2

I Do, I Can

Dear Indra,

Maafkan suratku sebelumnya, begitu singkat, teramat padat. Lenganku cedera. Sudah berlangsung 3 hari dan semakin parah. Karena itu aku tak mampu bercerita banyak lewat surat. Mungkin tidak hanya kemarin, tetapi hingga beberapa hari ke depan, suratku tidak akan panjang. Dimaafkan tidak? Hehe.

Jadi, kau sedang jatuh hati rupanya. Seorang teman pernah berkata padaku, hendaknya momen puitik mampu kita temukan pada segala macam suasana. Suka maupun duka, mendapatkan maupun kehilangan, hendaknya mampu kita rayakan semua dengan suka cita. Temukan momen puitikmu saat jatuh hati, jaring ide kreatif di sana.

Kau tahu, Indra, jatuh hati itu bukan pilihan. Kita tak bisa memilih akan jatuh hati pada seseorang tertentu atau pada waktu tertentu. Demikian pula patah hati. Aku tak bisa berjanji tak akan mematahkan hatimu suatu saat nanti. Bukan tak mau berjanji, melainkan tak mampu. Namun untuk perihal yang kautanyakan dalam suratmu kemarin, kujawab “I do, I can”.

Bagaimana?

 

(Mey)

N.B. Sekali lagi, maafkan suratku yang teramat singkat ini.

0

Jika Aku Berbalik, Membiarkanmu Hanya Menatap Punggungku, Masihkah Pelukan itu Untukku?

Setiap kali menatapmu, menyandarkan sepasang lengan di bahumu, selalu ada beribu pelukan kaubagi untukku.

Kini
Saat aku berbalik, menyisakan punggung untuk tatapmu
Masihkah sepasang lenganmu mendekap luka-lukaku?
Masihkah tertakar dalamnya genang air mataku?

(picture taken from angnikka.blogspot.com)

[Mey] [@meydianmey]