0

Langit Meng-AMIN-i Rinduku

Aku merindukanmu sekuat amuk awan kelabu sore ini di beranda

Memuntahkan isi perut dan pikirannya ke dalam mulut bumi yang menganga, hingga redam

Ingin pula kumuntahkan isi rongga dada nan coklat berkarat sarat duri ini

Namun, cinta ialah perihal suka duka yang sering tak sejalan dengan laju keinginan

Sumber gambar: http://bit.ly/pYiq6g

[Mey] [@meyDM]

Iklan
0

Separuh Wajahmu Selalu Menemukanku

Aku mengenang separuh wajahmu dalam ingatan

Bersama tempias pendar lampu yang kaucuri di setiap tikungan

Alangkah remang jelmaan surga paling sederhana, katamu

Di dalamnya, jemari kita riuh beradu

 

Memandang separuh wajahmu selalu membangkitkan bebait janggal

Menunggu ditumpahkan selepas air mata ini tanggal

Dalam layar putih, kau termangu

Kadang memandangku, lain waktu memandang kenanganku

 

Separuh wajahmu beradu dengan asap dan tudung tebal

Menyisa harum kenang penghangat bantal

Pantas saja, tidurku tak nyenyak

Tersengat bau tengkukmu, lelapku retak

 

Separuh wajahmu memanjang di kaki senja

Mungkin matahari bosan melukis bayang-bayang kita

Ia memilih benam, menuju remang

Tanpa tahu, di dalamnya tersembunyi surga kita yang hilang

 

Separuh wajahmu tampak kerap mengakrabi keremangan

Mungkin, di sanalah kau menemukanku, kau mengkhianati rembulan

Separuh wajahmu selalu meninggalkanku

Lain waktu, ia mengejar waktu, lagi-lagi menemukanku

1

My Letter to Juliet

Listen. Listen to me very carefully. I live in London, a gorgeous, vibrant, historic city that I happen to love living in. You live in New York, which is highly overrated… But since the Atlantic Ocean is a bit wide to cross every day, swimming, boating or flying, I suggest we flip for it… And if those terms are unacceptable, leaving London will be a pleasure, as long as you’re waiting for me on the other side. ‘Cause the truth is, I am Madly, Deeply, Truly, Passionately in Love with You.from Letters to Juliet (imdb)

Film Letters to Juliet (2010) terinspirasi dari Juliet’s Balcony, sebuah objek wisata romantis di Italia, dengan sebuah balkon (tempat Juliet menunggu Romeo) serta dinding penuh tempelan dan coretan (tempat wisatawan menempelkan surat cinta atau menggambarkan pengakuan cinta mereka). Film ini berkisah tentang petualangan cinta seorang wanita yang berawal (dan berakhir) dari kunjungannya ke Juliet’s Balcony dan membaca sepucuk surat cinta misterius yang tersembunyi di balik dinding bata.

So, this blog post should’ve been about love letter, or love itself, or should’ve not?

I’m sorry, I didn’t know love had an expiration date.from Letters to Juliet (imdb)

This is a love letter, from a woman to a man. They aren’t lovers. This is a love letter, from a woman to her bestfriend, from Aina to Gio.

*

Dear Gio,

Sedang apa? Masihkah kau sibuk dengan botol bir dan bulir keemasan melahap tapak-tapak polosmu? Sudahkah kausiapkan buah tangan untukku?

I feel so insecure, for God’s sake. Oke ini (seharusnya) surat cinta, akan kutulis dengan bahasa yang lebih manis, untukmu.

“Memangnya tahu apa kita soal cinta? Kenapa surat cinta ini ditujukan padaku?” Aku tahu, pertanyaan semacam ini pasti menggelitik benakmu, selanjutnya tertumpah dalam new text messagemu (padaku) beberapa menit kemudian. Haha. Terbayang tawa kecilmu yang keheranan, how can I be this insecure?

Aku jatuh hati, Gio, pada Ia-yang-namanya-tak-boleh-disebut. Aku jatuh hati, sekali lagi. Bukan sebab lakunya, tatapnya, ataupun nyanyiannya. Ia membuatku merasa aman, mencintainya membuatku merasa aman, meski diam-diam.

Ya, benar ucapmu, aku menyedihkan. Sekali lagi merantai diri pada masa lalu. Memang apa lagi yang bisa kulakukan? Apa lagi yang mungkin kulakukan? Mencintai Ia diam-diam, membuatku merasa aman. Aku cukup terbiasa dengan diamnya, cukup merelakan ke(pura-pura)tidaktahuannya, pun cukup memahami pilihannya tentang akhir kami. Kalaupun Ia tahu dan peduli, bagiku itu sekadar bonus dari semesta. Aku terbiasa dengan hening dan rasa aman semacam ini.

(mencoba) Mencintai orang baru sering membuatku gelisah. Oh, hentikan tawamu sejenak, Gio. Aku tak mampu memikirkan kata yang tepat selain gelisah (yang mungkin bagimu terdengar terlalu ‘hijau’).

Mencintai orang baru menimbulkan kembang api dalam benakku. Aku mulai berharap, ini menyengsarakan. Aku mulai menunggu, ini menjemukan. Aku mulai membuat rencana-rencana, menyesuaikan rencana lamaku dengan mimpi-mimpi baru, ini menakutkan.

Gio, aku sangat terbiasa dengan hidup yang almost flat beberapa tahun ini. Selama mencintai Ia-yang-namanya-tak-boleh-disebut, aku cukup tenang menumpahkan doa dan rasa dalam hening, dalam bebait puisi yang paling bening. Tak perlu mengangankan menculik sebagian tatap, laku, pun nyanyiannya. Sebab sebagiannya telah ranum kuamankan dalam kotak pandora, di dasar rongga dada. Sudah cukup kenang pelukan pun kecupan kurekam dalam pita-pita ingatan. Sudah cukup kureguk bahagia yang tak pada tempatnya. Sudah cukup, Gio.

Aku merasa aman, karena sedari awal sudah siap tidak dipedulikan. Aku merasa aman, karena sedari awal sudah siap menyembunyikan kenyataan. Aku merasa aman, karena sedari awal sudah cukup jelas ini yang terbaik bagiku, baginya, bagi kebahagiaan. Aku terbiasa menghabiskan rindu berselimut rasa aman, meski perlahan terlupakan.

Sempat, Gio, aku memberanikan diri mencoba hal baru. Hal baru yang pastinya kautertawakan di tempat rebahmu. Haha. Lanjutkan saja tawamu, akupun tertawa, membodoh-bodohkan diri sendiri. Aku menceburkan diri dalam keremangan yang tak pasti, ingin berburu cahaya, yang sedari awal jelas susah tertangkap mata. Segala yang menarik pada awalnya, terutama saat aku (merasa) menemukan seberkas cahaya. Sayangnya, berkas itu memburam. Entah terbawa arus atau aku menyelam terlalu dalam. Aku menggigil, Gio. Dinginnya keremangan ini memangsa persediaan rasa amanku. Aku mulai mengkhayalkan beribu cekikan halus menyengat tengkuk, melemahkan indera perasaku. Dan, Gio, aku benar melumpuh. Entah nyata, entah sebab khayal semata.

Saat itulah aku mulai mengingatnya, cinta diam-diamku. Ia yang kukunci-mati dalam kotak pandora. Haruskah kubuka atau biar Ia lenyap saja?

Cinta memang dengan mudahnya memberi ribuan kebahagiaan, namun seringkali sulit memberi setitik rasa aman. Aku menuruti saranmu, Gio. Biar masa lalu lenyap saja, terpagut pasir isap dalam rongga dada. Biar kunikmati saja keremangan ini, berenang lebih lama dan berburu tepi.

Sampai jumpa di akhir perjalananmu, Gio.

-Aina-

(BERSAMBUNG)

Bagian kedua berjudul “Luka Parut pada Pipinya Bercerita” dapat dibaca di sini.

0

Potongan Tubuhmu dalam Kamar Rahasiaku

Kusingkirkan di balik kelambu,
lengkung bibirmu yang mengundang pilu,
biar tak melulu rindu.

Kuselipkan di bawah bantal,
sekantung wewangi rambutmu yang ikal,
biar hadirmu niscaya kekal.

Kulekatkan pada langit-langit,
kekar bahumu yang menyamai bulan sabit,
biar fajar gemetar dan enggan terbit.

Kugantungkan dalam lemari kayu,
biar kecupmu menyanding kamper biru,
hangatkan helai-helai pendekap tengkukku.

Kurapatkan di bawah ranjang,
isi rongga dadamu yang telanjang,
temani lelapku selepas jingga menghilang.

[Mey] [@meydianmey]

0

Buah Karya Tuhan

Mengenalmu,

sebagianku beranjak kekal,

mengabai ajal,

buah karya Tuhan paling bengal.

Biar aku memelukmu,

sekali waktu,

sebelum pelangi seluruhnya biru.

 

Haruskah kenangan menjelma angin begitu dingin?

Buah karya Tuhan yang tak tersentuh ingin.

Beribu gagasan rumit,

menepikan rindu yang tak sedikit.

Kenang menyisa air mata,

tak terjamah tatap-tatap fana.

 

Buah karya Tuhan penepi pilu.

Sungging lengkung bibirmu,

(kembali) utuhkan aku.

0

Terima Kasih untuk Kamu, Kamu, dan Kamu (2)

Terima kasih, kamu, kesekian-kalinya melintas isi kepala,

menegaskan luka yang mulai kuanggap maya.

 

Terima kasih, kamu, menjelma kawan di perhentian luka,

penutup sekian kalinya bahagia, semoga.

 

Terima kasih, kamu; bahagia yang datang tetiba,

membungakan percaya di sudut-sudut gelap rongga dada.

 

Terimakasih, kamu, setetes indah dalam cangkir air mata,

menunggu tumpah.

Indah tetap terbaca indah,

meski berkubang ayat gelisah.

 

Terima kasih, kamu, memberi perpanjangan waktu pada sabar,

meringankan beban rindu serupa serpih kelakar.

 

Terima kasih, kamu, menyelipkan sedikit hatimu dalam setiap sahur dan bukaku.

Terima kasih, menyempatkan indah menjenguk lesung pipiku.

 

Terima kasih, kamu,

setitik merah jambu dalam garis pendek kelabuku.

0

Terima Kasih untuk Kamu, Kamu, dan Kamu (1)

Terima kasih, kamu, karena selalu pergi,

dan kali ini mungkin tak kembali.

Rupa-rupanya kaupun tahu,

mana yang terbaik untuk seorang aku.

Terima kasih, kamu, yang membuatku badai, seketika.

Semesta benar tahu mana yang terbaik untuk kita.

Bersama, memang tak ada sejak semula.

Terima kasih, kamu, yang membahana tawa, tetiba.

Semesta belum menyiratkan hari depan.

Semoga, kita tak pernah (terlalu lama) bersebrangan.

Terima kasih, kamu, kesekian kalinya melintas isi kepala,

menegaskan luka yang mulai kuanggap maya.

0

Kala Rindu (2)

Dini hari
3 putaran di belakang bahu
lebih kurang
Satu aku
satu kamu
khusyuk berbalas taksir

Pesan-pesan tersuar
pagi-pagi enggan mengabar
Tanpa tereka-reka
bayang-bayang mengintai
sembunyi

Bulan hitam
mengutus bala-bala mala
merajah jaring tenung
Niscaya
senda-senda kita
berbalut gamang
asa urung terang

Pagi-pagi
bulan hitam memusat semesta
Matahari dijejaknya
karam terantai asa
Senjaku tak lagi jingga

Posted from WordPress for BlackBerry.

0

Love Letter II

Dear Cinta,

Mungkin sekarang kau sedang tidur. Mungkin juga belum. Entahlah, mendadak aku ingin mengirim surat untukmu.

Bagaimana kabarmu di sana? Semuanya lancar? Kau tak sedang bermasalah, kan?

Hmm… Cukup seulas senyum saja sudah cukup membuatku lega. Setidaknya kau baik-baik saja. Terawat dengan baik di sana.

Baru saja aku memimpikan Ayah. Kami duduk bersama di sofa, menonton pertandingan sepak bola favorit kami sambil makan lumpia mini. Kami tertawa dan bersorak bersama. I think I miss him..

Hari ini, sepanjang hari aku tertawa, bersenang-senang bersama sahabat. Aku senang, senang sekali. Hanya, ada sedikit perasaan aneh. Entahlah, sepertinya aku teringat ayah dan ibu.

Rasanya aneh. Di satu sisi aku tertawa dan bersenang-senang sepanjang hari, sementara di sisi lain, orang-orang yang kusayangi sedang berjuang keras.

Tak bahagiakah mereka? No, they’re happy,very much.

Apa mereka tak pernah bersenang-senang? No, they always had their good times with their own way of thinking.

Jadi apa yang membuatku merasa aneh? Hmm… Ada sedikit perasaan bersalah saat aku menyadari, di sini aku sering sekali bersenang-senang tanpa tujuan yang jelas sementara di sana orangtuaku sedang berjuang keras dan tetap bisa menikmati hidup mereka.

Mereka berjuang demi hal-hal yang mereka anggap penting dengan cara mereka sendiri, sementara aku? Apa yang sudah kuperbuat di sini, Cinta? Just having fun. What a miserable thing…

Aku juga ingin berjuang, berjuang bersama mereka demi hal-hal yang kuanggap penting dengan cara yang kupilih sendiri. I’m their only daughter, for God’s sake.

Cinta, aku lelah. Kurasa aku butuh berbaring sejenak lagi. Sampai berjumpa lagi, entah kapan…

With Love,

Cinta…

 

Sumber gambar: http://senoritaglamourista.blogspot.com

0

When Will Our Someday Come?

Our someday might be today. Our someday might be tomorrow. Our someday might be someday. Our someday might never come.

Mungkin bila kita bersama, akan kuluangkan 3 menit setiap pagi untuk menelepon atau sekadar mengirim pesan singkat berisi ucapan selamat pagi, selamat memulai hari.

Mungkin bila kita bersama, akan kuluangkan akhir minggu untuk kursus memasak agar bisa kusiapkan sarapan, makan siang, makan malam, setiap hari, untukmu.

Mungkin bila kita bersama, aku bisa memaksamu makan teratur setiap hari…

Mungkin bila kita bersama, kau bisa tertawa lepas seperti dulu lagi…

Mungkin bila kita bersama, puing-puing egoisme yang memasung lidah kita akan sirna…

Mungkin bila kita bersama, bisa kita susuri jalanan sepi di seluruh penjuru Jawa. Tak melulu berdua, bersama sahabat-sahabat tercinta. Yang kuyakin tak bisa kaulakukan bersamanya…

Mungkin bila kita bersama, senyum kita takkan tertahan di sudut bibir…

Mungkin bila kita bersama, aku akan mewarnai siang harimu dengan cah kangkung dan tempe penyet kesukaanmu…

Mungkin bila kita bersama, aku akan menghangatkan pagi dengan secangkir kopi kental kegemaranmu…

Mungkin bila kita bersama, rembulan akan terlihat lebih indah dari biasanya…

Mungkin bila kita bersama, kita akan bersenandung lagu pengantar tidur, setiap malam, bersama…

Mungkin bila kita bersama, aku masih punya kesempatan menjelaskan semua sikapku padamu…

Mungkin bila kita bersama, aku bisa menjelaskan mengapa aku memilih jalan terjal ini…

Mungkin bila kita bersama, kau bisa dimengerti, tak melulu harus mengerti…

Mungkin bila kita bersama, hidup kita takkan seperih ini. Mungkin lebih bahagia, mungkin juga tidak. Namun satu hal yang pasti, kemungkinan manapun yang akan terjadi, aku takkan menyesal. Karena apapun yang telah, sudah, dan akan terjadi, bahagiamu tetap bahagiaku…

Mungkin bila kita bersama, mungkin… :)

 

Sumber gambar: http://marsitariani.wordpress.com

0

Mimpi dan Harapan

 

Hanya sedemikiankah batas antara mimpi dan harapan? Begitu tipiskah? Dan setipis itu jugakah harapan yang pernah kupertaruhkan padamu? Pada kita, tepatnya.

Aku bermimpi memandangmu berdiri di kejauhan. Aku bermimpi dirimu memandangku dalam diam. Aku bermimpi kau mendekat dan mendekapku. Aku bermimpi seseorang menggamit lenganku, dan itu dirimu. Berdiri begitu dekat denganku. Berbisik di telingaku,”Inilah kita, diriku dan dirimu, saat ini dan selamanya.”

 

Aku membuka mata dan berpikir. Mimpi, harapan, realita. Pada titik mana aku berada. Pada titik mana kita tengah melangkah.

Dan kurasakan air mata dan peluhku menyentuh benakmu. Seperti kurasakan kebimbanganmu membelai batinku yang tengah  goyah.

Bagaimana rasanya menjadi berbeda? Seperti aku yang juga berbeda. Bagaimana rasanya memiliki teman dalam perbedaan? Seperti aku yang selalu menemanimu. Bagaimana rasanya dimengerti? Dimengerti dan saling mengerti. Sekali lagi kurasakan kehadiranmu dalam keheningan.

Begitu banyak yang terasa dalam batinku, begitu ramai suara yang bergumam di benakku, tentangmu. Namun…

Ini mimpiku, juga harapanku, itu dirimu.

 

Sumber gambar:

http://keluargamustaqim.blogspot.com

http://icelatestory.wordpress.com