6

#13HariNgeblogFF ~ Cintaku Mentok di Kamu

Teruntuk kamu, yang tak memberiku kata selesai

Tiga belas kali. Ya, tiga belas kali dalam tiga belas minggu terakhir, aku berkendara menuju kotamu ditemani tas travel berisi pakaian dan perlengkapan yang kusiapkan tiga belas minggu sebelumnya. Tiga belas kali kulewati jalan yang sama, beristirahat sejenak di rest area yang sama, pun mengisi bensin di tempat yang sama. Aku berhenti di depan pagar yang sama, memberanikan diri untuk membunyikan bel, namun urung. Entah apa yang membuatku gentar, kehilanganmu atau fakta bahwa kau sudah menghilangkanku dari benakmu.

Kau berhenti mengirim surat, mengganti nomor kontak, bahkan menonaktifkan seluruh akun social media dan email. Aku tahu, kemudahan jarang menyertai langkah kita. Jarak dan segala tetek bengek perjodohan yang dirancang orangtuamu, aku memahaminya. Mungkin ini giliranmu untuk memahami kedatangan surat ini sebagai keterpaksaan dan keputusasaan yang mendesakku tiga belas minggu belakangan. Aku menunggumu, Nara. Entah untuk kembali bersama memerangi badai atau, setidaknya, memberiku kata selesai.

(Dina)
***

Dear Dina,

Maaf. Maaf aku hanya bisa memberimu kata maaf. Aku, pada akhirnya, menikahi Tia bukan karena paksaan orangtuaku. Kebersamaan kami sejak kanak-kanak membuatku tak sadar seberapa dalam perasaanku padanya. Aku menghilang karena aku terlalu pengecut untuk meminta maaf. Maaf, aku hanya bisa memberimu kata maaf. Kebahagiaanmu adalah doa yang selalu kuamini, maka berbahagialah…

(Nara)

N.B.: Ini benar tulisan tangan Tia. Kuharap kau mengerti seberapa dekat kami.

“Halo, hei, kabarku baik. Suratmu sudah sampai. Sudah kusalin sesuai instruksimu. Tapi, bukannya ini terlalu kejam? Nara, aku akan segera menikah dengan Dio. Cepat atau lambat, Dina akan tahu.”

“Hei Tia, kau sedang memamerkan pacar selebritimu? Dina tak akrab dengan acara gosip, tenang saja.”

“Ah terserahlah. Sebenarnya kamu ke mana? Kapan hari, kata temen kantor, kamu kecelakaan. Tapi tiba-tiba hilang, Om dan Tante juga sulit dihubungi. Nggak ada alamat di suratmu kemarin, nelfon pakai nomor asing. Ada apa sih?”

“Nanti juga kamu tahu, kalau sudah waktunya. Sudah ya, Tia. Thanks for your help. Kapan-kapan, kutelfon lagi. See you…”

*klik* (suara telepon dimatikan)

“Terima kasih, Ma… I love you…”

“Nara, anakku sayang, ikhlaskan Dina, biar Mama jadi tangan dan kaki kamu, selamanya…”

[Mey] [@meyDM]

Iklan