0

Jika Aku Berbalik, Membiarkanmu Hanya Menatap Punggungku, Masihkah Pelukan itu Untukku?

Setiap kali menatapmu, menyandarkan sepasang lengan di bahumu, selalu ada beribu pelukan kaubagi untukku.

Kini
Saat aku berbalik, menyisakan punggung untuk tatapmu
Masihkah sepasang lenganmu mendekap luka-lukaku?
Masihkah tertakar dalamnya genang air mataku?

(picture taken from angnikka.blogspot.com)

[Mey] [@meydianmey]

0

Mimpi dan Harapan

 

Hanya sedemikiankah batas antara mimpi dan harapan? Begitu tipiskah? Dan setipis itu jugakah harapan yang pernah kupertaruhkan padamu? Pada kita, tepatnya.

Aku bermimpi memandangmu berdiri di kejauhan. Aku bermimpi dirimu memandangku dalam diam. Aku bermimpi kau mendekat dan mendekapku. Aku bermimpi seseorang menggamit lenganku, dan itu dirimu. Berdiri begitu dekat denganku. Berbisik di telingaku,”Inilah kita, diriku dan dirimu, saat ini dan selamanya.”

 

Aku membuka mata dan berpikir. Mimpi, harapan, realita. Pada titik mana aku berada. Pada titik mana kita tengah melangkah.

Dan kurasakan air mata dan peluhku menyentuh benakmu. Seperti kurasakan kebimbanganmu membelai batinku yang tengah  goyah.

Bagaimana rasanya menjadi berbeda? Seperti aku yang juga berbeda. Bagaimana rasanya memiliki teman dalam perbedaan? Seperti aku yang selalu menemanimu. Bagaimana rasanya dimengerti? Dimengerti dan saling mengerti. Sekali lagi kurasakan kehadiranmu dalam keheningan.

Begitu banyak yang terasa dalam batinku, begitu ramai suara yang bergumam di benakku, tentangmu. Namun…

Ini mimpiku, juga harapanku, itu dirimu.

 

Sumber gambar:

http://keluargamustaqim.blogspot.com

http://icelatestory.wordpress.com