2

Alarm Makan

Dear Indra,

Aku suka Spiderman, sebesar aku suka padamu. Haha. Aku hanya bergidik melihat simbol laba-laba di kostumnya.

Soal bahu, kalau sengaja bersandar ya tidak apa-apa. Hanya saja, kalau di keramaian, seringkali aku harus menggeser bahu untuk memberi jalan pada orang-orang yang bergerak berlawanan arah atau memberi ruang untuk orang-orang asing yang berdesakan di sampingku. Aku tak terlalu suka, entah mengapa. Merepotkan ya?

Kamu penasaran soal tempat tinggalku? Aku tinggal dengan Ibu, semestinya begitu. Realitanya, aku sering sendiri. Panjang ceritanya, juga tidak baik diceritakan dalam surat. Kalau kamu sungguh ingin tahu, lebih baik kita ngobrol di tempat lain saja. Bukannya kamu juga tinggal sendiri? Merantau sendiri?

Jadi bagaimana hasil presentasimu kemarin? Cari kekasih sana, supaya ada alarm makan, dan lain-lain :p

Jangan lupa janjimu, ya!

(Mey)

N.B. Ini bulan penuh cinta, ya. Semoga cinta kita jatuh di tempat yang tepat (:

[by @meyDM]

6

#13HariNgeblogFF ~ Tunggu di situ, aku sedang menujumu

“Tunggu aku di situ, aku sedang menujumu!”

Inilah saatnya. Untuk pertama kali, dalam 6 bulan terakhir, aku akan menemuinya. Bulan-bulan penuh diet ketat, olahraga, dan perawatan tubuh yang menyiksa sudah usai. Aku sudah menjadi Wulan baru. Wulan yang lebih layak, lebih pantas mendapatkanmu. Jadi, tunggu aku di situ, aku sedang menujumu!

***

 

“Lebay lu, Lan. Mentang-mentang setengah tahun nggak ketemu.”

“Lis, nunggu 6 bulan itu nggak gampang lho. Jeng Lisa yang terlahir cantik mana tahu penderitaan orang macam gue. Hih!”

“Iya deh. Salut gue ama perjuangan elu, Lan. Dah, have fun ya, dah sampai tuh.”

Jantungku berdebar kencang, sebentar lagi aku bisa menemuinya.

“Selamat siang, ada yang bisa dibantu?”

“Triple cheeseburgernya  1 ya, Mbak!”

9

#13HariNgeblogFF ~ Pukul 2 Dini Hari

07.00

“Selamat ulang tahun, cantik. I love you, dear. Cepet jadi sarjana ya, sayang…”

“Thank you, Mommy. Aduh donat-donat ini enak banget kayanya…”

“Eits, mandi dulu, baru boleh makan!”

“Siap, Mommy!”

*tit tit tit*
From: Avan
Happy birthday, Na. Ada acarakah hari ini? Dinner yuk! Bareng ibu kamu juga, ibuku juga ikut. How?

“Ah, yang ditunggu ngga ada kabarnya, yang ngga ditunggu malah nongol.”

“Ngomong sama mama, Na?”

“Eh ngga, Mam. Diajakin Avan dinner sama Tante Rike. Tapi Aina pikir-pikir dulu ya, Mam. Jangan langsung diiyain ya kalau ntar Tante Rike nelfon.”

“Iya, sayang. Buruan mandi, donatnya keburu dingin tuh…”

“Yap!”
***

09.00

“Thanks, Bos!”

“Dapet berapa, Jal?”

“Cukuplah buat beli jam incerannya Aina, haha.”

“Gila, segitu amat, belain lembur buat ngado cewe yang belum tentu naksir ama elu.”

“Yah elu, Ham. Makanya gue bela-belain gini kan biar dianya tersentuh gitu. Haha. Bentar gue telfon dia dulu. Ehm… Hei, Na, happy birthday. Semoga sukses UAS-nya, lancar segala-galanya, amin. Mmmm ntar malem ada acara ngga? Apa? Oh gitu… Ngga kok, ngga ada apa-apa. Iseng aja nanya, hehe. Ya sudah kalau gitu, salam buat Tante Lis, ya. Have a nice birthday, bye…”

“Ditolak lu? Haha, rasain!”

“Enak aja. Dia ada dinner sama ibunya. Belum ditolak itu namanya. Haha.”
***

15.00

“Na, udah 2 kali Tante Rike telfon Mama. Gimana nih?”

“Iyain aja deh, Ma. Lumayan makan gratis kita. Haha.”

“Haha, dasar kamu. Ngomong-ngomong, Na, si tetangga baru itu belakangan ini kok ngga keliatan, ya. Kalian berantem?”

“Rizal? Ah lupain. Udah ngilang, telat juga ngucapin tadi.”

“Oh, jadi yang ditungguin dari tadi ucapannya Rizal…”

“Lalala, Aina ngga denger, mau makan donat dulu ah…”

“Haha, anak Mama sudah besar…”
***

19.00

“Eh, Jal. Sini deh. Liatin tuh, depan rumah cewe lu, ada si Avan.”

“Avan siapa, Ham?”

“Avan, anak bapak walikota tercinta. Ah elu idupnya ama gitar mulu, ngga gaul. Eh, tadi bukannya lu kata si Aina dinner sama emaknya?”

“Ya katanya sih gitu. Aina, sama Avan, masa sih Ham…”
***

02.00

“Hei Bobi… This is my birthday, but I’m unhappy. Mama ketiduran. Rizal ngga ada kabar. Kalau kamu bisa ngomong, pasti kamu yang pertama ngucapin buat aku. Iya kan? Ah sudahlah. Capek nunggu. Good night, Bobi…”

Ah, akhirnya ia lelap juga. Ya, aku pasti jadi orang pertama yang mengucap selamat untuknya, seperti biasa. Andai aku bisa leluasa bergerak dan berbicara, Aina tak perlu gelisah dengan perubahan sikap Rizal. Sepasang matanya cukup memandang ke arahku saja.

*kring kring kring*

Ada panggilan dari Rizal. Haruskah kudekatkan ponsel ini ke telinga Aina, agar raut masamnya hilang segera. Ah, tidak, biar saja. Toh belakangan ini ia memang menjauhi Aina. Lebih baik jika ia menghilang saja. Aina cukup memandangku saja.

(Flash fiction ini adalah sambungan dari postingan Kenalan, Yuk!)

[Mey] [@meyDM]