0

Andai Bulan Bukan Pecandu Kopi

Rembulanku,
Hentilah mencandu kopi
Tak perlu terjaga melulu
Malampun ingin gelap sewaktu-waktu

Biar aku menjelma pengganti
Sepasang bola mata mengudara
Menyesap ribuan bait puisi
Senandung mereka pemuja air mata

Sumber gambar: http://bit.ly/YWlq0D

[by @meyDM]

Iklan
2

Alarm Makan

Dear Indra,

Aku suka Spiderman, sebesar aku suka padamu. Haha. Aku hanya bergidik melihat simbol laba-laba di kostumnya.

Soal bahu, kalau sengaja bersandar ya tidak apa-apa. Hanya saja, kalau di keramaian, seringkali aku harus menggeser bahu untuk memberi jalan pada orang-orang yang bergerak berlawanan arah atau memberi ruang untuk orang-orang asing yang berdesakan di sampingku. Aku tak terlalu suka, entah mengapa. Merepotkan ya?

Kamu penasaran soal tempat tinggalku? Aku tinggal dengan Ibu, semestinya begitu. Realitanya, aku sering sendiri. Panjang ceritanya, juga tidak baik diceritakan dalam surat. Kalau kamu sungguh ingin tahu, lebih baik kita ngobrol di tempat lain saja. Bukannya kamu juga tinggal sendiri? Merantau sendiri?

Jadi bagaimana hasil presentasimu kemarin? Cari kekasih sana, supaya ada alarm makan, dan lain-lain :p

Jangan lupa janjimu, ya!

(Mey)

N.B. Ini bulan penuh cinta, ya. Semoga cinta kita jatuh di tempat yang tepat (:

[by @meyDM]

0

Pelangi, Bulan, Badai, dan Belukar

Dear Indra,

Dua surat terakhirku singkat sekali, ya. Bukan berarti bosan, justru aku bingung menemukan cara membuatmu tak jemu membaca suratku. Haha.

Aku menulis surat ini sambil menonton (500) Days of Summer. Tagline-nya menarik sekali.

This is not a love story.

This is a story about love.

 

Pun kutipan-kutipannya.

Just because she likes the same bizarre crap you do doesn’t mean she’s your soul mate.

There are no miracles, there’s no such thing as fate, there’s no such thing as love. It’s fantasy…

 

Sudahkah kau menontonnya? Cinta sering dikaitkan dengan kata selamanya. Selamanya, sepanjang hidup, sepanjang usia. Realitanya, hanya berlangsung selama seseorang masih menginginkan.

Coba ingat-ingat, apa saja yang kutulis dalam 3 surat terakhirku (termasuk surat ini)? Kau menunjukkan pelangi dan bulan, sementara aku memberimu badai dan belukar. Haha.

Jangan maafkan kelemahanku. Jangan maafkan kelemahanku.

(Mey)

0

Habis Sudah Napas Bumi

Bahu pualamnya lebam//
Jejak pijakan Bapa/
tak jua pudarkan pendar//
Pagi-pagi buta/
Bulan fana//

Tak tera mana/
ujung kening/
pun pangkal tapaknya//
Bulan teguh/
mencahayakan cahaya//
Anak-anak ombak/
dipeluknya/
dari riuh/
hingga riuh//

Malam menjelma alas kaki//
Ubin-ubin/
menggelitik pendar pijaknya//
Bulan mengetuk-ketuk dinding/
berbisik doa/
hari jadi Bapa//

Naik turun/
lesung pipitnya//
Isi kepala penyamun/
menderap/
di sebalik bahu//
Malaikat maut/
mengecup sangkakala/
tiba masa/
Bulan naik tahta//

Posted from WordPress for BlackBerry.

0

Cahaya Bulan Tumpah ke Matamu

Cahaya bulan tumpah ke matamu
Sontak langit meramping
menghablur dalam kelap-kelip
kejap saja
semesta takluk pada azimatmu

Cahaya bulan tumpah ke matamu
biasnya menggelitik tengkuk
Kuseru “Ah!”
kaubalas serapah
Segala rupa abdi merenta kausepah

Cahaya bulan tumpah ke matamu
merekahkan kuncup-kuncup rindu
Menampar lengahku
akan tatapmu
diam-diam mengarahku

Posted from WordPress for BlackBerry.

0

Satu Bulan dan Sekian Hari

 

Satu bulan dan sekian hari yang kulalui ini hanyalah drama. Mungkin juga mimpi. Atau khayalan semata. Setidaknya itulah yang harus kutanamkan dalam-dalam di benakku.

Semudah itukah? Setelah satu bulan dan sekian hari?

Entah iya, entah tidak.

Entah benar, entah salah.

Entah keadaan yang rumit, entah aku sendiri yang memperumit keadaan.

Entah sanggup, entah tidak.

Entah nyata, entah maya.

Masih sulit kutentukan di mana seharusnya kuletakkan titik lenyap yang sesuai dengan sudut-sudut pandang objektif. Karena aku memang masih belum bisa berpikir objektif.

Memang belum bisa, juga belum ingin.

Memang aku bodoh, juga senang membodohi diriku sendiri.

Memang aku rendah, juga akan kuterima semua stigma buruk yang sudah pun akan dipikirkan orang tentangku nantinya.

Yang terbaik yang bisa kulakukan sejauh ini adalah… Entahlah… Kurasa aku belum ingin berbuat apa – apa.

Seperti Tinkerbell dan Peterpan. Peri kecil yang selalu setia menjaga dan mendampingi sang pahlawan. Peri kecil yang tak berdaya saat Peterpan tengah menemani Wendy.

Apakah Tinkerbell berbuat sesuatu? Kurasa tidak. Hanya saja cahayanya meredup saat Peterpan bersama Wendy.

Apakah aku berbuat sesuatu? Belum. Dan waktuku serasa terhenti ketika rembulanku berdampingan dengan bintangnya.

Satu bulan dan sekian hari yang kulalui ini hanyalah drama, hanya lelucon. Ada yang lebih mengenaskan dari ini?

Saat sudah begitu banyak yang kurasa telah kulalui. Sudah begitu tinggi khayal yang terbangun. Sudah begitu besar harap yang kusimpan. Hanya sampai di sini sajakah jalanku?

Ada lagi yang aku tunggu saat ini? Ada lagi yang harus kuperjuangkan? Ada lagi selain materi atau secarik kertas rapi bertuliskan deretan nilai-nilai akademis? Ada sesuatu yang lebih besar dari itu yang aku tunggu, yang ingin aku perjuangkan, tetapi semua berakhir. Setelah satu bulan dan sekian hari ini.

 

Sumber gambar:

http://mejadunia.blogspot.com

http://keluarga-madinah.blogspot.com