2

Malaikat Bersayap Hitam

Dear Indra,

Ceritamu tentang impian membuatku teringat masa kecil. Aku pernah memimpikan 2 hal yang (hampir) mustahil. Mimpi pertama dimulai 11 tahun lalu. Aku, masih berusia 11 tahun saat itu, menonton Moulin Rouge, salah satu film favoritku sekaligus film musikal non-animasi yang pertama kutonton. Dalam film itu, Nicole Kidman berperan sebagai Satine, wanita penghibur nomor 1 di rumah hiburan Moulin Rouge yang jatuh hati pada seorang penulis muda. Ada satu adegan, Satine bergantung di ayunan, kemudian bernyanyi sambil terbang menyapa para penggemarnya di Moulin Rouge. Cantik sekali. Empat tahun kemudian, aku (dalam grup paduan suara SMA) bernyanyi di acara kelulusan kakak kelas. Saat itu, aku teringat Moulin Rouge dan mulai bermimpi. Suatu saat nanti, aku akan tampil di panggung megah, ditonton jutaan penggemar, duduk di ayunan, mengenakan kostum malaikat bersayap hitam, menyanyikan lagu Ave Maria, dan memukau para penonton. Kekanakan, ya? X’)

Mimpi keduaku, setelah lulus SMA, ingin jadi psikiater dan mendirikan LSM / yayasan / wadah apapunlah untuk konsultasi masalah perempuan, anak, dan keluarga. Apa daya, aku takut darah dan benda-benda berlendir (ketakutan ini belum kusebutkan di surat sebelumnya ya, hehe), tidak mungkin mendaftar ke fakultas kedokteran. Pupuslah, tetapi aku belum menyerah soal mimpi mendirikan LSM. Suatu saat nanti, pasti.

Soal nyinyirin selebtweet, masih ada, ya? Haha! Yah, satu perkara kan punya banyak sudut pandang untuk dibahas. Sudut pandang penyinyir, salah satunya :p

Buku-buku yang kausebut dalam surat belum (namun ingin) kubaca. Ibu sering ‘mengancam’, kalau aku terlalu banyak membeli buku, besok-besok aku makan kertas dan minum tinta saja. Jadi, kalau mau membeli buku, aku harus pandai-pandai memilih waktu agar tidak mengusik suasana hati Ibu. Ah, pasti kamu rindu Ibu, ya. Maaf ya, Indra :’)

Mulai kehabisan kata-kata? Mulai bosan? Tak apa, sekarang giliranku merintikkan gerimis romantis dan melukis pelangi dalam benakmu.

Sebagai penutup, kuucapkan Selamat Natal (yang sangat terlambat). Biar aku jadi alarm makanmu, anggap saja hadiah Natal (yang juga sangat terlambat) dariku. Pesanku, seringlah tersenyum, di dunia nyata (:

(Mey)

[by @meyDM]

Iklan
2

Alarm Makan

Dear Indra,

Aku suka Spiderman, sebesar aku suka padamu. Haha. Aku hanya bergidik melihat simbol laba-laba di kostumnya.

Soal bahu, kalau sengaja bersandar ya tidak apa-apa. Hanya saja, kalau di keramaian, seringkali aku harus menggeser bahu untuk memberi jalan pada orang-orang yang bergerak berlawanan arah atau memberi ruang untuk orang-orang asing yang berdesakan di sampingku. Aku tak terlalu suka, entah mengapa. Merepotkan ya?

Kamu penasaran soal tempat tinggalku? Aku tinggal dengan Ibu, semestinya begitu. Realitanya, aku sering sendiri. Panjang ceritanya, juga tidak baik diceritakan dalam surat. Kalau kamu sungguh ingin tahu, lebih baik kita ngobrol di tempat lain saja. Bukannya kamu juga tinggal sendiri? Merantau sendiri?

Jadi bagaimana hasil presentasimu kemarin? Cari kekasih sana, supaya ada alarm makan, dan lain-lain :p

Jangan lupa janjimu, ya!

(Mey)

N.B. Ini bulan penuh cinta, ya. Semoga cinta kita jatuh di tempat yang tepat (:

[by @meyDM]

2

Eight Legged Freaks!

Dear Indra,

Ketakutanmu unik sekali. Haha. Tapi, jangan pasang musik terlalu keras saat badai, nanti kau sulit mendengar (kalau ada) hal buruk terjadi di dekatmu.

Aku juga punya phobia unik. Laba-laba. Aku takut laba-laba. Laba-laba (super) kecil, besar, di televisi, di buku gambar, bahkan aku bergidik melihat logo di kostum Spiderman. Haha. Aku juga mudah gelisah di tempat ramai, di tempat orang-orang berdiri berdesakan, juga di manapun yang memaksa bahuku menyentuh bahu orang lain saat berjalan. Ini merepotkan, ya? X’)

Turut berduka ya, soal Ibu. Seperti apa beliau? Ah, aku jadi rindu ‘rumah’. Dasar kamu, nakal! Haha.

Jadi, bagaimana harimu? (:

(Mey)

N.B. Sesuai janjiku, kuselipkan foto (:

[by @meyDM]

9

#13HariNgeblogFF ~ Bangunkan Aku Pukul 7

07/01/2013

“Bangunin aku jam 7 ya, Ma…”

“Jadi itu kata-kata terakhir Doni, Tante?”

“Iya…”

Di samping sebuah makam, 2 orang wanita bersimpuh, menitikkan air mata.

***

02/01/2013

“Kamu yakin?”

“Maaf, Ma. Doni nggak tega gugurin bayi kami…”

“Anak Mama sudah lupa janjinya dulu.”

“Ma, Doni nggak akan ninggalin Mama. Mama, Doni, Nina, dan calon cucu Mama, ini keluarga baru kita.”

***

06/01/2013

“Makasih restunya, love you, Mommy. Besok Doni mau nemenin Nina USG, bangunin aku jam 7 ya, Ma…”

Esoknya, Doni ditemukan tewas akibat gantung diri. Mama menolak melakukan visum dan bersaksi bahwa putranya sedang tertekan setelah menjadi ayah di usia muda. Setelah polisi dan semua pelayat meninggalkan rumah, Mama menangis di sudut kamar sambil menatapku, sepasang tangan yang ia gunakan untuk mengakhiri nyawa putra semata wayangnya.

4

#13HariNgeblogFF ~ Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

“Sudah makan?”
“Iya.”

“Kamar ini cukup nyaman untukmu?”
“Iya.”

Rudi menatap sesosok perempuan yang duduk tertunduk di sisi ranjang. Uraian rambut panjangnya gagal menyamarkan lingkaran hitam di sekitar mata. Bibirnya kering pecah-pecah dan pipinya tampak pucat.

“Mau kupesankan sup iga dan susu hangat favoritmu?”
“Iya.”

Terdengar suara pelayan mengetuk pintu. Sepiring nasi putih, seporsi sup iga, dan segelas susu hangat diletakkan di atas meja sebelah ranjang.

“Makanlah dulu.”
“Iya.”

“Masih mencintaiku?”
“Iya.”

“Malam ini pulang ke rumah?”
“Iya.”

“Berencana menikah lagi?”
“Iya.”

“Tak adakah kata lain yang bisa kauucapkan?”
“Waktu short time hampir habis. Kata-kata apa lagi yang ingin kaudengar? Bukankah tadi kau membayar Ibu untuk tak pernah berkata tidak, Nak?”

[Mey] [@meyDM]

2

Akulah, Penikmat Pesta Rakyat

Bergumul pesta rakyat nan riuh bahana, gigilku tak lagi utuh.

Derap kuda lumping injak tengkuknya.

Duri-duri lecut pecut cabik tempurung lututnya.

Bulir-bulir hujan rajai lesung pipinya, pipi yang beranjak kumuh.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang kesumat.

Dengung ketipung urung limbung kala takbir beranjak dekat.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang keparat.

Geliat kerbau gila dan pekik-pekik perawan belia, luruhkan iman yang mulai lekat.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang sekarat.

Coba hirup aroma luka menguar bersama hujan, coba reguk teduhnya payung-payung pelaminan, sebelum napas kalian cekat.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang melarat.

Tak terselamatkan, tak sebiji jagungpun terselamatkan, wahai anakku.

Tak terkecuali ibumu.

 

Sumber gambar: http://sphotos-a.xx.fbcdn.net/hphotos-ash4/390814_10150456159012477_1058663846_n.jpg

0

Andai Ibuku Seorang Penyair, Kata-Kata ini tak Melulu Tersangkut di Ujung Bibir

Berbulir-bulir air mata dan keping demi keping kesedihan, pernah kukumpulkan lalu kutabung dalam akuarium kaca raksasa
Belasan tahun ini, biar yang kautatap cukup tawaku saja, dan yang kudekap biar sekadar lara, pun bayang punggungmu yang senantiasa mengundang luka

Tempias tengkukmu di bantalku
Kepul hangat teh hitam favoritmu
Aroma hangus tembakau dan semilir dengkurmu nan sengau
Segala kenang terekam dalam pita-pita memori
Diputar dan ditayangkan setiap hari
Dalam layar maya yang terbentang di penjuru tatapku
Segala kenang yang tak benar-benar terlihat, namun terasa ada
Berlainan denganmu, benar-benar terlihat, namun selalu terasa tiada

Ya,
Andai ibuku seorang penyair, kata-kata ini tak melulu tersangkut di ujung bibir

Andai ibuku seorang penulis, surga boleh jadi mendekat setapak demi setapak seiring deras tangis

[Mey] [@meydianmey]

0

Mommy vs Daddy

My mommy remembers every details about me. All those little things I might dislike. That’s why she knows every supplement I must take when I’m unhealthy. She knows what kind of clothes that suit my curvy body. She knows how I love cheese and chickens so well that she always serves them on the table when it comes to my birthday.

My daddy remembers all the happy stuffs until the first 10 years of my life. That’s why he always buy junkfood, ice creams, and tarts, he makes sure they’ll always be safe in the fridge.

However, I love them both (:

Posted from WordPress for BlackBerry.

0

Love Letter II

Dear Cinta,

Mungkin sekarang kau sedang tidur. Mungkin juga belum. Entahlah, mendadak aku ingin mengirim surat untukmu.

Bagaimana kabarmu di sana? Semuanya lancar? Kau tak sedang bermasalah, kan?

Hmm… Cukup seulas senyum saja sudah cukup membuatku lega. Setidaknya kau baik-baik saja. Terawat dengan baik di sana.

Baru saja aku memimpikan Ayah. Kami duduk bersama di sofa, menonton pertandingan sepak bola favorit kami sambil makan lumpia mini. Kami tertawa dan bersorak bersama. I think I miss him..

Hari ini, sepanjang hari aku tertawa, bersenang-senang bersama sahabat. Aku senang, senang sekali. Hanya, ada sedikit perasaan aneh. Entahlah, sepertinya aku teringat ayah dan ibu.

Rasanya aneh. Di satu sisi aku tertawa dan bersenang-senang sepanjang hari, sementara di sisi lain, orang-orang yang kusayangi sedang berjuang keras.

Tak bahagiakah mereka? No, they’re happy,very much.

Apa mereka tak pernah bersenang-senang? No, they always had their good times with their own way of thinking.

Jadi apa yang membuatku merasa aneh? Hmm… Ada sedikit perasaan bersalah saat aku menyadari, di sini aku sering sekali bersenang-senang tanpa tujuan yang jelas sementara di sana orangtuaku sedang berjuang keras dan tetap bisa menikmati hidup mereka.

Mereka berjuang demi hal-hal yang mereka anggap penting dengan cara mereka sendiri, sementara aku? Apa yang sudah kuperbuat di sini, Cinta? Just having fun. What a miserable thing…

Aku juga ingin berjuang, berjuang bersama mereka demi hal-hal yang kuanggap penting dengan cara yang kupilih sendiri. I’m their only daughter, for God’s sake.

Cinta, aku lelah. Kurasa aku butuh berbaring sejenak lagi. Sampai berjumpa lagi, entah kapan…

With Love,

Cinta…

 

Sumber gambar: http://senoritaglamourista.blogspot.com