2

I Do, I Can

Dear Indra,

Maafkan suratku sebelumnya, begitu singkat, teramat padat. Lenganku cedera. Sudah berlangsung 3 hari dan semakin parah. Karena itu aku tak mampu bercerita banyak lewat surat. Mungkin tidak hanya kemarin, tetapi hingga beberapa hari ke depan, suratku tidak akan panjang. Dimaafkan tidak? Hehe.

Jadi, kau sedang jatuh hati rupanya. Seorang teman pernah berkata padaku, hendaknya momen puitik mampu kita temukan pada segala macam suasana. Suka maupun duka, mendapatkan maupun kehilangan, hendaknya mampu kita rayakan semua dengan suka cita. Temukan momen puitikmu saat jatuh hati, jaring ide kreatif di sana.

Kau tahu, Indra, jatuh hati itu bukan pilihan. Kita tak bisa memilih akan jatuh hati pada seseorang tertentu atau pada waktu tertentu. Demikian pula patah hati. Aku tak bisa berjanji tak akan mematahkan hatimu suatu saat nanti. Bukan tak mau berjanji, melainkan tak mampu. Namun untuk perihal yang kautanyakan dalam suratmu kemarin, kujawab “I do, I can”.

Bagaimana?

 

(Mey)

N.B. Sekali lagi, maafkan suratku yang teramat singkat ini.

Iklan
0

Titik Jatuhnya Penyesalan

Paradigma umum :

Penyesalan datangnya belakangan…

penyesalan

Paradigma umum yang sangat sulit dihindari kebenarannya. Namun inti masalahnya justru tidak terletak pada “kapan” datangnya penyesalan, tetapi pada “sampai kapan” penyesalan itu akan disimpan.

Ilham terbesar yang membuatku rela menahan kantuk dan mengakses blog pagi-pagi buta adalah sebait tulisan seorang teman lama. Tidak benar – benar hanya sebait, tetapi berbait – bait, sebenarnya.

Ia menulis beberapa hal tentang penyesalan, beberapa kesedihan, dan ketidaksempurnaan.

Rasanya kontradiktif. Di satu sisi aku kecewa padanya. Terlalu banyak kebohongan yang tercipta dan melukai orang – orang yang seharusnya tak perlu terusik. Di sisi lain, ada satu-dua bagian dari dirinya yang membuatku kagum, bersimpati atas derita dan beban yang dirasakannya sekarang.

Ada satu hal yang kadang ingin kuketahui darinya. Mungkin akan terdengar sedikit konyol. Sebegitu beratkah rasanya menjadi tidak sempurna? Sebegitu beratkah rasanya menyadari diri kita tidak sempurna?

Oh ayolah, kita ini manusia biasa. Tak ada yang mungkin sempurna. Tak perlu mengutuk diri kita penuh beban dengan kalimat semacam “I might not be the perfect person”. Katakanlah dengan lapang dada bahwa “I am not a perfect person who will always try to be better”.

Andai aku tahu ketidaksempurnaan akan membuatmu begini terpukul, akan kuulurkan tanganku lebih awal untuk menarikmu dari keterpurukan ini. Dan sekarang, meski kapal yang pernah kita tumpangi bersama telah retak dan sepertinya cukup susah diperbaiki, I just pray for your better life…

Sumber gambar: http://indahgemini.blogspot.com