0

Mencintai dengan (tak) Sederhana

Dear Indra,

Ada hadiah (lagi) untukmu. Sebuah puisi yang mungkin sudah kaukenal dan baca berulang kali.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
Kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
Kepada hujan yang menjadikannya tiada

~SDD

Mungkin aku tak mampu mencintai dengan sederhana. Labirin dalam kepalaku, tak banyak orang yang ma(mp)u menjelajahnya. Di genggamanku, cinta berubah tuba, tak lagi manis dan menyenangkan. Namun, jika diberi kesempatan, aku ingin mencintai sesederhana yang aku mampu.

(Mey)

[by @meyDM]

2

Buka Bungkusnya!

Dear Indra,

Surat ini tak berisi kata-kata manis seperti yang kautulis kemarin. Kadang, kalimat-kalimat indah dicukupkan Tuhan untuk dinikmati saja, atau aku yang tak mampu membalasnya. Entahlah…

Surat ini teramat singkat, sesingkat usia manusia di dunia. Sengaja tak kuperpanjang, agar hari ini kau tak melulu membaca duka.

Surat ini berisi hadiah, 1 lagu pengantar tidur, terbungkus kertas kado warna apapun yang kausuka. Bayangkan saja dalam kepalamu, perlahan bungkusnya kaubuka, lalu nada-nada berlompatan merimbunkan hutan batinmu. Nikmati hadiahku setiap malam sebelum pejam. Semoga mimpimu indah selalu. Semoga pagimu hangat selalu.

(Mey)

N.B. Ini hadiahmu!

2

Malaikat Bersayap Hitam

Dear Indra,

Ceritamu tentang impian membuatku teringat masa kecil. Aku pernah memimpikan 2 hal yang (hampir) mustahil. Mimpi pertama dimulai 11 tahun lalu. Aku, masih berusia 11 tahun saat itu, menonton Moulin Rouge, salah satu film favoritku sekaligus film musikal non-animasi yang pertama kutonton. Dalam film itu, Nicole Kidman berperan sebagai Satine, wanita penghibur nomor 1 di rumah hiburan Moulin Rouge yang jatuh hati pada seorang penulis muda. Ada satu adegan, Satine bergantung di ayunan, kemudian bernyanyi sambil terbang menyapa para penggemarnya di Moulin Rouge. Cantik sekali. Empat tahun kemudian, aku (dalam grup paduan suara SMA) bernyanyi di acara kelulusan kakak kelas. Saat itu, aku teringat Moulin Rouge dan mulai bermimpi. Suatu saat nanti, aku akan tampil di panggung megah, ditonton jutaan penggemar, duduk di ayunan, mengenakan kostum malaikat bersayap hitam, menyanyikan lagu Ave Maria, dan memukau para penonton. Kekanakan, ya? X’)

Mimpi keduaku, setelah lulus SMA, ingin jadi psikiater dan mendirikan LSM / yayasan / wadah apapunlah untuk konsultasi masalah perempuan, anak, dan keluarga. Apa daya, aku takut darah dan benda-benda berlendir (ketakutan ini belum kusebutkan di surat sebelumnya ya, hehe), tidak mungkin mendaftar ke fakultas kedokteran. Pupuslah, tetapi aku belum menyerah soal mimpi mendirikan LSM. Suatu saat nanti, pasti.

Soal nyinyirin selebtweet, masih ada, ya? Haha! Yah, satu perkara kan punya banyak sudut pandang untuk dibahas. Sudut pandang penyinyir, salah satunya :p

Buku-buku yang kausebut dalam surat belum (namun ingin) kubaca. Ibu sering ‘mengancam’, kalau aku terlalu banyak membeli buku, besok-besok aku makan kertas dan minum tinta saja. Jadi, kalau mau membeli buku, aku harus pandai-pandai memilih waktu agar tidak mengusik suasana hati Ibu. Ah, pasti kamu rindu Ibu, ya. Maaf ya, Indra :’)

Mulai kehabisan kata-kata? Mulai bosan? Tak apa, sekarang giliranku merintikkan gerimis romantis dan melukis pelangi dalam benakmu.

Sebagai penutup, kuucapkan Selamat Natal (yang sangat terlambat). Biar aku jadi alarm makanmu, anggap saja hadiah Natal (yang juga sangat terlambat) dariku. Pesanku, seringlah tersenyum, di dunia nyata (:

(Mey)

[by @meyDM]

8

Hari ini, Hujan Kembali Pergi | oleh: @tepian_pantai dan Mey DM

21 Oktober 2012

 

Mei, jalan-jalan yang kita lewati detik tadi,

ialah jalan-jalan yang sering aku lewati dengan sendiri,

yang kadang aku bayangkan,

betapa indah bila akan kutempuh dengan satu tujuan.

 

Saban hari, aku hanya berjalan menuju sesuatu,

yang hanya mampu membuat aku menahan senyum,

membenam lebih lama dendam,

memendam lebih banyak diam.

(Semoga, setiap detak yang degup di ujung tapakku,

setia menjelma payung kasat mata,

meneduhkan langkahmu, selalu.)

 

Lalu datanglah cerah, curah hujan yang ceria.

Aku sering berjalan sendiri, menembus hujan,

menuju genangan kenangan.

 

Aku senang sekali berjalan bersama hujan,

aku dan hujan sering bermain mencari kecepatan.

Aku selalu kalah, tetapi

selalu hujan yang akan pergi,

menuju pedih.

(Pedih, sesungguhnya hanyalah tetesan air mata yang membeku,

terlindap debu lalu bersekutu menjelma dinding batu.

Maka, biarlah rindu merupa badai,

biar debu enyah dan pedihmu usai.)

 

Meski setiap ia pergi, aku berdarah bersama senja,

tetapi hujan tak pernah lupa.

Langit tak pernah luput mengenakan selimut.

 

Katanya,

“Ada tujuh warna dalam selimutku.

Langit ialah ranjang tanpa tubuh.

Kau dan orang-orang yang mencintai masa lampau,

ialah tubuh untuk selimutku: pelangi.”

 

Setiap hujan pergi,

setiap aku berdarah dan sendiri,

aku selalu mengenakan selimut.

Hujan tak pernah lupa akan hadiah untuk kemenangan dan kenanganku.

(Hujan tak pernah benar-benar pergi.

Langkahmu tak pernah benar-benar sendiri.

Ia bergelayut di bahu-bahu awan,

menanti diluruhkan biar bersambut pelukan.)

 

Bulan-bulan berlalu seperti deru,

hingga hujan meninggalkan dan menanggalkan aku.

Suatu hari, setelah sekian jalan aku mencari,

hujan tak kutemui.

Aku menangis menjadi-jadi.

 

Aku bertanya kepada senja.

Katanya,

“Ia kembali pada tangan-tangan dan tanah para petani.”

Hingga aku tiba di suatu siang,

ketika aku mengenang kenangannya.

Aku melihat seorang gadis,

seluruh tubuhnya seperti habis dibasuh gerimis.

 

Aku merasa pernah melihatnya,

aku merasa pernah menyentuh sesuatu dari dirinya,

aku merasa pernah bermain-main dengan dirinya.

 

Tetapi, setelah sekian aku pikirkan,

ia tiba-tiba tak ada,

dan tiba-tiba tiba air mata.

(Lihatlah ke dalam cermin,

di dasar hatimu yang beranjak dingin,

di sana air mata berbahasa melalui cahaya,

mengucap rindu tanpa kata-kata,

menyelipkan keberadaan di balik perihal yang kausangka tiada.)

 

Hari ini,

hanya ada awan,

dengan warna yang amat merindukan pelukan.

 

Hari ini,

hanya ada kata-kata yang hujan,

meluruh dalam seluruh ruh dan senyuman.

 

Hari ini,

hanya ada aku,

dan sebuah buku,

yang seluruh mata, kata, dan hatimu pernah membacanya.

(Hari itu,

ada sebagian diriku dilekap rindu,

dan sebagian tersisa masih tertinggal di sudut matamu.

Maka hari ini,

aku akan kembali,

menarikmu dari ambang sunyi.)

 

Aku mulai berjalan dari halaman awal.

Aku mulai membaca.

Mata, kata, dan hatimu mulai membaca.

 

Aku memulai segalanya setelah usai.

Hari ini,

hujan menjadi mata, kata, dan hatiku,

di antara mata kata dan hatimu.

Aku akan mulai membaca.

(Jangan lelah,

sebab aku tak ingin pemandangan indah ini selesai.

Jangan lelah,

sebab aku akan selalu kembali meski yang tersisa dalam sunyimu hanyalah kepingan badai.

Jangan lelah.)

 

(Pemandangan indah ini hadiah dari @tepian_pantai sebagai teman dalam perjalanan pulang. Terima kasih. (: )

Puisi ini diikutsertakan dalam Giveaway Semua Tentang Puisi