0

Sama Seperti Saat Itu

di sinilah aku

masih di kamar yang sama

dengan sedikit sentuhan yang berbeda

 

di sinilah aku

duduk di sudut kamar yang sama

sudut yang masih sama persis dengan yang dulu

 

terduduk dengan posisi yang persis sama

bersandar pada sisi dinding yang persis sama

menggenggam ponsel yang masih sama

menatap layar notebook yang juga masih sama

terdiam

entah memikirkan hal yang sama

entah tidak

 

benakku menari menggelora

di antara LCD notebook dan keypad qwerty ponselku

jemariku kaku membatu

terpaku dinginnya angin dini hari

kala aku menatap gelapnya langit di luar sana

 

masih di jendela yang sama

persis sama

semilir tajam angin dini hari yang sama

langkah kaki bapak – bapak hansip yang sama

ketukan – ketukan high heels yang sama

gelap dan sunyi yang sama

dingin dan hening yang sama

persis sama

 

inilah malam – malamku, kawan

selalu seperti ini

tidak lebih, mungkin kurang

sisanya selalu sama

persis sama

 

inilah malam – malamku, kawan

saat – saat keemasanku

saat – saat kebebasanku

berekspresi, bercerita, bergurau dengan hening

berhubungan, berkawan, bergaul dengan sunyi

 

tak ada yang menarik, kawan

kecuali aku

dengan diriku sendiri

yang nyaris selalu sama

0

Berita Makam Mbah Priok (by Request)

atas nama sejumput abu

khalifah dan ksatria saling menghunus pedang

mengangkat senjata sambil meneriakkan jargon-jargon keadilan

menumpahkan tetes demi tetes darah sebangsanya

demi sejumput abu

*

atas nama sejumput abu

kini tertabur abu-abu yang baru

dari kucuran darah segar baru

generasi penerus bangsa yang bermasa depan kelabu

demi sejumput abu

*

atas nama sejumput abu

sang maharaja pun ikut bersuara

para mahapatih menjadi gundah gulana

goyahnya singgasana mereka

demi sejumput abu

*

atas nama sejumput abu

ada air mata terekspos

ada kepedihan terkuak

ada kekejaman tersingkap

oleh sejumput abu

*

atas nama sejumput abu

terlelap di antara harta, sejarah, dan keyakinan

kharismanya perlahan tergerus globalisasi

dan moral yang terdegradasi jauh di bawah materialisme

kontroversi sejumput abu

*

atas nama sejumput abu

priok dan koja berdarah

kearifan terhempas

keserakahan dikedepankan

tersadar oleh sejumput abu

*

atas nama sejumput abu

sekian lama terlelap dalam tidur abadinya

penjaga tanah kita dalam singgasananya

berharap hasrat dan cita-citanya tak berakhir sebagai mitos belaka

kini tertimbun dalam sejumput abu

0

Jarak Terlebar Di Antara Kami adalah Keyakinan

Dan jarak terlebar di antara kami adalah keyakinan…

Itulah sebaris kalimat yang akhirnya terucap setelah ia meninggalkanku beberapa hari terakhir ini dalam keraguan.

Dan ketika kurefleksikan pada batinku sendiri. Apa arti keyakinan bagiku ?

Sekedar percaya pada suatu konsep ketuhanan tertentu tetapi tak pernah sekalipun menerapkan ajarannya ?

Dan ketika dia membenturkan aku dengan keyakinanku sendiri, membuatku menata ulang pola pikirku tentang suatu konsep keyakinan, aku semakin tenggelam dalam keraguan.

Dan kini aku terjebak dalam lingkaran setan. Bukan karena pemikirannya yang menggoyahkan imanku. Ini adalah masalahku dengan diriku sendiri. Selama ini aku cukup percaya diri dengan pemahamanku mengenai konsep ketuhanan yang aku yakini. Sekarang aku disadarkan bahwa pemahaman saja tidak cukup. Sejenak aku merasa malu padanya.

Dan kini aku tersesat dalam hutan batinku sendiri. Sedikit aku melupakan bahwa pada dasarnya manusia memiliki sifat dinamis. Aku tak mengira hutan batinku sudah berkembang sejauh ini. Aku tak tahu sudah sejauh apa batinku berubah. Terlepas dari masalah keyakinan, aku juga merasa tersesat dalam pemikiranku sendiri mengenai suatu perasaan ingin memiliki.

Dan sekali lagi, jarak terlebar di antara kami adalah keyakinan…

Satu hal yang aku pikirkan sejak aku mengenalnya pertama kali tetapi aku tak menyangka justru bukan aku yang mengungkapkannya lebih dulu.

Sama sekali tak ada maksud meremehkannya. He’s just a normal guy with a goodlooking face and many talents. He’s charming. He’s so rock and roll. Sepintas seakan tidak ada tempat tersisa dalam dirinya untuk secuil keyakinan.

Dan selanjutnya aku semakin kagum dengan pembawaannya. Sedikit ironis kadang, tetapi semakin lama semakin terbaca keunikannya.

Dan kini ada semacam perasaan bersalah dalam batinku. Aku belum bisa menjadi sosok orang yang mendukungnya dalam hal keyakinan. Aku sendiri masih bergulat dalam keraguanku. Tetapi dapat kujanjikan satu hal, semangat belajarku tak pernah pudar. Bukan berarti aku mengkhianati keyakinanku, hanya saja aku ingin mempelajari semuanya dengan kesadaranku. Keyakinan didapat melalui pemikiran, pengetahuan, dan kesadaran. Keyakinan tidak didapat melalui warisan dan dogma.

Dan apabila dia masih berpikir bahwa jarak terlebar di antara kami adalah keyakinan…

Mungkin inilah saatnya aku bergerak untuk membuatnya lebih dekat.

0

Satu Bulan dan Sekian Hari

 

Satu bulan dan sekian hari yang kulalui ini hanyalah drama. Mungkin juga mimpi. Atau khayalan semata. Setidaknya itulah yang harus kutanamkan dalam-dalam di benakku.

Semudah itukah? Setelah satu bulan dan sekian hari?

Entah iya, entah tidak.

Entah benar, entah salah.

Entah keadaan yang rumit, entah aku sendiri yang memperumit keadaan.

Entah sanggup, entah tidak.

Entah nyata, entah maya.

Masih sulit kutentukan di mana seharusnya kuletakkan titik lenyap yang sesuai dengan sudut-sudut pandang objektif. Karena aku memang masih belum bisa berpikir objektif.

Memang belum bisa, juga belum ingin.

Memang aku bodoh, juga senang membodohi diriku sendiri.

Memang aku rendah, juga akan kuterima semua stigma buruk yang sudah pun akan dipikirkan orang tentangku nantinya.

Yang terbaik yang bisa kulakukan sejauh ini adalah… Entahlah… Kurasa aku belum ingin berbuat apa – apa.

Seperti Tinkerbell dan Peterpan. Peri kecil yang selalu setia menjaga dan mendampingi sang pahlawan. Peri kecil yang tak berdaya saat Peterpan tengah menemani Wendy.

Apakah Tinkerbell berbuat sesuatu? Kurasa tidak. Hanya saja cahayanya meredup saat Peterpan bersama Wendy.

Apakah aku berbuat sesuatu? Belum. Dan waktuku serasa terhenti ketika rembulanku berdampingan dengan bintangnya.

Satu bulan dan sekian hari yang kulalui ini hanyalah drama, hanya lelucon. Ada yang lebih mengenaskan dari ini?

Saat sudah begitu banyak yang kurasa telah kulalui. Sudah begitu tinggi khayal yang terbangun. Sudah begitu besar harap yang kusimpan. Hanya sampai di sini sajakah jalanku?

Ada lagi yang aku tunggu saat ini? Ada lagi yang harus kuperjuangkan? Ada lagi selain materi atau secarik kertas rapi bertuliskan deretan nilai-nilai akademis? Ada sesuatu yang lebih besar dari itu yang aku tunggu, yang ingin aku perjuangkan, tetapi semua berakhir. Setelah satu bulan dan sekian hari ini.

 

Sumber gambar:

http://mejadunia.blogspot.com

http://keluarga-madinah.blogspot.com

0

Silence is Good

Silence is good.

8 jam berlalu sejak ia menghilang tanpa berita. Aku menunggu dalam diam. Hujan rintik perlahan, detik demi detik merangkak pelan. Tak ada yang bisa kulakukan. Aku mendesah resah, terkungkung penantian.

Resah? Kurasa tidak.

Kesal? Tak perlu, pun tak rasional.

Gundah? Sedikit.

Rindu? Tak perlu ditanya lagi.

Hanya diam, diam, dan diam.

Padahal aku tak sendiri. Di sini, di kamar ini bersama 2 orang sepupu. Mereka berceloteh dan bergurau macam-macam. Mereka menanyakanku yang jarang hadir di acara rutin keluarga. Hanya kutanggapi dengan senyum simpul dan tawa kecil. Terus berulang begitu saja sepanjang waktu hingga keduanya mendesah lelah dan tertidur.

Aku tetap terjaga. Bukan inginku, melainkan mata ini yang tak mau pejam. Benak ini tak henti merenung. Entah apa yang ada di benakku.

Mungkin aku memang memikirkannya, mungkin juga tidak. Atau aku merindukannya, mungkin juga tidak. Aku membutuhkannya di dekatku, selalu memperhatikanku dan ada untukku, mungkin ini yang kumaksud.

Namun hal itu sangat mustahil terkabul. Impian yang mustahil, lebih dari ajaib maupun mukjizat. Rembulanku telah berdamai dengan bintangnya. Dan aku, peri kecil ini, yang bahkan tak mampu terbang setinggi rembulan, tak bisa berbuat apa-apa. Tak boleh dan memang tak berdaya. Tak perlu berharap apa-apa.

Tinggallah aku di sini. Sendiri. Terbelit sunyi. Terantai sepi. Dalam diam, mengubur asa dan mengikis hati.

26 jam 30 menit telah berlalu. Dan aku masih menunggunya, dalam diam.

 

Sumber gambar: http://webdesigncore.com

0

Antara Aku, Sahabat-sahabatku, Orang yang Kusayangi, dan Orang-orang yang akan Kutemui Nanti

 

Mengingat kenangan-kenangan baik dengan orang-orang yang kusayangi. Inilah yang dikatakan seorang sahabat kepadaku beberapa hari lalu.

Seorang yang kusayang pernah berkata, ia meminta maafku. Dia bilang, karena aku menyayanginya, hal itu membuatku jauh dari sahabat-sahabat tersayangku. Aku hanya tersenyum simpul.

Dan beberapa hari lalu, sahabat-sahabatku banyak bertanya, dengan siapa aku dekat sekarang, siapa yang sedang menghiasi hatiku sekarang. Lagi-lagi aku hanya tersenyum simpul.

Mengapa aku tersenyum? Karena aku sedang menghindar, bagai pesawat tempur yang sedang bermanuver ke sana kemari menghindari rudal. Aku tak tahu harus menjawab apa.

Jika sahabat-sahabatku kembali bertanya tentang orang baru yang tengah menghias hatiku, menemani hariku, mungkin aku akan tetap tersenyum sambil berkata, “Entahlah. Yang pasti, dalam hatiku, di setiap hariku, ada kalian.”

Dan jika orang yang kusayang kembali mengatakan hal yang sama padaku suatu saat nanti, aku akan tersenyum padanya. Dan aku akan memalingkan mukaku sambil berkata, “Ngga perlu.” Mengapa? Karena sorot mata tak bisa berbohong. Namun aku tak ingin ia melepaskanku karena sorot mata itu.

Dan untuk orang-orang baru yang kelak datang dan menghiasi hati dan hariku, aku tak ingin menjanjikan apa-apa. Hidupku bagaikan aliran sungai. Kadang dalam, kadang dangkal. Kadang berbatu dan beriam. Kadang dingin dan mematikan. Kadang sejuk dan menenangkan. Kadang bermanfaat, kadang membuat porak poranda. But that’s me, just say “Hi!”, then go with the flow…

 

Sumber gambar:

http://cherrybam.com

http://smsblaze.com

Standar
0

Hari Terakhir

Ada yang mengkritisi paradigmaku hari ini. Hahaha. Honestly, it is not a cynical laugh. Although it might sound cynical when you really hear me laughing here.

Ada semacam perasaan senang saat membaca message dari seorang teman siang ini. Mengkritisi paradigmaku. Dia bilang aku ini kolot, egois, dan gengsian. Hahaha percaya tak percaya, postingan ini kutulis sambil cekikikan =D

Kesalkah ? Tidak, sedikitpun tidak.

Tersinggung ? Sama sekali tidak.

Dia juga bilang aku orang yang NATO, no effort.

Kalau orang lain yang dengar, mungkin teman itu sudah digaplok pakai rotan sampai pingsan.  Hahaha =D

But, thanks anyway for that dearest friend. Seperti yang kukatakan padanya barusan, aku memang perlu ditegur. Perlu dikritisi dan memang sedang ingin dicerca. Akhir-akhir ini terlalu banyak pujian yang membuatku sedikit lupa pada prinsip-prinsip utama yang selama ini melekat erat di benakku, terutama soal effort tadi.

Masalah dimulai saat aku tanpa sengaja mendiamkan seorang teman. Sama sekali tidak bermaksud mendiamkan sebenarnya. Hanya entah sejak kapan dia tidak menghubungiku lagi dan akupun tidak menghubunginya. Entah malas, entah memang gengsi, entah aku yang suka sok sibuk selama ini. Hal ini kemudian berlanjut hingga berbulan-bulan lamanya.

Sering ada rasa tak nyaman. Sering aku ingin menghubunginya, entah itu dengan telepon atau sekedar sms biasa saja. Namun entah mengapa tak kunjung kulakukan. Sesekali dia menghubungiku, namun komunikasi kami kembali terputus begitu saja. Bahkan saat inipun, saat entah bagaimana komunikasi kembali terjalin dan dia dengan berapi-api mengkritisi paradigmaku, kami hanya saling bicara melalui message facebook. Padahal bisa saja dengan mudah aku meneleponnya atau bagaimanalah.

Lucu ? Memang.

Konyol ? Iya.

Unik ? Sangat, menurutku.

Hal inipun sudah kuutarakan padanya siang ini, hanya lewat message facebook. Semalam aku sempat mengirim sms untuknya. Tahukah anda apa yang kukatakan padanya ? Isi sms itu hanya mengabarkan bahwa saya, Mey, sudah membalas messagenya di facebook. Hahaha ya ampun (lol)

Sebenarnya ada apa ini ? Mengapa lidahku jadi kelu dan tanganku mendadak lumpuh. Entah sejak kapan aku berubah autis dan apatis, hanya gemar berkomunikasi dengan tulisan. Bukan tidak mau berkomunikasi dengan kata – kata, hanya saja ada perasaan takut. Entah takut, entah bimbang. Rasanya aku kehilangan pegangan saat berhadapan dengan orang lain.

Tak terhitung berapa kali aku menolak ajakan bertemu dengan orang lain, sekalipun sebagian besar orang yang mengundang adalah teman-teman baikku sendiri. Bukan karena aku sombong atau mungkin malas, hanya saja ada perasaan takut dan bimbang. Entah mengapa.

Dan sekarang, setelah mendengarkan cercaan halus dari seorang teman tentang paradigmaku yang kolot dan perilakuku yang tampak no effort, aku mulai menyadari satu hal dan memikirkan beberapa hal. Bukan hal baru memang, hanya beberapa hal lama yang sempat terlupakan.

Effort dan tindakan aktual, sekalipun sangat kecil dan tidak terlalu tulus, kenyataannya jauh lebih berarti daripada segumpal kata-kata dan sebongkah perasaan yang sekedar disimpan dalam hati.

0

Temaram Tengah Malam

Seharusnya aku tidur. Ya, seharusnya aku memejamkan mata dan beristirahat. Tubuh ini sudah cukup lelah walaupun akal serasa tak henti berkelana.

Di sinilah aku, bersandar di dinding lembab dan berkoar-koar di blog. Ditemani seorang teman dari Lawang dan Geisha nembang di belakang.

Entah sejak kapan aku merasa hariku sedikit terasa kosong. Entah sudah berapa lama aku merasa waktu-waktu ini menjadi satu perseratus sia – sia. Ya, satu per seratus. Nilai yang cukup masuk akal dan rasional untuk effortku selama ini.

Aku merasa tertekan. Semakin lama semakin tertekan. Entahlah, bukan karena suatu masalah atau hal besar lainnya. Mungkin bosan, jenuh yang tertumpuk – tumpuk, mungkin juga ada ribuan cacahan pikiran tertumpuk di otakku yang saking banyaknya sampai aku tak bisa mengingat sekepingpun.

Aku merasa sangat tertekan dan beranjak depresi. Ya, depresi dalam senyum dan tawa. Itulah aku. Ironis bukan ? Seperti ironi dalam ironi.

Dan setiap kali aku merasa hidupku sangat ironis, hal pertama yang kulakukan adalah menulis. Merangkai kata-kata sinis yang membuatku (dan orang lain mungkin) semakin merasa seolah teriris.

Dan semakin kutulis, kisahnya jadi semakin tragis.

Aku ingin menulis cerita yang menyenangkan. Bukan untuk orang lain, setidaknya untuk diriku sendiri. Aku ingin menghibur orang lain, membuat mereka larut dalam bahagiaku, atau setidaknya aku ingin menghibur diriku sendiri.

Persis seperti temaram dini hari ini. Entah mengapa membuat orang – orang yang masih terjaga seringkali merasa sendu, seolah terbenam sepi dalam kesendirian bersama temaram dini hari ini.

 

Sumber gambar: http://hanyaandrea.blogspot.com

0

Apa dan Mengapa, lalu Bagaimana

Apa yang membuatku perlu memahamimu ?

Apa yang membuatku perlu memaafkanmu ?

Dan apa yang membuatku (masih) perlu peduli terhadapmu ?

Tak ada. Baru saja kuputuskan, tak ada. Tak ada lagi. Dan takkan pernah ada lagi. Selanjutnya aku takkan pernah kembali menjadi seperti dulu lagi. Karena sesungguhnya hidup ini hanya berjalan sekali dan waktu takkan pernah bisa diputar kembali.

Ya, waktu takkan pernah bisa berbalik mundur. Meski seringkali dipaksa dan diharap-harap mundur, namun waktu tak pernah melakukannya, demikian pula diriku. Betapapun inginnya aku kembali menoleh ke belakang, merangkai serpihan masa lalu, kemungkinan terjadinya hal ini hampir sama besar dengan kemungkinan bertelurnya sapi.

Dan kalaupun suatu saat nanti tiba-tiba aku menoleh ke belakang, andaipun aku mengalah pada entah hal apa yang menunggu di depan sana, lalu terengah mengais tanah mencari serpihan masa lalu yang semburat di sana, toh akupun belum tentu berhasil merangkainya kembali. Besar kemungkinan serpihan itu sudah hancur serapuh debu, beterbangan ke sana kemari menyatu dengan udara yang kuhirup sehari-hari, tak mungkin dirangkai kembali.

Entah sudah berapa lama aku memendam pemikiran ini dalam hati, bergulat dengan tanya, dan bergelut sendiri dalam ketidakpastian. Ingin berbuat sesuatu namun tak yakin seberapa baik tindakanku ini akan memberi dampak pada orang-orang di sekitarku.

Sering aku menjerit sendiri dalam hati saat melihat ia, orang yang memang paling banyak menerima dampak dari keputusanku ini, menderita dan perlahan semakin mengalami kemunduran. Kemajuan yang dialaminya selama 1 semester kemarin dengan susah payah sekarang beranjak hancur dengan kecepatan yang luar biasa. Hal ini tak hanya dirasakan olehnya, aku yakin itu, tetapi juga dirasakan semua orang yang ada di sekitar kami.

Tetapi hidup hanyalah sekumpulan pilihan – pilihan yang harus kita ambil. Memilih satu hal berarti mengorbankan lain hal. Masing – masing ada manfaat dan resikonya. Dan inilah pilihannya, juga pilihanku. Inilah pilihan kami, resiko yang harus kami pikul bersama.

Bukan berarti aku tak menyayanginya. Justru pilihan ini kuambil karena aku menyayanginya. Aku harus membuatnya belajar memahami bahwa dia bukan anak kecil lagi yang akan selalu kumanjakan bak pangeran. Mungkin sekaranglah saatnya aku mundur dan cukup memerhatikanmu dari kejauhan. Diam-diam membantumu dan menghilang sebelum sempat kausadari aku pernah datang.

Ini bukan soal apa ataupun mengapa. Sudah bukan jamannya lagi kita bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi ataupun mengapa semua ini terjadi. Mengapa semua ini terjadi padaku ataupun apa salahku hingga semua jadi seperti ini. Ini adalah masalah bagaimana. Bagaimana kita menyikapi hal yang sudah terlanjur panjang seperti ini.

Apa aku masih mencintaimu ? Entahlah. Aku tak tahu apakah cinta masih merupakan kata yang cocok untuk menggambarkan rantai yang erat membelit kita akhir-akhir ini.

Apa aku masih menyayangimu ? Iya, aku tetap menyayangimu dan akan selalu begitu. Aku akan selalu ada di belakangmu dan mendukungmu. Cukup aku yang perlu tahu hal ini, kau tak perlu menyadari keberadaanku.

Ini adalah masalah bagaimana. Bagaimana aku memaklumi keenggananmu mengungkapkan perasaanmu dan rencana-rencanamu tentang semua ini kepadaku. Bagaimana aku harus menghadapimu selanjutnya. Bagaimana aku bisa mengerti berbagai macam tindakan irrasional yang dilakukan berbagai macam orang di sekitarku. Bagaimana aku menyikapi situasi ini dengan caraku sendiri, untuk diriku sendiri, dan untukmu.

Kalaupun sempat terbersit kekhawatiran di benakmu, tenanglah, sesungguhnya aku tak pernah benar-benar meninggalkanmu :)

 

Sumber gambar: http://malikazir.wordpress.com

2

Pria Mapan Jadi Incaran, Status pun Dinomorduakan

Pria mapan jadi incaran, statuspun dinomorduakan…

Sebenarnya ini bukan title yang pas menurut Mey, tapi kutipan ini lucu, cukup menohok, kebetulan diambil dari salah satu acara infotainment yang cukup blak – blakan dalam perkara kritik – mengkritik kelakuan buruk publik figur Indonesia.

Banyak sekali contohnya, mulai dari Jennifer Dunn yang paling muda sampai Krisdayanti yang sudah sekelas diva. Mereka memang tengah hot – hotnya digosipkan dekat dengan pria beristri.

Banyak pro kontra yang timbul, sebagian besar kontra tentunya, sisanya abstain dan no comment. Apakah mengincar pria mapan dan menomorduakan status terbilang sebuah kesalahan? Well, pada dasarnya tidak ada hal yang bisa mutlak dibilang benar ataupun salah di dunia ini, menurut Mey. Hal – hal yang menurut mayoritas orang terlihat sebagai suatu kesalahan, bisa jadi terlihat sebagai kebenaran di mata orang – orang lain yang termasuk kaum minoritas, dan vice versa, sekali lagi menurut Mey.

Cinta memang hal yang rumit dan kompleks. Entah datang dari mana dan entah pula akan berakhir seperti apa. Tidak mudah diprediksi dan terlalu out of logic untuk dianalisis.

Dan cinta berkaitan erat dengan kebutuhan. Kebutuhan akan perhatian, kehangatan, belaian lembut, berbagai macam pujian dan kata – kata manja. Itu dulu. Kini, kebutuhan itu telah beralih, dari perhatian ke berlian, dari belaian lembut ke unlimited credit card, dari berbagai macam pujian dan kata – kata manja ke deretan mobil dan apartemen mewah. Kebutuhan telah beralih ke hal – hal baru yang cenderung bersifat materi. Kejam? Inilah kenyataan. Menyedihkan? Ini memang dampak perkembangan budaya yang tak bisa dihindari lagi. Dan ini adalah salah satu motif kuat yang mendorong seorang wanita untuk mengincar pria mapan dan menomorduakan status.

Hanya itu sajakah? Hanya materi? Apa dunia memang sudah terlalu penuh dengan wanita – wanita materialistis? Tidak. Tidak, tidak, tidak. No, no, no, a big NO!

Masih ada motif lain yang relevan. Apa? Kecocokan. Ya, kecocokan. Bagaimana ya, timbulnya suatu perasaan unik saat seorang wanita telah lebih dalam mengenal seorang pria, terlalu dalam mungkin. Perasaan unik yang memicu hati kecil kita berbisik, “This is my soulmate…”

Dan berbagai macam motif lainnya yang terlalu panjang dan kurang relevan dibahas satu persatu di sini =D

Apakah motif – motif tadi bisa (atau boleh) dibenarkan? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tidak ada sesuatu yang pasti, tidak ada sesuatu yang sifatnya mutlak.

Mungkin sebagian pembaca akan mencibir tulisan Mey ini, menganggap Mey sok tahu atau sedang bergulat dengan gejolak jiwa muda khas remaja (padahal Mey sudah post-teen, unfortunately). No, no, no. Mey berbicara karena Mey merasakan.

Mey pernah merasakannya. Jatuh cinta, deeply in love, dengan seorang pria yang sedang in a relationship dengan wanita lain. Mereka sudah in a relationship selama sekitar hampir 2 tahun, dan Mey datang kira – kira beberapa bulan sebelum their second anniversary.

How did it feel? Complicated. Mey sama sekali tidak malu mengakui hal ini. Mengapa? Karena cinta tidak berarti HARUS memiliki. Mencintai, menurut Mey, cukup memastikan dia survive, bahagia, dan baik – baik saja.

What about the motive? Materikah? No. Mey dibesarkan dan dididik untuk mandiri, tidak bergantung total pada orang lain, khususnya dalam hal materi. Kecocokankah? Absolutely terribly yes.

Pria seperti dia jarang sekali Mey temukan di sekitar Mey. Pasti anda – anda sedang membayangkan seluar biasa apa pria ini. Hahaha =D

Dia memang luar biasa, such an extra ordinary guy, untuk Mey. Mungkin tidak untuk orang lain. Dia humoris, dengan cara – cara yang pas menurut Mey. Dia serius, dengan porsi – porsi yang pas menurut Mey. Dia memiliki pola pikir yang menarik, serupa dengan Mey. Lebih dari itu, dia mampu dan mau memahami Mey. Tentang Mey yang punya sebagian besar sahabat laki – laki, tentang Mey yang blak – blakan, tentang Mey yang liberal, semua tentang Mey yang sering kurang bisa dipahami pria lainnya.

Sayangnya, dia kurang bisa memahami satu hal terpenting untuk dirinya sendiri, yaitu bahwa hidup sarat dengan pilihan. Dan pria itu harus memilih satu di antara Mey atau wanitanya.

Kini, saat semua menjadi semakin kompleks setiap harinya, Mey sadar Mey tidak bisa dan tidak boleh bersikap lemah terlalu lama. Mey memilih mundur, dan bila memang pria itu ditakdirkan Tuhan untuk Mey, someday and somehow he will come back =D

Apa Mey marah? No. Hidup di dunia sifatnya seimbang. Semakin besar benefit yang kita dapat, sebesar itu juga effort dan risk yang menyertainya. Sudah terlalu lama dan banyak benefit yang Mey rasakan, dan ini saatnya menanggung resikonya =D

Apa Mey kecewa? Mungkin, sedikit. Bagaimanapun, Mey hanya gadis biasa yang tentunya akan lebih bahagia jika bisa bersama dengan orang yang dicintai.

But it doesn’t matter anyway. Hanya ada satu ganjalan sebenarnya. Sedikit susah diungkapkan karena pastinya akan menyinggung satu, dua, bahkan mungkin banyak pihak di luar sana.

Sebenarnya seperti apa rasanya mencintai seseorang? Hal – hal apa yang akan kita lakukan terhadap orang tersebut?

“I love you, jadi antar – jemput aku tiap hari ya sayang.” Jika ini yang dinamakan cinta, berarti anda MENCINTAI sopir anda.

“I love you, jadi temenin aku terus, kalau perlu kamu bolos kuliah deh sayang, toh dosennya ga killer.” Jika ini yang dinamakan cinta, berarti anda MENCINTAI bodyguard anda.

“I love you, jadi turutin semua yang aku minta, terima semua sifat burukku, ngertiin aku selamanya ya sayang.” Jika ini yang dinamakan cinta, berarti anda MENCINTAI jin lampu anda.

And so on.

Selalu bersama dengan orang yang kita cintai memang menyenangkan, tetapi haruskah dijadikan beban?

Cinta memang erat kaitannya dengan sikap menerima seseorang apa adanya, tetapi apa salahnya sama – sama berusaha berubah menjadi manusia yang lebih baik fisik, mental, dan spiritual dari hari ke hari?

Bukankah cinta adalah hubungan dua arah?

Sampai sejauh mana seseorang mampu terus – menerus memahami, mengerti, menuruti kemauan orang lain?

Atau sampai kapan seseorang (dengan tega dan kepala batunya) terus menerus minta dipahami, dimengerti, dan dituruti kemauannya?

Inilah ganjalannya. However, sebesar apapun ganjalannya, tidak akan mengubah keadaan. Pria itu harus memilih dan Mey pun harus membuat keputusan.

Masih ada rasa sayangkah?

Ehm, masih. Mey tetap akan selalu menyayanginya, bagaimanapun keadaannya. Sayangnya beberapa hal telah berubah, dan memang harus diubah. Cukup Mey di sini, menatap dan mengawasinya dari kejauhan, memastikan dirinya bahagia dan baik – baik saja =D

0

Terjebak

Ya, hari ini dan jam ini saya terjebak.

Where? Di basemen Gedung E Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang.

When? Saat senggang waktu menunggu kuliah jam setengah empat, dan mendadak hujan deras. Damn it!

With who? Ditemani salah satu sahabat terdekatku, Kanjeng Didin Budi Cahyono si Raja Lele.

What do I do? Oh my God, saya bingung. Hujan deras, koneksi busuk, laptop lowbatt, colokan limited. Damn it!

What do I see? Many people doing many things.

Ada segerombolan anak jurusan Ekonomi Pembangunan, di sudut basemen, sedang berkumpul merapatkan hal tak jelas. Berkerumun dan bergumam tak jelas.

Di depanku, seorang lelaki botak yang sibuk dengan laptop dan headset yang anteng di telinganya. Autis…

Di samping kananku, ada Kanjeng Didin. Sibuk dengan laptopnya yang sudah lowbatt, susah konek pula. Belum lagi ditambah dengan novel “The Pelican Brief” karangan John Grisham yang sudah sekitar 2 minggu tak kunjung selesai dibaca. Juga autis…

Di samping kiriku, ada 2 orang pria baik hati yang sudah menawariku tempat berlindung dari hujan. Hehehe. Pengen bilang terima kasih, tapi bingung. Ya sudahlah, cukup senyum simpul saja =D

Dan masih banyak lagi orang di sini yang bertingkah aneh karena sama – sama terjebak.

Hujan sudah sedikit mereda. Langit tetap mendung. Angin tetap berhembus semilir – semilir lembut.

Dan di sinilah saya dan serombongan orang – orang ini. Terjebak.

0

Anji Drive : Di Antara Suka dan Duka, Karena Keadaan

bangun tidur langsung nonton salah satu acara infotainment favoritku di tv. ada anji drive sedang diwawancara secara live oleh presenter favoritku, feni rose :D

tak banyak yang bisa dikomentari dari acara itu.

anji drive cukup bijak dan bertanggung jawab mengakui keberadaan putri di luar nikahnya dengan sheila marcia. melontarkan jawaban – jawaban dan argumentasi yang cukup bijak dan tulus.

tak ada yang bisa dipersalahkan. semua terjadi berdasarkan kehendakNya. justru sikap tanggung jawab anji patut diacungi jempol. ia cukup menunjukkan sikap terbuka dan tidak bersembunyi dari publik.

karena keadaan. ya, karena keadaan.

hal menarik yang kurasakan adalah saat anji harus berbicara tentang rini idol, mantan kekasihnya. hubungan mereka dikabarkan sudah bubar sejak 2 minggu lalu.

karena keadaan. ya, karena keadaan.

kemudian acara ditutup dengan sebait lagu “bersama bintang” yang dinyanyikan anji untuk rini.

“sesungguhnya aku tak bisa jalani waktu tanpamu. perpisahan bukanlah duka mesti harus menyisakan luka…”

dan akupun menitikkan air mata haru. bukan karena cengeng, bukan. tetapi karena, entahlah, susah mengungkapkannya dengan kata – kata. suasana menjadi sangat emosional ketika anji diminta berbicara mengenai hubungannya dengan rini.

dan itu membuatku teringat pada satu hal. mungkin beberapa hal. mungkin juga banyak hal.

seringkali manusia memang dihadapkan pada keadaan yang sangat susah untuk memilih suatu hal. bukan karena egois, namun karena keadaan. karena 2 alternatif yang muncul memang pada dasarnya melekat pada situasi yang berbeda namun, sekali lagi karena keadaan, kedua alternatif tersebut menjadi saling bergesekan. seperti keadaan anji yang tak mungkin dipaksa memilih antara rini atau anaknya. rini dan leticia, anak anji, sesungguhnya berada pada jalur yang berbeda dalam hidup anji, namun karena keadaan menjadi saling bergesekan.

pada keadaan seperti itu, salah satu pihak memang harus berkorban. salah satu pihak memang lebih teraniaya. namun tetap tidak membuat pihak yang mengalah tersebut menjadi sewenang – wenang atau berharap dibenarkan semua tindakannya. pihak tersebut harus tetap berlaku bijak dan rasional. karena bagaimanapun, keadaan rumit ini adalah bagian dari proses pendewasaan dalam hidup masing – masing pihak yang terlibat. dan semua orang harus belajar menjadi dewasa, dan lebih dewasa.

dan aku teringat. pada beberapa orang. yang sama – sama pernah terlibat dalam situasi rumit bersamaku di waktu lalu. aku sudah mengalah. bahkan bersikap ekstrim demi menjaga perasaanmu Nona. jadi kuharap kini kau perlahan belajar bersikap bijak dan rasional. bukan demi kebahagiaanku atau kebahagiaanmu. namun demi orang yang sama – sama sedang kita jaga kebahagiaannya. demi kebahagiaan dia yang kaubilang segala bagimu. demi dia yang selalu mengorbankan kepentingannya untuk kebahagiaan semumu. sadarlah Nona, kumohon. karena kini tinggal kau sendirian yang menjaganya. sebisa mungkin tidak ada aku lagi :D

0

Di Antara Alkhaf, Saya, dan SPG, Ada Kebodohan

dini hari ini, sekitar pukul satu pagi, saya menangis. menangis sejadi-jadinya. karena satu pikiran bodoh.

kebodohan dimulai pada sore hari sebelumnya. alkhaf, aku, dan beberapa teman berkumpul di The Loft Pool and Lounge. bersenang-senang sambil mengerjakan beberapa tugas. kami tertawa-tawa sampai pada suatu saat yang sangat tiba-tiba, alkhaf bertanya padaku,”Mey, kamu mau aku jadiin SPG?” pertanyaan aneh bagiku yang refleks kujawab dengan antipati,”ngga ah, mana bisa postur kaya aku jadi SPG?” dst, dst, kemudian kami bubar satu persatu, pulang ke rumah masing-masing.

entah mengapa pikiran tentang pertanyaan SPG tadi mengusik pikiranku. benar-benar bodoh.

mengapa saya menjadi antipati? apa yang membuat saya antipati?

mungkin karena beberapa hal remeh, SPG identik dengan wanita cantik dengan postur tubuh ideal. what about me? NO, NO, NO, A BIG NO!!!

dan saya cukup sadar betapa saya jauh dari kesan wanita cantik berpostur ideal, that’s why, a question about something that closely related to physical things will sound irritating to me.

irikah aku? pasti. siapa yang tidak ingin terlahir cantik?

kesalkah aku? iya, tapi entah mengapa. kekesalan itu timbul secara refleks.

sejak kecil, saya sudah sangat kenyang dengan berbagai stigma buruk terhadap diri saya. saya jelek? ya. saya pendek? ya. saya gemuk? ya. saya hitam? ya. saya jerawatan? ya.

semua ledekan dari orang-orang terdekat itu sudah sangat cukup sekali membuat saya sadar mengenai letak kelemahan terbesar saya. sekali lagi, saya sangat sadar.

inilah yang membuatku merasa antipati dengan pertanyaan alkhaf sore itu. aku tahu alkhaf sama sekali tidak bermaksud meledek. yah, dia datang dan bertanya dengan maksud baik, karena dia tahu saya sedang ruwet mencari kerja. namun tanpa sadar, pertanyaannya malah membuat saya bernostalgia dengan luka masa lalu. hahahaha.

begitulah jadinya. setelah menangis sejadi-jadinya dini hari tadi, saya berniat menemui alkhaf dan menjelaskan baik-baik tentang sikap antipati saya kemarin. bagaimanapun, saya bersikap antipati bukan karena saya merendahkan pekerjaan seorang SPG, namun karena memang hal itu membuat saya merasa hmmmm…

dan sore ini, akhirnya melalui berbagai hambatan, saya berhasil menemui alkhaf, duduk santai dan mengobrol bersamanya. dan inilah yang terjadi selanjutnya…

MEY : Kap, inget ga kemaren pas kamu nanyain soal kerjaan SPG? trus aku jawabnya ogah-ogahan

ALKHAF : hmmm inget deh. kenapa mey? (dengan wajah meragukan)

MEY : ngga, aku pengen cerita kenapa kemaren aku ogah-ogahan, soalnya aku agak kepikiran. tapi kalo kamu ga inget, ya ga jadi, soalnya jadi ga penting ceritanya

ALKHAF : hmmm mau ngomong apa emang? ngomong aja. aku inget-inget lupa sih. tapi gapapa ngomong aja (sambil ketawa-ketiwi)

MEY : jiah… serius duL… inget apa ngga? kalo ga inget, ga penting lagi ceritaku ini

ALKHAF : waduh sori mey, ga inget aku. ya ini yang bikin aku susah dendam sama orang, soalnya aku cepet lupa. hahahaha (ngakak dia)

MEY : (krik krik krik…..)

beginilah akhir ceritanya. di antara saya, alkhaf, dan SPG, ada kebodohan.

0

Titik Jatuhnya Penyesalan

Paradigma umum :

Penyesalan datangnya belakangan…

penyesalan

Paradigma umum yang sangat sulit dihindari kebenarannya. Namun inti masalahnya justru tidak terletak pada “kapan” datangnya penyesalan, tetapi pada “sampai kapan” penyesalan itu akan disimpan.

Ilham terbesar yang membuatku rela menahan kantuk dan mengakses blog pagi-pagi buta adalah sebait tulisan seorang teman lama. Tidak benar – benar hanya sebait, tetapi berbait – bait, sebenarnya.

Ia menulis beberapa hal tentang penyesalan, beberapa kesedihan, dan ketidaksempurnaan.

Rasanya kontradiktif. Di satu sisi aku kecewa padanya. Terlalu banyak kebohongan yang tercipta dan melukai orang – orang yang seharusnya tak perlu terusik. Di sisi lain, ada satu-dua bagian dari dirinya yang membuatku kagum, bersimpati atas derita dan beban yang dirasakannya sekarang.

Ada satu hal yang kadang ingin kuketahui darinya. Mungkin akan terdengar sedikit konyol. Sebegitu beratkah rasanya menjadi tidak sempurna? Sebegitu beratkah rasanya menyadari diri kita tidak sempurna?

Oh ayolah, kita ini manusia biasa. Tak ada yang mungkin sempurna. Tak perlu mengutuk diri kita penuh beban dengan kalimat semacam “I might not be the perfect person”. Katakanlah dengan lapang dada bahwa “I am not a perfect person who will always try to be better”.

Andai aku tahu ketidaksempurnaan akan membuatmu begini terpukul, akan kuulurkan tanganku lebih awal untuk menarikmu dari keterpurukan ini. Dan sekarang, meski kapal yang pernah kita tumpangi bersama telah retak dan sepertinya cukup susah diperbaiki, I just pray for your better life…

Sumber gambar: http://indahgemini.blogspot.com

0

Spain VS Germany, the Team and their Supporters

berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan Spanyol.

menyedihkan rasanya, mengingat saya adalah salah satu fans berat Jerman. but still, I have to admit that Spain played better than Germany.

pertandingan itu disiarkan mulai pukul 01.30 dini hari di Indonesia, berakhir sekitar pukul 03.15. setelah wasit meniup peluit tanda akhir babak kedua, sebagian suporter bersorak dan sebagian lagi menangis. kesamaannya, sebagian besar langsung mengakses (baca : ribut di) berbagai akun jejaring sosial favorit mereka.

kebetulan saya sendiri cukup aktif di jejaring Twitter dan Facebook, dan it’s pretty fun to read what they wrote about that match (sometimes it’s suck too hahaha)

ada beberapa hal menarik dan cukup membuat saya terinspirasi. salah satunya ada beberapa (baca : banyak) orang yang mengaitkan kekalahan Jerman dengan hal-hal rasis semacam Hitler dan Nazi. dan saya merasa geli bukan karena saya termasuk kaum suporter sakit hati tetapi karena saya sungguh penasaran apa yang ada di pikiran mereka saat mengait-ngaitkan kekalahan suatu tim sepakbola masa kini dengan seorang tokoh fasisme yang sudah puluhan tahun lamanya tiada (lol)

dan saya juga penasaran seandainya Arab yang tersingkir di piala dunia, apa ada yang akan mengait-ngaitkannya dengan Nabi Muhammad SAW?

seandainya Israel yang tersingkir, apa ada yang akan mengait-ngaitkannya dengan Tuhan Yesus?

seandainya Rusia yang tersingkir, apa ada yang mengait-ngaitkannya dengan tokoh-tokoh komunis Rusia jaman dahulu?

seandainya tim-tim jagoan Anda di ISL atau liga-liga lainnya kalah, bagaimana perasaan Anda jika ada yang mengait-ngaitkannya dengan tokoh populer dari daerah domisili tim tersebut (meskipun jelas-jelas mereka tidak ada hubungannya dengan sepakbola)?

katakanlah misalnya Persekabpas Pasuruan tersingkir dari divisi utama ISL, bagaimana perasaan Anda jika ada yang mengait-ngaitkannya dengan artis dangdut tanah air Inul Daratista? (lol)

misalnya Persib Bandung tersingkir dari Copa Indonesia, bagaimana perasaan Anda jika ada yang mengait-ngaitkannya dengan kasus Ariel – Luna Maya – Cut Tari yang hingga kini masih heboh dibicarakan.

dan banyak lagi contoh konyol lain yang sempat terlintas di benak saya, haha. semua terinduksi dalam satu kesimpulan, bahwa tim yang kalah, bagaimanapun keadaannya, cenderung dicemooh berlebihan bahkan sampai melebar ke hal-hal lain yang sebenarnya sama sekali tidak berhubungan dengan olahraga itu sendiri. entah hal ini hanya terjadi di Indonesia atau juga terjadi di berbagai negara di dunia pada umumnya.

oh ada satu hal yang terlewat. pada babak perdelapan final, Jerman mengalahkan Inggris dengan skor telak 4-1. Kemarin saat Jerman dikalahkan Spanyol, tidak sengaja saya membaca komentar-komentar dari pendukung Inggris yang ikut bersorak atas kemenangan Spanyol (saya menyebutnya sorakan suporter sakit hati, hahaha).

penasaran saja, akankah suporter sakit hati Brasil juga akan berkumpul dan bersorak jika Spanyol berhasil mengalahkan Belanda di final Piala Dunia nanti?

akankah suporter sakit hati Inggris (lagi-lagi) akan bersorak mendukung Uruguay pada perebutan tempat ketiga Piala Dunia nanti? (lol)

menyedihkan rasanya, ternyata selama ini suporter hanya mementingkan menang dan kalah. tidak memperhitungkan kualitas dan attitude tim tersebut (memperhitungkan sebenarnya, dengan persentase tak lebih dari 30%, itupun belum tentu mereka benar-benar memahami permainan dan attitude dalam bermain sepakbola).

dan mendadak saya teringat pertandingan penutupan ISL kemarin, Persija Jakarta vs Arema Indonesia, meski bermusuhan dalam pertandingan, Aremania dan The Jakmania tetap bersaudara. Lebih indah begitu bukan? :)

0

Aal Izz Well

This is my unusual holiday.

Ya, liburan yang tak seperti biasanya. Biasanya aku akan pulang kampung, ke kota metropolitan tempat ayah berdomisili 5 tahun terakhir ini. Tinggal di rumah yang nyaman, dengan makanan lezat dan suasana hangat.

Menghabiskan waktu dengan berbelanja, bermain dengan kerabat jauh di sana. Semuanya berbau hedonisme. Anggap saja hiburan sejenak, pelarian, pelepasan dari tekanan selama satu semester belakangan.

Ya, rutinitas yang membosankan, kata seorang teman.

Kali ini ada sedikit perubahan, liburan yang biasa menjadi tak biasa. Tak ada pulang kampung, tak ada suasana hangat, tak ada hedonisme. Aku sendiri. Entah kesepian atau tidak, aku sendiri.

Bangun, mandi, bercengkerama dengan notebook, makan, mandi, bercengkerama dengan notebook (kembali), mungkin makan, lalu tidur. Sesekali disela sedikit obrolan formalitas di depan televisi ruang keluarga. Perkara keluar rumah, bukannya dilarang. Hanya, menurut kebiasaan, alangkah baiknya tidak dilakukan kecuali ada keperluan mendesak. Keadaan seperti ini, hmm, juga tak bisa disebut tidak membahagiakan, karena akupun kadang cukup betah mengasingkan diri.

Ya, sekali lagi rutinitas yang membosankan, kata seorang teman lainnya.

Kali ini, aku ingin berbagi cerita. Ada hal menarik yang kualami. Dimulai saat kelelahan dan kurang tidur akibat menonton pertandingan final Piala Dunia 2010, 2 hari berikutnya aku terbangun dengan mata berkunang-kunang. Mungkin tekanan darah yang drop, atau kadar gula yang drop, entahlah itu tak penting disebutkan dalam cerita. Berlanjut sarapan dengan makanan yang mungkin kurang higienis sehingga hari naas itu ditutup dengan diare, mual, dan demam.

My mom told me to take some medicine and go to sleep, but I can’t. I had slept all day long the day before and this day I wanted to do something useful, at least for myself. So I decided to turn on my notebook, downloaded some movies and watched some old movies while waiting for the finished movie downloads.

I chose a Korean movie “A Moment to Remember” and a Hindi movie “3 Idiots”. I kept those movies on my hard disk but I never had a spare time to watch it. Siang itu dimulai dengan menonton film dan berakhir dengan air mata (what a drama queen).

A Moment to Remember

(A Moment to Remember)

3 Idiots

(3 Idiots)

Ya, air mata.

“Berlebihan!” Itukah isi pikiranmu? Tolong segera tepis pikiran negatif tersebut dari otakmu, karena aku tak sedang menangis karena terbawa suasana film. Jika kaukira sisi sensitifku sedang tersentuh karena menonton film romantis, tolong segera tampar pipimu, agar pikiran menyedihkan tersebut lenyap.

Aku menangis karena tersadar seberapa jauh sudah kaki ini melenceng dari jalan impian yang kurangkai dengan susah payah. Ibarat Rancho yang selalu berkata “All Izz Well” yang makin lama makin tertekan. Aku bukan Rancho maupun orang yang terinspirasi oleh Rancho. Aku hanya sedang tertekan, sedang berusaha lari, menghibur diri dengan tawa, melakukan hal konyol, dan berkata “Aal Izz Well”.

Rancho (3 Idiots), played by Aamir Khan

(Rancho, dari 3 Idiots, diperankan oleh Aamir Khan)

Yes, I’m not well, definitely not well. Kerangka yang dibangun susah payah dengan “all is well” berakhir dengan “unwell”. Why? I am not well, because I’m too scared and not confident.

Jika kita berjalan mengikuti arah yang kita yakini, dan kita berusaha seoptimal mungkin (constructively), meskipun keadaan saat itu terlihat kurang kondusif dan realistis, percayalah bahwa kesuksesan pasti akan mengikuti kita, dan ya, kesuksesan benar mengikuti kita.

Setelah kutentukan arah yang kuyakini, justru di titik itulah kepercayaanku sedikit demi sedikit terkikis oleh realita. Tanpa sadar, kekhawatiran dan ke-tidak-percaya-diri-an mengarahkan realita untuk menekanku (padahal seharusnya realita menjadi bahan pembelajaran).

Itulah yang terjadi selama ini. Realita bahwa hidup tidak cukup hanya dilalui dengan kesenangan hari ini membuatku tertekan. Raut muka bahagia orangtua pun membuatku tertekan. Memang benar, materi akan membuat kita bahagia, tetapi kebahagiaan tidak terbatas diukur dengan materi. Toh orangtuaku tidak akan bahagia jika mengetahui putrinya memberi mereka kemewahan dengan diliputi tekanan. I do realize it but don’t know why I keep living my life that way.

Ada satu hal lagi. Entah sejak kapan aku berubah jadi penyombong, tak lagi bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Terlepas dari masalah tekanan, perubahan ini datang dari dalam diri. Greediness, ketamakan. Juga kelicikan. Entah sudah seberapa hitam isi hati ini.

Entah berapa lama waktu yang masih tersisa untuk meminta maaf, bersyukur, dan berterima kasih, akan kuusahakan seoptimal mungkin. I love myself. I love all the things I have, all the things I’ve done. I love all the people around me. And I thank God who has arranged this kind of life for me.

Ini pembelajaran baru bagiku, sekaligus penyadaran. Tentang hidup, tentang pola pikir, tentang persahabatan, tentang kebahagiaan. Aal Izz Well.

Sumber gambar:

http://yesasia.com

http://parapenonton.blogspot.com

http://renalapaisano.blogspot.com