5

#13HariNgeblogFF ~ Jangan ke mana-mana, di hatiku saja

“Jangan ke mana-mana, di hatiku saja…”

Muak aku mendengarnya merayu para gadis. Entah mengapa mereka menyukainya. Meski mereka tahu benar lelaki itu merayu setiap gadis yang ia temui, tetap saja gadis-gadis itu menyerahkan tubuhnya.

***

“Selamat sore, dengan Ayam Goreng Mbok Par, ada yang bisa dibantu? Satu ekor ayam panggang, atas nama Bapak Hans ke alamat biasanya. Baik, Pak. Terima kasih. PARDIII!!! Cepat potong si jambul merah! Apa sih kerjamu di belakang? Sekalian tangkap kucing-kucing yang berkeliaran di sekitar kandang! Biar kugoreng buat makan malam kita…”

Ah, akhirnya mulai malam ini si jambul merah tak bisa lagi merayu gadis-gadis di peternakan. Tamat juga riwayatnya. Aku harus segera kabur sebelum tertangkap oleh Pardi.

9

#13HariNgeblogFF ~ Bangunkan Aku Pukul 7

07/01/2013

“Bangunin aku jam 7 ya, Ma…”

“Jadi itu kata-kata terakhir Doni, Tante?”

“Iya…”

Di samping sebuah makam, 2 orang wanita bersimpuh, menitikkan air mata.

***

02/01/2013

“Kamu yakin?”

“Maaf, Ma. Doni nggak tega gugurin bayi kami…”

“Anak Mama sudah lupa janjinya dulu.”

“Ma, Doni nggak akan ninggalin Mama. Mama, Doni, Nina, dan calon cucu Mama, ini keluarga baru kita.”

***

06/01/2013

“Makasih restunya, love you, Mommy. Besok Doni mau nemenin Nina USG, bangunin aku jam 7 ya, Ma…”

Esoknya, Doni ditemukan tewas akibat gantung diri. Mama menolak melakukan visum dan bersaksi bahwa putranya sedang tertekan setelah menjadi ayah di usia muda. Setelah polisi dan semua pelayat meninggalkan rumah, Mama menangis di sudut kamar sambil menatapku, sepasang tangan yang ia gunakan untuk mengakhiri nyawa putra semata wayangnya.

4

#13HariNgeblogFF ~ Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

“Sudah makan?”
“Iya.”

“Kamar ini cukup nyaman untukmu?”
“Iya.”

Rudi menatap sesosok perempuan yang duduk tertunduk di sisi ranjang. Uraian rambut panjangnya gagal menyamarkan lingkaran hitam di sekitar mata. Bibirnya kering pecah-pecah dan pipinya tampak pucat.

“Mau kupesankan sup iga dan susu hangat favoritmu?”
“Iya.”

Terdengar suara pelayan mengetuk pintu. Sepiring nasi putih, seporsi sup iga, dan segelas susu hangat diletakkan di atas meja sebelah ranjang.

“Makanlah dulu.”
“Iya.”

“Masih mencintaiku?”
“Iya.”

“Malam ini pulang ke rumah?”
“Iya.”

“Berencana menikah lagi?”
“Iya.”

“Tak adakah kata lain yang bisa kauucapkan?”
“Waktu short time hampir habis. Kata-kata apa lagi yang ingin kaudengar? Bukankah tadi kau membayar Ibu untuk tak pernah berkata tidak, Nak?”

[Mey] [@meyDM]

2

Akulah, Penikmat Pesta Rakyat

Bergumul pesta rakyat nan riuh bahana, gigilku tak lagi utuh.

Derap kuda lumping injak tengkuknya.

Duri-duri lecut pecut cabik tempurung lututnya.

Bulir-bulir hujan rajai lesung pipinya, pipi yang beranjak kumuh.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang kesumat.

Dengung ketipung urung limbung kala takbir beranjak dekat.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang keparat.

Geliat kerbau gila dan pekik-pekik perawan belia, luruhkan iman yang mulai lekat.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang sekarat.

Coba hirup aroma luka menguar bersama hujan, coba reguk teduhnya payung-payung pelaminan, sebelum napas kalian cekat.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang melarat.

Tak terselamatkan, tak sebiji jagungpun terselamatkan, wahai anakku.

Tak terkecuali ibumu.

 

Sumber gambar: http://sphotos-a.xx.fbcdn.net/hphotos-ash4/390814_10150456159012477_1058663846_n.jpg

8

Manusia Berkepala Anjing

(Terinspirasi dari Cerita Pendek “Tembiluk” karya @damhurimuhammad)

 

Menyalaklah, Tungkirang!

Menyalaklah demikian panjang!

Bukankah kepalamu serupa jelma,

dalamnya ilmu enggan kau derma.

Menyalaklah saja,

biar jejaknya kecup langit ketiga.

 

Menyalaklah, Tungkirang!

Menyalaklah demikian gamang!

Dengungmu rentakan ribuan peluk,

heningkan sudut-sudut pejam Kampung Lubuktusuk.

Waspadalah, rentang lengan petang beranjak menusuk,

rentang lengan perpanjangan sabda Tembiluk.

 

Menyalaklah, Tungkirang!

Menyalaklah kala lengang!

Barangkali kautemu azimat,

dalam diam yang mufakat.

Barangkali surga kaudapat,

kala sujudmu pada-Nya terangkat.

3

Manusia Berkawan dengan Manusia dan Mati-Matinya

Pada ujung labirin maya
berhias aral
tak kasat mata
Kokoh terpahat tangan
fakir cahaya
aku menemukan manusia dalam manusia

Anak-anak musim dingin
merapal mantra-mantra
sederhana
di balik bayang-bayang
akhir November berujung pagi
Manusia bersua nikmatnya mati

Kematian pun fasih berbahasa
Pada jeda-jeda kelam
air terjun
anak-anak musim gugur
Ia menyuara
lebih anggun daripada fana

Tengkuknya serupa angsa
berhias karakter-karakter
tanpa warna
Lenyap hasratnya
kematian tak lagi berkawan
terkecuali malam

Posted from WordPress for BlackBerry.

0

Antara Aku, Sahabat-sahabatku, Orang yang Kusayangi, dan Orang-orang yang akan Kutemui Nanti

 

Mengingat kenangan-kenangan baik dengan orang-orang yang kusayangi. Inilah yang dikatakan seorang sahabat kepadaku beberapa hari lalu.

Seorang yang kusayang pernah berkata, ia meminta maafku. Dia bilang, karena aku menyayanginya, hal itu membuatku jauh dari sahabat-sahabat tersayangku. Aku hanya tersenyum simpul.

Dan beberapa hari lalu, sahabat-sahabatku banyak bertanya, dengan siapa aku dekat sekarang, siapa yang sedang menghiasi hatiku sekarang. Lagi-lagi aku hanya tersenyum simpul.

Mengapa aku tersenyum? Karena aku sedang menghindar, bagai pesawat tempur yang sedang bermanuver ke sana kemari menghindari rudal. Aku tak tahu harus menjawab apa.

Jika sahabat-sahabatku kembali bertanya tentang orang baru yang tengah menghias hatiku, menemani hariku, mungkin aku akan tetap tersenyum sambil berkata, “Entahlah. Yang pasti, dalam hatiku, di setiap hariku, ada kalian.”

Dan jika orang yang kusayang kembali mengatakan hal yang sama padaku suatu saat nanti, aku akan tersenyum padanya. Dan aku akan memalingkan mukaku sambil berkata, “Ngga perlu.” Mengapa? Karena sorot mata tak bisa berbohong. Namun aku tak ingin ia melepaskanku karena sorot mata itu.

Dan untuk orang-orang baru yang kelak datang dan menghiasi hati dan hariku, aku tak ingin menjanjikan apa-apa. Hidupku bagaikan aliran sungai. Kadang dalam, kadang dangkal. Kadang berbatu dan beriam. Kadang dingin dan mematikan. Kadang sejuk dan menenangkan. Kadang bermanfaat, kadang membuat porak poranda. But that’s me, just say “Hi!”, then go with the flow…

 

Sumber gambar:

http://cherrybam.com

http://smsblaze.com