0

Andai Bulan Bukan Pecandu Kopi

Rembulanku,
Hentilah mencandu kopi
Tak perlu terjaga melulu
Malampun ingin gelap sewaktu-waktu

Biar aku menjelma pengganti
Sepasang bola mata mengudara
Menyesap ribuan bait puisi
Senandung mereka pemuja air mata

Sumber gambar: http://bit.ly/YWlq0D

[by @meyDM]

Iklan
0

Pelangi, Bulan, Badai, dan Belukar

Dear Indra,

Dua surat terakhirku singkat sekali, ya. Bukan berarti bosan, justru aku bingung menemukan cara membuatmu tak jemu membaca suratku. Haha.

Aku menulis surat ini sambil menonton (500) Days of Summer. Tagline-nya menarik sekali.

This is not a love story.

This is a story about love.

 

Pun kutipan-kutipannya.

Just because she likes the same bizarre crap you do doesn’t mean she’s your soul mate.

There are no miracles, there’s no such thing as fate, there’s no such thing as love. It’s fantasy…

 

Sudahkah kau menontonnya? Cinta sering dikaitkan dengan kata selamanya. Selamanya, sepanjang hidup, sepanjang usia. Realitanya, hanya berlangsung selama seseorang masih menginginkan.

Coba ingat-ingat, apa saja yang kutulis dalam 3 surat terakhirku (termasuk surat ini)? Kau menunjukkan pelangi dan bulan, sementara aku memberimu badai dan belukar. Haha.

Jangan maafkan kelemahanku. Jangan maafkan kelemahanku.

(Mey)

0

Habis Sudah Napas Bumi

Bahu pualamnya lebam//
Jejak pijakan Bapa/
tak jua pudarkan pendar//
Pagi-pagi buta/
Bulan fana//

Tak tera mana/
ujung kening/
pun pangkal tapaknya//
Bulan teguh/
mencahayakan cahaya//
Anak-anak ombak/
dipeluknya/
dari riuh/
hingga riuh//

Malam menjelma alas kaki//
Ubin-ubin/
menggelitik pendar pijaknya//
Bulan mengetuk-ketuk dinding/
berbisik doa/
hari jadi Bapa//

Naik turun/
lesung pipitnya//
Isi kepala penyamun/
menderap/
di sebalik bahu//
Malaikat maut/
mengecup sangkakala/
tiba masa/
Bulan naik tahta//

Posted from WordPress for BlackBerry.

0

Cahaya Bulan Tumpah ke Matamu

Cahaya bulan tumpah ke matamu
Sontak langit meramping
menghablur dalam kelap-kelip
kejap saja
semesta takluk pada azimatmu

Cahaya bulan tumpah ke matamu
biasnya menggelitik tengkuk
Kuseru “Ah!”
kaubalas serapah
Segala rupa abdi merenta kausepah

Cahaya bulan tumpah ke matamu
merekahkan kuncup-kuncup rindu
Menampar lengahku
akan tatapmu
diam-diam mengarahku

Posted from WordPress for BlackBerry.