5

Sambar Aku!

Dear Indra,

Aku penyuka film / serial drama sekaligus thriller, juga penggemar musik ballad sekaligus rock. Kira-kira seperti malaikat dan iblis dalam 1 tubuh, aku ini kontradiktif. Jadi, aku masih bisa dan dengan sangat senang hati menemanimu menonton film action atau thriller nanti. Haha.

Aku belum pernah mengunjungi tumblr-mu. Penasaran. Apa alamatnya? Sampah bagi penulis sebaik kamu, bisa jadi harta buat orang lain :p

Kemarin aku bilang sudah memikirkan sesuatu untuk kutulis dalam suratku berikutnya, kan? Aku menyiapkan hadiah. Potongan salah satu lagu favoritku, judulnya Thunder dari Boys Like Girls. Aku suka sekali versi akustiknya.

Your voice was the soundtrack of my summer
Do you know you’re unlike any other?
You’ll always be my thunder, and I said

Your eyes are the brightest of all the colors
I don’t wanna ever love another
You’ll always be my thunder

So bring on the rain
And bring on the thunder

 

Perjalanan kita masih panjang. Aku akan melukis pelangi di sisi kananmu dan menggamit lengan kirimu. Tidak boleh ada lagi badai dan belukar berbiak di sisa jalan kita.

 

(Mey)

Iklan
2

Cintaku Sepanjang Bentang Kereta Ekonomi

Dear Indra,

Siang ini mendung. Hujan yang kutunggu-tunggu belum juga menyapa. Padahal sudah kusengaja tak keluar rumah hari ini. Ah, manusia memang makhluk egois. Saat sedang tak beraktivitas, mengharap hujan datang. Lain waktu, saat sibuk, riuh mencerca hujan. Haha.

Hei, ceritamu berkendara dengan bus mengingatkanku pada pengalaman unik saat traveling ke Bandung beberapa minggu lalu. Salah satu hobiku adalah traveling sendirian. Berbekal 1 ransel kecil (ya, cukup 1 ransel kecil, haha), aku pergi ke Bandung. Sendiri, ditemani selembar tiket kereta api ekonomi dan 2 buah buku puisi. Kau (dan banyak orang yang mendengar cerita ini) pasti berpikir aku perempuan yang nekat. Haha, yes, I am! Tapi, nekat yang penuh pertimbangan, jadi tenanglah. Tuhan dan doa orang-orang yang menyayangiku jadi pelindung terampuh dalam setiap perjalanan yang kutempuh (:

Saat itu, aku duduk sebangku dengan seorang laki-laki. Ternyata kami sekampus, kebetulan ia dan sahabatku di kampus dulunya teman satu sekolah. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk saling akrab. Beberapa jam berlalu, seorang penumpang lain yang naik dari Blitar duduk di sebrang kami. Ia juga laki-laki, di sinilah petualanganku dimulai. Laki-laki yang duduk di sampingku, sebut saja Arya. Laki-laki yang duduk di sebrangku dan Arya, sebut saja Dika. Apapun nama yang kugunakan, toh kau tak mengenalnya, iya kan? Haha.

Jadi begini, Dika ini ramah sekali. Sepanjang perjalanan, ia sering mengajakku dan Arya mengobrol. Saat kereta kami sudah mendekati Bandung, Arya berbisik padaku, “Kayanya si Dika naksir kamu deh. Liat aja, bentar lagi pasti minta nomer hp atau pin BB. Haha!” Dan benar saja, setelah turun dari kereta, Dika meminta pin Blackberry-ku. Karena tak enak menolaknya, akhirnya kuberikan saja, kemudian kami berpisah jalan.

Setibanya aku di hotel, Dika mengirim pesan. Katanya, “Ntar malem ketemuan yuk!” Kudiamkan saja, tak kubalas. Haha. Beberapa menit kemudian, ia mengirim pesan lagi. Aku mulai malas dan berpikir untuk menghapusnya dari daftar kontakku setelah membaca pesan yang ia kirim. Tetapi, aku berubah pikiran. Kau tahu pesan apa yang Dika kirim padaku?

Katanya, “Mmm, maaf kalau kamu jengkel atau salah paham, Mey. Tapi aku beneran pengen ketemu kamu. Juga, tolong ajak Arya ya. Aku pengen kenal dia lebih jauh. Mmm, yes I am gay. Aku naksir Arya… Kamu keberatankah? Maaf ya…” Hahahahahaha, mana bisa aku tak tertawa setelah membaca pesan itu? Akhirnya kusanggupi ajakan bertemu itu dan tak lupa kuajak Arya. Kisah selanjutnya? Ah, itu bukan urusan kita lagi. Haha!

Kau senang menggambar, ya? Aku jadi penasaran. Saat kau tengah melamun, merenungkan ide-ide untuk konsep barumu berikutnya, gambar-gambar seperti apa yang terlintas dalam benakmu? Di tempat seperti apa biasanya kau senang merenung? Apa dahimu berkerut saat kau tengah berpikir keras? Haha. Bawel sekali aku ini.

Lain waktu, lukiskan sesuatu untukku. Gambar seperti apa yang terlintas di benakmu saat kau tergelak membaca suratku. Will you?

Oh, satu lagi, kalau kau tak terbiasa memperhatikan orang-orang di sekitarmu, biar kulakukan untukmu. Itulah fungsinya dua hati, saling melengkapi (:

Selamat melamun, Indra. Selamat melukis!

(Mey)

[Mey] [@meyDM]

8

Hari ini, Hujan Kembali Pergi | oleh: @tepian_pantai dan Mey DM

21 Oktober 2012

 

Mei, jalan-jalan yang kita lewati detik tadi,

ialah jalan-jalan yang sering aku lewati dengan sendiri,

yang kadang aku bayangkan,

betapa indah bila akan kutempuh dengan satu tujuan.

 

Saban hari, aku hanya berjalan menuju sesuatu,

yang hanya mampu membuat aku menahan senyum,

membenam lebih lama dendam,

memendam lebih banyak diam.

(Semoga, setiap detak yang degup di ujung tapakku,

setia menjelma payung kasat mata,

meneduhkan langkahmu, selalu.)

 

Lalu datanglah cerah, curah hujan yang ceria.

Aku sering berjalan sendiri, menembus hujan,

menuju genangan kenangan.

 

Aku senang sekali berjalan bersama hujan,

aku dan hujan sering bermain mencari kecepatan.

Aku selalu kalah, tetapi

selalu hujan yang akan pergi,

menuju pedih.

(Pedih, sesungguhnya hanyalah tetesan air mata yang membeku,

terlindap debu lalu bersekutu menjelma dinding batu.

Maka, biarlah rindu merupa badai,

biar debu enyah dan pedihmu usai.)

 

Meski setiap ia pergi, aku berdarah bersama senja,

tetapi hujan tak pernah lupa.

Langit tak pernah luput mengenakan selimut.

 

Katanya,

“Ada tujuh warna dalam selimutku.

Langit ialah ranjang tanpa tubuh.

Kau dan orang-orang yang mencintai masa lampau,

ialah tubuh untuk selimutku: pelangi.”

 

Setiap hujan pergi,

setiap aku berdarah dan sendiri,

aku selalu mengenakan selimut.

Hujan tak pernah lupa akan hadiah untuk kemenangan dan kenanganku.

(Hujan tak pernah benar-benar pergi.

Langkahmu tak pernah benar-benar sendiri.

Ia bergelayut di bahu-bahu awan,

menanti diluruhkan biar bersambut pelukan.)

 

Bulan-bulan berlalu seperti deru,

hingga hujan meninggalkan dan menanggalkan aku.

Suatu hari, setelah sekian jalan aku mencari,

hujan tak kutemui.

Aku menangis menjadi-jadi.

 

Aku bertanya kepada senja.

Katanya,

“Ia kembali pada tangan-tangan dan tanah para petani.”

Hingga aku tiba di suatu siang,

ketika aku mengenang kenangannya.

Aku melihat seorang gadis,

seluruh tubuhnya seperti habis dibasuh gerimis.

 

Aku merasa pernah melihatnya,

aku merasa pernah menyentuh sesuatu dari dirinya,

aku merasa pernah bermain-main dengan dirinya.

 

Tetapi, setelah sekian aku pikirkan,

ia tiba-tiba tak ada,

dan tiba-tiba tiba air mata.

(Lihatlah ke dalam cermin,

di dasar hatimu yang beranjak dingin,

di sana air mata berbahasa melalui cahaya,

mengucap rindu tanpa kata-kata,

menyelipkan keberadaan di balik perihal yang kausangka tiada.)

 

Hari ini,

hanya ada awan,

dengan warna yang amat merindukan pelukan.

 

Hari ini,

hanya ada kata-kata yang hujan,

meluruh dalam seluruh ruh dan senyuman.

 

Hari ini,

hanya ada aku,

dan sebuah buku,

yang seluruh mata, kata, dan hatimu pernah membacanya.

(Hari itu,

ada sebagian diriku dilekap rindu,

dan sebagian tersisa masih tertinggal di sudut matamu.

Maka hari ini,

aku akan kembali,

menarikmu dari ambang sunyi.)

 

Aku mulai berjalan dari halaman awal.

Aku mulai membaca.

Mata, kata, dan hatimu mulai membaca.

 

Aku memulai segalanya setelah usai.

Hari ini,

hujan menjadi mata, kata, dan hatiku,

di antara mata kata dan hatimu.

Aku akan mulai membaca.

(Jangan lelah,

sebab aku tak ingin pemandangan indah ini selesai.

Jangan lelah,

sebab aku akan selalu kembali meski yang tersisa dalam sunyimu hanyalah kepingan badai.

Jangan lelah.)

 

(Pemandangan indah ini hadiah dari @tepian_pantai sebagai teman dalam perjalanan pulang. Terima kasih. (: )

Puisi ini diikutsertakan dalam Giveaway Semua Tentang Puisi

1

Hijrah (3): Kelana Kepak Kelam

Berpijaklah/
duhai kepak-kepak hitam//
Dahan kekar/
rongga-rongga lapang//
Satu lagi/
arah pulang//

Bayang-bayang senja/
memanjang/
menelusup rusuk-rusuk malam//
Bumi dirundung ratap/
gugus sayap hitam//

Mereka/
merundung ujung/
melompati kaca-kaca jendela//
Anak-anak musim kemarau/
berguguran/
ditelan sedan//

Anak-anak musim kemarau/
berbahasa/
melalui mata/
menyuara kepak-kepak hitam//
Tepi buritan/
berhias bunga api/
melagu puisi//

Pelukan/
gagal menangkap/
bahana kepak hitam//
Bumi/
dirundung duka/
kebutaan/
melekapi isi kepala//
Manusia/
tak lagi manusia//

Aku mendoa/
bumi berpaling sejenak/
dari putarnya//
Kepak hitam/
boleh sarat misteri//
Semoga/
kata bahasa/
jumawa merapatkan ribuan hati//