0

Tertawa(lah)(kah) Kau Melihatku Sekarat

Bumi, belulang, berhala, dan segala yang mengabu dikecup waktu,
tak mampu lelapkan hari akhir,
meski hanya sejenak,
sekejap lebih lama dari yang mampu terpikir,
meski cukup sekadarnya detak.

Apa yang muncul dalam benakmu,
sepanjang satu-dua isapan cerutu,
sesaat jelang putus alir nadiku?
Tawakah?
Membahana sarat luka?
Air matakah?
Membadai gemuruh cita?

Sayang, lengkung bibirmu sungguh datar,
terpasung lesung pipi beku terkapar,
tak goyah meski bahuku gemetar.
Sayang, beri aku bingkisan,
berhias pita-pita senyuman.
Sebab mimikmu tak teramalkan,
menunggu diterjemahkan,
dalam bahasa kecupan.

[Mey] [@meydianmey]

3

Manusia Berkawan dengan Manusia dan Mati-Matinya

Pada ujung labirin maya
berhias aral
tak kasat mata
Kokoh terpahat tangan
fakir cahaya
aku menemukan manusia dalam manusia

Anak-anak musim dingin
merapal mantra-mantra
sederhana
di balik bayang-bayang
akhir November berujung pagi
Manusia bersua nikmatnya mati

Kematian pun fasih berbahasa
Pada jeda-jeda kelam
air terjun
anak-anak musim gugur
Ia menyuara
lebih anggun daripada fana

Tengkuknya serupa angsa
berhias karakter-karakter
tanpa warna
Lenyap hasratnya
kematian tak lagi berkawan
terkecuali malam

Posted from WordPress for BlackBerry.