya aku bergerak untuk membuatnya lebih dekat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s