Father, How Are You Today?


I wish I could be more expressive. I wish I could laugh and say something, or at least, smile. I wish I wasn’t that stiff.

Sekedar info, ini memang tulisan tentang pria yang paling saya cintai di bumi, tapi sayangnya ini bukan tulisan tentang pacar, sama sekali bukan.

I can’t remember when these things usually happened. Mungkin sekitar 15 tahun lalu. Aku masih ingusan, gadis mungil 7 tahun yang ingusan (ini makna denotatif, tolong jangan berimajinasi dan tertawa). Tinggal dengan ayah, ibu, kakek, nenek, dan beberapa kerabat lain di rumah besar di pemukiman yang normal.

Rumahku terletak di pinggir jalan pintas menuju jalan utama, jaraknya sekitar 250 meter. 250 meter yang menegangkan ibarat jalur jet coaster, ada jalan menurun dan mendaki yang tajam. Belum lagi sensasi polisi tidur dan aspal yang tidak rata. Jalan pintas itu sejatinya ribuan kali lebih menegangkan daripada jalur jet coaster, ribuan kali lebih istimewa dan tak terlupakan.

Jalan itu selalu kulewati setiap kami pergi ke toko buku. Oke, aku tahu kalimat barusan memunculkan sejuta pertanyaan di benak pembaca. Jawaban untuk pertanyaan pertama adalah BENAR, gadis kecil ingusan itu seorang kutu buku. Ia senang pergi ke toko buku, juga senang minta dibelikan buku. 4 bulan sekali, setiap pulang dari acara pembagian rapor, itulah saatnya gadis itu bersenang-senang. Jawaban untuk pertanyaan kedua, kami pada kalimat itu adalah aku dan ayah. Ayah tidak pernah berkomentar banyak setiap melihat isi raporku. Beliau hanya melirik sebentar, meletakkannya kembali di meja makan, lalu berdiri dan mengajakku ke toko buku. Selanjutnya, buku apapun yang kuambil, pasti dibeli. Seandainya gadis itu lebih oportunis, pasti ia akan minta lebih banyak buku, juga memilih jenis buku yang pastinya lebih bermanfaat. Jawaban untuk pertanyaan selanjutnya adalah oh God, hentikan, this isn’t what I want to write. Cukup sudah bicara tentang jalan pintas ala jalur jet coaster itu, mari dengan tertib kembali ke inti masalah.

Inti dari segala tetek bengek yang ingin kutulis saat ini adalah rasa rindu, dengan sedikit penyesalan. Aku menulis tentang masa kecil, karena aku rindu. Aku menulis tentang jalan jet coaster, karena aku rindu. Aku menulis tentang rapor dan toko buku, juga karena aku rindu. Tetapi apa yang sebenarnya paling kurindukan dengan sedikit penyesalan?

Jawabannya adalah waktu. Detik-detik saat aku dan ayah melewati jalan jet coaster itu. Aku tahu ini bukan sesuatu yang penting atau mengesankan, tapi inilah sesuatu yang paling kurindukan, dengan sedikit penyesalan.

Kami selalu naik motor bebek. Aku duduk di depan ayah. Keistimewaan jalan pintas itu tidak hanya terbatas pada situasinya yang mirip dengan jalur jet coaster atau polisi tidur atau aspalnya yang tidak rata. Believe it or not, sensasi saat melewatinya di atas motor bebek pun sama menegangkannya dengan naik jet coaster.

Detik-detik itu, ayahku selalu berteriak dan tertawa kegirangan (benar-benar seperti sedang naik jet coaster) sedangkan aku (yang phobia ketinggian ini) terdiam. Jantungku berdebar kencang sementara ayahku kegirangan di belakang.

Saat itu, tubuhku saat mungil. Hanya dengan mendongak ke atas, wajah ayah bisa jelas terlihat. Tawanya sangat tulus. Beliau juga berteriak konyol, kadang-kadang memandangku dan tersenyum.

Saat itu, sejujurnya, kupikir ayahku gila. Orang dewasa macam apa yang tertawa seperti balita ketika melewati jalan pintas yang menakutkan itu. Saat ini, kupikir aku ingin naik motor bebek bersama ayah melewati jalan jet coaster itu dan sekali lagi melihatnya bertingkah gila. Senyum dan tawa tulus itu hampir tak pernah kulihat lagi sejak 15 tahun lalu.

Hal itulah yang paling kurindukan, dengan sedikit penyesalan. Seandainya aku tahu, raut seperti itu akan (hampir) tidak pernah muncul lagi di wajah ayah, aku pasti berbuat lebih banyak. Aku bisa saja tersenyum, tertawa, bahkan berteriak girang. Aku pasti berbuat lebih banyak untuk menunjukkan betapa bahagianya perasaanku bisa bersamanya saat itu.

I wish I could be more expressive…

Posted with WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s