2

Akulah, Penikmat Pesta Rakyat

Bergumul pesta rakyat nan riuh bahana, gigilku tak lagi utuh.

Derap kuda lumping injak tengkuknya.

Duri-duri lecut pecut cabik tempurung lututnya.

Bulir-bulir hujan rajai lesung pipinya, pipi yang beranjak kumuh.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang kesumat.

Dengung ketipung urung limbung kala takbir beranjak dekat.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang keparat.

Geliat kerbau gila dan pekik-pekik perawan belia, luruhkan iman yang mulai lekat.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang sekarat.

Coba hirup aroma luka menguar bersama hujan, coba reguk teduhnya payung-payung pelaminan, sebelum napas kalian cekat.

Ya, akulah penikmat pesta rakyat.

Yang melarat.

Tak terselamatkan, tak sebiji jagungpun terselamatkan, wahai anakku.

Tak terkecuali ibumu.

 

Sumber gambar: http://sphotos-a.xx.fbcdn.net/hphotos-ash4/390814_10150456159012477_1058663846_n.jpg

0

Bunga Lili Pengantin Wei Xu

Benih-benih amarah kusemai,
di sepanjang rambutmu terurai.
Biar jernih mengakar benakmu,
biar disusup gulma-gulma rindu.

Wajah semu biru ini meratapi,
tapak-tapak retak,
pun gegaun burik tercabik.
Rindu benar melagu,
sebatas rentang belas ibamu.

Kuncup-kuncup lili mewangikan geleparku,
berpeluk ranjang menjerit haru.
Di balik tingkap, langit menghitam,
jelang napas merindu pejam.

Mari rebah, hati.
Dengan beku masih mengalas kaki.
Wangi bunga lili melagu kidung surgawi,
mengantar kenang ibamu pada bumi,
Air mata darah bergenang di keningmu,
saksi bisu rinduku mengaminkanmu.

[Mey] [@meydianmey]