Silence is Good


Silence is good.

8 jam berlalu sejak ia menghilang tanpa berita. Aku menunggu dalam diam. Hujan rintik perlahan, detik demi detik merangkak pelan. Tak ada yang bisa kulakukan. Aku mendesah resah, terkungkung penantian.

Resah? Kurasa tidak.

Kesal? Tak perlu, pun tak rasional.

Gundah? Sedikit.

Rindu? Tak perlu ditanya lagi.

Hanya diam, diam, dan diam.

Padahal aku tak sendiri. Di sini, di kamar ini bersama 2 orang sepupu. Mereka berceloteh dan bergurau macam-macam. Mereka menanyakanku yang jarang hadir di acara rutin keluarga. Hanya kutanggapi dengan senyum simpul dan tawa kecil. Terus berulang begitu saja sepanjang waktu hingga keduanya mendesah lelah dan tertidur.

Aku tetap terjaga. Bukan inginku, melainkan mata ini yang tak mau pejam. Benak ini tak henti merenung. Entah apa yang ada di benakku.

Mungkin aku memang memikirkannya, mungkin juga tidak. Atau aku merindukannya, mungkin juga tidak. Aku membutuhkannya di dekatku, selalu memperhatikanku dan ada untukku, mungkin ini yang kumaksud.

Namun hal itu sangat mustahil terkabul. Impian yang mustahil, lebih dari ajaib maupun mukjizat. Rembulanku telah berdamai dengan bintangnya. Dan aku, peri kecil ini, yang bahkan tak mampu terbang setinggi rembulan, tak bisa berbuat apa-apa. Tak boleh dan memang tak berdaya. Tak perlu berharap apa-apa.

Tinggallah aku di sini. Sendiri. Terbelit sunyi. Terantai sepi. Dalam diam, mengubur asa dan mengikis hati.

26 jam 30 menit telah berlalu. Dan aku masih menunggunya, dalam diam.

 

Sumber gambar: http://webdesigncore.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s