Andai Ibuku Seorang Penyair, Kata-Kata ini tak Melulu Tersangkut di Ujung Bibir


Berbulir-bulir air mata dan keping demi keping kesedihan, pernah kukumpulkan lalu kutabung dalam akuarium kaca raksasa
Belasan tahun ini, biar yang kautatap cukup tawaku saja, dan yang kudekap biar sekadar lara, pun bayang punggungmu yang senantiasa mengundang luka

Tempias tengkukmu di bantalku
Kepul hangat teh hitam favoritmu
Aroma hangus tembakau dan semilir dengkurmu nan sengau
Segala kenang terekam dalam pita-pita memori
Diputar dan ditayangkan setiap hari
Dalam layar maya yang terbentang di penjuru tatapku
Segala kenang yang tak benar-benar terlihat, namun terasa ada
Berlainan denganmu, benar-benar terlihat, namun selalu terasa tiada

Ya,
Andai ibuku seorang penyair, kata-kata ini tak melulu tersangkut di ujung bibir

Andai ibuku seorang penulis, surga boleh jadi mendekat setapak demi setapak seiring deras tangis

[Mey] [@meydianmey]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s