6

#13HariNgeblogFF ~ Tunggu di situ, aku sedang menujumu

“Tunggu aku di situ, aku sedang menujumu!”

Inilah saatnya. Untuk pertama kali, dalam 6 bulan terakhir, aku akan menemuinya. Bulan-bulan penuh diet ketat, olahraga, dan perawatan tubuh yang menyiksa sudah usai. Aku sudah menjadi Wulan baru. Wulan yang lebih layak, lebih pantas mendapatkanmu. Jadi, tunggu aku di situ, aku sedang menujumu!

***

 

“Lebay lu, Lan. Mentang-mentang setengah tahun nggak ketemu.”

“Lis, nunggu 6 bulan itu nggak gampang lho. Jeng Lisa yang terlahir cantik mana tahu penderitaan orang macam gue. Hih!”

“Iya deh. Salut gue ama perjuangan elu, Lan. Dah, have fun ya, dah sampai tuh.”

Jantungku berdebar kencang, sebentar lagi aku bisa menemuinya.

“Selamat siang, ada yang bisa dibantu?”

“Triple cheeseburgernya  1 ya, Mbak!”

Iklan
2

#13HariNgeblogFF ~ Menanti Lamaran

“Ibumu ke mana, Mil?”

“Ke rumah mertua kakakku, Ndi. Mau minum apa?”

“Jangan repot-repot, Mil.  Anu, kira-kira aku sama ortuku bisa dateng kapan? Aku pengen diskusiin rencanaku ke Ibumu sebelum… Sebelum aku berangkat dinas ke Balikpapan bulan depan.”

“Dateng aja Jumat malem, Ndi. Nanti aku bilang Ibu.”

“Lagi ngomongin apa sih? Serius amat, kaya mau lamaran aja kalian, hahaha!” sela Lala, kakak Milly. Andi tertawa mendengarnya. “Ya elah, Mbak, aku mau pesen seragam keluarga ke Ibu. Makanya mesti bawa ortu buat ngukur badan dong. Hahaha!”

“Iya nih, Mbak Lala ngawur!” seruku sambil tersipu. Suasana hening sejenak hingga Andi berkata, “Eh tapi, Mil, andai omongan Mbak Lala bener, kamu mau? Jadi calon istriku? Hehe.”

“Apa?”

“Lho, Mil, Mil!” Akhirnya Lala dan Andi sibuk menyadarkan Milly yang mendadak pingsan.

0

Silence is Good

Silence is good.

8 jam berlalu sejak ia menghilang tanpa berita. Aku menunggu dalam diam. Hujan rintik perlahan, detik demi detik merangkak pelan. Tak ada yang bisa kulakukan. Aku mendesah resah, terkungkung penantian.

Resah? Kurasa tidak.

Kesal? Tak perlu, pun tak rasional.

Gundah? Sedikit.

Rindu? Tak perlu ditanya lagi.

Hanya diam, diam, dan diam.

Padahal aku tak sendiri. Di sini, di kamar ini bersama 2 orang sepupu. Mereka berceloteh dan bergurau macam-macam. Mereka menanyakanku yang jarang hadir di acara rutin keluarga. Hanya kutanggapi dengan senyum simpul dan tawa kecil. Terus berulang begitu saja sepanjang waktu hingga keduanya mendesah lelah dan tertidur.

Aku tetap terjaga. Bukan inginku, melainkan mata ini yang tak mau pejam. Benak ini tak henti merenung. Entah apa yang ada di benakku.

Mungkin aku memang memikirkannya, mungkin juga tidak. Atau aku merindukannya, mungkin juga tidak. Aku membutuhkannya di dekatku, selalu memperhatikanku dan ada untukku, mungkin ini yang kumaksud.

Namun hal itu sangat mustahil terkabul. Impian yang mustahil, lebih dari ajaib maupun mukjizat. Rembulanku telah berdamai dengan bintangnya. Dan aku, peri kecil ini, yang bahkan tak mampu terbang setinggi rembulan, tak bisa berbuat apa-apa. Tak boleh dan memang tak berdaya. Tak perlu berharap apa-apa.

Tinggallah aku di sini. Sendiri. Terbelit sunyi. Terantai sepi. Dalam diam, mengubur asa dan mengikis hati.

26 jam 30 menit telah berlalu. Dan aku masih menunggunya, dalam diam.

 

Sumber gambar: http://webdesigncore.com