0

Karenamu, Kubunuh Separuh Diriku

Aku bertengkar dengan separuh diriku
Memperbincangkanmu
“Sekadar mimpi”, ia menyebutmu
“Lalu, bukankah kita tengah sepakat?” tanyaku
“Lelaki itu serupa mimpi, bagiku.”

Separuh diriku membencimu
“Sekadar mimpi”, berulang kali ia menghakimimu
Lelaki yang bermain api
Mendekati gadis yang setengah tuli
Gadis yang sulit mendengar pekik nurani

Separuh diriku, aku membencinya
Kuraih setengah tengkuknya, kupatahkan dalam satu hela
Separuh diriku, terkapar sempurna
Semesta malu-malu memalingkan rupa
Membisikkan gelar baruku, “Wanita yang Membunuh Separuh Dirinya”

Karenamu, aku memilih bisu
Karenamu, aku membunuh separuh diriku
Biar setengah lidah ini tak lagi menjeritkan luka di telingamu
Datanglah padaku
Genapkan sebagianku dengan separuh dirimu

[Mey] [@meydianmey]

0

Darimu, Tuhan Meminta SeparuhNya Kembali

Di sisa malam yang tinggal sepenggalah
Seorang perawan mengaduh, setengah
Separuh dirinya terpagut usia
Separuh dirinya menua lebih cepat dari yang mampu diterka

Malam itu, kenyerian menggelitik perutnya
Kengerian menarik-narik baju dalamnya
Mereka, birahi yang memohon disentuh
Hilang arah di penjuru tubuh, serupa kapal putus sauh

“Inikah yang kaujeritkan, kekasih?”
“Inikah yang kausebut betapa malam itu teramat pedih?”
Wanita itu terbahak, sepasang matanya mendidih
Tak jelas apakah ia menangis, atau merintikkan bebuih putih

“Beri maaf, Tuhan, beri maaf hambaMu nan laknat.”
“Teramat penuh separuh lain dalam sebagian diriku.”
“Separuh rusuk kekasihku, separuh tapak kaki ibu.”
Tampak separuh-separuh itu berlomba mengecup tengkuknya, hingga jatuh penat

Mungkin ini sebentuk hukuman, bagi perawan yang kerap berlagak lupa ingatan
Lupa dengan apa, untuk apa ia didewasakan
Kini, saat sebagian dirinya penuh terisi
Tuhan meminta separuhNya kembali

[Mey] [@meydianmey]

0

Tertawa(lah)(kah) Kau Melihatku Sekarat

Bumi, belulang, berhala, dan segala yang mengabu dikecup waktu,
tak mampu lelapkan hari akhir,
meski hanya sejenak,
sekejap lebih lama dari yang mampu terpikir,
meski cukup sekadarnya detak.

Apa yang muncul dalam benakmu,
sepanjang satu-dua isapan cerutu,
sesaat jelang putus alir nadiku?
Tawakah?
Membahana sarat luka?
Air matakah?
Membadai gemuruh cita?

Sayang, lengkung bibirmu sungguh datar,
terpasung lesung pipi beku terkapar,
tak goyah meski bahuku gemetar.
Sayang, beri aku bingkisan,
berhias pita-pita senyuman.
Sebab mimikmu tak teramalkan,
menunggu diterjemahkan,
dalam bahasa kecupan.

[Mey] [@meydianmey]

0

Aku Benci Kau Mendua

Aku benci kau mendua,
menepikan rindu yang riuh bahana.

Aku benci kau mendua,
mengijinkan luka menukar lengkung bibir cita.

Aku benci kau mendua.
Kau tiada kala mala gelayut mata.

Aku benci kau mendua,
sebagianmu terasa tak nyata.

Aku benci kau mendua,
ingkar pada muara tautan lengan kita.

Aku benci kau mendua,
mendusta yang kausebut dengan selalu cinta.

Aku benci kau mendua.
Aku begini nestapa, kau begitu tiada.

Aku benci kau mendua.
Hatimu memuat senyum yang gagal kueja.

Aku benci kau mendua.
Segala kenang air mata yang enggan kuraba.

Aku benci kau mendua.
Lebih baik kita lenyap saja,
lalu bersama dalam tiada.

Aku benci kau menduakannya,
dengan merayakan kita.

[Mey] [@meydianmey]

0

Bahagianya adalah Bahagiaku

Egoisme. Hasrat manusiawi untuk mengejar kebahagiaan sejati. Ketamakan. Kemunafikan.

Adakah yang bisa menunjukkan seberapa lebar jarak di antaranya?

Aku mengenalnya di saat yang kurang tepat, memang benar.

Aku memutuskan bahwa dialah yang kuinginkan di saat yang benar-benar tidak tepat, itu juga benar.

Aku bertanya padanya dan semua orang yang menyisihkan waktu untuk mendengar keluh kesahku, apakah aku salah? Apakah perasaanku salah? Dia dan mereka bilang tidak.

Aku bercermin dan bertanya pada diriku sendiri, apakah tindakanku benar? Bayang-bayangku mengangkat sebelah tangannya dan mencengkeram ujung kerahku. Ia menamparku dan memaki betapa aku seorang wanita rendah.

Aku bersandar di ujung ranjang. Menghela nafas dalam-dalam sambil memandang ke luar jendela. Sering kulakukan hal ini ketika aku resah. Teringat saat aku sering memaki wanita-wanita yang kuanggap rendah karena berbagai alasan, salah satunya karena senang mengganggu hal-hal yang bukan milik mereka. Dan saat ini akulah wanita rendah itu.

Sama sekali tak terbayang ingin mengganggunya. Hanya sejenak terpikir untuk meyakinkannya bahwa ada aku di sini untuknya. Itu saja, tidak lebih. Tetapi keadaan berubah di luar kendaliku. Tanpa kusadari hatiku dan hatinya telah tertaut sejauh dan sedalam ini. Dan kehadiranku mulai mengganggu.

Seberapa jauh antara egoisme dengan hasrat alamiah manusia untuk mengejar kebahagiaan sejatinya ? Dan seberapa jauh lagi jaraknya dengan ketamakan ? Atau seberapa dekat jaraknya dengan kemunafikan ?

Yang pasti kuhendaki adalah kebahagiaannya, entah denganku, entah dengan orang lain. Melihatnya bahagia jauh lebih penting daripada egoisme maupun naluri manusiawiku. Melihatnya bahagia dengan pilihannya. Melihatnya bahagia dengan jalan terbaik yang telah digariskan Tuhan untuknya.

Meskipun sesungguhnya belum sedikitpun kusiapkan diri dengan kondisinya yang jauh dariku. Meskipun sesungguhnya naluri manusiawiku menjerit pilu. Meskipun bahkan saat ini aku tak tahu apa yang kurasakan, kuinginkan, dan harus kulakukan untuknya. Meskipun dengan sadar kuakui perlahan aku sedang berjalan mendekati nerakaku sendiri.

Yang terpenting bagiku, dia tersenyum.

Akan kubiarkan dia menjauh, jika memang itu yang dimintanya. Dan aku akan menghilang. Menjalani hidupku dengan senyuman. Mencoba bahagia, menikmati jalan kebahagiaan yang telah aku pilih dengan sadar diri. Karena senyumnya adalah bahagiaku.

Sumber gambar:

http://kangwahyu.com

http://xinevitablexlovex.deviantart.com