2

Tak Ada Cinta Untukmu dalam Suratku

:’)

[by @meyDM]

Iklan
4

#13HariNgeblogFF ~ Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

“Sudah makan?”
“Iya.”

“Kamar ini cukup nyaman untukmu?”
“Iya.”

Rudi menatap sesosok perempuan yang duduk tertunduk di sisi ranjang. Uraian rambut panjangnya gagal menyamarkan lingkaran hitam di sekitar mata. Bibirnya kering pecah-pecah dan pipinya tampak pucat.

“Mau kupesankan sup iga dan susu hangat favoritmu?”
“Iya.”

Terdengar suara pelayan mengetuk pintu. Sepiring nasi putih, seporsi sup iga, dan segelas susu hangat diletakkan di atas meja sebelah ranjang.

“Makanlah dulu.”
“Iya.”

“Masih mencintaiku?”
“Iya.”

“Malam ini pulang ke rumah?”
“Iya.”

“Berencana menikah lagi?”
“Iya.”

“Tak adakah kata lain yang bisa kauucapkan?”
“Waktu short time hampir habis. Kata-kata apa lagi yang ingin kaudengar? Bukankah tadi kau membayar Ibu untuk tak pernah berkata tidak, Nak?”

[Mey] [@meyDM]

7

#13HariNgeblogFF ~ Bales Kangenku Dong!

DUK!!!

“Aduhhh!”

“Aduh maaf, Ma. Ternyata Mama sembunyi di sini. Maaf, ya. Papa tadi buru-buru, nggak tahu ada Mama lagi sembunyi. Maaf ya, Ma.”

“Nggak apa-apa, Pa. Bisa ketemu Papa aja, Mama udah seneeeng banget. Mama kan kangen Papa…”

“Papa juga kangeeen banget sama Mama…”

“Pokoknya malem ini kita nggak boleh gagal, Pa. Harta yang disimpen di dapur itu harus kita curi! Oke, Pa?”

“Betul, Ma! Ayo kita masuk, jendelanya kebuka sedikit tuh!”

Sepasang suami istri tersebut berhasil memasuki dapur. Perlahan mereka mengendap-endap mendekati tempat persembunyian harta yang tengah diincarnya. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat.

“PA!!! KITA KETAHUAN, PA!!! LARI!!!”

“AAAAAAK!!!”
***

“KANIAAA!!! SISA KUEMU DIKERUBUTIN SEMUT!!! AYO CEPAT BERSIHKAN!!!”

[Mey] [@meyDM]

0

Potongan Tubuhmu dalam Kamar Rahasiaku

Kusingkirkan di balik kelambu,
lengkung bibirmu yang mengundang pilu,
biar tak melulu rindu.

Kuselipkan di bawah bantal,
sekantung wewangi rambutmu yang ikal,
biar hadirmu niscaya kekal.

Kulekatkan pada langit-langit,
kekar bahumu yang menyamai bulan sabit,
biar fajar gemetar dan enggan terbit.

Kugantungkan dalam lemari kayu,
biar kecupmu menyanding kamper biru,
hangatkan helai-helai pendekap tengkukku.

Kurapatkan di bawah ranjang,
isi rongga dadamu yang telanjang,
temani lelapku selepas jingga menghilang.

[Mey] [@meydianmey]

0

Love Letter II

Dear Cinta,

Mungkin sekarang kau sedang tidur. Mungkin juga belum. Entahlah, mendadak aku ingin mengirim surat untukmu.

Bagaimana kabarmu di sana? Semuanya lancar? Kau tak sedang bermasalah, kan?

Hmm… Cukup seulas senyum saja sudah cukup membuatku lega. Setidaknya kau baik-baik saja. Terawat dengan baik di sana.

Baru saja aku memimpikan Ayah. Kami duduk bersama di sofa, menonton pertandingan sepak bola favorit kami sambil makan lumpia mini. Kami tertawa dan bersorak bersama. I think I miss him..

Hari ini, sepanjang hari aku tertawa, bersenang-senang bersama sahabat. Aku senang, senang sekali. Hanya, ada sedikit perasaan aneh. Entahlah, sepertinya aku teringat ayah dan ibu.

Rasanya aneh. Di satu sisi aku tertawa dan bersenang-senang sepanjang hari, sementara di sisi lain, orang-orang yang kusayangi sedang berjuang keras.

Tak bahagiakah mereka? No, they’re happy,very much.

Apa mereka tak pernah bersenang-senang? No, they always had their good times with their own way of thinking.

Jadi apa yang membuatku merasa aneh? Hmm… Ada sedikit perasaan bersalah saat aku menyadari, di sini aku sering sekali bersenang-senang tanpa tujuan yang jelas sementara di sana orangtuaku sedang berjuang keras dan tetap bisa menikmati hidup mereka.

Mereka berjuang demi hal-hal yang mereka anggap penting dengan cara mereka sendiri, sementara aku? Apa yang sudah kuperbuat di sini, Cinta? Just having fun. What a miserable thing…

Aku juga ingin berjuang, berjuang bersama mereka demi hal-hal yang kuanggap penting dengan cara yang kupilih sendiri. I’m their only daughter, for God’s sake.

Cinta, aku lelah. Kurasa aku butuh berbaring sejenak lagi. Sampai berjumpa lagi, entah kapan…

With Love,

Cinta…

 

Sumber gambar: http://senoritaglamourista.blogspot.com

0

Mimpi dan Harapan

 

Hanya sedemikiankah batas antara mimpi dan harapan? Begitu tipiskah? Dan setipis itu jugakah harapan yang pernah kupertaruhkan padamu? Pada kita, tepatnya.

Aku bermimpi memandangmu berdiri di kejauhan. Aku bermimpi dirimu memandangku dalam diam. Aku bermimpi kau mendekat dan mendekapku. Aku bermimpi seseorang menggamit lenganku, dan itu dirimu. Berdiri begitu dekat denganku. Berbisik di telingaku,”Inilah kita, diriku dan dirimu, saat ini dan selamanya.”

 

Aku membuka mata dan berpikir. Mimpi, harapan, realita. Pada titik mana aku berada. Pada titik mana kita tengah melangkah.

Dan kurasakan air mata dan peluhku menyentuh benakmu. Seperti kurasakan kebimbanganmu membelai batinku yang tengah  goyah.

Bagaimana rasanya menjadi berbeda? Seperti aku yang juga berbeda. Bagaimana rasanya memiliki teman dalam perbedaan? Seperti aku yang selalu menemanimu. Bagaimana rasanya dimengerti? Dimengerti dan saling mengerti. Sekali lagi kurasakan kehadiranmu dalam keheningan.

Begitu banyak yang terasa dalam batinku, begitu ramai suara yang bergumam di benakku, tentangmu. Namun…

Ini mimpiku, juga harapanku, itu dirimu.

 

Sumber gambar:

http://keluargamustaqim.blogspot.com

http://icelatestory.wordpress.com