0

Tertawa(lah)(kah) Kau Melihatku Sekarat

Bumi, belulang, berhala, dan segala yang mengabu dikecup waktu,
tak mampu lelapkan hari akhir,
meski hanya sejenak,
sekejap lebih lama dari yang mampu terpikir,
meski cukup sekadarnya detak.

Apa yang muncul dalam benakmu,
sepanjang satu-dua isapan cerutu,
sesaat jelang putus alir nadiku?
Tawakah?
Membahana sarat luka?
Air matakah?
Membadai gemuruh cita?

Sayang, lengkung bibirmu sungguh datar,
terpasung lesung pipi beku terkapar,
tak goyah meski bahuku gemetar.
Sayang, beri aku bingkisan,
berhias pita-pita senyuman.
Sebab mimikmu tak teramalkan,
menunggu diterjemahkan,
dalam bahasa kecupan.

[Mey] [@meydianmey]

0

Ia, Menanam Kami untuk Mati

Bunga-bunga, serangga, dedaun cemara;

bersenda.

Jelang senja,

jelang musim gugur tiba,

jelang esok yang air mata.

 

Bunga-bunga sejenak menatap langit,

berharap matahari tak terbit.

Berserah pada rasa sakit,

semoga kemarau henti menjerit.

 

Bunga-bunga itu merunduk,

menunggu ditebasnya tengkuk.

Berserah pada petani,

yang menanam mereka untuk mati.