Nona Manis Berkerudung Lembayung


Seperti yang kukatakan sebelumnya, bukan rasa cintamu yang kupermasalahkan, wahai nona manis berkerudung lembayung. Aku tak peduli apa yang dipermasalahkan orang lain. Yang kulihat adalah dirimu, dan selamanya hanya dirimu.

Penilaianku mulai bias, seiring dengan ingatanku yang memudar perlahan. Aku merasa tak mengenali sosokmu lagi, wahai nona manis berkerudung lembayung.

Masih kuingat saat kita asyik berbaring di bukit hijau itu, melukis langit, dengan warna pelangi pilihan kita sendiri. Kau tersenyum, aku pun tersenyum. Bahkan saat kau menangis, aku rela turut memeras air mataku.

Sekarang? Lagi – lagi aku mendapati konklusi yang sama. Aku tak lagi mengenali sosokmu, wahai nona manis berkerudung lembayung.

Yah, mungkin banyak benarnya juga jika orang berpendapat cinta itu buta. Cinta membuat berlari bak kuda pacuan. Semi terbutakan oleh kacamatanya, kuda pacuan hanya bisa melihat ke depan saja, sesuai arahan sang joki. Tak mengenal sisi kiri dan kanan, apalagi belakang. Yah, bagiku seperti itulah dirimu, wahai nona berkerudung lembayung.

Hmm, entahlah. Terlalu banyak kata berputar dalam benakku. Sayang tak cukup banyak sela waktu untuk mengungkapnya. Mungkin ada sedikit pesan dariku, wahai nona manis berkerudung lembayung, saat kehidupan barumu terasa tak menyenangkan lagi, ingatlah hari ini. Hari di mana kaututup pintu – pintu yang selanjutnya takkan pernah bisa kaubuka dengan anak kunci yang sama lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s