2

Kehilangan ialah harapan–Akan tumbuh sepasang lengan di halaman yang jarang kausiram–Kau tak perlu pasangan untuk berpelukan

Kotak kacamata serupa
Dengan retakan sepanjang alis mata
Di sudut kanan penutupnya
Sepasang selop sewarna
Sederhana, dua senti meter haknya
Buket mawar putih pengiring takbir
Pulas marun pengunci tawa di bibir

Segala pernak-pernik pengantar pergimu
Segala pernak-pernik pemantik rinduku
Segala pernak-pernik penyulut sesalku

Aku rindu omelmu
Engah tawamu
Berat tarik napasmu
Lengkung punggungmu
Segala yang kaubenci, aku suka
Segala yang kausuka, aku mencandunya

Sedalam itu ceruk tergali selepas pergimu
Sedalam itu air mata kami bermukim di dasarnya
Berkunjunglah dalam bunga tidur lain waktu
Pamerkan tawa bebasmu di surga
Nyanyikan sebait lagu cinta tentang nirwana
Tentang Tuhan yang entah ada berapa
Lengkungkan sayapmu, peluk kami nan fana

Kehilangan ialah harapan
Akan tumbuh sepasang lengan di halaman yang jarang kausiram
Kau tak perlu pasangan untuk berpelukan

Persembahan sederhana untuk Oma Mien tercinta. Rest in peace :’)

[by @meyDM]

0

Mencintai dengan (tak) Sederhana

Dear Indra,

Ada hadiah (lagi) untukmu. Sebuah puisi yang mungkin sudah kaukenal dan baca berulang kali.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
Kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
Kepada hujan yang menjadikannya tiada

~SDD

Mungkin aku tak mampu mencintai dengan sederhana. Labirin dalam kepalaku, tak banyak orang yang ma(mp)u menjelajahnya. Di genggamanku, cinta berubah tuba, tak lagi manis dan menyenangkan. Namun, jika diberi kesempatan, aku ingin mencintai sesederhana yang aku mampu.

(Mey)

[by @meyDM]

2

Aku Butuh Tinta Saat Tersesat

Dear Indra,

Aku menulis sesuatu. Bukan untukmu, memang. Tulisan ini tidak sedang kutujukan untuk suatu sosok tertentu. Bukan karena kau tak penting, sama sekali bukan karena itu. Hanya, seorang teman sering berpesan padaku: “Pada dasarnya, manusia tak pernah menulis, melukis, maupun mencipta sesuatu yang ditujukan untuk manusia atau makhluk lainnya. Manusia menulis, melukis, maupun mencipta sesungguhnya untuk mencari dan menemukan tujuannya, muaranya.”

Teruntuk engkau, yang mencintai keheningan
Aku mengerti, engkau mencintai hening sebesar ranting-ranting mencintai dedaunan
Seperti tangis pilu yang terdengar pada malam-malam musim gugur
Tak satu daunpun ingin jatuh, tak satu rantingpun cukup kuat untuk memeluk
Seperti itulah Tuhan melukiskan takdir sepasang kekasih
Tak semua angan bisa menyatu dalam ingin, kadang beberapa angan dicukupkan dalam dingin kenangan

Teruntuk engkau, yang mencintai keheningan
Aku berhenti melangkah di batas terluar hutan batinmu
Sebab aku tak mampu menerka akan jadi apa tubuhku kelak jika terus menapak
Aku ingin menjadi sebatang pohon, tempat bersandarmu
Dengan bebatuan api di sekelilingnya, untukmu menghangatkan diri
Namun, bisa saja aku ditakdirkan sebagai jamur beracun, membuatmu luka dan mati

Teruntuk engkau, yang mencintai keheningan
Aku butuh tinta saat tersesat
Aku akan melukis untuk menemukanmu
Pemandangan indah yang memahat senyum di setiap topengku
Aku ingin melukismu.
Aku akan melukismu.

(Mey)

[Mey] [@meyDM]

5

Tunggu Aku dan Jangan Kunci Pintu

Aku akan pulang, sayang
Saat satu, dua, tiga helai uban mulai bermunculan
Saat sepasang alis beranjak memutih nan menipis
Saat pangkal hidungmu lelah menopang tebalnya kacamata berlensa ganda

Aku akan pulang, sayang
Saat senja terbenam di ujung barat dan di sepasang dada kita
Saat kaki-kaki kecil kita tiba di masa yang dulu kausebut menua
Saat ibu jarimu gemetar, pun punggungmu meronta setelah membungkuk terlalu lama

Aku akan pulang, sayang
Dengan sebuket lili putih dan tiga ikat ilalang
Lili putih favoritmu dan ilalang penghalau mimpi burukmu
Aku akan pulang dengan sekeranjang tenang untuk kautanam dalam rindangnya rindumu.

Namun hari ini aku harus pergi
Bukan meninggalkanmu sendiri
Melainkan biar kau haru
Dengan cinta yang kaupilih seminggu lalu
Nanti, saat ia yang kaudamba tak lagi menginginkanmu
Aku akan pulang, sayang
Aku pasti pulang, sayang

Sumber gambar: http://bit.ly/UdArIC

[Mey] [@meyDM]

5

Cintaku Lebih Lapang daripada Bentang Selangkang Pelangi

Selepas hujan pagi ini, di antara taman bunga dan kaki-kaki pelangi, semestinya tak perlu lagi memetik nyeri.

Namun kau berbeda, perihal nyeri, tak selalu ada kata semestinya, seperti bahagia yang tak akur dengan kata selamanya.

Lalu di mana pentingnya cinta? Kau kata, pada pagi, sebelum hujan hari. Setidaknya bahagia sempat terasa asli, meski sebatas ilusi, dan hanya sekali.

Mungkin kita benar telah tua. Pelangi menghilang dan senja nyalang. Apa yang bisa kita lakukan? Bertahan.

Bersabarlah sepanjang malam. Sebab esok pasti pagi. Kita berbahagia kembali, sambut kemungkinan hujan dan pelangi.

Tak perlu takut pada buah-buah nyeri. Jika tak kaupetik, mereka tak lebih melukai daripada bayangan kaki-kaki pelangi.

Kau tahu, ini tak semata perihal selangkang pelangi. Pandai-pandailah memilih petikan nyeri, relakan ketakutanmu menepi.

Sayang, cintaku lebih lapang daripada bentang selangkang pelangi, hingga seluruh doamu pun sanggup kuamini.

Sumber gambar: http://bit.ly/Y7ar10

[Mey] [@meyDM]

0

Kisah Bocah Penggila Pelangi

Aku selalu berjalan memutar, berbalik, menuju suatu saat
Menjadi duri terasa ada sekerat nikmat
Hanya saja, kini tak lagi ada daging tertusuk
Usah cemaskan luka menanti busuk

Tahukah kau, Sayang
Aku mencintaimu, serupa bocah menggilai pelangi, memang
Dari jauh, terpampang keindahan
Dari dekat, puing-puing harapan
Dari titik nol, ketiadaan

Sumber gambar: @McXoem

[Mey] [@meyDM]

0

Langit Meng-AMIN-i Rinduku

Aku merindukanmu sekuat amuk awan kelabu sore ini di beranda

Memuntahkan isi perut dan pikirannya ke dalam mulut bumi yang menganga, hingga redam

Ingin pula kumuntahkan isi rongga dada nan coklat berkarat sarat duri ini

Namun, cinta ialah perihal suka duka yang sering tak sejalan dengan laju keinginan

Sumber gambar: http://bit.ly/pYiq6g

[Mey] [@meyDM]

8

Hari ini, Hujan Kembali Pergi | oleh: @tepian_pantai dan Mey DM

21 Oktober 2012

 

Mei, jalan-jalan yang kita lewati detik tadi,

ialah jalan-jalan yang sering aku lewati dengan sendiri,

yang kadang aku bayangkan,

betapa indah bila akan kutempuh dengan satu tujuan.

 

Saban hari, aku hanya berjalan menuju sesuatu,

yang hanya mampu membuat aku menahan senyum,

membenam lebih lama dendam,

memendam lebih banyak diam.

(Semoga, setiap detak yang degup di ujung tapakku,

setia menjelma payung kasat mata,

meneduhkan langkahmu, selalu.)

 

Lalu datanglah cerah, curah hujan yang ceria.

Aku sering berjalan sendiri, menembus hujan,

menuju genangan kenangan.

 

Aku senang sekali berjalan bersama hujan,

aku dan hujan sering bermain mencari kecepatan.

Aku selalu kalah, tetapi

selalu hujan yang akan pergi,

menuju pedih.

(Pedih, sesungguhnya hanyalah tetesan air mata yang membeku,

terlindap debu lalu bersekutu menjelma dinding batu.

Maka, biarlah rindu merupa badai,

biar debu enyah dan pedihmu usai.)

 

Meski setiap ia pergi, aku berdarah bersama senja,

tetapi hujan tak pernah lupa.

Langit tak pernah luput mengenakan selimut.

 

Katanya,

“Ada tujuh warna dalam selimutku.

Langit ialah ranjang tanpa tubuh.

Kau dan orang-orang yang mencintai masa lampau,

ialah tubuh untuk selimutku: pelangi.”

 

Setiap hujan pergi,

setiap aku berdarah dan sendiri,

aku selalu mengenakan selimut.

Hujan tak pernah lupa akan hadiah untuk kemenangan dan kenanganku.

(Hujan tak pernah benar-benar pergi.

Langkahmu tak pernah benar-benar sendiri.

Ia bergelayut di bahu-bahu awan,

menanti diluruhkan biar bersambut pelukan.)

 

Bulan-bulan berlalu seperti deru,

hingga hujan meninggalkan dan menanggalkan aku.

Suatu hari, setelah sekian jalan aku mencari,

hujan tak kutemui.

Aku menangis menjadi-jadi.

 

Aku bertanya kepada senja.

Katanya,

“Ia kembali pada tangan-tangan dan tanah para petani.”

Hingga aku tiba di suatu siang,

ketika aku mengenang kenangannya.

Aku melihat seorang gadis,

seluruh tubuhnya seperti habis dibasuh gerimis.

 

Aku merasa pernah melihatnya,

aku merasa pernah menyentuh sesuatu dari dirinya,

aku merasa pernah bermain-main dengan dirinya.

 

Tetapi, setelah sekian aku pikirkan,

ia tiba-tiba tak ada,

dan tiba-tiba tiba air mata.

(Lihatlah ke dalam cermin,

di dasar hatimu yang beranjak dingin,

di sana air mata berbahasa melalui cahaya,

mengucap rindu tanpa kata-kata,

menyelipkan keberadaan di balik perihal yang kausangka tiada.)

 

Hari ini,

hanya ada awan,

dengan warna yang amat merindukan pelukan.

 

Hari ini,

hanya ada kata-kata yang hujan,

meluruh dalam seluruh ruh dan senyuman.

 

Hari ini,

hanya ada aku,

dan sebuah buku,

yang seluruh mata, kata, dan hatimu pernah membacanya.

(Hari itu,

ada sebagian diriku dilekap rindu,

dan sebagian tersisa masih tertinggal di sudut matamu.

Maka hari ini,

aku akan kembali,

menarikmu dari ambang sunyi.)

 

Aku mulai berjalan dari halaman awal.

Aku mulai membaca.

Mata, kata, dan hatimu mulai membaca.

 

Aku memulai segalanya setelah usai.

Hari ini,

hujan menjadi mata, kata, dan hatiku,

di antara mata kata dan hatimu.

Aku akan mulai membaca.

(Jangan lelah,

sebab aku tak ingin pemandangan indah ini selesai.

Jangan lelah,

sebab aku akan selalu kembali meski yang tersisa dalam sunyimu hanyalah kepingan badai.

Jangan lelah.)

 

(Pemandangan indah ini hadiah dari @tepian_pantai sebagai teman dalam perjalanan pulang. Terima kasih. (: )

Puisi ini diikutsertakan dalam Giveaway Semua Tentang Puisi

0

Luka Parut pada Pipinya Bercerita

Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan “My Letter to Juliet”, dapat dibaca di sini.

*

Untuk ke sekian kalinya, cangkir itu kaupecahkan, bahkan sebelum kepul hangatnya tandas kautelan. Sisa kopi panas yang kuseduh sepenuh hati itu membarakan meja kayu kita, setelah semalaman aku giat membersihkannya.

Apa (lagi) salahku hari ini? Kauambil sekeping pecahan cangkirnya, lalu kausayatkan ke pipi kiriku. Ajaib sekali, aku tak lagi merasa ngilu. Mungkin saraf perasaku sudah habis kaulukai, atau tak ada daging tersisa lagi, mungkin yang baru saja kausayat tak lain ialah tulang pipi. Berikutnya, yang kutahu, kau sudah pergi. Sementara aku, terduduk berurai badai, sendiri.

Apa (lagi) salahku hari ini? Berkali-kali kupandang layar ponsel pintar ini, kata atau kalimat apa yang sebaiknya kukirimkan padamu. Aku menyerah. Mungkin yang kausayat tadi bukan hanya tulang pipiku, isi tengkorakku pun turut tercabik, entah. Imajinasiku terhenti pada susunan 5 kata dan 3 tanda baca berikut ini: “Apa (lagi) salahku hari ini?” Sudah kukirimkan dan seperti biasa, aku gelisah menanti jawabanmu.

“You just don’t understand. I’ll end this chat. Give me more time, ok?” Ajaib sekali (lagi), jawabanmu begitu panjang untuk pertanyaanku yang tak lebih dari susunan 5 kata dan 3 tanda baca. Bukan hanya jawabanmu, kali ini, perih yang kausisakan pun lebih panjang dari biasanya.

“You just don’t understand.” Ya, aku memang tak mengerti. Apa yang bisa kumengerti, jika tak satu bebanpun kaubagi. Dan kau (selalu) menyalahkanku karena tak mengerti. Andai sedikit saja kau (ingin) tahu seberapa besar beban yang kusembunyikan di balik bahu mungil ini, bahkan seorang kau yang begitu agung boleh jadi tak kuasa lagi tersenyum, seperti yang biasa kulakukan setiap kau mulai lelah dan menebar amarah. Ya, tak kukira, seorang kau yang (kupikir) begitu agung tak jua mampu membendung duka, menebar amarah semena-mena.

“I’ll end this chat.” Wow! Less than a month ago, you said to me, “I can easily remember what you’ve said. I never end our chat, baby.” Ternyata, sudah sebegini jauh perubahanmu. Tiba waktuku membeli kacamata baru, perputaran semesta sebegini banyak luput dari pengamatanku. Why are we doing this, honey? Let’s just separate, if both of us are too tired to move.

“Give me more time, ok?” Perlukah kalimat ini kauucap berulang-ulang, seolah aku ini wanita yang sebegitunya kurang pengertian? Kalau aku tak memberimu waktu, aku tak lagi ada di rumah ini, menyeduhkan kopi setiap malam, untukmu. Sayang, aku tak bisa memberimu selamanya.

Pip pip pip…

One new message received

From : -Gio-

“How are you?”

“Aku terlalu lama berenang, Gio. Tepian tak kunjung terlihat. Kakiku kram. Aku hampir tenggelam. Save me, please…”

Pip pip pip…

Message has been sent to -Gio-
*

BERSAMBUNG

0

Jika Aku Berbalik, Membiarkanmu Hanya Menatap Punggungku, Masihkah Pelukan itu Untukku?

Setiap kali menatapmu, menyandarkan sepasang lengan di bahumu, selalu ada beribu pelukan kaubagi untukku.

Kini
Saat aku berbalik, menyisakan punggung untuk tatapmu
Masihkah sepasang lenganmu mendekap luka-lukaku?
Masihkah tertakar dalamnya genang air mataku?

(picture taken from angnikka.blogspot.com)

[Mey] [@meydianmey]

0

Andai Ibuku Seorang Penyair, Kata-Kata ini tak Melulu Tersangkut di Ujung Bibir

Berbulir-bulir air mata dan keping demi keping kesedihan, pernah kukumpulkan lalu kutabung dalam akuarium kaca raksasa
Belasan tahun ini, biar yang kautatap cukup tawaku saja, dan yang kudekap biar sekadar lara, pun bayang punggungmu yang senantiasa mengundang luka

Tempias tengkukmu di bantalku
Kepul hangat teh hitam favoritmu
Aroma hangus tembakau dan semilir dengkurmu nan sengau
Segala kenang terekam dalam pita-pita memori
Diputar dan ditayangkan setiap hari
Dalam layar maya yang terbentang di penjuru tatapku
Segala kenang yang tak benar-benar terlihat, namun terasa ada
Berlainan denganmu, benar-benar terlihat, namun selalu terasa tiada

Ya,
Andai ibuku seorang penyair, kata-kata ini tak melulu tersangkut di ujung bibir

Andai ibuku seorang penulis, surga boleh jadi mendekat setapak demi setapak seiring deras tangis

[Mey] [@meydianmey]

0

Karenamu, Kubunuh Separuh Diriku

Aku bertengkar dengan separuh diriku
Memperbincangkanmu
“Sekadar mimpi”, ia menyebutmu
“Lalu, bukankah kita tengah sepakat?” tanyaku
“Lelaki itu serupa mimpi, bagiku.”

Separuh diriku membencimu
“Sekadar mimpi”, berulang kali ia menghakimimu
Lelaki yang bermain api
Mendekati gadis yang setengah tuli
Gadis yang sulit mendengar pekik nurani

Separuh diriku, aku membencinya
Kuraih setengah tengkuknya, kupatahkan dalam satu hela
Separuh diriku, terkapar sempurna
Semesta malu-malu memalingkan rupa
Membisikkan gelar baruku, “Wanita yang Membunuh Separuh Dirinya”

Karenamu, aku memilih bisu
Karenamu, aku membunuh separuh diriku
Biar setengah lidah ini tak lagi menjeritkan luka di telingamu
Datanglah padaku
Genapkan sebagianku dengan separuh dirimu

[Mey] [@meydianmey]

0

Darimu, Tuhan Meminta SeparuhNya Kembali

Di sisa malam yang tinggal sepenggalah
Seorang perawan mengaduh, setengah
Separuh dirinya terpagut usia
Separuh dirinya menua lebih cepat dari yang mampu diterka

Malam itu, kenyerian menggelitik perutnya
Kengerian menarik-narik baju dalamnya
Mereka, birahi yang memohon disentuh
Hilang arah di penjuru tubuh, serupa kapal putus sauh

“Inikah yang kaujeritkan, kekasih?”
“Inikah yang kausebut betapa malam itu teramat pedih?”
Wanita itu terbahak, sepasang matanya mendidih
Tak jelas apakah ia menangis, atau merintikkan bebuih putih

“Beri maaf, Tuhan, beri maaf hambaMu nan laknat.”
“Teramat penuh separuh lain dalam sebagian diriku.”
“Separuh rusuk kekasihku, separuh tapak kaki ibu.”
Tampak separuh-separuh itu berlomba mengecup tengkuknya, hingga jatuh penat

Mungkin ini sebentuk hukuman, bagi perawan yang kerap berlagak lupa ingatan
Lupa dengan apa, untuk apa ia didewasakan
Kini, saat sebagian dirinya penuh terisi
Tuhan meminta separuhNya kembali

[Mey] [@meydianmey]

0

Separuh Wajahmu Selalu Menemukanku

Aku mengenang separuh wajahmu dalam ingatan

Bersama tempias pendar lampu yang kaucuri di setiap tikungan

Alangkah remang jelmaan surga paling sederhana, katamu

Di dalamnya, jemari kita riuh beradu

 

Memandang separuh wajahmu selalu membangkitkan bebait janggal

Menunggu ditumpahkan selepas air mata ini tanggal

Dalam layar putih, kau termangu

Kadang memandangku, lain waktu memandang kenanganku

 

Separuh wajahmu beradu dengan asap dan tudung tebal

Menyisa harum kenang penghangat bantal

Pantas saja, tidurku tak nyenyak

Tersengat bau tengkukmu, lelapku retak

 

Separuh wajahmu memanjang di kaki senja

Mungkin matahari bosan melukis bayang-bayang kita

Ia memilih benam, menuju remang

Tanpa tahu, di dalamnya tersembunyi surga kita yang hilang

 

Separuh wajahmu tampak kerap mengakrabi keremangan

Mungkin, di sanalah kau menemukanku, kau mengkhianati rembulan

Separuh wajahmu selalu meninggalkanku

Lain waktu, ia mengejar waktu, lagi-lagi menemukanku

0

Tertawa(lah)(kah) Kau Melihatku Sekarat

Bumi, belulang, berhala, dan segala yang mengabu dikecup waktu,
tak mampu lelapkan hari akhir,
meski hanya sejenak,
sekejap lebih lama dari yang mampu terpikir,
meski cukup sekadarnya detak.

Apa yang muncul dalam benakmu,
sepanjang satu-dua isapan cerutu,
sesaat jelang putus alir nadiku?
Tawakah?
Membahana sarat luka?
Air matakah?
Membadai gemuruh cita?

Sayang, lengkung bibirmu sungguh datar,
terpasung lesung pipi beku terkapar,
tak goyah meski bahuku gemetar.
Sayang, beri aku bingkisan,
berhias pita-pita senyuman.
Sebab mimikmu tak teramalkan,
menunggu diterjemahkan,
dalam bahasa kecupan.

[Mey] [@meydianmey]

0

Potongan Tubuhmu dalam Kamar Rahasiaku

Kusingkirkan di balik kelambu,
lengkung bibirmu yang mengundang pilu,
biar tak melulu rindu.

Kuselipkan di bawah bantal,
sekantung wewangi rambutmu yang ikal,
biar hadirmu niscaya kekal.

Kulekatkan pada langit-langit,
kekar bahumu yang menyamai bulan sabit,
biar fajar gemetar dan enggan terbit.

Kugantungkan dalam lemari kayu,
biar kecupmu menyanding kamper biru,
hangatkan helai-helai pendekap tengkukku.

Kurapatkan di bawah ranjang,
isi rongga dadamu yang telanjang,
temani lelapku selepas jingga menghilang.

[Mey] [@meydianmey]

0

Aku Benci Kau Mendua

Aku benci kau mendua,
menepikan rindu yang riuh bahana.

Aku benci kau mendua,
mengijinkan luka menukar lengkung bibir cita.

Aku benci kau mendua.
Kau tiada kala mala gelayut mata.

Aku benci kau mendua,
sebagianmu terasa tak nyata.

Aku benci kau mendua,
ingkar pada muara tautan lengan kita.

Aku benci kau mendua,
mendusta yang kausebut dengan selalu cinta.

Aku benci kau mendua.
Aku begini nestapa, kau begitu tiada.

Aku benci kau mendua.
Hatimu memuat senyum yang gagal kueja.

Aku benci kau mendua.
Segala kenang air mata yang enggan kuraba.

Aku benci kau mendua.
Lebih baik kita lenyap saja,
lalu bersama dalam tiada.

Aku benci kau menduakannya,
dengan merayakan kita.

[Mey] [@meydianmey]

0

Buah Karya Tuhan

Mengenalmu,

sebagianku beranjak kekal,

mengabai ajal,

buah karya Tuhan paling bengal.

Biar aku memelukmu,

sekali waktu,

sebelum pelangi seluruhnya biru.

 

Haruskah kenangan menjelma angin begitu dingin?

Buah karya Tuhan yang tak tersentuh ingin.

Beribu gagasan rumit,

menepikan rindu yang tak sedikit.

Kenang menyisa air mata,

tak terjamah tatap-tatap fana.

 

Buah karya Tuhan penepi pilu.

Sungging lengkung bibirmu,

(kembali) utuhkan aku.