9

#13HariNgeblogFF ~ Bangunkan Aku Pukul 7

07/01/2013

“Bangunin aku jam 7 ya, Ma…”

“Jadi itu kata-kata terakhir Doni, Tante?”

“Iya…”

Di samping sebuah makam, 2 orang wanita bersimpuh, menitikkan air mata.

***

02/01/2013

“Kamu yakin?”

“Maaf, Ma. Doni nggak tega gugurin bayi kami…”

“Anak Mama sudah lupa janjinya dulu.”

“Ma, Doni nggak akan ninggalin Mama. Mama, Doni, Nina, dan calon cucu Mama, ini keluarga baru kita.”

***

06/01/2013

“Makasih restunya, love you, Mommy. Besok Doni mau nemenin Nina USG, bangunin aku jam 7 ya, Ma…”

Esoknya, Doni ditemukan tewas akibat gantung diri. Mama menolak melakukan visum dan bersaksi bahwa putranya sedang tertekan setelah menjadi ayah di usia muda. Setelah polisi dan semua pelayat meninggalkan rumah, Mama menangis di sudut kamar sambil menatapku, sepasang tangan yang ia gunakan untuk mengakhiri nyawa putra semata wayangnya.

5

Tunggu Aku dan Jangan Kunci Pintu

Aku akan pulang, sayang
Saat satu, dua, tiga helai uban mulai bermunculan
Saat sepasang alis beranjak memutih nan menipis
Saat pangkal hidungmu lelah menopang tebalnya kacamata berlensa ganda

Aku akan pulang, sayang
Saat senja terbenam di ujung barat dan di sepasang dada kita
Saat kaki-kaki kecil kita tiba di masa yang dulu kausebut menua
Saat ibu jarimu gemetar, pun punggungmu meronta setelah membungkuk terlalu lama

Aku akan pulang, sayang
Dengan sebuket lili putih dan tiga ikat ilalang
Lili putih favoritmu dan ilalang penghalau mimpi burukmu
Aku akan pulang dengan sekeranjang tenang untuk kautanam dalam rindangnya rindumu.

Namun hari ini aku harus pergi
Bukan meninggalkanmu sendiri
Melainkan biar kau haru
Dengan cinta yang kaupilih seminggu lalu
Nanti, saat ia yang kaudamba tak lagi menginginkanmu
Aku akan pulang, sayang
Aku pasti pulang, sayang

Sumber gambar: http://bit.ly/UdArIC

[Mey] [@meyDM]

2

Akulah, Penikmat Pesta Rakyat

Bergumul pesta rakyat nan riuh bahana, gigilku tak lagi utuh.

Derap kuda lumping injak tengkuknya.

Duri-duri lecut pecut cabik tempurung lututnya.

Bulir-bulir hujan rajai lesung pipinya, pipi yang beranjak kumuh.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang kesumat.

Dengung ketipung urung limbung kala takbir beranjak dekat.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang keparat.

Geliat kerbau gila dan pekik-pekik perawan belia, luruhkan iman yang mulai lekat.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang sekarat.

Coba hirup aroma luka menguar bersama hujan, coba reguk teduhnya payung-payung pelaminan, sebelum napas kalian cekat.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang melarat.

Tak terselamatkan, tak sebiji jagungpun terselamatkan, wahai anakku.

Tak terkecuali ibumu.

 

Sumber gambar: http://sphotos-a.xx.fbcdn.net/hphotos-ash4/390814_10150456159012477_1058663846_n.jpg

0

Karenamu, Kubunuh Separuh Diriku

Aku bertengkar dengan separuh diriku
Memperbincangkanmu
“Sekadar mimpi”, ia menyebutmu
“Lalu, bukankah kita tengah sepakat?” tanyaku
“Lelaki itu serupa mimpi, bagiku.”

Separuh diriku membencimu
“Sekadar mimpi”, berulang kali ia menghakimimu
Lelaki yang bermain api
Mendekati gadis yang setengah tuli
Gadis yang sulit mendengar pekik nurani

Separuh diriku, aku membencinya
Kuraih setengah tengkuknya, kupatahkan dalam satu hela
Separuh diriku, terkapar sempurna
Semesta malu-malu memalingkan rupa
Membisikkan gelar baruku, “Wanita yang Membunuh Separuh Dirinya”

Karenamu, aku memilih bisu
Karenamu, aku membunuh separuh diriku
Biar setengah lidah ini tak lagi menjeritkan luka di telingamu
Datanglah padaku
Genapkan sebagianku dengan separuh dirimu

[Mey] [@meydianmey]

0

Separuh Wajahmu Selalu Menemukanku

Aku mengenang separuh wajahmu dalam ingatan

Bersama tempias pendar lampu yang kaucuri di setiap tikungan

Alangkah remang jelmaan surga paling sederhana, katamu

Di dalamnya, jemari kita riuh beradu

 

Memandang separuh wajahmu selalu membangkitkan bebait janggal

Menunggu ditumpahkan selepas air mata ini tanggal

Dalam layar putih, kau termangu

Kadang memandangku, lain waktu memandang kenanganku

 

Separuh wajahmu beradu dengan asap dan tudung tebal

Menyisa harum kenang penghangat bantal

Pantas saja, tidurku tak nyenyak

Tersengat bau tengkukmu, lelapku retak

 

Separuh wajahmu memanjang di kaki senja

Mungkin matahari bosan melukis bayang-bayang kita

Ia memilih benam, menuju remang

Tanpa tahu, di dalamnya tersembunyi surga kita yang hilang

 

Separuh wajahmu tampak kerap mengakrabi keremangan

Mungkin, di sanalah kau menemukanku, kau mengkhianati rembulan

Separuh wajahmu selalu meninggalkanku

Lain waktu, ia mengejar waktu, lagi-lagi menemukanku

0

Tertawa(lah)(kah) Kau Melihatku Sekarat

Bumi, belulang, berhala, dan segala yang mengabu dikecup waktu,
tak mampu lelapkan hari akhir,
meski hanya sejenak,
sekejap lebih lama dari yang mampu terpikir,
meski cukup sekadarnya detak.

Apa yang muncul dalam benakmu,
sepanjang satu-dua isapan cerutu,
sesaat jelang putus alir nadiku?
Tawakah?
Membahana sarat luka?
Air matakah?
Membadai gemuruh cita?

Sayang, lengkung bibirmu sungguh datar,
terpasung lesung pipi beku terkapar,
tak goyah meski bahuku gemetar.
Sayang, beri aku bingkisan,
berhias pita-pita senyuman.
Sebab mimikmu tak teramalkan,
menunggu diterjemahkan,
dalam bahasa kecupan.

[Mey] [@meydianmey]

0

Aku Benci Kau Mendua

Aku benci kau mendua,
menepikan rindu yang riuh bahana.

Aku benci kau mendua,
mengijinkan luka menukar lengkung bibir cita.

Aku benci kau mendua.
Kau tiada kala mala gelayut mata.

Aku benci kau mendua,
sebagianmu terasa tak nyata.

Aku benci kau mendua,
ingkar pada muara tautan lengan kita.

Aku benci kau mendua,
mendusta yang kausebut dengan selalu cinta.

Aku benci kau mendua.
Aku begini nestapa, kau begitu tiada.

Aku benci kau mendua.
Hatimu memuat senyum yang gagal kueja.

Aku benci kau mendua.
Segala kenang air mata yang enggan kuraba.

Aku benci kau mendua.
Lebih baik kita lenyap saja,
lalu bersama dalam tiada.

Aku benci kau menduakannya,
dengan merayakan kita.

[Mey] [@meydianmey]

0

Akulah Sunyi, Akulah Bunyi

Akulah sunyi, akulah bunyi
lekat memelukmu jelang pagi
tertinggalkan bulan yang lama mati
dikerat sepi

Akulah sunyi, akulah bunyi
menggemai ngarai-ngarai rongga dada
Bukan aku
pun kamu
melainkan bulan
ialah setia menebar mala

Akulah sunyi, akulah bunyi
gagal merajahi lidah-lidah matahari
Sebab luka
wajah bulan urung dicumbui

Akulah sunyi, akulah bunyi
menelusup tengkuk
di ujung hening malam
Melantun doa
mengharap kepulangan
diam-diam

Akulah sunyi, akulah bunyi
terdampar di sudut-sudut temaram
Satu kamu
satu senja
memijak-mijak sayapku;
sendaku pejam

Akulah sunyi, akulah bunyi
menggelayut kepak-kepak hitam
Rupawankah bulan malam ini?
Adakah lesung pipitnya terlipat senda?

Akulah sunyi, akulah bunyi
topeng bagi raut-raut sarat luka
Sebab sangkakala
kerap meniadakan sebelah hatinya

Posted from WordPress for BlackBerry.

0

Bahagianya adalah Bahagiaku

Egoisme. Hasrat manusiawi untuk mengejar kebahagiaan sejati. Ketamakan. Kemunafikan.

Adakah yang bisa menunjukkan seberapa lebar jarak di antaranya?

Aku mengenalnya di saat yang kurang tepat, memang benar.

Aku memutuskan bahwa dialah yang kuinginkan di saat yang benar-benar tidak tepat, itu juga benar.

Aku bertanya padanya dan semua orang yang menyisihkan waktu untuk mendengar keluh kesahku, apakah aku salah? Apakah perasaanku salah? Dia dan mereka bilang tidak.

Aku bercermin dan bertanya pada diriku sendiri, apakah tindakanku benar? Bayang-bayangku mengangkat sebelah tangannya dan mencengkeram ujung kerahku. Ia menamparku dan memaki betapa aku seorang wanita rendah.

Aku bersandar di ujung ranjang. Menghela nafas dalam-dalam sambil memandang ke luar jendela. Sering kulakukan hal ini ketika aku resah. Teringat saat aku sering memaki wanita-wanita yang kuanggap rendah karena berbagai alasan, salah satunya karena senang mengganggu hal-hal yang bukan milik mereka. Dan saat ini akulah wanita rendah itu.

Sama sekali tak terbayang ingin mengganggunya. Hanya sejenak terpikir untuk meyakinkannya bahwa ada aku di sini untuknya. Itu saja, tidak lebih. Tetapi keadaan berubah di luar kendaliku. Tanpa kusadari hatiku dan hatinya telah tertaut sejauh dan sedalam ini. Dan kehadiranku mulai mengganggu.

Seberapa jauh antara egoisme dengan hasrat alamiah manusia untuk mengejar kebahagiaan sejatinya ? Dan seberapa jauh lagi jaraknya dengan ketamakan ? Atau seberapa dekat jaraknya dengan kemunafikan ?

Yang pasti kuhendaki adalah kebahagiaannya, entah denganku, entah dengan orang lain. Melihatnya bahagia jauh lebih penting daripada egoisme maupun naluri manusiawiku. Melihatnya bahagia dengan pilihannya. Melihatnya bahagia dengan jalan terbaik yang telah digariskan Tuhan untuknya.

Meskipun sesungguhnya belum sedikitpun kusiapkan diri dengan kondisinya yang jauh dariku. Meskipun sesungguhnya naluri manusiawiku menjerit pilu. Meskipun bahkan saat ini aku tak tahu apa yang kurasakan, kuinginkan, dan harus kulakukan untuknya. Meskipun dengan sadar kuakui perlahan aku sedang berjalan mendekati nerakaku sendiri.

Yang terpenting bagiku, dia tersenyum.

Akan kubiarkan dia menjauh, jika memang itu yang dimintanya. Dan aku akan menghilang. Menjalani hidupku dengan senyuman. Mencoba bahagia, menikmati jalan kebahagiaan yang telah aku pilih dengan sadar diri. Karena senyumnya adalah bahagiaku.

Sumber gambar:

http://kangwahyu.com

http://xinevitablexlovex.deviantart.com

0

Antara Aku, Sahabat-sahabatku, Orang yang Kusayangi, dan Orang-orang yang akan Kutemui Nanti

 

Mengingat kenangan-kenangan baik dengan orang-orang yang kusayangi. Inilah yang dikatakan seorang sahabat kepadaku beberapa hari lalu.

Seorang yang kusayang pernah berkata, ia meminta maafku. Dia bilang, karena aku menyayanginya, hal itu membuatku jauh dari sahabat-sahabat tersayangku. Aku hanya tersenyum simpul.

Dan beberapa hari lalu, sahabat-sahabatku banyak bertanya, dengan siapa aku dekat sekarang, siapa yang sedang menghiasi hatiku sekarang. Lagi-lagi aku hanya tersenyum simpul.

Mengapa aku tersenyum? Karena aku sedang menghindar, bagai pesawat tempur yang sedang bermanuver ke sana kemari menghindari rudal. Aku tak tahu harus menjawab apa.

Jika sahabat-sahabatku kembali bertanya tentang orang baru yang tengah menghias hatiku, menemani hariku, mungkin aku akan tetap tersenyum sambil berkata, “Entahlah. Yang pasti, dalam hatiku, di setiap hariku, ada kalian.”

Dan jika orang yang kusayang kembali mengatakan hal yang sama padaku suatu saat nanti, aku akan tersenyum padanya. Dan aku akan memalingkan mukaku sambil berkata, “Ngga perlu.” Mengapa? Karena sorot mata tak bisa berbohong. Namun aku tak ingin ia melepaskanku karena sorot mata itu.

Dan untuk orang-orang baru yang kelak datang dan menghiasi hati dan hariku, aku tak ingin menjanjikan apa-apa. Hidupku bagaikan aliran sungai. Kadang dalam, kadang dangkal. Kadang berbatu dan beriam. Kadang dingin dan mematikan. Kadang sejuk dan menenangkan. Kadang bermanfaat, kadang membuat porak poranda. But that’s me, just say “Hi!”, then go with the flow…

 

Sumber gambar:

http://cherrybam.com

http://smsblaze.com

0

Mengerti atau Tak Mengerti

ada yang bilang saya tak mengerti.

ada yang bilang saya hanya meraba-raba.

ada yang bilang saya hanya menebak-nebak.

ada yang bilang saya tak tahu.

ada yang bilang saya tak ingin tahu.

ada yang bilang saya tak mengenal.

ada yang bilang saya hanya paham setengah-setengah.

*

dia bilang dia lebih tahu.

dia bilang saya tidak tahu.

dia bilang saya tidak mengerti.

dia bilang dia lebih mengerti.

*

kadang kala kebenaran bisa digoyahkan dengan bujuk rayu dan sangkaan sepihak yang tak pernah terkonfirmasi, namun pada hakikatnya, kebenaran tidak akan pernah salah. kebenaran adalah fakta. kebenaran adalah kebenaran, bukan kebetulan.

saya tidak sedang memaksa orang-orang melakukan pembenaran, ataupun memaparkan mana yang benar dan salah. saya hanya ingin kita bersama-sama melihat kebenaran. kebenaran yang kita bangun bersama. kebenaran yang perlahan kita robohkan bersama saat ini.