2

Aku Butuh Tinta Saat Tersesat

Dear Indra,

Aku menulis sesuatu. Bukan untukmu, memang. Tulisan ini tidak sedang kutujukan untuk suatu sosok tertentu. Bukan karena kau tak penting, sama sekali bukan karena itu. Hanya, seorang teman sering berpesan padaku: “Pada dasarnya, manusia tak pernah menulis, melukis, maupun mencipta sesuatu yang ditujukan untuk manusia atau makhluk lainnya. Manusia menulis, melukis, maupun mencipta sesungguhnya untuk mencari dan menemukan tujuannya, muaranya.”

Teruntuk engkau, yang mencintai keheningan
Aku mengerti, engkau mencintai hening sebesar ranting-ranting mencintai dedaunan
Seperti tangis pilu yang terdengar pada malam-malam musim gugur
Tak satu daunpun ingin jatuh, tak satu rantingpun cukup kuat untuk memeluk
Seperti itulah Tuhan melukiskan takdir sepasang kekasih
Tak semua angan bisa menyatu dalam ingin, kadang beberapa angan dicukupkan dalam dingin kenangan

Teruntuk engkau, yang mencintai keheningan
Aku berhenti melangkah di batas terluar hutan batinmu
Sebab aku tak mampu menerka akan jadi apa tubuhku kelak jika terus menapak
Aku ingin menjadi sebatang pohon, tempat bersandarmu
Dengan bebatuan api di sekelilingnya, untukmu menghangatkan diri
Namun, bisa saja aku ditakdirkan sebagai jamur beracun, membuatmu luka dan mati

Teruntuk engkau, yang mencintai keheningan
Aku butuh tinta saat tersesat
Aku akan melukis untuk menemukanmu
Pemandangan indah yang memahat senyum di setiap topengku
Aku ingin melukismu.
Aku akan melukismu.

(Mey)

[Mey] [@meyDM]