Sampingan
2

Tenggelam, bahkan sebelum terbit.

Terurai, bahkan sebelum terajut.

Meledak, bahkan sebelum dirakit.

Patah, bahkan sebelum terangkai.

Layu, bahkan sebelum bertumbuh.

Berpisah, bahkan sebelum terjalin.

Aku kecewa. Selama ini aku merasa cinta identik dengan butterflies dan vibrations yang muncul secara sporadis di ulu hati (bahkan bisa saja di sekujur tubuh) ketika kita bertemu atau mengingat seseorang. Dulu sekali, aku pernah merasakannya. Bahkan setelah setahun berlalu, aku masih merasakannya. Sekarang tidak lagi.

Di satu sisi, aku bersyukur. It’s a sign that I’ve moved on, at least I’m ready to start to move on. Di sisi lain, rasanya kosong. Tuhan menciptakan hati manusia dari segumpal daging dan darah (dan air, dan zat – zat kimia yang susah dihafal namanya, dan bla bla bla) bukan karena iseng. Tuhan menciptakan hati untuk dibagi oleh manusia yang bersangkutan (maksudnya, yang punya hati). Sekian porsi untuk keluarga, sekian porsi untuk sahabat, sekian porsi untuk pasangan, dan seterusnya. Masing – masing porsi sifatnya terpisah, tidak dapat saling melengkapi. Nah, inilah yang membuat hatiku terasa kosong.

Ya, hatiku terasa kosong. Hanya sedikit kosong saja, tidak sampai pada tingkat galau (menurut kamus anak gaul 2011), tetapi tetap saja kosong.

Entah berapa lama sejak munculnya perasaan kosong itu, aku bertemu dengan seseorang. Sudah cukup lama kenal, cukup sering bertemu sebenarnya, tetapi selalu luput dari perhatian. Anehnya, (sekali lagi) entah sejak kapan dan mengapa, aku mulai memperhatikannya. Setelah dipikir – pikir mungkin setelah tanpa sengaja aku melihat status hubungan di facebooknya sudah single (sedikit terdengar seram, maniak, dan labil). Dan (lagi – lagi) pria itu berhasil memunculkan butterflies dan vibrations di sepanjang lengan dan lututku (jangan dibayangkan mendadak aku melakukan break dance atau menari kejang setiap bertemu dengannya, situasinya tidak separah itu).

Apakah ini cinta? Entahlah, sepertinya bukan, setidaknya belum. Aku tidak pernah jatuh cinta pada seseorang secepat itu. Bagaimanapun, rasanya senang, seru, mendebarkan, tubuhku dipenuhi getaran yang menimbulkan sensasi unik tiap bertemu dengan pria itu. Dan kadang (mungkin bisa dibilang selalu) momen – momen seperti ini memicu timbulnya harapan – harapan.

Sempat berharap, butterflies dan vibrations itu akan terasa selamanya. sempat berharap, we can work it out. Sempat berharap, this relationship can last. Tetapi sekarang, aku kecewa. He lied to me, then it disappointed me.

Kupu – kupu itu mati, bahkan sebelum bermetamorfosis.

2 thoughts on “Mati, Bahkan Sebelum Bermetamorfosis

  1. yyaah,yahh,yah.kok mati,jangan mati dulu donk kupu-kupunya.hhee.

    Mungkin bukan jatuh cinta tapi itu memang karena kosong,sepi,butuh sosok yang membangkitkan hormon[menurut kamus gaul 2010 lalu ],Hormon sering kali ga setabil,naik trun membuat seseorang berada dalam kegalauan yang berharap pada harapan-harapan buatan .hhehehe.

    salam.keren ceritanya,saya suka cara menulisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s