0

Andai Bulan Bukan Pecandu Kopi

Rembulanku,
Hentilah mencandu kopi
Tak perlu terjaga melulu
Malampun ingin gelap sewaktu-waktu

Biar aku menjelma pengganti
Sepasang bola mata mengudara
Menyesap ribuan bait puisi
Senandung mereka pemuja air mata

Sumber gambar: http://bit.ly/YWlq0D

[by @meyDM]

Iklan
9

#13HariNgeblogFF ~ Pukul 2 Dini Hari

07.00

“Selamat ulang tahun, cantik. I love you, dear. Cepet jadi sarjana ya, sayang…”

“Thank you, Mommy. Aduh donat-donat ini enak banget kayanya…”

“Eits, mandi dulu, baru boleh makan!”

“Siap, Mommy!”

*tit tit tit*
From: Avan
Happy birthday, Na. Ada acarakah hari ini? Dinner yuk! Bareng ibu kamu juga, ibuku juga ikut. How?

“Ah, yang ditunggu ngga ada kabarnya, yang ngga ditunggu malah nongol.”

“Ngomong sama mama, Na?”

“Eh ngga, Mam. Diajakin Avan dinner sama Tante Rike. Tapi Aina pikir-pikir dulu ya, Mam. Jangan langsung diiyain ya kalau ntar Tante Rike nelfon.”

“Iya, sayang. Buruan mandi, donatnya keburu dingin tuh…”

“Yap!”
***

09.00

“Thanks, Bos!”

“Dapet berapa, Jal?”

“Cukuplah buat beli jam incerannya Aina, haha.”

“Gila, segitu amat, belain lembur buat ngado cewe yang belum tentu naksir ama elu.”

“Yah elu, Ham. Makanya gue bela-belain gini kan biar dianya tersentuh gitu. Haha. Bentar gue telfon dia dulu. Ehm… Hei, Na, happy birthday. Semoga sukses UAS-nya, lancar segala-galanya, amin. Mmmm ntar malem ada acara ngga? Apa? Oh gitu… Ngga kok, ngga ada apa-apa. Iseng aja nanya, hehe. Ya sudah kalau gitu, salam buat Tante Lis, ya. Have a nice birthday, bye…”

“Ditolak lu? Haha, rasain!”

“Enak aja. Dia ada dinner sama ibunya. Belum ditolak itu namanya. Haha.”
***

15.00

“Na, udah 2 kali Tante Rike telfon Mama. Gimana nih?”

“Iyain aja deh, Ma. Lumayan makan gratis kita. Haha.”

“Haha, dasar kamu. Ngomong-ngomong, Na, si tetangga baru itu belakangan ini kok ngga keliatan, ya. Kalian berantem?”

“Rizal? Ah lupain. Udah ngilang, telat juga ngucapin tadi.”

“Oh, jadi yang ditungguin dari tadi ucapannya Rizal…”

“Lalala, Aina ngga denger, mau makan donat dulu ah…”

“Haha, anak Mama sudah besar…”
***

19.00

“Eh, Jal. Sini deh. Liatin tuh, depan rumah cewe lu, ada si Avan.”

“Avan siapa, Ham?”

“Avan, anak bapak walikota tercinta. Ah elu idupnya ama gitar mulu, ngga gaul. Eh, tadi bukannya lu kata si Aina dinner sama emaknya?”

“Ya katanya sih gitu. Aina, sama Avan, masa sih Ham…”
***

02.00

“Hei Bobi… This is my birthday, but I’m unhappy. Mama ketiduran. Rizal ngga ada kabar. Kalau kamu bisa ngomong, pasti kamu yang pertama ngucapin buat aku. Iya kan? Ah sudahlah. Capek nunggu. Good night, Bobi…”

Ah, akhirnya ia lelap juga. Ya, aku pasti jadi orang pertama yang mengucap selamat untuknya, seperti biasa. Andai aku bisa leluasa bergerak dan berbicara, Aina tak perlu gelisah dengan perubahan sikap Rizal. Sepasang matanya cukup memandang ke arahku saja.

*kring kring kring*

Ada panggilan dari Rizal. Haruskah kudekatkan ponsel ini ke telinga Aina, agar raut masamnya hilang segera. Ah, tidak, biar saja. Toh belakangan ini ia memang menjauhi Aina. Lebih baik jika ia menghilang saja. Aina cukup memandangku saja.

(Flash fiction ini adalah sambungan dari postingan Kenalan, Yuk!)

[Mey] [@meyDM]

0

Cahaya Bulan Tumpah ke Matamu

Cahaya bulan tumpah ke matamu
Sontak langit meramping
menghablur dalam kelap-kelip
kejap saja
semesta takluk pada azimatmu

Cahaya bulan tumpah ke matamu
biasnya menggelitik tengkuk
Kuseru “Ah!”
kaubalas serapah
Segala rupa abdi merenta kausepah

Cahaya bulan tumpah ke matamu
merekahkan kuncup-kuncup rindu
Menampar lengahku
akan tatapmu
diam-diam mengarahku

Posted from WordPress for BlackBerry.

0

Temaram Tengah Malam

Seharusnya aku tidur. Ya, seharusnya aku memejamkan mata dan beristirahat. Tubuh ini sudah cukup lelah walaupun akal serasa tak henti berkelana.

Di sinilah aku, bersandar di dinding lembab dan berkoar-koar di blog. Ditemani seorang teman dari Lawang dan Geisha nembang di belakang.

Entah sejak kapan aku merasa hariku sedikit terasa kosong. Entah sudah berapa lama aku merasa waktu-waktu ini menjadi satu perseratus sia – sia. Ya, satu per seratus. Nilai yang cukup masuk akal dan rasional untuk effortku selama ini.

Aku merasa tertekan. Semakin lama semakin tertekan. Entahlah, bukan karena suatu masalah atau hal besar lainnya. Mungkin bosan, jenuh yang tertumpuk – tumpuk, mungkin juga ada ribuan cacahan pikiran tertumpuk di otakku yang saking banyaknya sampai aku tak bisa mengingat sekepingpun.

Aku merasa sangat tertekan dan beranjak depresi. Ya, depresi dalam senyum dan tawa. Itulah aku. Ironis bukan ? Seperti ironi dalam ironi.

Dan setiap kali aku merasa hidupku sangat ironis, hal pertama yang kulakukan adalah menulis. Merangkai kata-kata sinis yang membuatku (dan orang lain mungkin) semakin merasa seolah teriris.

Dan semakin kutulis, kisahnya jadi semakin tragis.

Aku ingin menulis cerita yang menyenangkan. Bukan untuk orang lain, setidaknya untuk diriku sendiri. Aku ingin menghibur orang lain, membuat mereka larut dalam bahagiaku, atau setidaknya aku ingin menghibur diriku sendiri.

Persis seperti temaram dini hari ini. Entah mengapa membuat orang – orang yang masih terjaga seringkali merasa sendu, seolah terbenam sepi dalam kesendirian bersama temaram dini hari ini.

 

Sumber gambar: http://hanyaandrea.blogspot.com