0

Salah Satu Epilog Favoritku (:

Ketika angin berhembus, biarkan daun-daun bergoyang.
Aku yakin akan tiba masanya angin berhenti berhembus.
Ketika hujan turun, berkumpulah dengan para sahabat. Kau tak sendiri.
Ketika cinta datang, jatuh cintalah.
Dan ketika cinta pergi, biarkan ia pergi.
Ketika kau mampu menerima kenyataan yang tidak dapat kau ubah, cinta lain akan datang.
Waktu yang penuh dengan kecemburuan telah habis.
Hari ini adalah yang paling berharga.
Mengakui bahwa aku mencintaimu, mungkin akhirnya sekarang aku dapat berbahagia.

This is my favorite quote from “Still Marry Me” (TV series).

Sumber gambar:
http://bit.ly/TMlfTE
http://bit.ly/WCAf3c

[Mey] [@meyDM]

Iklan
9

Serial (18): Kembali pada Pagi

(Terinspirasi dari serial drama Korea The Moon That Embraces The Sun)

Matahari menyayat nadi
demi apa yang Ia sebut pertiwi
Demikian titahnya
meninggi tanpa kaki
memeluk bulan sekehendak hati

Bulan menepikan napasnya
demi menebus dosa
Menanggalkan kepak hitam
dari punggungnya
demi apa yang Ia sebut cinta

Tidakkah suara-suara ini mengusik kita? Cinta yang mereka titippaksakan
di halaman
Isi perut langit
mati
pertiwi tak lagi membumi

Posted from WordPress for BlackBerry.

0

Serial (17): Kecup Aku Sebelum Kita Mati

(Terinspirasi dari serial drama Korea Flower Boy Ramyun Shop/Cool Guys Hot Ramen)

Mana yang membuatmu cinta?
Menebalnya tapak-tapak
ataukah
lesung pipit yang fana
Ke ujung mana
mata ketigamu mengerling?

Aku terperangkap
pada jeda
kepak-kepak dan trisula
pada padang-padang tepian
surga dan neraka
Petuahi aku, Bapa!

Kecup aku sebelum kita mati
Sebelum kepak beranjak fana
pun trisula
lamat-lamat menjelaga
Sebelum malam menjayarayakan tahta

Posted from WordPress for BlackBerry.

0

Serial (15): Bulan Lahir Kembali

(Terinspirasi dari serial drama Korea The Moon That Embraces The Sun)

Jelatai aku
kala memerangkap sayapmu
di lambar perigi

Jelatai aku
kala kepak-kepak hitam
membelukari tapak-tapakmu

Bulan hitam sejatinya ganjil
Kirana
cakap
kekar
pun azamat
Bulan yang sejati
tinggi berpendarlah!

Posted from WordPress for BlackBerry.

0

Serial (14): Pagi Berpulang pada Pagi

(Terinspirasi dari serial drama Korea The Moon That Embraces The Sun)

Bulan hitam enggan turun tahta
Kepaknya merajah biru
berpunggung matahari
Petang ini
senja pasi

Lidahnya berasap
kepak-kepak hitam
merajah langit-langit mulut
Rekahlah, Matahari
bukan masanya rebah
Senja ingin memerah

Hari ke-200
tahun naga;
bulan hitam memulai makarnya
Memecah belah semesta
mengusik rebah dewa-dewa
Matahari
majal tajinya

Satu aku
satu kamu
purwarupa matahari dan bulan
Pelangi maya
setia membayang tengkuk
Malang ini
mala ini
memunggunginya

Air mata semesta
napas api-api
catu kebiru-biruan
faal-faal afdal
Amanat seruan sangkakala
bulan hitam turun tahta

Senja kembali jingga
anak-anak ombak memburunya
Semesta riuh bersenda.p
Meninggilah, Matahari
Peluk aku
petang ini

Posted from WordPress for BlackBerry.

Standar
0

Serial (13): Duka Purwarupa Bulan

(Terinspirasi dari serial drama Korea The Moon That Embraces The Sun)

Apa yang membuatmu kelabu?
Bulan pejam dalam rongga dada
Rupa-rupanya
rindu kerap tersesat
tak tera tujunya

Apa yang membuatmu biru?
Anak-anak sungai
riuh melintas bahu
jelang tapak-tapak berbatu
Adakah rindumu turut luruh?

Bulan murung
Sudikah kanda tengok
biarkan sembunyi
di punggung lesung pipit
Bersesak rindu
urung terlantun

Mengepaklah di sisiku
duhai purwarupa bulan
Merapatlah
matahari khusyuk memetik biru
usaikan rindumu

Posted from WordPress for BlackBerry.

0

Serial (12): Isi Kepala

(Terinspirasi dari serial drama Korea The Moon That Embraces The Sun)

Meski adamu ditiadakan semesta
sisakan rasamu
setidaknya
Tinggallah dalam benakku
hingga putaran usai

Tinggallah
bersesak rosa dan lebam
segala rupa yang kauukir dalam benak
Sesuatu yang bukan kamu
adakah nampak?

Segala rupa kamu
meletup-letup
melintas kerling

Kitab-kitab
riuh cericit logam
bahkan tepukan bahu
masih rupa kamu;
rindu

Rindu
tak tersentuh pagi
meski 1000 putaran terlalui
Seperti ini
menyusur riuh
denganmu
yang serupa kamu dalam benak

0

Serial (11): Hujan Hidup Lagi

(Terinspirasi dari serial drama Korea The Moon That Embraces The Sun)

Pada semesta
beralas tapak mega
aku menangkapmu
Mendoa
berduka
kupu kuning luka
khusyuk gelayut telinga

Sebelah lengan menggamit tengkuk
lenganmu
merantai tapak pada bumi

Aku gagal menangkap warna
Apa yang membuatmu teramat goyah?

Tak goyah
Gerabah-gerabah
bulir hitam
bulir putih
papan patah
semayam tak ubah

Sayang
rinduku berubah;
bertambah

Terlewat pelik
Ratusan lini berbalut titik
Meski kepak lekat
tak jua tangguh menera wasiat
Teruntuk yang tiada
rindu buta aksara

Puluhan purnama lepas
ratusan putaran tuntas
kepakmu tak lantas bebas

Pujaku
rindu
dukaku
sama tinggi

Wasiat ini berpulang pada lelapku
Pada masa
jamaknya putaran duka tanpa pagi
tiba ujungnya
Rindu
nantikan aku dalam tapamu

Posted from WordPress for BlackBerry.

0

Serial (10): Obat Itu Luka

(Terinspirasi dari serial drama Korea The Moon That Embraces The Sun)

Bertudung putih
menyembunyi bilah-bilah onak
Peluh sarat rindu
pun luka
Sebab segala yang melekati mata
haram kujamah

Serupa onak
candu berbalut luka rajah
Bila onak benar serupa Dewi
mengapa kau khusyuk bersimpuh
pada duli Matahari?

Langit tak goyah
sebab biru pada bahu
Langit tak goyah
sebab hela sarat sembilu
Dewa
sejatinya
luka ini pengobat rindu

Posted from WordPress for BlackBerry.

Standar
0

Serial (9): Azimat Hidup

(Terinspirasi dari serial drama Korea The Moon That Embraces The Sun)

Sulur-sulur basah
bergelayut 2 depa
dari ujung tapak
Menjerat
menusuk-nusuk bahu
Bertanya
“Bagian mana yang gagal dikecap rindu?”

Aku
bersimpuh 2 depa
dari ujung tapak
Aku
dalam igaumu
ialah aku yang pejam
ribuan purnama di balik bahu
Aku
tak lagi aku

Aku
menapak keningmu
Henti berigau!
Hujan enggan simpuh
rongga dadanya terpasung

Peluhmu
amat sarat luka
tak lagi aku

Posted from WordPress for BlackBerry.

Standar
0

Serial (8): Bisikan Gerimis

(Terinspirasi dari serial drama Korea The Moon That Embraces The Sun)

Teruntuk cinta
yang urung menyata
ampuni aku, semesta

Titahku menyisa luka menggelepar
sarat bara

Langitpun enggan menyaksikan khianatku
Luka benar belumlah pudar
Sayang, nyala apimu tangguh
bergumul salju

Aku menculik bulan
untuk kunikmati seorang diri
Kusembunyikan rapat-rapat
di balik peraduan
Rindu ini
tak luput dari sedan

Posted from WordPress for BlackBerry.

Standar
0

Serial (6): Mahkota Putra Mahkota

(Terinspirasi dari serial drama Korea The Moon That Embraces The Sun)

Bapa menyabda
“Kamulah matahari
mengangkangi bumi
Pengemban segala rupa isi perut semesta”

Aku menangkap jeritan bumi
Bakaran abu kerap dilahapnya
Mereka giat menjerit
menyuara bara
Bagaimana boleh aku mengembannya?

Aku menangkap jari jemari matahari
Menggelitik segala rupa
di sebalik selubung
riuh mengetuk ketuk
Bagaimana boleh aku mengembannya?

Teruntuk bumi yang gagal kujejak
Teruntuk matahari yang rikuh kudekap
Bagaimana boleh aku mengembannya?

Posted from WordPress for BlackBerry.

0

Serial (3): Ratu Dunia Fantasi

(Terinspirasi dari serial drama Korea Protect The Boss)

Di kanan
lelap sebelah hatiku
Di kiri
jerit turunan nadiku
Benarkah kau memberiku pilihan?

Tak luput kurasa
tarian helai-helai keperakan
berbayang riuh gelak
tak luput kusedan

“Aku ingin memilih”
jeritmu, lirih

Adiluhung
isi kepalaku carut
Belumlah tapakku menjelma angin
upaya mengitik
bulir-bulir duli pijakanmu
Benang merah kita terlantas kusut

Posted from WordPress for BlackBerry.

0

Aal Izz Well

This is my unusual holiday.

Ya, liburan yang tak seperti biasanya. Biasanya aku akan pulang kampung, ke kota metropolitan tempat ayah berdomisili 5 tahun terakhir ini. Tinggal di rumah yang nyaman, dengan makanan lezat dan suasana hangat.

Menghabiskan waktu dengan berbelanja, bermain dengan kerabat jauh di sana. Semuanya berbau hedonisme. Anggap saja hiburan sejenak, pelarian, pelepasan dari tekanan selama satu semester belakangan.

Ya, rutinitas yang membosankan, kata seorang teman.

Kali ini ada sedikit perubahan, liburan yang biasa menjadi tak biasa. Tak ada pulang kampung, tak ada suasana hangat, tak ada hedonisme. Aku sendiri. Entah kesepian atau tidak, aku sendiri.

Bangun, mandi, bercengkerama dengan notebook, makan, mandi, bercengkerama dengan notebook (kembali), mungkin makan, lalu tidur. Sesekali disela sedikit obrolan formalitas di depan televisi ruang keluarga. Perkara keluar rumah, bukannya dilarang. Hanya, menurut kebiasaan, alangkah baiknya tidak dilakukan kecuali ada keperluan mendesak. Keadaan seperti ini, hmm, juga tak bisa disebut tidak membahagiakan, karena akupun kadang cukup betah mengasingkan diri.

Ya, sekali lagi rutinitas yang membosankan, kata seorang teman lainnya.

Kali ini, aku ingin berbagi cerita. Ada hal menarik yang kualami. Dimulai saat kelelahan dan kurang tidur akibat menonton pertandingan final Piala Dunia 2010, 2 hari berikutnya aku terbangun dengan mata berkunang-kunang. Mungkin tekanan darah yang drop, atau kadar gula yang drop, entahlah itu tak penting disebutkan dalam cerita. Berlanjut sarapan dengan makanan yang mungkin kurang higienis sehingga hari naas itu ditutup dengan diare, mual, dan demam.

My mom told me to take some medicine and go to sleep, but I can’t. I had slept all day long the day before and this day I wanted to do something useful, at least for myself. So I decided to turn on my notebook, downloaded some movies and watched some old movies while waiting for the finished movie downloads.

I chose a Korean movie “A Moment to Remember” and a Hindi movie “3 Idiots”. I kept those movies on my hard disk but I never had a spare time to watch it. Siang itu dimulai dengan menonton film dan berakhir dengan air mata (what a drama queen).

A Moment to Remember

(A Moment to Remember)

3 Idiots

(3 Idiots)

Ya, air mata.

“Berlebihan!” Itukah isi pikiranmu? Tolong segera tepis pikiran negatif tersebut dari otakmu, karena aku tak sedang menangis karena terbawa suasana film. Jika kaukira sisi sensitifku sedang tersentuh karena menonton film romantis, tolong segera tampar pipimu, agar pikiran menyedihkan tersebut lenyap.

Aku menangis karena tersadar seberapa jauh sudah kaki ini melenceng dari jalan impian yang kurangkai dengan susah payah. Ibarat Rancho yang selalu berkata “All Izz Well” yang makin lama makin tertekan. Aku bukan Rancho maupun orang yang terinspirasi oleh Rancho. Aku hanya sedang tertekan, sedang berusaha lari, menghibur diri dengan tawa, melakukan hal konyol, dan berkata “Aal Izz Well”.

Rancho (3 Idiots), played by Aamir Khan

(Rancho, dari 3 Idiots, diperankan oleh Aamir Khan)

Yes, I’m not well, definitely not well. Kerangka yang dibangun susah payah dengan “all is well” berakhir dengan “unwell”. Why? I am not well, because I’m too scared and not confident.

Jika kita berjalan mengikuti arah yang kita yakini, dan kita berusaha seoptimal mungkin (constructively), meskipun keadaan saat itu terlihat kurang kondusif dan realistis, percayalah bahwa kesuksesan pasti akan mengikuti kita, dan ya, kesuksesan benar mengikuti kita.

Setelah kutentukan arah yang kuyakini, justru di titik itulah kepercayaanku sedikit demi sedikit terkikis oleh realita. Tanpa sadar, kekhawatiran dan ke-tidak-percaya-diri-an mengarahkan realita untuk menekanku (padahal seharusnya realita menjadi bahan pembelajaran).

Itulah yang terjadi selama ini. Realita bahwa hidup tidak cukup hanya dilalui dengan kesenangan hari ini membuatku tertekan. Raut muka bahagia orangtua pun membuatku tertekan. Memang benar, materi akan membuat kita bahagia, tetapi kebahagiaan tidak terbatas diukur dengan materi. Toh orangtuaku tidak akan bahagia jika mengetahui putrinya memberi mereka kemewahan dengan diliputi tekanan. I do realize it but don’t know why I keep living my life that way.

Ada satu hal lagi. Entah sejak kapan aku berubah jadi penyombong, tak lagi bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Terlepas dari masalah tekanan, perubahan ini datang dari dalam diri. Greediness, ketamakan. Juga kelicikan. Entah sudah seberapa hitam isi hati ini.

Entah berapa lama waktu yang masih tersisa untuk meminta maaf, bersyukur, dan berterima kasih, akan kuusahakan seoptimal mungkin. I love myself. I love all the things I have, all the things I’ve done. I love all the people around me. And I thank God who has arranged this kind of life for me.

Ini pembelajaran baru bagiku, sekaligus penyadaran. Tentang hidup, tentang pola pikir, tentang persahabatan, tentang kebahagiaan. Aal Izz Well.

Sumber gambar:

http://yesasia.com

http://parapenonton.blogspot.com

http://renalapaisano.blogspot.com