2

Lolongan Misterius

Dear Indra,

Kau meminta hujan dariku? Baiklah, kuberi satu cerita tentang hujan.

Beberapa jam sebelum kutulis surat ini, hujan angin melanda kotaku, sebagian wilayah juga mengalami hujan es. Bagi sebagian orang, ini memang bukan bencana dahsyat. Tak ada seujung kuku derita korban banjir ibukota. Namun, tetap mengerikan bagiku.

Aku sering tinggal sendiri, sejak SMP, sejak keluargaku pindah dari rumah masa kecil kami. Masa-masa beberapa jam lalu adalah masa-masa paling menakutkan sejak saat itu. Tinggal sendiri belum pernah seseram sore tadi.

Rumah yang sekarang kutempati ini dikelilingi lapangan luas dan lahan kosong. Sungguh habitat yang kondusif untuk merajut angin dan menyulam petir. Haha. Aku tidak bercanda. Rumahku sering diterpa angin kencang. Begitu kencangnya, sampai terdengar lolongan misterius (entah apa pengaruhnya, I’m not good at physics so I can’t explain. Yang pasti, makin kencang angin bertiup, makin kencang pula lolongan itu terdengar) dan pintu kaca di rumah bergetar hebat. Tentang petir, jangan ditanya, kilau kilatnya saja jadi pemandangan sehari-hari saat hujan, apalagi riuh gemuruhnya.

Tadi sore, angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Tiba-tiba saja atap fiberglass di belakang rumah pecah dan terbang entah ke mana. Hujan makin deras dan rumahku mulai kebanjiran. Berikutnya, sudah bisa ditebak, mati listrik. Aku tak berani menyalakan lilin karena angin begitu kencang. Untunglah hujan angin perlahan mereda. Rumahku selamat, meski kotor dan luka-luka. Hehe.

Bagaimana denganmu? Apa cerita masa kecilmu? Masa-masa menakutkan apa yang pernah kaulalui? (:

(Mey)

[by @meyDM]

5

Sambar Aku!

Dear Indra,

Aku penyuka film / serial drama sekaligus thriller, juga penggemar musik ballad sekaligus rock. Kira-kira seperti malaikat dan iblis dalam 1 tubuh, aku ini kontradiktif. Jadi, aku masih bisa dan dengan sangat senang hati menemanimu menonton film action atau thriller nanti. Haha.

Aku belum pernah mengunjungi tumblr-mu. Penasaran. Apa alamatnya? Sampah bagi penulis sebaik kamu, bisa jadi harta buat orang lain :p

Kemarin aku bilang sudah memikirkan sesuatu untuk kutulis dalam suratku berikutnya, kan? Aku menyiapkan hadiah. Potongan salah satu lagu favoritku, judulnya Thunder dari Boys Like Girls. Aku suka sekali versi akustiknya.

Your voice was the soundtrack of my summer
Do you know you’re unlike any other?
You’ll always be my thunder, and I said

Your eyes are the brightest of all the colors
I don’t wanna ever love another
You’ll always be my thunder

So bring on the rain
And bring on the thunder

 

Perjalanan kita masih panjang. Aku akan melukis pelangi di sisi kananmu dan menggamit lengan kirimu. Tidak boleh ada lagi badai dan belukar berbiak di sisa jalan kita.

 

(Mey)

0

Pelangi, Bulan, Badai, dan Belukar

Dear Indra,

Dua surat terakhirku singkat sekali, ya. Bukan berarti bosan, justru aku bingung menemukan cara membuatmu tak jemu membaca suratku. Haha.

Aku menulis surat ini sambil menonton (500) Days of Summer. Tagline-nya menarik sekali.

This is not a love story.

This is a story about love.

 

Pun kutipan-kutipannya.

Just because she likes the same bizarre crap you do doesn’t mean she’s your soul mate.

There are no miracles, there’s no such thing as fate, there’s no such thing as love. It’s fantasy…

 

Sudahkah kau menontonnya? Cinta sering dikaitkan dengan kata selamanya. Selamanya, sepanjang hidup, sepanjang usia. Realitanya, hanya berlangsung selama seseorang masih menginginkan.

Coba ingat-ingat, apa saja yang kutulis dalam 3 surat terakhirku (termasuk surat ini)? Kau menunjukkan pelangi dan bulan, sementara aku memberimu badai dan belukar. Haha.

Jangan maafkan kelemahanku. Jangan maafkan kelemahanku.

(Mey)

0

Langit Meng-AMIN-i Rinduku

Aku merindukanmu sekuat amuk awan kelabu sore ini di beranda

Memuntahkan isi perut dan pikirannya ke dalam mulut bumi yang menganga, hingga redam

Ingin pula kumuntahkan isi rongga dada nan coklat berkarat sarat duri ini

Namun, cinta ialah perihal suka duka yang sering tak sejalan dengan laju keinginan

Sumber gambar: http://bit.ly/pYiq6g

[Mey] [@meyDM]

8

Hari ini, Hujan Kembali Pergi | oleh: @tepian_pantai dan Mey DM

21 Oktober 2012

 

Mei, jalan-jalan yang kita lewati detik tadi,

ialah jalan-jalan yang sering aku lewati dengan sendiri,

yang kadang aku bayangkan,

betapa indah bila akan kutempuh dengan satu tujuan.

 

Saban hari, aku hanya berjalan menuju sesuatu,

yang hanya mampu membuat aku menahan senyum,

membenam lebih lama dendam,

memendam lebih banyak diam.

(Semoga, setiap detak yang degup di ujung tapakku,

setia menjelma payung kasat mata,

meneduhkan langkahmu, selalu.)

 

Lalu datanglah cerah, curah hujan yang ceria.

Aku sering berjalan sendiri, menembus hujan,

menuju genangan kenangan.

 

Aku senang sekali berjalan bersama hujan,

aku dan hujan sering bermain mencari kecepatan.

Aku selalu kalah, tetapi

selalu hujan yang akan pergi,

menuju pedih.

(Pedih, sesungguhnya hanyalah tetesan air mata yang membeku,

terlindap debu lalu bersekutu menjelma dinding batu.

Maka, biarlah rindu merupa badai,

biar debu enyah dan pedihmu usai.)

 

Meski setiap ia pergi, aku berdarah bersama senja,

tetapi hujan tak pernah lupa.

Langit tak pernah luput mengenakan selimut.

 

Katanya,

“Ada tujuh warna dalam selimutku.

Langit ialah ranjang tanpa tubuh.

Kau dan orang-orang yang mencintai masa lampau,

ialah tubuh untuk selimutku: pelangi.”

 

Setiap hujan pergi,

setiap aku berdarah dan sendiri,

aku selalu mengenakan selimut.

Hujan tak pernah lupa akan hadiah untuk kemenangan dan kenanganku.

(Hujan tak pernah benar-benar pergi.

Langkahmu tak pernah benar-benar sendiri.

Ia bergelayut di bahu-bahu awan,

menanti diluruhkan biar bersambut pelukan.)

 

Bulan-bulan berlalu seperti deru,

hingga hujan meninggalkan dan menanggalkan aku.

Suatu hari, setelah sekian jalan aku mencari,

hujan tak kutemui.

Aku menangis menjadi-jadi.

 

Aku bertanya kepada senja.

Katanya,

“Ia kembali pada tangan-tangan dan tanah para petani.”

Hingga aku tiba di suatu siang,

ketika aku mengenang kenangannya.

Aku melihat seorang gadis,

seluruh tubuhnya seperti habis dibasuh gerimis.

 

Aku merasa pernah melihatnya,

aku merasa pernah menyentuh sesuatu dari dirinya,

aku merasa pernah bermain-main dengan dirinya.

 

Tetapi, setelah sekian aku pikirkan,

ia tiba-tiba tak ada,

dan tiba-tiba tiba air mata.

(Lihatlah ke dalam cermin,

di dasar hatimu yang beranjak dingin,

di sana air mata berbahasa melalui cahaya,

mengucap rindu tanpa kata-kata,

menyelipkan keberadaan di balik perihal yang kausangka tiada.)

 

Hari ini,

hanya ada awan,

dengan warna yang amat merindukan pelukan.

 

Hari ini,

hanya ada kata-kata yang hujan,

meluruh dalam seluruh ruh dan senyuman.

 

Hari ini,

hanya ada aku,

dan sebuah buku,

yang seluruh mata, kata, dan hatimu pernah membacanya.

(Hari itu,

ada sebagian diriku dilekap rindu,

dan sebagian tersisa masih tertinggal di sudut matamu.

Maka hari ini,

aku akan kembali,

menarikmu dari ambang sunyi.)

 

Aku mulai berjalan dari halaman awal.

Aku mulai membaca.

Mata, kata, dan hatimu mulai membaca.

 

Aku memulai segalanya setelah usai.

Hari ini,

hujan menjadi mata, kata, dan hatiku,

di antara mata kata dan hatimu.

Aku akan mulai membaca.

(Jangan lelah,

sebab aku tak ingin pemandangan indah ini selesai.

Jangan lelah,

sebab aku akan selalu kembali meski yang tersisa dalam sunyimu hanyalah kepingan badai.

Jangan lelah.)

 

(Pemandangan indah ini hadiah dari @tepian_pantai sebagai teman dalam perjalanan pulang. Terima kasih. (: )

Puisi ini diikutsertakan dalam Giveaway Semua Tentang Puisi

0

Love Letter I

Dear Cinta,

Mungkin sekarang kau sedang tidur. Hari ini hujan dan muram. Pasti kau malas keluar rumah. Seperti kebiasaanmu selama ini, sambil mendengar lagu favoritmu, Jason Mraz – A Beautiful Mess.

Jason Mraz

(Our favorite singer, at that time)

Maaf aku tak bisa menemanimu di rumah. Kau tahu aku punya kebiasaan buruk sukar mengingat jalan (jangan tertawa!). Tetapi aku di sini, berdiri menatap ke luar jendela, berharap angin meniupkan sejuk di antara muramnya suasana hatimu.

Beberapa malam lalu, aku memimpikanmu. Kau duduk di sampingku, di ruang kelas kita yang biasa. Entah mengapa, kau hanya memandangku dan terdiam. Apa artinya, Cinta?

Hmmm, sudah malam, Cinta. Aku perlu mandi dan makan malam. I’ll see you tomorrow.

With Love,

Cinta

 

Sumber gambar: http://coverlaydown.com