0

Luka Parut pada Pipinya Bercerita

Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan “My Letter to Juliet”, dapat dibaca di sini.

*

Untuk ke sekian kalinya, cangkir itu kaupecahkan, bahkan sebelum kepul hangatnya tandas kautelan. Sisa kopi panas yang kuseduh sepenuh hati itu membarakan meja kayu kita, setelah semalaman aku giat membersihkannya.

Apa (lagi) salahku hari ini? Kauambil sekeping pecahan cangkirnya, lalu kausayatkan ke pipi kiriku. Ajaib sekali, aku tak lagi merasa ngilu. Mungkin saraf perasaku sudah habis kaulukai, atau tak ada daging tersisa lagi, mungkin yang baru saja kausayat tak lain ialah tulang pipi. Berikutnya, yang kutahu, kau sudah pergi. Sementara aku, terduduk berurai badai, sendiri.

Apa (lagi) salahku hari ini? Berkali-kali kupandang layar ponsel pintar ini, kata atau kalimat apa yang sebaiknya kukirimkan padamu. Aku menyerah. Mungkin yang kausayat tadi bukan hanya tulang pipiku, isi tengkorakku pun turut tercabik, entah. Imajinasiku terhenti pada susunan 5 kata dan 3 tanda baca berikut ini: “Apa (lagi) salahku hari ini?” Sudah kukirimkan dan seperti biasa, aku gelisah menanti jawabanmu.

“You just don’t understand. I’ll end this chat. Give me more time, ok?” Ajaib sekali (lagi), jawabanmu begitu panjang untuk pertanyaanku yang tak lebih dari susunan 5 kata dan 3 tanda baca. Bukan hanya jawabanmu, kali ini, perih yang kausisakan pun lebih panjang dari biasanya.

“You just don’t understand.” Ya, aku memang tak mengerti. Apa yang bisa kumengerti, jika tak satu bebanpun kaubagi. Dan kau (selalu) menyalahkanku karena tak mengerti. Andai sedikit saja kau (ingin) tahu seberapa besar beban yang kusembunyikan di balik bahu mungil ini, bahkan seorang kau yang begitu agung boleh jadi tak kuasa lagi tersenyum, seperti yang biasa kulakukan setiap kau mulai lelah dan menebar amarah. Ya, tak kukira, seorang kau yang (kupikir) begitu agung tak jua mampu membendung duka, menebar amarah semena-mena.

“I’ll end this chat.” Wow! Less than a month ago, you said to me, “I can easily remember what you’ve said. I never end our chat, baby.” Ternyata, sudah sebegini jauh perubahanmu. Tiba waktuku membeli kacamata baru, perputaran semesta sebegini banyak luput dari pengamatanku. Why are we doing this, honey? Let’s just separate, if both of us are too tired to move.

“Give me more time, ok?” Perlukah kalimat ini kauucap berulang-ulang, seolah aku ini wanita yang sebegitunya kurang pengertian? Kalau aku tak memberimu waktu, aku tak lagi ada di rumah ini, menyeduhkan kopi setiap malam, untukmu. Sayang, aku tak bisa memberimu selamanya.

Pip pip pip…

One new message received

From : -Gio-

“How are you?”

“Aku terlalu lama berenang, Gio. Tepian tak kunjung terlihat. Kakiku kram. Aku hampir tenggelam. Save me, please…”

Pip pip pip…

Message has been sent to -Gio-
*

BERSAMBUNG

1

My Letter to Juliet

Listen. Listen to me very carefully. I live in London, a gorgeous, vibrant, historic city that I happen to love living in. You live in New York, which is highly overrated… But since the Atlantic Ocean is a bit wide to cross every day, swimming, boating or flying, I suggest we flip for it… And if those terms are unacceptable, leaving London will be a pleasure, as long as you’re waiting for me on the other side. ‘Cause the truth is, I am Madly, Deeply, Truly, Passionately in Love with You.from Letters to Juliet (imdb)

Film Letters to Juliet (2010) terinspirasi dari Juliet’s Balcony, sebuah objek wisata romantis di Italia, dengan sebuah balkon (tempat Juliet menunggu Romeo) serta dinding penuh tempelan dan coretan (tempat wisatawan menempelkan surat cinta atau menggambarkan pengakuan cinta mereka). Film ini berkisah tentang petualangan cinta seorang wanita yang berawal (dan berakhir) dari kunjungannya ke Juliet’s Balcony dan membaca sepucuk surat cinta misterius yang tersembunyi di balik dinding bata.

So, this blog post should’ve been about love letter, or love itself, or should’ve not?

I’m sorry, I didn’t know love had an expiration date.from Letters to Juliet (imdb)

This is a love letter, from a woman to a man. They aren’t lovers. This is a love letter, from a woman to her bestfriend, from Aina to Gio.

*

Dear Gio,

Sedang apa? Masihkah kau sibuk dengan botol bir dan bulir keemasan melahap tapak-tapak polosmu? Sudahkah kausiapkan buah tangan untukku?

I feel so insecure, for God’s sake. Oke ini (seharusnya) surat cinta, akan kutulis dengan bahasa yang lebih manis, untukmu.

“Memangnya tahu apa kita soal cinta? Kenapa surat cinta ini ditujukan padaku?” Aku tahu, pertanyaan semacam ini pasti menggelitik benakmu, selanjutnya tertumpah dalam new text messagemu (padaku) beberapa menit kemudian. Haha. Terbayang tawa kecilmu yang keheranan, how can I be this insecure?

Aku jatuh hati, Gio, pada Ia-yang-namanya-tak-boleh-disebut. Aku jatuh hati, sekali lagi. Bukan sebab lakunya, tatapnya, ataupun nyanyiannya. Ia membuatku merasa aman, mencintainya membuatku merasa aman, meski diam-diam.

Ya, benar ucapmu, aku menyedihkan. Sekali lagi merantai diri pada masa lalu. Memang apa lagi yang bisa kulakukan? Apa lagi yang mungkin kulakukan? Mencintai Ia diam-diam, membuatku merasa aman. Aku cukup terbiasa dengan diamnya, cukup merelakan ke(pura-pura)tidaktahuannya, pun cukup memahami pilihannya tentang akhir kami. Kalaupun Ia tahu dan peduli, bagiku itu sekadar bonus dari semesta. Aku terbiasa dengan hening dan rasa aman semacam ini.

(mencoba) Mencintai orang baru sering membuatku gelisah. Oh, hentikan tawamu sejenak, Gio. Aku tak mampu memikirkan kata yang tepat selain gelisah (yang mungkin bagimu terdengar terlalu ‘hijau’).

Mencintai orang baru menimbulkan kembang api dalam benakku. Aku mulai berharap, ini menyengsarakan. Aku mulai menunggu, ini menjemukan. Aku mulai membuat rencana-rencana, menyesuaikan rencana lamaku dengan mimpi-mimpi baru, ini menakutkan.

Gio, aku sangat terbiasa dengan hidup yang almost flat beberapa tahun ini. Selama mencintai Ia-yang-namanya-tak-boleh-disebut, aku cukup tenang menumpahkan doa dan rasa dalam hening, dalam bebait puisi yang paling bening. Tak perlu mengangankan menculik sebagian tatap, laku, pun nyanyiannya. Sebab sebagiannya telah ranum kuamankan dalam kotak pandora, di dasar rongga dada. Sudah cukup kenang pelukan pun kecupan kurekam dalam pita-pita ingatan. Sudah cukup kureguk bahagia yang tak pada tempatnya. Sudah cukup, Gio.

Aku merasa aman, karena sedari awal sudah siap tidak dipedulikan. Aku merasa aman, karena sedari awal sudah siap menyembunyikan kenyataan. Aku merasa aman, karena sedari awal sudah cukup jelas ini yang terbaik bagiku, baginya, bagi kebahagiaan. Aku terbiasa menghabiskan rindu berselimut rasa aman, meski perlahan terlupakan.

Sempat, Gio, aku memberanikan diri mencoba hal baru. Hal baru yang pastinya kautertawakan di tempat rebahmu. Haha. Lanjutkan saja tawamu, akupun tertawa, membodoh-bodohkan diri sendiri. Aku menceburkan diri dalam keremangan yang tak pasti, ingin berburu cahaya, yang sedari awal jelas susah tertangkap mata. Segala yang menarik pada awalnya, terutama saat aku (merasa) menemukan seberkas cahaya. Sayangnya, berkas itu memburam. Entah terbawa arus atau aku menyelam terlalu dalam. Aku menggigil, Gio. Dinginnya keremangan ini memangsa persediaan rasa amanku. Aku mulai mengkhayalkan beribu cekikan halus menyengat tengkuk, melemahkan indera perasaku. Dan, Gio, aku benar melumpuh. Entah nyata, entah sebab khayal semata.

Saat itulah aku mulai mengingatnya, cinta diam-diamku. Ia yang kukunci-mati dalam kotak pandora. Haruskah kubuka atau biar Ia lenyap saja?

Cinta memang dengan mudahnya memberi ribuan kebahagiaan, namun seringkali sulit memberi setitik rasa aman. Aku menuruti saranmu, Gio. Biar masa lalu lenyap saja, terpagut pasir isap dalam rongga dada. Biar kunikmati saja keremangan ini, berenang lebih lama dan berburu tepi.

Sampai jumpa di akhir perjalananmu, Gio.

-Aina-

(BERSAMBUNG)

Bagian kedua berjudul “Luka Parut pada Pipinya Bercerita” dapat dibaca di sini.