0

Cantik? Seksi?

Buat saya, wanita yang cantik dan seksi itu bukan mereka yang bisa melakukan ini atau tidak melakukan itu, juga bukan mereka yang mengenakan ini atau tidak mengenakan itu. Cantik dan seksinya seorang wanita terlihat dari sorot mata, raut wajah, cara bicara, dan pola pikirnya. Kecantikan dan keseksian itu terpancar dari dalam diri, bukan dari ‘tempelan-tempelan’ di badan.

Wanita cantik dan seksi tahu apa yang mereka inginkan dalam hidup. Kaki-kaki kecilnya membentuk pola alir sendiri, khas, berkarakter, tidak mengikuti pola orang lain atau pola ‘default’ di masyarakat. Mereka menilai diri (juga lingkungan) dengan realistis. Selalu ada aura berani dan percaya diri terpancar dari hal-hal yang mereka lakukan untuk mencapai tujuan.

Selain itu, wanita cantik dan seksi (menurut saya) memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa. Selalu ingin tumbuh dan berkembang, belajar hal-hal baru, ingin lebih bermanfaat dari hari ke hari, serta mampu mengelola saran dan kritik dari siapapun. Tak lupa, mereka yang cantik dan seksi adalah mereka yang bertanggung jawab, bersedia menerima konsekuensi dari segala hal yang sudah diperbuat.

Sekali lagi, cantik dan seksi itu bukan perkara bentuk tubuh, bukan perkara apapun yang kita kenakan, juga bukan perkara apa yang senang (atau tak senang) kita lakukan. Berbahagialah dengan apapun yang kita miliki, berusahalah menampilkan yang terbaik dari dirimu, jadilah bermanfaat, maka setiap wanita akan terlihat cantik dan seksi.

P.S. Mas @ladangsandiwara, menangin aku, ya! Ngahahahaha :p

[by @meyDM]

3

Benci Dilukai? Jangan Melukai!

Ini salah satu kutipan favorit saya dari serial animasi Naruto Shippuuden.

When you’re in pain, you tend to hurt others.

After you hurt others, you’ll be surrounded by guilty feelings.

In the end, it’s time to realize that because of the pain, you should have learned to treat other people more kindly.

~Jiraiya Sensei

Benci dilukai? Jangan melukai!

Sumber gambar: http://bit.ly/XROcLm

0

Salah Satu Epilog Favoritku (:

Ketika angin berhembus, biarkan daun-daun bergoyang.
Aku yakin akan tiba masanya angin berhenti berhembus.
Ketika hujan turun, berkumpulah dengan para sahabat. Kau tak sendiri.
Ketika cinta datang, jatuh cintalah.
Dan ketika cinta pergi, biarkan ia pergi.
Ketika kau mampu menerima kenyataan yang tidak dapat kau ubah, cinta lain akan datang.
Waktu yang penuh dengan kecemburuan telah habis.
Hari ini adalah yang paling berharga.
Mengakui bahwa aku mencintaimu, mungkin akhirnya sekarang aku dapat berbahagia.

This is my favorite quote from “Still Marry Me” (TV series).

Sumber gambar:
http://bit.ly/TMlfTE
http://bit.ly/WCAf3c

[Mey] [@meyDM]

0

Kekesalanku Kapan Hari Itu

Ini hidupku. Itu hidupmu. Dulu kita tak saling mempengaruhi. Mestinya sekarangpun kita tak saling mempengaruhi.

Namun entah mengapa ketika hidup kita mendadak terhubung secara misterius, aku gagal membentengi diriku dari pengaruh-pengaruhmu.

Ketika mendadak aku merasa pikiran kita saling terkait dengan cara-cara yang tak dapat dibayangkan, aku gagal melindungi hati dari candu akan hadirmu.

Letih dan terasa hina.

Hidup dalam ironi yang kuciptakan sendiri.

Komplikasi yang kuperumit sendiri.

Ingin kulepas dan kulupakan saja semua ironi dan lelucon pahit ini.

Namun hatiku terlanjur sakau.

Sesedikit itukah waktu yang kauluangkan untuk memikirkanku?

Menganggap semuanya santai dan akan selalu baik-baik saja?

Mungkin memang itu yang kaurasakan.

Mungkin memang itu yang benar-benar akan terjadi padamu.

Dengan semua yang kaupunya dan setiap keberuntungan yang menaungimu.

Bagaimana dengan diriku?

Adakah sedikit tempat bagiku di hatimu?

Adakah sedikit saja waktu yang kauluangkan untuk memastikan bahwa aku di sini sedang baik-baik saja…

Standar
0

Hari Terakhir

Ada yang mengkritisi paradigmaku hari ini. Hahaha. Honestly, it is not a cynical laugh. Although it might sound cynical when you really hear me laughing here.

Ada semacam perasaan senang saat membaca message dari seorang teman siang ini. Mengkritisi paradigmaku. Dia bilang aku ini kolot, egois, dan gengsian. Hahaha percaya tak percaya, postingan ini kutulis sambil cekikikan =D

Kesalkah ? Tidak, sedikitpun tidak.

Tersinggung ? Sama sekali tidak.

Dia juga bilang aku orang yang NATO, no effort.

Kalau orang lain yang dengar, mungkin teman itu sudah digaplok pakai rotan sampai pingsan.  Hahaha =D

But, thanks anyway for that dearest friend. Seperti yang kukatakan padanya barusan, aku memang perlu ditegur. Perlu dikritisi dan memang sedang ingin dicerca. Akhir-akhir ini terlalu banyak pujian yang membuatku sedikit lupa pada prinsip-prinsip utama yang selama ini melekat erat di benakku, terutama soal effort tadi.

Masalah dimulai saat aku tanpa sengaja mendiamkan seorang teman. Sama sekali tidak bermaksud mendiamkan sebenarnya. Hanya entah sejak kapan dia tidak menghubungiku lagi dan akupun tidak menghubunginya. Entah malas, entah memang gengsi, entah aku yang suka sok sibuk selama ini. Hal ini kemudian berlanjut hingga berbulan-bulan lamanya.

Sering ada rasa tak nyaman. Sering aku ingin menghubunginya, entah itu dengan telepon atau sekedar sms biasa saja. Namun entah mengapa tak kunjung kulakukan. Sesekali dia menghubungiku, namun komunikasi kami kembali terputus begitu saja. Bahkan saat inipun, saat entah bagaimana komunikasi kembali terjalin dan dia dengan berapi-api mengkritisi paradigmaku, kami hanya saling bicara melalui message facebook. Padahal bisa saja dengan mudah aku meneleponnya atau bagaimanalah.

Lucu ? Memang.

Konyol ? Iya.

Unik ? Sangat, menurutku.

Hal inipun sudah kuutarakan padanya siang ini, hanya lewat message facebook. Semalam aku sempat mengirim sms untuknya. Tahukah anda apa yang kukatakan padanya ? Isi sms itu hanya mengabarkan bahwa saya, Mey, sudah membalas messagenya di facebook. Hahaha ya ampun (lol)

Sebenarnya ada apa ini ? Mengapa lidahku jadi kelu dan tanganku mendadak lumpuh. Entah sejak kapan aku berubah autis dan apatis, hanya gemar berkomunikasi dengan tulisan. Bukan tidak mau berkomunikasi dengan kata – kata, hanya saja ada perasaan takut. Entah takut, entah bimbang. Rasanya aku kehilangan pegangan saat berhadapan dengan orang lain.

Tak terhitung berapa kali aku menolak ajakan bertemu dengan orang lain, sekalipun sebagian besar orang yang mengundang adalah teman-teman baikku sendiri. Bukan karena aku sombong atau mungkin malas, hanya saja ada perasaan takut dan bimbang. Entah mengapa.

Dan sekarang, setelah mendengarkan cercaan halus dari seorang teman tentang paradigmaku yang kolot dan perilakuku yang tampak no effort, aku mulai menyadari satu hal dan memikirkan beberapa hal. Bukan hal baru memang, hanya beberapa hal lama yang sempat terlupakan.

Effort dan tindakan aktual, sekalipun sangat kecil dan tidak terlalu tulus, kenyataannya jauh lebih berarti daripada segumpal kata-kata dan sebongkah perasaan yang sekedar disimpan dalam hati.

0

Apa dan Mengapa, lalu Bagaimana

Apa yang membuatku perlu memahamimu ?

Apa yang membuatku perlu memaafkanmu ?

Dan apa yang membuatku (masih) perlu peduli terhadapmu ?

Tak ada. Baru saja kuputuskan, tak ada. Tak ada lagi. Dan takkan pernah ada lagi. Selanjutnya aku takkan pernah kembali menjadi seperti dulu lagi. Karena sesungguhnya hidup ini hanya berjalan sekali dan waktu takkan pernah bisa diputar kembali.

Ya, waktu takkan pernah bisa berbalik mundur. Meski seringkali dipaksa dan diharap-harap mundur, namun waktu tak pernah melakukannya, demikian pula diriku. Betapapun inginnya aku kembali menoleh ke belakang, merangkai serpihan masa lalu, kemungkinan terjadinya hal ini hampir sama besar dengan kemungkinan bertelurnya sapi.

Dan kalaupun suatu saat nanti tiba-tiba aku menoleh ke belakang, andaipun aku mengalah pada entah hal apa yang menunggu di depan sana, lalu terengah mengais tanah mencari serpihan masa lalu yang semburat di sana, toh akupun belum tentu berhasil merangkainya kembali. Besar kemungkinan serpihan itu sudah hancur serapuh debu, beterbangan ke sana kemari menyatu dengan udara yang kuhirup sehari-hari, tak mungkin dirangkai kembali.

Entah sudah berapa lama aku memendam pemikiran ini dalam hati, bergulat dengan tanya, dan bergelut sendiri dalam ketidakpastian. Ingin berbuat sesuatu namun tak yakin seberapa baik tindakanku ini akan memberi dampak pada orang-orang di sekitarku.

Sering aku menjerit sendiri dalam hati saat melihat ia, orang yang memang paling banyak menerima dampak dari keputusanku ini, menderita dan perlahan semakin mengalami kemunduran. Kemajuan yang dialaminya selama 1 semester kemarin dengan susah payah sekarang beranjak hancur dengan kecepatan yang luar biasa. Hal ini tak hanya dirasakan olehnya, aku yakin itu, tetapi juga dirasakan semua orang yang ada di sekitar kami.

Tetapi hidup hanyalah sekumpulan pilihan – pilihan yang harus kita ambil. Memilih satu hal berarti mengorbankan lain hal. Masing – masing ada manfaat dan resikonya. Dan inilah pilihannya, juga pilihanku. Inilah pilihan kami, resiko yang harus kami pikul bersama.

Bukan berarti aku tak menyayanginya. Justru pilihan ini kuambil karena aku menyayanginya. Aku harus membuatnya belajar memahami bahwa dia bukan anak kecil lagi yang akan selalu kumanjakan bak pangeran. Mungkin sekaranglah saatnya aku mundur dan cukup memerhatikanmu dari kejauhan. Diam-diam membantumu dan menghilang sebelum sempat kausadari aku pernah datang.

Ini bukan soal apa ataupun mengapa. Sudah bukan jamannya lagi kita bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi ataupun mengapa semua ini terjadi. Mengapa semua ini terjadi padaku ataupun apa salahku hingga semua jadi seperti ini. Ini adalah masalah bagaimana. Bagaimana kita menyikapi hal yang sudah terlanjur panjang seperti ini.

Apa aku masih mencintaimu ? Entahlah. Aku tak tahu apakah cinta masih merupakan kata yang cocok untuk menggambarkan rantai yang erat membelit kita akhir-akhir ini.

Apa aku masih menyayangimu ? Iya, aku tetap menyayangimu dan akan selalu begitu. Aku akan selalu ada di belakangmu dan mendukungmu. Cukup aku yang perlu tahu hal ini, kau tak perlu menyadari keberadaanku.

Ini adalah masalah bagaimana. Bagaimana aku memaklumi keenggananmu mengungkapkan perasaanmu dan rencana-rencanamu tentang semua ini kepadaku. Bagaimana aku harus menghadapimu selanjutnya. Bagaimana aku bisa mengerti berbagai macam tindakan irrasional yang dilakukan berbagai macam orang di sekitarku. Bagaimana aku menyikapi situasi ini dengan caraku sendiri, untuk diriku sendiri, dan untukmu.

Kalaupun sempat terbersit kekhawatiran di benakmu, tenanglah, sesungguhnya aku tak pernah benar-benar meninggalkanmu :)

 

Sumber gambar: http://malikazir.wordpress.com

0

Mengerti atau Tak Mengerti

ada yang bilang saya tak mengerti.

ada yang bilang saya hanya meraba-raba.

ada yang bilang saya hanya menebak-nebak.

ada yang bilang saya tak tahu.

ada yang bilang saya tak ingin tahu.

ada yang bilang saya tak mengenal.

ada yang bilang saya hanya paham setengah-setengah.

*

dia bilang dia lebih tahu.

dia bilang saya tidak tahu.

dia bilang saya tidak mengerti.

dia bilang dia lebih mengerti.

*

kadang kala kebenaran bisa digoyahkan dengan bujuk rayu dan sangkaan sepihak yang tak pernah terkonfirmasi, namun pada hakikatnya, kebenaran tidak akan pernah salah. kebenaran adalah fakta. kebenaran adalah kebenaran, bukan kebetulan.

saya tidak sedang memaksa orang-orang melakukan pembenaran, ataupun memaparkan mana yang benar dan salah. saya hanya ingin kita bersama-sama melihat kebenaran. kebenaran yang kita bangun bersama. kebenaran yang perlahan kita robohkan bersama saat ini.

0

Aal Izz Well

This is my unusual holiday.

Ya, liburan yang tak seperti biasanya. Biasanya aku akan pulang kampung, ke kota metropolitan tempat ayah berdomisili 5 tahun terakhir ini. Tinggal di rumah yang nyaman, dengan makanan lezat dan suasana hangat.

Menghabiskan waktu dengan berbelanja, bermain dengan kerabat jauh di sana. Semuanya berbau hedonisme. Anggap saja hiburan sejenak, pelarian, pelepasan dari tekanan selama satu semester belakangan.

Ya, rutinitas yang membosankan, kata seorang teman.

Kali ini ada sedikit perubahan, liburan yang biasa menjadi tak biasa. Tak ada pulang kampung, tak ada suasana hangat, tak ada hedonisme. Aku sendiri. Entah kesepian atau tidak, aku sendiri.

Bangun, mandi, bercengkerama dengan notebook, makan, mandi, bercengkerama dengan notebook (kembali), mungkin makan, lalu tidur. Sesekali disela sedikit obrolan formalitas di depan televisi ruang keluarga. Perkara keluar rumah, bukannya dilarang. Hanya, menurut kebiasaan, alangkah baiknya tidak dilakukan kecuali ada keperluan mendesak. Keadaan seperti ini, hmm, juga tak bisa disebut tidak membahagiakan, karena akupun kadang cukup betah mengasingkan diri.

Ya, sekali lagi rutinitas yang membosankan, kata seorang teman lainnya.

Kali ini, aku ingin berbagi cerita. Ada hal menarik yang kualami. Dimulai saat kelelahan dan kurang tidur akibat menonton pertandingan final Piala Dunia 2010, 2 hari berikutnya aku terbangun dengan mata berkunang-kunang. Mungkin tekanan darah yang drop, atau kadar gula yang drop, entahlah itu tak penting disebutkan dalam cerita. Berlanjut sarapan dengan makanan yang mungkin kurang higienis sehingga hari naas itu ditutup dengan diare, mual, dan demam.

My mom told me to take some medicine and go to sleep, but I can’t. I had slept all day long the day before and this day I wanted to do something useful, at least for myself. So I decided to turn on my notebook, downloaded some movies and watched some old movies while waiting for the finished movie downloads.

I chose a Korean movie “A Moment to Remember” and a Hindi movie “3 Idiots”. I kept those movies on my hard disk but I never had a spare time to watch it. Siang itu dimulai dengan menonton film dan berakhir dengan air mata (what a drama queen).

A Moment to Remember

(A Moment to Remember)

3 Idiots

(3 Idiots)

Ya, air mata.

“Berlebihan!” Itukah isi pikiranmu? Tolong segera tepis pikiran negatif tersebut dari otakmu, karena aku tak sedang menangis karena terbawa suasana film. Jika kaukira sisi sensitifku sedang tersentuh karena menonton film romantis, tolong segera tampar pipimu, agar pikiran menyedihkan tersebut lenyap.

Aku menangis karena tersadar seberapa jauh sudah kaki ini melenceng dari jalan impian yang kurangkai dengan susah payah. Ibarat Rancho yang selalu berkata “All Izz Well” yang makin lama makin tertekan. Aku bukan Rancho maupun orang yang terinspirasi oleh Rancho. Aku hanya sedang tertekan, sedang berusaha lari, menghibur diri dengan tawa, melakukan hal konyol, dan berkata “Aal Izz Well”.

Rancho (3 Idiots), played by Aamir Khan

(Rancho, dari 3 Idiots, diperankan oleh Aamir Khan)

Yes, I’m not well, definitely not well. Kerangka yang dibangun susah payah dengan “all is well” berakhir dengan “unwell”. Why? I am not well, because I’m too scared and not confident.

Jika kita berjalan mengikuti arah yang kita yakini, dan kita berusaha seoptimal mungkin (constructively), meskipun keadaan saat itu terlihat kurang kondusif dan realistis, percayalah bahwa kesuksesan pasti akan mengikuti kita, dan ya, kesuksesan benar mengikuti kita.

Setelah kutentukan arah yang kuyakini, justru di titik itulah kepercayaanku sedikit demi sedikit terkikis oleh realita. Tanpa sadar, kekhawatiran dan ke-tidak-percaya-diri-an mengarahkan realita untuk menekanku (padahal seharusnya realita menjadi bahan pembelajaran).

Itulah yang terjadi selama ini. Realita bahwa hidup tidak cukup hanya dilalui dengan kesenangan hari ini membuatku tertekan. Raut muka bahagia orangtua pun membuatku tertekan. Memang benar, materi akan membuat kita bahagia, tetapi kebahagiaan tidak terbatas diukur dengan materi. Toh orangtuaku tidak akan bahagia jika mengetahui putrinya memberi mereka kemewahan dengan diliputi tekanan. I do realize it but don’t know why I keep living my life that way.

Ada satu hal lagi. Entah sejak kapan aku berubah jadi penyombong, tak lagi bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Terlepas dari masalah tekanan, perubahan ini datang dari dalam diri. Greediness, ketamakan. Juga kelicikan. Entah sudah seberapa hitam isi hati ini.

Entah berapa lama waktu yang masih tersisa untuk meminta maaf, bersyukur, dan berterima kasih, akan kuusahakan seoptimal mungkin. I love myself. I love all the things I have, all the things I’ve done. I love all the people around me. And I thank God who has arranged this kind of life for me.

Ini pembelajaran baru bagiku, sekaligus penyadaran. Tentang hidup, tentang pola pikir, tentang persahabatan, tentang kebahagiaan. Aal Izz Well.

Sumber gambar:

http://yesasia.com

http://parapenonton.blogspot.com

http://renalapaisano.blogspot.com