4

#13HariNgeblogFF ~ Cut!

“CUT!”

Semua memandang laki-laki itu dengan geram. Entah sudah berapa kali ia berteriak seharian ini. Apa yang salah kali ini? Posisi berdiri atau ekspresi wajah kami yang lagi-lagi kurang sempurna? Apa lagi sekarang?

“CUT! CUT!”

Sungguh hari yang melelahkan. Ada begini banyak makhluk mempesona, kau saja yang tak becus mengatur penempatannya. Sekarang kau berteriak seolah kekacauan ini salah kami. Kami memang tak punya hak untuk protes. Kau tahu benar itu dan kaumanfaatkan dengan sangat baik. Dasar laki-laki sialan!

“CUT! CUT! CUT! AAARGH!”

“Hoi! Berisik banget lu, Tom! Ngapain sih di kamar? Capek gue dengernya!”

“Ini nih puzzle dari cewek gue, Hans. Bantuin napa, susah banget nyusunnya. Dasar puzzle cut cut cut kancuuuut!”

6

#13HariNgeblogFF ~ Tunggu di situ, aku sedang menujumu

“Tunggu aku di situ, aku sedang menujumu!”

Inilah saatnya. Untuk pertama kali, dalam 6 bulan terakhir, aku akan menemuinya. Bulan-bulan penuh diet ketat, olahraga, dan perawatan tubuh yang menyiksa sudah usai. Aku sudah menjadi Wulan baru. Wulan yang lebih layak, lebih pantas mendapatkanmu. Jadi, tunggu aku di situ, aku sedang menujumu!

***

 

“Lebay lu, Lan. Mentang-mentang setengah tahun nggak ketemu.”

“Lis, nunggu 6 bulan itu nggak gampang lho. Jeng Lisa yang terlahir cantik mana tahu penderitaan orang macam gue. Hih!”

“Iya deh. Salut gue ama perjuangan elu, Lan. Dah, have fun ya, dah sampai tuh.”

Jantungku berdebar kencang, sebentar lagi aku bisa menemuinya.

“Selamat siang, ada yang bisa dibantu?”

“Triple cheeseburgernya  1 ya, Mbak!”

5

#13HariNgeblogFF ~ Jangan ke mana-mana, di hatiku saja

“Jangan ke mana-mana, di hatiku saja…”

Muak aku mendengarnya merayu para gadis. Entah mengapa mereka menyukainya. Meski mereka tahu benar lelaki itu merayu setiap gadis yang ia temui, tetap saja gadis-gadis itu menyerahkan tubuhnya.

***

“Selamat sore, dengan Ayam Goreng Mbok Par, ada yang bisa dibantu? Satu ekor ayam panggang, atas nama Bapak Hans ke alamat biasanya. Baik, Pak. Terima kasih. PARDIII!!! Cepat potong si jambul merah! Apa sih kerjamu di belakang? Sekalian tangkap kucing-kucing yang berkeliaran di sekitar kandang! Biar kugoreng buat makan malam kita…”

Ah, akhirnya mulai malam ini si jambul merah tak bisa lagi merayu gadis-gadis di peternakan. Tamat juga riwayatnya. Aku harus segera kabur sebelum tertangkap oleh Pardi.

4

#13HariNgeblogFF ~ Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

“Sudah makan?”
“Iya.”

“Kamar ini cukup nyaman untukmu?”
“Iya.”

Rudi menatap sesosok perempuan yang duduk tertunduk di sisi ranjang. Uraian rambut panjangnya gagal menyamarkan lingkaran hitam di sekitar mata. Bibirnya kering pecah-pecah dan pipinya tampak pucat.

“Mau kupesankan sup iga dan susu hangat favoritmu?”
“Iya.”

Terdengar suara pelayan mengetuk pintu. Sepiring nasi putih, seporsi sup iga, dan segelas susu hangat diletakkan di atas meja sebelah ranjang.

“Makanlah dulu.”
“Iya.”

“Masih mencintaiku?”
“Iya.”

“Malam ini pulang ke rumah?”
“Iya.”

“Berencana menikah lagi?”
“Iya.”

“Tak adakah kata lain yang bisa kauucapkan?”
“Waktu short time hampir habis. Kata-kata apa lagi yang ingin kaudengar? Bukankah tadi kau membayar Ibu untuk tak pernah berkata tidak, Nak?”

[Mey] [@meyDM]

7

#13HariNgeblogFF ~ Bales Kangenku Dong!

DUK!!!

“Aduhhh!”

“Aduh maaf, Ma. Ternyata Mama sembunyi di sini. Maaf, ya. Papa tadi buru-buru, nggak tahu ada Mama lagi sembunyi. Maaf ya, Ma.”

“Nggak apa-apa, Pa. Bisa ketemu Papa aja, Mama udah seneeeng banget. Mama kan kangen Papa…”

“Papa juga kangeeen banget sama Mama…”

“Pokoknya malem ini kita nggak boleh gagal, Pa. Harta yang disimpen di dapur itu harus kita curi! Oke, Pa?”

“Betul, Ma! Ayo kita masuk, jendelanya kebuka sedikit tuh!”

Sepasang suami istri tersebut berhasil memasuki dapur. Perlahan mereka mengendap-endap mendekati tempat persembunyian harta yang tengah diincarnya. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat.

“PA!!! KITA KETAHUAN, PA!!! LARI!!!”

“AAAAAAK!!!”
***

“KANIAAA!!! SISA KUEMU DIKERUBUTIN SEMUT!!! AYO CEPAT BERSIHKAN!!!”

[Mey] [@meyDM]