2

I Do, I Can

Dear Indra,

Maafkan suratku sebelumnya, begitu singkat, teramat padat. Lenganku cedera. Sudah berlangsung 3 hari dan semakin parah. Karena itu aku tak mampu bercerita banyak lewat surat. Mungkin tidak hanya kemarin, tetapi hingga beberapa hari ke depan, suratku tidak akan panjang. Dimaafkan tidak? Hehe.

Jadi, kau sedang jatuh hati rupanya. Seorang teman pernah berkata padaku, hendaknya momen puitik mampu kita temukan pada segala macam suasana. Suka maupun duka, mendapatkan maupun kehilangan, hendaknya mampu kita rayakan semua dengan suka cita. Temukan momen puitikmu saat jatuh hati, jaring ide kreatif di sana.

Kau tahu, Indra, jatuh hati itu bukan pilihan. Kita tak bisa memilih akan jatuh hati pada seseorang tertentu atau pada waktu tertentu. Demikian pula patah hati. Aku tak bisa berjanji tak akan mematahkan hatimu suatu saat nanti. Bukan tak mau berjanji, melainkan tak mampu. Namun untuk perihal yang kautanyakan dalam suratmu kemarin, kujawab “I do, I can”.

Bagaimana?

 

(Mey)

N.B. Sekali lagi, maafkan suratku yang teramat singkat ini.

Iklan
5

#13HariNgeblogFF ~ Jangan ke mana-mana, di hatiku saja

“Jangan ke mana-mana, di hatiku saja…”

Muak aku mendengarnya merayu para gadis. Entah mengapa mereka menyukainya. Meski mereka tahu benar lelaki itu merayu setiap gadis yang ia temui, tetap saja gadis-gadis itu menyerahkan tubuhnya.

***

“Selamat sore, dengan Ayam Goreng Mbok Par, ada yang bisa dibantu? Satu ekor ayam panggang, atas nama Bapak Hans ke alamat biasanya. Baik, Pak. Terima kasih. PARDIII!!! Cepat potong si jambul merah! Apa sih kerjamu di belakang? Sekalian tangkap kucing-kucing yang berkeliaran di sekitar kandang! Biar kugoreng buat makan malam kita…”

Ah, akhirnya mulai malam ini si jambul merah tak bisa lagi merayu gadis-gadis di peternakan. Tamat juga riwayatnya. Aku harus segera kabur sebelum tertangkap oleh Pardi.

7

#13HariNgeblogFF ~ Sambungan Hati Jarak Jauh

From: inp_1966@yahoo.com
To: yeahyeah666@yahoo.com
Date: Dec 10, 2012
Subject: Re: Rock rock rock!

Oke! Kucarikan dulu filenya ya!

—Original Message—
From: yeahyeah666@yahoo.com
Date: Dec 9, 2012
To:
Subject: Rock rock rock!

Mas, koleksi albumnya Journey nggak? Aku ngopilah kalau punya, hehe.

“Asiiiiik! Semoga koleksi Mas Wawan lengkap! Haha,” batinku sambil mematikan komputer. Aku mengenalnya dari milis penyuka lagu-lagu classic rock. Meski usianya sebaya ayahku, jiwa muda Mas Wawan memaksaku memanggilnya “Mas”. Unik benar Mas Wawan ini. Ah, aku tak sabar menanti kabar selanjutnya. Sudah hampir tengah malam, lebih baik aku tidur saja. Semoga besok ada kabar baik dari Mas Wawan.
***

From: yeahyeah666@yahoo.com
To: inp_1966@yahoo.com
Date: Dec 13, 2012
Subject: Journey!

Mas, minggu depan aku ke Jakarta. Kita ketemuan aja ntar, sekalian ngopi-ngopi Journey. Ngga usah dikirim CD-nya, hahaha. Oke?

“Jo, Bejo,nanti dulu! Jangan dikirim dulu paketnya, nggak jadi,” ujarku pada Bejo, tukang kebunku. Tadinya, ia kusuruh mengirim paket CD Journey untuk Dani, pemuda yang kukenal melalui milis classic rock di yahoogroups. Siapa sangka ada pemuda yang menggemari classic rock sekaligus Arema sepertiku. Andai dulu aku punya anak laki-laki. Ah sudahlah, saatnya kembali ke kantor.
***

From: inp_1966@yahoo.com
To: yeahyeah666@yahoo.com
Date: Dec 19, 2012
Subject: Re: Bentar lagi JKT

So, you’re girl? Who cares? Haha! Oke, Jumat malem ya! Cari aja bapak-bapak muda yang pake jaket kulit coklat sama sepatu kets biru ntar, hahaha. Get ready for the Journey!

—Original Message—
From: yeahyeah666@yahoo.com
Date: Dec 18, 2012
To:
Subject: Bentar lagi JKT

Mas, aku nyampe Jakarta Kamis sore. Gimana kalo jumat abis isya kita ketemu di kafe tempat anak-anak milis biasa kopdar? Tempat yang dulu kita sempet nggak ketemu itu lho. Oiya, anyway, sebetulnya aku ini perempuan, Mas. Hehe. Yah, biar ngga diisengin sama anak milis, makanya aku ngga ngaku. Jadi, ntar jangan kaget ya! Haha!

Ah, andai putriku sedikit saja lebih mirip Dani, takkan sebegitu mudah kuserahkan hak asuh pada ibunya. Dani, atau entah siapa nama sebenarnya, tinggal di Malang. Gadis, putriku, juga tinggal di Malang dengan ibunya. Lain waktu aku akan ke Malang, gantian mengunjungi Dani di sana, sekalian menengok Gadis.
***

“Akhirnya, sampai juga di kafe ini. Semoga Mas Wawan nggak jengkel gara-gara aku telat,” gumamku dalam hati. Aku melihatnya, seorang laki-laki dengan jaket kulit coklat dan sepatu kets biru, duduk memunggungiku.

“Hei Mas Wawan!” kutepuk bahunya perlahan. “Sori telat, ya. Tadi macet banget, terus… Eh… Papa? PAPA?!”

“Gadis? Jadi kamu? Dani?”

[Mey] [@meyDM]

5

#13HariNgeblogFF ~ Cuti Sakit Hati

Tue, 08/01/2013, 17.30
To: Mama
“Maaf, Ma. Seleksi beasiswa ke Canberra kemarin… gagal lagi. Aku mau cuti jadi anak baik Mama dan Papa. Tolong aku, Ma, jangan bilang Papa. Aku benci dikejar-kejar bodyguard. I love you, Kirana pasti pulang (:”

***

“TANGKAP DIA!”

Terdengar lelaki berteriak dan menunjuk-nunjuk ke arah Kirana. Ia panik, lalu bergegas menaiki angkutan umum yang kebetulan berhenti di pertigaan Sumbersari. Ternyata lelaki tadi mengejar seorang anak kecil berpakaian kumal, mungkin pencopet, atau entah siapa, sudah tak penting lagi. Angkutan umum yang ditumpangi Kirana bergerak perlahan menjauhi pertigaan Sumbersari.

“Duh, untung bukan bodyguard Papa. Belum juga seminggu kabur, masa iya sudah tertangkap. Harus turun di mana aku sekarang? Ah, di sini sajalah,” batin Kirana. “Kiri, Pak! Terima kasih.”

“Sudah lama ngemall, hihi…” ujar Kirana dalam hati sambil tersenyum simpul.

Kirana tampak bahagia, bahagia sekali. Ia tak perlu menghabiskan harinya dengan berbagai kursus dan tumpukan tugas sekolah. Hari ini, semua kursus dan tugas itu berganti menonton film dan cuci mata di mall.

“Wah, sudah malam ternyata. Harus buru-buru ke supermarket nih sebelum tutup. Di hotel kan makanan mahal-mahal…” gumam Kirana, berjalan ke arah supermarket. Langkahnya terhenti saat terdengar tangisan wanita dari televisi yang dipajang di etalase sebuah toko elektronik.

“Hei, itu kan Mama…” gumam Kirana sambil mendekati etalase. Tiba-tiba…

“MAMAAA… PUNGGUNG KAKAK ITU BOLONG!” Seorang anak kecil menjerit sambil menunjuk-nunjuk Kirana, lalu berlari ke arah ibunya.

Kirana kebingungan. Beberapa pengunjung mall yang berdiri di dekat Kirana pun tak kalah terkejutnya. Perlahan ia berbalik memunggungi etalase sambil meraba punggungnya. Tubuh Kirana mulai limbung saat terlihat darah segar membekas di telapak tangannya.
***

“(terdengar samar-samar suara dari televisi) …… telah ditemukan mayat perempuan tanpa identitas dalam kamar hotel berbintang di kawasan…… diduga mayat perempuan tersebut adalah anak bungsu Bapak Walikota yang dilaporkan menghilang sejak tiga hari lalu……

[Mey] [@meyDM]

2

Akulah, Penikmat Pesta Rakyat

Bergumul pesta rakyat nan riuh bahana, gigilku tak lagi utuh.

Derap kuda lumping injak tengkuknya.

Duri-duri lecut pecut cabik tempurung lututnya.

Bulir-bulir hujan rajai lesung pipinya, pipi yang beranjak kumuh.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang kesumat.

Dengung ketipung urung limbung kala takbir beranjak dekat.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang keparat.

Geliat kerbau gila dan pekik-pekik perawan belia, luruhkan iman yang mulai lekat.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang sekarat.

Coba hirup aroma luka menguar bersama hujan, coba reguk teduhnya payung-payung pelaminan, sebelum napas kalian cekat.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang melarat.

Tak terselamatkan, tak sebiji jagungpun terselamatkan, wahai anakku.

Tak terkecuali ibumu.

 

Sumber gambar: http://sphotos-a.xx.fbcdn.net/hphotos-ash4/390814_10150456159012477_1058663846_n.jpg

0

Luka Parut pada Pipinya Bercerita

Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan “My Letter to Juliet”, dapat dibaca di sini.

*

Untuk ke sekian kalinya, cangkir itu kaupecahkan, bahkan sebelum kepul hangatnya tandas kautelan. Sisa kopi panas yang kuseduh sepenuh hati itu membarakan meja kayu kita, setelah semalaman aku giat membersihkannya.

Apa (lagi) salahku hari ini? Kauambil sekeping pecahan cangkirnya, lalu kausayatkan ke pipi kiriku. Ajaib sekali, aku tak lagi merasa ngilu. Mungkin saraf perasaku sudah habis kaulukai, atau tak ada daging tersisa lagi, mungkin yang baru saja kausayat tak lain ialah tulang pipi. Berikutnya, yang kutahu, kau sudah pergi. Sementara aku, terduduk berurai badai, sendiri.

Apa (lagi) salahku hari ini? Berkali-kali kupandang layar ponsel pintar ini, kata atau kalimat apa yang sebaiknya kukirimkan padamu. Aku menyerah. Mungkin yang kausayat tadi bukan hanya tulang pipiku, isi tengkorakku pun turut tercabik, entah. Imajinasiku terhenti pada susunan 5 kata dan 3 tanda baca berikut ini: “Apa (lagi) salahku hari ini?” Sudah kukirimkan dan seperti biasa, aku gelisah menanti jawabanmu.

“You just don’t understand. I’ll end this chat. Give me more time, ok?” Ajaib sekali (lagi), jawabanmu begitu panjang untuk pertanyaanku yang tak lebih dari susunan 5 kata dan 3 tanda baca. Bukan hanya jawabanmu, kali ini, perih yang kausisakan pun lebih panjang dari biasanya.

“You just don’t understand.” Ya, aku memang tak mengerti. Apa yang bisa kumengerti, jika tak satu bebanpun kaubagi. Dan kau (selalu) menyalahkanku karena tak mengerti. Andai sedikit saja kau (ingin) tahu seberapa besar beban yang kusembunyikan di balik bahu mungil ini, bahkan seorang kau yang begitu agung boleh jadi tak kuasa lagi tersenyum, seperti yang biasa kulakukan setiap kau mulai lelah dan menebar amarah. Ya, tak kukira, seorang kau yang (kupikir) begitu agung tak jua mampu membendung duka, menebar amarah semena-mena.

“I’ll end this chat.” Wow! Less than a month ago, you said to me, “I can easily remember what you’ve said. I never end our chat, baby.” Ternyata, sudah sebegini jauh perubahanmu. Tiba waktuku membeli kacamata baru, perputaran semesta sebegini banyak luput dari pengamatanku. Why are we doing this, honey? Let’s just separate, if both of us are too tired to move.

“Give me more time, ok?” Perlukah kalimat ini kauucap berulang-ulang, seolah aku ini wanita yang sebegitunya kurang pengertian? Kalau aku tak memberimu waktu, aku tak lagi ada di rumah ini, menyeduhkan kopi setiap malam, untukmu. Sayang, aku tak bisa memberimu selamanya.

Pip pip pip…

One new message received

From : -Gio-

“How are you?”

“Aku terlalu lama berenang, Gio. Tepian tak kunjung terlihat. Kakiku kram. Aku hampir tenggelam. Save me, please…”

Pip pip pip…

Message has been sent to -Gio-
*

BERSAMBUNG