8

#PuisiHore2 ~ Lupa Diri

Lupa mandi pagi
Lupa gosok gigi
Lupa makan nasi
Mengingatmu, aku lupa diri sendiri
Sebab engkau di seberang sana
Kita terbang ke arah beda
Dan aku tak mampu berbuat apa-apa
Selain setia

[by @meyDM]

Iklan
1

Genap

Dear Indra,

Genap sudah 30 hari, 15 surat kutulis untukmu. Seperti ini rupanya nikmat berbagi. Terima kasih, kamu sudah jadi partner yang terampil mengorek harta karunku.

Terima kasih juga pada kak @heykila (tukang pos kami yang baik hati), bosse @poscinta, dan seluruh pembaca yang pernah meluangkan waktu membaca surat-surat random kami.

Lucu sekali rasanya, kalau bukan karena #merentangpelukan, mungkin kita takkan saling kenal. Berikutnya, kalau bukan karena #duahati, mungkin takkan saling bicara sebanyak ini. Tuhan itu genit, bukan? Haha.

Terima kasih sudah memberi 30 hari dan 15 surat yang menyenangkan. Kau sebut ini akhir? Tuhan lebih tahu bagaimana meletuskan awal dari hal-hal yang dianggap umatNya berakhir.

Sekali lagi, terima kasih banyak, Indra!

(Mey)

N.B. Pada segala hal yang kausebut akhir, aku menyebutnya awal (seperti katamu), jika kau berkenan (:

[by @meyDM]

0

Mencintai dengan (tak) Sederhana

Dear Indra,

Ada hadiah (lagi) untukmu. Sebuah puisi yang mungkin sudah kaukenal dan baca berulang kali.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
Kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
Kepada hujan yang menjadikannya tiada

~SDD

Mungkin aku tak mampu mencintai dengan sederhana. Labirin dalam kepalaku, tak banyak orang yang ma(mp)u menjelajahnya. Di genggamanku, cinta berubah tuba, tak lagi manis dan menyenangkan. Namun, jika diberi kesempatan, aku ingin mencintai sesederhana yang aku mampu.

(Mey)

[by @meyDM]

2

I Do, I Can

Dear Indra,

Maafkan suratku sebelumnya, begitu singkat, teramat padat. Lenganku cedera. Sudah berlangsung 3 hari dan semakin parah. Karena itu aku tak mampu bercerita banyak lewat surat. Mungkin tidak hanya kemarin, tetapi hingga beberapa hari ke depan, suratku tidak akan panjang. Dimaafkan tidak? Hehe.

Jadi, kau sedang jatuh hati rupanya. Seorang teman pernah berkata padaku, hendaknya momen puitik mampu kita temukan pada segala macam suasana. Suka maupun duka, mendapatkan maupun kehilangan, hendaknya mampu kita rayakan semua dengan suka cita. Temukan momen puitikmu saat jatuh hati, jaring ide kreatif di sana.

Kau tahu, Indra, jatuh hati itu bukan pilihan. Kita tak bisa memilih akan jatuh hati pada seseorang tertentu atau pada waktu tertentu. Demikian pula patah hati. Aku tak bisa berjanji tak akan mematahkan hatimu suatu saat nanti. Bukan tak mau berjanji, melainkan tak mampu. Namun untuk perihal yang kautanyakan dalam suratmu kemarin, kujawab “I do, I can”.

Bagaimana?

 

(Mey)

N.B. Sekali lagi, maafkan suratku yang teramat singkat ini.

2

Buka Bungkusnya!

Dear Indra,

Surat ini tak berisi kata-kata manis seperti yang kautulis kemarin. Kadang, kalimat-kalimat indah dicukupkan Tuhan untuk dinikmati saja, atau aku yang tak mampu membalasnya. Entahlah…

Surat ini teramat singkat, sesingkat usia manusia di dunia. Sengaja tak kuperpanjang, agar hari ini kau tak melulu membaca duka.

Surat ini berisi hadiah, 1 lagu pengantar tidur, terbungkus kertas kado warna apapun yang kausuka. Bayangkan saja dalam kepalamu, perlahan bungkusnya kaubuka, lalu nada-nada berlompatan merimbunkan hutan batinmu. Nikmati hadiahku setiap malam sebelum pejam. Semoga mimpimu indah selalu. Semoga pagimu hangat selalu.

(Mey)

N.B. Ini hadiahmu!

2

Malaikat Bersayap Hitam

Dear Indra,

Ceritamu tentang impian membuatku teringat masa kecil. Aku pernah memimpikan 2 hal yang (hampir) mustahil. Mimpi pertama dimulai 11 tahun lalu. Aku, masih berusia 11 tahun saat itu, menonton Moulin Rouge, salah satu film favoritku sekaligus film musikal non-animasi yang pertama kutonton. Dalam film itu, Nicole Kidman berperan sebagai Satine, wanita penghibur nomor 1 di rumah hiburan Moulin Rouge yang jatuh hati pada seorang penulis muda. Ada satu adegan, Satine bergantung di ayunan, kemudian bernyanyi sambil terbang menyapa para penggemarnya di Moulin Rouge. Cantik sekali. Empat tahun kemudian, aku (dalam grup paduan suara SMA) bernyanyi di acara kelulusan kakak kelas. Saat itu, aku teringat Moulin Rouge dan mulai bermimpi. Suatu saat nanti, aku akan tampil di panggung megah, ditonton jutaan penggemar, duduk di ayunan, mengenakan kostum malaikat bersayap hitam, menyanyikan lagu Ave Maria, dan memukau para penonton. Kekanakan, ya? X’)

Mimpi keduaku, setelah lulus SMA, ingin jadi psikiater dan mendirikan LSM / yayasan / wadah apapunlah untuk konsultasi masalah perempuan, anak, dan keluarga. Apa daya, aku takut darah dan benda-benda berlendir (ketakutan ini belum kusebutkan di surat sebelumnya ya, hehe), tidak mungkin mendaftar ke fakultas kedokteran. Pupuslah, tetapi aku belum menyerah soal mimpi mendirikan LSM. Suatu saat nanti, pasti.

Soal nyinyirin selebtweet, masih ada, ya? Haha! Yah, satu perkara kan punya banyak sudut pandang untuk dibahas. Sudut pandang penyinyir, salah satunya :p

Buku-buku yang kausebut dalam surat belum (namun ingin) kubaca. Ibu sering ‘mengancam’, kalau aku terlalu banyak membeli buku, besok-besok aku makan kertas dan minum tinta saja. Jadi, kalau mau membeli buku, aku harus pandai-pandai memilih waktu agar tidak mengusik suasana hati Ibu. Ah, pasti kamu rindu Ibu, ya. Maaf ya, Indra :’)

Mulai kehabisan kata-kata? Mulai bosan? Tak apa, sekarang giliranku merintikkan gerimis romantis dan melukis pelangi dalam benakmu.

Sebagai penutup, kuucapkan Selamat Natal (yang sangat terlambat). Biar aku jadi alarm makanmu, anggap saja hadiah Natal (yang juga sangat terlambat) dariku. Pesanku, seringlah tersenyum, di dunia nyata (:

(Mey)

[by @meyDM]

2

Alarm Makan

Dear Indra,

Aku suka Spiderman, sebesar aku suka padamu. Haha. Aku hanya bergidik melihat simbol laba-laba di kostumnya.

Soal bahu, kalau sengaja bersandar ya tidak apa-apa. Hanya saja, kalau di keramaian, seringkali aku harus menggeser bahu untuk memberi jalan pada orang-orang yang bergerak berlawanan arah atau memberi ruang untuk orang-orang asing yang berdesakan di sampingku. Aku tak terlalu suka, entah mengapa. Merepotkan ya?

Kamu penasaran soal tempat tinggalku? Aku tinggal dengan Ibu, semestinya begitu. Realitanya, aku sering sendiri. Panjang ceritanya, juga tidak baik diceritakan dalam surat. Kalau kamu sungguh ingin tahu, lebih baik kita ngobrol di tempat lain saja. Bukannya kamu juga tinggal sendiri? Merantau sendiri?

Jadi bagaimana hasil presentasimu kemarin? Cari kekasih sana, supaya ada alarm makan, dan lain-lain :p

Jangan lupa janjimu, ya!

(Mey)

N.B. Ini bulan penuh cinta, ya. Semoga cinta kita jatuh di tempat yang tepat (:

[by @meyDM]

2

Eight Legged Freaks!

Dear Indra,

Ketakutanmu unik sekali. Haha. Tapi, jangan pasang musik terlalu keras saat badai, nanti kau sulit mendengar (kalau ada) hal buruk terjadi di dekatmu.

Aku juga punya phobia unik. Laba-laba. Aku takut laba-laba. Laba-laba (super) kecil, besar, di televisi, di buku gambar, bahkan aku bergidik melihat logo di kostum Spiderman. Haha. Aku juga mudah gelisah di tempat ramai, di tempat orang-orang berdiri berdesakan, juga di manapun yang memaksa bahuku menyentuh bahu orang lain saat berjalan. Ini merepotkan, ya? X’)

Turut berduka ya, soal Ibu. Seperti apa beliau? Ah, aku jadi rindu ‘rumah’. Dasar kamu, nakal! Haha.

Jadi, bagaimana harimu? (:

(Mey)

N.B. Sesuai janjiku, kuselipkan foto (:

[by @meyDM]

2

Lolongan Misterius

Dear Indra,

Kau meminta hujan dariku? Baiklah, kuberi satu cerita tentang hujan.

Beberapa jam sebelum kutulis surat ini, hujan angin melanda kotaku, sebagian wilayah juga mengalami hujan es. Bagi sebagian orang, ini memang bukan bencana dahsyat. Tak ada seujung kuku derita korban banjir ibukota. Namun, tetap mengerikan bagiku.

Aku sering tinggal sendiri, sejak SMP, sejak keluargaku pindah dari rumah masa kecil kami. Masa-masa beberapa jam lalu adalah masa-masa paling menakutkan sejak saat itu. Tinggal sendiri belum pernah seseram sore tadi.

Rumah yang sekarang kutempati ini dikelilingi lapangan luas dan lahan kosong. Sungguh habitat yang kondusif untuk merajut angin dan menyulam petir. Haha. Aku tidak bercanda. Rumahku sering diterpa angin kencang. Begitu kencangnya, sampai terdengar lolongan misterius (entah apa pengaruhnya, I’m not good at physics so I can’t explain. Yang pasti, makin kencang angin bertiup, makin kencang pula lolongan itu terdengar) dan pintu kaca di rumah bergetar hebat. Tentang petir, jangan ditanya, kilau kilatnya saja jadi pemandangan sehari-hari saat hujan, apalagi riuh gemuruhnya.

Tadi sore, angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Tiba-tiba saja atap fiberglass di belakang rumah pecah dan terbang entah ke mana. Hujan makin deras dan rumahku mulai kebanjiran. Berikutnya, sudah bisa ditebak, mati listrik. Aku tak berani menyalakan lilin karena angin begitu kencang. Untunglah hujan angin perlahan mereda. Rumahku selamat, meski kotor dan luka-luka. Hehe.

Bagaimana denganmu? Apa cerita masa kecilmu? Masa-masa menakutkan apa yang pernah kaulalui? (:

(Mey)

[by @meyDM]

5

Sambar Aku!

Dear Indra,

Aku penyuka film / serial drama sekaligus thriller, juga penggemar musik ballad sekaligus rock. Kira-kira seperti malaikat dan iblis dalam 1 tubuh, aku ini kontradiktif. Jadi, aku masih bisa dan dengan sangat senang hati menemanimu menonton film action atau thriller nanti. Haha.

Aku belum pernah mengunjungi tumblr-mu. Penasaran. Apa alamatnya? Sampah bagi penulis sebaik kamu, bisa jadi harta buat orang lain :p

Kemarin aku bilang sudah memikirkan sesuatu untuk kutulis dalam suratku berikutnya, kan? Aku menyiapkan hadiah. Potongan salah satu lagu favoritku, judulnya Thunder dari Boys Like Girls. Aku suka sekali versi akustiknya.

Your voice was the soundtrack of my summer
Do you know you’re unlike any other?
You’ll always be my thunder, and I said

Your eyes are the brightest of all the colors
I don’t wanna ever love another
You’ll always be my thunder

So bring on the rain
And bring on the thunder

 

Perjalanan kita masih panjang. Aku akan melukis pelangi di sisi kananmu dan menggamit lengan kirimu. Tidak boleh ada lagi badai dan belukar berbiak di sisa jalan kita.

 

(Mey)

0

Pelangi, Bulan, Badai, dan Belukar

Dear Indra,

Dua surat terakhirku singkat sekali, ya. Bukan berarti bosan, justru aku bingung menemukan cara membuatmu tak jemu membaca suratku. Haha.

Aku menulis surat ini sambil menonton (500) Days of Summer. Tagline-nya menarik sekali.

This is not a love story.

This is a story about love.

 

Pun kutipan-kutipannya.

Just because she likes the same bizarre crap you do doesn’t mean she’s your soul mate.

There are no miracles, there’s no such thing as fate, there’s no such thing as love. It’s fantasy…

 

Sudahkah kau menontonnya? Cinta sering dikaitkan dengan kata selamanya. Selamanya, sepanjang hidup, sepanjang usia. Realitanya, hanya berlangsung selama seseorang masih menginginkan.

Coba ingat-ingat, apa saja yang kutulis dalam 3 surat terakhirku (termasuk surat ini)? Kau menunjukkan pelangi dan bulan, sementara aku memberimu badai dan belukar. Haha.

Jangan maafkan kelemahanku. Jangan maafkan kelemahanku.

(Mey)

0

Ini Bukan Doa, Tuan…

Dear Indra,

Untuk ukuran seseorang yang menyebut dirinya pendiam, entah mengapa, aku merasa kau (seperti) selalu (ingin) menulis banyak hal dalam suratmu, banyak pemandangan indah. Dan untuk seorang aku, sedikit sekali pemandangan yang bisa kulukis untukmu, pemandangan yang itu-itu saja. Kalau bukan karena hobi surat-menyurat yang kautularkan ini, entah kapan akan kusadari hidupku tak lagi menumpang di bangku-bangku jet coaster yang dinamis dan mendebarkan. Hidupku sudah tenang di pangkuan bianglala, duduk tenang, bergerak perlahan, dan melihat pemandangan indah yang itu-itu saja.

Lagu ya… Ada 1 lagu yang sering kudengarkan akhir-akhir ini, judulnya “Distance” dari Christina Perri & Jason Mraz.

Please don’t stand so close to me, I’m having trouble breathing

I’m afraid of what you’ll see, right now

I’ll give you everything I am

All my broken heartbeats until I know you’ll understand

Ini memang bukan doa, ini luka dan kecemasan, seperti itulah cinta, bagiku…

(Mey)

2

Sumur di Ladang Mulai Kering, Bung!

Dear Indra,

Masih sering hujan di kotamu? Di sini hujan sepanjang weekend. Mungkin bumi tampak dehidrasi, jadi langit terus-menerus meluapkan air. Haha.

Kautahu yang kubenci dari musim hujan dan angin seperti ini? Suhu dingin. Lututku, yang cedera berkepanjangan ini, nyeri sepanjang malam dan tak nyaman setiap digerakkan.

Sejujurnya, aku kehabisan ide. Apa lagi yang ingin kaudengar dariku? Seandainya surat mampu membawa nada-nada, aku akan bernyanyi untukmu, itu jauh lebih mudah. Haha.

Turunkan hujan salju dalam kepalaku, Indra. Will you?

(Mey)

6

#13HariNgeblogFF ~ Cintaku Mentok di Kamu

Teruntuk kamu, yang tak memberiku kata selesai

Tiga belas kali. Ya, tiga belas kali dalam tiga belas minggu terakhir, aku berkendara menuju kotamu ditemani tas travel berisi pakaian dan perlengkapan yang kusiapkan tiga belas minggu sebelumnya. Tiga belas kali kulewati jalan yang sama, beristirahat sejenak di rest area yang sama, pun mengisi bensin di tempat yang sama. Aku berhenti di depan pagar yang sama, memberanikan diri untuk membunyikan bel, namun urung. Entah apa yang membuatku gentar, kehilanganmu atau fakta bahwa kau sudah menghilangkanku dari benakmu.

Kau berhenti mengirim surat, mengganti nomor kontak, bahkan menonaktifkan seluruh akun social media dan email. Aku tahu, kemudahan jarang menyertai langkah kita. Jarak dan segala tetek bengek perjodohan yang dirancang orangtuamu, aku memahaminya. Mungkin ini giliranmu untuk memahami kedatangan surat ini sebagai keterpaksaan dan keputusasaan yang mendesakku tiga belas minggu belakangan. Aku menunggumu, Nara. Entah untuk kembali bersama memerangi badai atau, setidaknya, memberiku kata selesai.

(Dina)
***

Dear Dina,

Maaf. Maaf aku hanya bisa memberimu kata maaf. Aku, pada akhirnya, menikahi Tia bukan karena paksaan orangtuaku. Kebersamaan kami sejak kanak-kanak membuatku tak sadar seberapa dalam perasaanku padanya. Aku menghilang karena aku terlalu pengecut untuk meminta maaf. Maaf, aku hanya bisa memberimu kata maaf. Kebahagiaanmu adalah doa yang selalu kuamini, maka berbahagialah…

(Nara)

N.B.: Ini benar tulisan tangan Tia. Kuharap kau mengerti seberapa dekat kami.

“Halo, hei, kabarku baik. Suratmu sudah sampai. Sudah kusalin sesuai instruksimu. Tapi, bukannya ini terlalu kejam? Nara, aku akan segera menikah dengan Dio. Cepat atau lambat, Dina akan tahu.”

“Hei Tia, kau sedang memamerkan pacar selebritimu? Dina tak akrab dengan acara gosip, tenang saja.”

“Ah terserahlah. Sebenarnya kamu ke mana? Kapan hari, kata temen kantor, kamu kecelakaan. Tapi tiba-tiba hilang, Om dan Tante juga sulit dihubungi. Nggak ada alamat di suratmu kemarin, nelfon pakai nomor asing. Ada apa sih?”

“Nanti juga kamu tahu, kalau sudah waktunya. Sudah ya, Tia. Thanks for your help. Kapan-kapan, kutelfon lagi. See you…”

*klik* (suara telepon dimatikan)

“Terima kasih, Ma… I love you…”

“Nara, anakku sayang, ikhlaskan Dina, biar Mama jadi tangan dan kaki kamu, selamanya…”

[Mey] [@meyDM]

2

Aku Butuh Tinta Saat Tersesat

Dear Indra,

Aku menulis sesuatu. Bukan untukmu, memang. Tulisan ini tidak sedang kutujukan untuk suatu sosok tertentu. Bukan karena kau tak penting, sama sekali bukan karena itu. Hanya, seorang teman sering berpesan padaku: “Pada dasarnya, manusia tak pernah menulis, melukis, maupun mencipta sesuatu yang ditujukan untuk manusia atau makhluk lainnya. Manusia menulis, melukis, maupun mencipta sesungguhnya untuk mencari dan menemukan tujuannya, muaranya.”

Teruntuk engkau, yang mencintai keheningan
Aku mengerti, engkau mencintai hening sebesar ranting-ranting mencintai dedaunan
Seperti tangis pilu yang terdengar pada malam-malam musim gugur
Tak satu daunpun ingin jatuh, tak satu rantingpun cukup kuat untuk memeluk
Seperti itulah Tuhan melukiskan takdir sepasang kekasih
Tak semua angan bisa menyatu dalam ingin, kadang beberapa angan dicukupkan dalam dingin kenangan

Teruntuk engkau, yang mencintai keheningan
Aku berhenti melangkah di batas terluar hutan batinmu
Sebab aku tak mampu menerka akan jadi apa tubuhku kelak jika terus menapak
Aku ingin menjadi sebatang pohon, tempat bersandarmu
Dengan bebatuan api di sekelilingnya, untukmu menghangatkan diri
Namun, bisa saja aku ditakdirkan sebagai jamur beracun, membuatmu luka dan mati

Teruntuk engkau, yang mencintai keheningan
Aku butuh tinta saat tersesat
Aku akan melukis untuk menemukanmu
Pemandangan indah yang memahat senyum di setiap topengku
Aku ingin melukismu.
Aku akan melukismu.

(Mey)

[Mey] [@meyDM]

2

Cintaku Sepanjang Bentang Kereta Ekonomi

Dear Indra,

Siang ini mendung. Hujan yang kutunggu-tunggu belum juga menyapa. Padahal sudah kusengaja tak keluar rumah hari ini. Ah, manusia memang makhluk egois. Saat sedang tak beraktivitas, mengharap hujan datang. Lain waktu, saat sibuk, riuh mencerca hujan. Haha.

Hei, ceritamu berkendara dengan bus mengingatkanku pada pengalaman unik saat traveling ke Bandung beberapa minggu lalu. Salah satu hobiku adalah traveling sendirian. Berbekal 1 ransel kecil (ya, cukup 1 ransel kecil, haha), aku pergi ke Bandung. Sendiri, ditemani selembar tiket kereta api ekonomi dan 2 buah buku puisi. Kau (dan banyak orang yang mendengar cerita ini) pasti berpikir aku perempuan yang nekat. Haha, yes, I am! Tapi, nekat yang penuh pertimbangan, jadi tenanglah. Tuhan dan doa orang-orang yang menyayangiku jadi pelindung terampuh dalam setiap perjalanan yang kutempuh (:

Saat itu, aku duduk sebangku dengan seorang laki-laki. Ternyata kami sekampus, kebetulan ia dan sahabatku di kampus dulunya teman satu sekolah. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk saling akrab. Beberapa jam berlalu, seorang penumpang lain yang naik dari Blitar duduk di sebrang kami. Ia juga laki-laki, di sinilah petualanganku dimulai. Laki-laki yang duduk di sampingku, sebut saja Arya. Laki-laki yang duduk di sebrangku dan Arya, sebut saja Dika. Apapun nama yang kugunakan, toh kau tak mengenalnya, iya kan? Haha.

Jadi begini, Dika ini ramah sekali. Sepanjang perjalanan, ia sering mengajakku dan Arya mengobrol. Saat kereta kami sudah mendekati Bandung, Arya berbisik padaku, “Kayanya si Dika naksir kamu deh. Liat aja, bentar lagi pasti minta nomer hp atau pin BB. Haha!” Dan benar saja, setelah turun dari kereta, Dika meminta pin Blackberry-ku. Karena tak enak menolaknya, akhirnya kuberikan saja, kemudian kami berpisah jalan.

Setibanya aku di hotel, Dika mengirim pesan. Katanya, “Ntar malem ketemuan yuk!” Kudiamkan saja, tak kubalas. Haha. Beberapa menit kemudian, ia mengirim pesan lagi. Aku mulai malas dan berpikir untuk menghapusnya dari daftar kontakku setelah membaca pesan yang ia kirim. Tetapi, aku berubah pikiran. Kau tahu pesan apa yang Dika kirim padaku?

Katanya, “Mmm, maaf kalau kamu jengkel atau salah paham, Mey. Tapi aku beneran pengen ketemu kamu. Juga, tolong ajak Arya ya. Aku pengen kenal dia lebih jauh. Mmm, yes I am gay. Aku naksir Arya… Kamu keberatankah? Maaf ya…” Hahahahahaha, mana bisa aku tak tertawa setelah membaca pesan itu? Akhirnya kusanggupi ajakan bertemu itu dan tak lupa kuajak Arya. Kisah selanjutnya? Ah, itu bukan urusan kita lagi. Haha!

Kau senang menggambar, ya? Aku jadi penasaran. Saat kau tengah melamun, merenungkan ide-ide untuk konsep barumu berikutnya, gambar-gambar seperti apa yang terlintas dalam benakmu? Di tempat seperti apa biasanya kau senang merenung? Apa dahimu berkerut saat kau tengah berpikir keras? Haha. Bawel sekali aku ini.

Lain waktu, lukiskan sesuatu untukku. Gambar seperti apa yang terlintas di benakmu saat kau tergelak membaca suratku. Will you?

Oh, satu lagi, kalau kau tak terbiasa memperhatikan orang-orang di sekitarmu, biar kulakukan untukmu. Itulah fungsinya dua hati, saling melengkapi (:

Selamat melamun, Indra. Selamat melukis!

(Mey)

[Mey] [@meyDM]

1

Sepasang Kekasih dan Sepiring Gulai Ikan

Dear Indra,

Selamat dini hari… Iya, aku tahu kau benci kebiasaan buruk tidur larut malamku. Berhenti mengomel dan segeralah tidur. Haha.

Seperti apa hari Minggumu? Seringkah kau tersenyum seperti biasa? Semoga saja begitu. Hari ini seorang teman bertanya padaku, “Masih belum benci dengan jarak, Mey?” Jawaban seperti apa yang sebaiknya kuberikan, jika kau jadi aku?

Kupikir, ada ribuan alasan yang bisa dicari-cari jika manusia ingin membenci (atau menyukai) sesuatu. Aku tak ingin membenci jarak, meskipun karenanya, aku sering tak punya teman setiap mengunjungi perpustakaan, saat ingin bersantai dan menulis di kafe, atau sekadar menikmati masakan padang favoritku.
Kemarin (siang ini :p), akibat hujan deras, hampir setengah hari kuhabiskan di rumah makan padang langgananku dekat kampus. Seperti biasa, kupesan seporsi gulai ikan tanpa nasi lalu duduk di sudut belakang. Iya, aku (lagi-lagi) tahu kau tak suka kebiasaanku menghindari nasi. Haha. Sudah, berhentilah mengeluh dan dengarkan saja ceritaku hari ini.

Di depanku, ada sepasang kekasih yang, nampaknya, sedang kurang akur. Mereka hanya sesekali saling bicara, berbisik pula. Sesungguhnya aku penasaran, sayangnya pembicaraan mereka tenggelam oleh percakapan pengunjung lain yang lebih lantang. Lamat-lamat kudengar mereka menyebut-nyebut kata jenuh di antara bisikan-bisikannya. Jenuh, juga jarak, adalah hal-hal yang jarang kupikirkan. Bukan karena tak penting, hanya, kau tahu manusia begitu mudah membenci (maupun menyukai) hal-hal yang sering mereka pikirkan. Itulah sebabnya aku jarang memikirkan jarak, maupun jenuh. Aku tak mungkin menyukainya, pun tak ingin berlebihan membencinya. Bagaimana denganmu? Apa yang sering dan jarang kaupikirkan?

Seringkah kau memikirkan jarak? Atau jenuh, seperti sepasang kekasih di depanku ini? Mereka benar-benar unik. Sedari tadi hanya duduk diam sambil sesekali berbisik tanpa memesan apapun. Pemilik rumah makan maupun pengunjung lain tak mempermasalahkan itu, padahal rumah makan ini cukup ramai. Unik, bukan? Mungkin karena mereka sama-sama langsing, tidak makan banyak tempat duduk, dan tidak bising. Entah mengapa, aku suka sekali memperhatikan sepasang kekasih di depanku ini.

Tiba-tiba petir menggelegar. Aku terkejut sekali. Kau tahu, aku benci kilat, petir, dan segala macam suara keras yang menyertainya. Lebih terkejut lagi ketika salah satu dari sepasang kekasih di depanku ini, entah yang mana, berkata, “Sudah waktunya kita berpisah sementara…” Ah, jangan kaupikir mereka sedang bertengkar. Haha. Terlihat sekali mereka saling mencintai, juga saling membutuhkan. Atau, saling mencintai karena saling membutuhkan. Atau (lagi) saling membutuhkan sehingga lama-kelamaan saling mencintai. Entahlah, manapun yang benar, pada akhirnya mereka tetap saling mencintai.

Sepasang kekasih di depanku ini, sepasang mur dan baut yang memperkuat sudut meja di rumah makan. Saat terpisah, mereka saling membutuhkan. Sepasang mur dan baut yang terpisah tak akan mampu memperkuat meja, bukan? Namun kadang, jika tak dirawat dengan benar, sepasang mur dan baut yang terlalu lama bersama bisa saja berkarat, lalu mereka tersiksa dan meronta ingin berpisah. Setelah berpisah sementara, setelah karat dibersihkan dari sela-sela jari mereka, saat itulah sepasang mur baut kembali saling merindukan, saling membutuhkan.

Itu ceritaku hari ini. Apa ceritamu? (:

(Mey)

[Mey] [@meyDM]

5

Tunggu Aku dan Jangan Kunci Pintu

Aku akan pulang, sayang
Saat satu, dua, tiga helai uban mulai bermunculan
Saat sepasang alis beranjak memutih nan menipis
Saat pangkal hidungmu lelah menopang tebalnya kacamata berlensa ganda

Aku akan pulang, sayang
Saat senja terbenam di ujung barat dan di sepasang dada kita
Saat kaki-kaki kecil kita tiba di masa yang dulu kausebut menua
Saat ibu jarimu gemetar, pun punggungmu meronta setelah membungkuk terlalu lama

Aku akan pulang, sayang
Dengan sebuket lili putih dan tiga ikat ilalang
Lili putih favoritmu dan ilalang penghalau mimpi burukmu
Aku akan pulang dengan sekeranjang tenang untuk kautanam dalam rindangnya rindumu.

Namun hari ini aku harus pergi
Bukan meninggalkanmu sendiri
Melainkan biar kau haru
Dengan cinta yang kaupilih seminggu lalu
Nanti, saat ia yang kaudamba tak lagi menginginkanmu
Aku akan pulang, sayang
Aku pasti pulang, sayang

Sumber gambar: http://bit.ly/UdArIC

[Mey] [@meyDM]

0

Salah Satu Epilog Favoritku (:

Ketika angin berhembus, biarkan daun-daun bergoyang.
Aku yakin akan tiba masanya angin berhenti berhembus.
Ketika hujan turun, berkumpulah dengan para sahabat. Kau tak sendiri.
Ketika cinta datang, jatuh cintalah.
Dan ketika cinta pergi, biarkan ia pergi.
Ketika kau mampu menerima kenyataan yang tidak dapat kau ubah, cinta lain akan datang.
Waktu yang penuh dengan kecemburuan telah habis.
Hari ini adalah yang paling berharga.
Mengakui bahwa aku mencintaimu, mungkin akhirnya sekarang aku dapat berbahagia.

This is my favorite quote from “Still Marry Me” (TV series).

Sumber gambar:
http://bit.ly/TMlfTE
http://bit.ly/WCAf3c

[Mey] [@meyDM]

5

Cintaku Lebih Lapang daripada Bentang Selangkang Pelangi

Selepas hujan pagi ini, di antara taman bunga dan kaki-kaki pelangi, semestinya tak perlu lagi memetik nyeri.

Namun kau berbeda, perihal nyeri, tak selalu ada kata semestinya, seperti bahagia yang tak akur dengan kata selamanya.

Lalu di mana pentingnya cinta? Kau kata, pada pagi, sebelum hujan hari. Setidaknya bahagia sempat terasa asli, meski sebatas ilusi, dan hanya sekali.

Mungkin kita benar telah tua. Pelangi menghilang dan senja nyalang. Apa yang bisa kita lakukan? Bertahan.

Bersabarlah sepanjang malam. Sebab esok pasti pagi. Kita berbahagia kembali, sambut kemungkinan hujan dan pelangi.

Tak perlu takut pada buah-buah nyeri. Jika tak kaupetik, mereka tak lebih melukai daripada bayangan kaki-kaki pelangi.

Kau tahu, ini tak semata perihal selangkang pelangi. Pandai-pandailah memilih petikan nyeri, relakan ketakutanmu menepi.

Sayang, cintaku lebih lapang daripada bentang selangkang pelangi, hingga seluruh doamu pun sanggup kuamini.

Sumber gambar: http://bit.ly/Y7ar10

[Mey] [@meyDM]

0

Kisah Bocah Penggila Pelangi

Aku selalu berjalan memutar, berbalik, menuju suatu saat
Menjadi duri terasa ada sekerat nikmat
Hanya saja, kini tak lagi ada daging tertusuk
Usah cemaskan luka menanti busuk

Tahukah kau, Sayang
Aku mencintaimu, serupa bocah menggilai pelangi, memang
Dari jauh, terpampang keindahan
Dari dekat, puing-puing harapan
Dari titik nol, ketiadaan

Sumber gambar: @McXoem

[Mey] [@meyDM]

0

Langit Meng-AMIN-i Rinduku

Aku merindukanmu sekuat amuk awan kelabu sore ini di beranda

Memuntahkan isi perut dan pikirannya ke dalam mulut bumi yang menganga, hingga redam

Ingin pula kumuntahkan isi rongga dada nan coklat berkarat sarat duri ini

Namun, cinta ialah perihal suka duka yang sering tak sejalan dengan laju keinginan

Sumber gambar: http://bit.ly/pYiq6g

[Mey] [@meyDM]

0

Luka Parut pada Pipinya Bercerita

Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan “My Letter to Juliet”, dapat dibaca di sini.

*

Untuk ke sekian kalinya, cangkir itu kaupecahkan, bahkan sebelum kepul hangatnya tandas kautelan. Sisa kopi panas yang kuseduh sepenuh hati itu membarakan meja kayu kita, setelah semalaman aku giat membersihkannya.

Apa (lagi) salahku hari ini? Kauambil sekeping pecahan cangkirnya, lalu kausayatkan ke pipi kiriku. Ajaib sekali, aku tak lagi merasa ngilu. Mungkin saraf perasaku sudah habis kaulukai, atau tak ada daging tersisa lagi, mungkin yang baru saja kausayat tak lain ialah tulang pipi. Berikutnya, yang kutahu, kau sudah pergi. Sementara aku, terduduk berurai badai, sendiri.

Apa (lagi) salahku hari ini? Berkali-kali kupandang layar ponsel pintar ini, kata atau kalimat apa yang sebaiknya kukirimkan padamu. Aku menyerah. Mungkin yang kausayat tadi bukan hanya tulang pipiku, isi tengkorakku pun turut tercabik, entah. Imajinasiku terhenti pada susunan 5 kata dan 3 tanda baca berikut ini: “Apa (lagi) salahku hari ini?” Sudah kukirimkan dan seperti biasa, aku gelisah menanti jawabanmu.

“You just don’t understand. I’ll end this chat. Give me more time, ok?” Ajaib sekali (lagi), jawabanmu begitu panjang untuk pertanyaanku yang tak lebih dari susunan 5 kata dan 3 tanda baca. Bukan hanya jawabanmu, kali ini, perih yang kausisakan pun lebih panjang dari biasanya.

“You just don’t understand.” Ya, aku memang tak mengerti. Apa yang bisa kumengerti, jika tak satu bebanpun kaubagi. Dan kau (selalu) menyalahkanku karena tak mengerti. Andai sedikit saja kau (ingin) tahu seberapa besar beban yang kusembunyikan di balik bahu mungil ini, bahkan seorang kau yang begitu agung boleh jadi tak kuasa lagi tersenyum, seperti yang biasa kulakukan setiap kau mulai lelah dan menebar amarah. Ya, tak kukira, seorang kau yang (kupikir) begitu agung tak jua mampu membendung duka, menebar amarah semena-mena.

“I’ll end this chat.” Wow! Less than a month ago, you said to me, “I can easily remember what you’ve said. I never end our chat, baby.” Ternyata, sudah sebegini jauh perubahanmu. Tiba waktuku membeli kacamata baru, perputaran semesta sebegini banyak luput dari pengamatanku. Why are we doing this, honey? Let’s just separate, if both of us are too tired to move.

“Give me more time, ok?” Perlukah kalimat ini kauucap berulang-ulang, seolah aku ini wanita yang sebegitunya kurang pengertian? Kalau aku tak memberimu waktu, aku tak lagi ada di rumah ini, menyeduhkan kopi setiap malam, untukmu. Sayang, aku tak bisa memberimu selamanya.

Pip pip pip…

One new message received

From : -Gio-

“How are you?”

“Aku terlalu lama berenang, Gio. Tepian tak kunjung terlihat. Kakiku kram. Aku hampir tenggelam. Save me, please…”

Pip pip pip…

Message has been sent to -Gio-
*

BERSAMBUNG