5

Tunggu Aku dan Jangan Kunci Pintu

Aku akan pulang, sayang
Saat satu, dua, tiga helai uban mulai bermunculan
Saat sepasang alis beranjak memutih nan menipis
Saat pangkal hidungmu lelah menopang tebalnya kacamata berlensa ganda

Aku akan pulang, sayang
Saat senja terbenam di ujung barat dan di sepasang dada kita
Saat kaki-kaki kecil kita tiba di masa yang dulu kausebut menua
Saat ibu jarimu gemetar, pun punggungmu meronta setelah membungkuk terlalu lama

Aku akan pulang, sayang
Dengan sebuket lili putih dan tiga ikat ilalang
Lili putih favoritmu dan ilalang penghalau mimpi burukmu
Aku akan pulang dengan sekeranjang tenang untuk kautanam dalam rindangnya rindumu.

Namun hari ini aku harus pergi
Bukan meninggalkanmu sendiri
Melainkan biar kau haru
Dengan cinta yang kaupilih seminggu lalu
Nanti, saat ia yang kaudamba tak lagi menginginkanmu
Aku akan pulang, sayang
Aku pasti pulang, sayang

Sumber gambar: http://bit.ly/UdArIC

[Mey] [@meyDM]

8

Hari ini, Hujan Kembali Pergi | oleh: @tepian_pantai dan Mey DM

21 Oktober 2012

 

Mei, jalan-jalan yang kita lewati detik tadi,

ialah jalan-jalan yang sering aku lewati dengan sendiri,

yang kadang aku bayangkan,

betapa indah bila akan kutempuh dengan satu tujuan.

 

Saban hari, aku hanya berjalan menuju sesuatu,

yang hanya mampu membuat aku menahan senyum,

membenam lebih lama dendam,

memendam lebih banyak diam.

(Semoga, setiap detak yang degup di ujung tapakku,

setia menjelma payung kasat mata,

meneduhkan langkahmu, selalu.)

 

Lalu datanglah cerah, curah hujan yang ceria.

Aku sering berjalan sendiri, menembus hujan,

menuju genangan kenangan.

 

Aku senang sekali berjalan bersama hujan,

aku dan hujan sering bermain mencari kecepatan.

Aku selalu kalah, tetapi

selalu hujan yang akan pergi,

menuju pedih.

(Pedih, sesungguhnya hanyalah tetesan air mata yang membeku,

terlindap debu lalu bersekutu menjelma dinding batu.

Maka, biarlah rindu merupa badai,

biar debu enyah dan pedihmu usai.)

 

Meski setiap ia pergi, aku berdarah bersama senja,

tetapi hujan tak pernah lupa.

Langit tak pernah luput mengenakan selimut.

 

Katanya,

“Ada tujuh warna dalam selimutku.

Langit ialah ranjang tanpa tubuh.

Kau dan orang-orang yang mencintai masa lampau,

ialah tubuh untuk selimutku: pelangi.”

 

Setiap hujan pergi,

setiap aku berdarah dan sendiri,

aku selalu mengenakan selimut.

Hujan tak pernah lupa akan hadiah untuk kemenangan dan kenanganku.

(Hujan tak pernah benar-benar pergi.

Langkahmu tak pernah benar-benar sendiri.

Ia bergelayut di bahu-bahu awan,

menanti diluruhkan biar bersambut pelukan.)

 

Bulan-bulan berlalu seperti deru,

hingga hujan meninggalkan dan menanggalkan aku.

Suatu hari, setelah sekian jalan aku mencari,

hujan tak kutemui.

Aku menangis menjadi-jadi.

 

Aku bertanya kepada senja.

Katanya,

“Ia kembali pada tangan-tangan dan tanah para petani.”

Hingga aku tiba di suatu siang,

ketika aku mengenang kenangannya.

Aku melihat seorang gadis,

seluruh tubuhnya seperti habis dibasuh gerimis.

 

Aku merasa pernah melihatnya,

aku merasa pernah menyentuh sesuatu dari dirinya,

aku merasa pernah bermain-main dengan dirinya.

 

Tetapi, setelah sekian aku pikirkan,

ia tiba-tiba tak ada,

dan tiba-tiba tiba air mata.

(Lihatlah ke dalam cermin,

di dasar hatimu yang beranjak dingin,

di sana air mata berbahasa melalui cahaya,

mengucap rindu tanpa kata-kata,

menyelipkan keberadaan di balik perihal yang kausangka tiada.)

 

Hari ini,

hanya ada awan,

dengan warna yang amat merindukan pelukan.

 

Hari ini,

hanya ada kata-kata yang hujan,

meluruh dalam seluruh ruh dan senyuman.

 

Hari ini,

hanya ada aku,

dan sebuah buku,

yang seluruh mata, kata, dan hatimu pernah membacanya.

(Hari itu,

ada sebagian diriku dilekap rindu,

dan sebagian tersisa masih tertinggal di sudut matamu.

Maka hari ini,

aku akan kembali,

menarikmu dari ambang sunyi.)

 

Aku mulai berjalan dari halaman awal.

Aku mulai membaca.

Mata, kata, dan hatimu mulai membaca.

 

Aku memulai segalanya setelah usai.

Hari ini,

hujan menjadi mata, kata, dan hatiku,

di antara mata kata dan hatimu.

Aku akan mulai membaca.

(Jangan lelah,

sebab aku tak ingin pemandangan indah ini selesai.

Jangan lelah,

sebab aku akan selalu kembali meski yang tersisa dalam sunyimu hanyalah kepingan badai.

Jangan lelah.)

 

(Pemandangan indah ini hadiah dari @tepian_pantai sebagai teman dalam perjalanan pulang. Terima kasih. (: )

Puisi ini diikutsertakan dalam Giveaway Semua Tentang Puisi

0

Aal Izz Well

This is my unusual holiday.

Ya, liburan yang tak seperti biasanya. Biasanya aku akan pulang kampung, ke kota metropolitan tempat ayah berdomisili 5 tahun terakhir ini. Tinggal di rumah yang nyaman, dengan makanan lezat dan suasana hangat.

Menghabiskan waktu dengan berbelanja, bermain dengan kerabat jauh di sana. Semuanya berbau hedonisme. Anggap saja hiburan sejenak, pelarian, pelepasan dari tekanan selama satu semester belakangan.

Ya, rutinitas yang membosankan, kata seorang teman.

Kali ini ada sedikit perubahan, liburan yang biasa menjadi tak biasa. Tak ada pulang kampung, tak ada suasana hangat, tak ada hedonisme. Aku sendiri. Entah kesepian atau tidak, aku sendiri.

Bangun, mandi, bercengkerama dengan notebook, makan, mandi, bercengkerama dengan notebook (kembali), mungkin makan, lalu tidur. Sesekali disela sedikit obrolan formalitas di depan televisi ruang keluarga. Perkara keluar rumah, bukannya dilarang. Hanya, menurut kebiasaan, alangkah baiknya tidak dilakukan kecuali ada keperluan mendesak. Keadaan seperti ini, hmm, juga tak bisa disebut tidak membahagiakan, karena akupun kadang cukup betah mengasingkan diri.

Ya, sekali lagi rutinitas yang membosankan, kata seorang teman lainnya.

Kali ini, aku ingin berbagi cerita. Ada hal menarik yang kualami. Dimulai saat kelelahan dan kurang tidur akibat menonton pertandingan final Piala Dunia 2010, 2 hari berikutnya aku terbangun dengan mata berkunang-kunang. Mungkin tekanan darah yang drop, atau kadar gula yang drop, entahlah itu tak penting disebutkan dalam cerita. Berlanjut sarapan dengan makanan yang mungkin kurang higienis sehingga hari naas itu ditutup dengan diare, mual, dan demam.

My mom told me to take some medicine and go to sleep, but I can’t. I had slept all day long the day before and this day I wanted to do something useful, at least for myself. So I decided to turn on my notebook, downloaded some movies and watched some old movies while waiting for the finished movie downloads.

I chose a Korean movie “A Moment to Remember” and a Hindi movie “3 Idiots”. I kept those movies on my hard disk but I never had a spare time to watch it. Siang itu dimulai dengan menonton film dan berakhir dengan air mata (what a drama queen).

A Moment to Remember

(A Moment to Remember)

3 Idiots

(3 Idiots)

Ya, air mata.

“Berlebihan!” Itukah isi pikiranmu? Tolong segera tepis pikiran negatif tersebut dari otakmu, karena aku tak sedang menangis karena terbawa suasana film. Jika kaukira sisi sensitifku sedang tersentuh karena menonton film romantis, tolong segera tampar pipimu, agar pikiran menyedihkan tersebut lenyap.

Aku menangis karena tersadar seberapa jauh sudah kaki ini melenceng dari jalan impian yang kurangkai dengan susah payah. Ibarat Rancho yang selalu berkata “All Izz Well” yang makin lama makin tertekan. Aku bukan Rancho maupun orang yang terinspirasi oleh Rancho. Aku hanya sedang tertekan, sedang berusaha lari, menghibur diri dengan tawa, melakukan hal konyol, dan berkata “Aal Izz Well”.

Rancho (3 Idiots), played by Aamir Khan

(Rancho, dari 3 Idiots, diperankan oleh Aamir Khan)

Yes, I’m not well, definitely not well. Kerangka yang dibangun susah payah dengan “all is well” berakhir dengan “unwell”. Why? I am not well, because I’m too scared and not confident.

Jika kita berjalan mengikuti arah yang kita yakini, dan kita berusaha seoptimal mungkin (constructively), meskipun keadaan saat itu terlihat kurang kondusif dan realistis, percayalah bahwa kesuksesan pasti akan mengikuti kita, dan ya, kesuksesan benar mengikuti kita.

Setelah kutentukan arah yang kuyakini, justru di titik itulah kepercayaanku sedikit demi sedikit terkikis oleh realita. Tanpa sadar, kekhawatiran dan ke-tidak-percaya-diri-an mengarahkan realita untuk menekanku (padahal seharusnya realita menjadi bahan pembelajaran).

Itulah yang terjadi selama ini. Realita bahwa hidup tidak cukup hanya dilalui dengan kesenangan hari ini membuatku tertekan. Raut muka bahagia orangtua pun membuatku tertekan. Memang benar, materi akan membuat kita bahagia, tetapi kebahagiaan tidak terbatas diukur dengan materi. Toh orangtuaku tidak akan bahagia jika mengetahui putrinya memberi mereka kemewahan dengan diliputi tekanan. I do realize it but don’t know why I keep living my life that way.

Ada satu hal lagi. Entah sejak kapan aku berubah jadi penyombong, tak lagi bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Terlepas dari masalah tekanan, perubahan ini datang dari dalam diri. Greediness, ketamakan. Juga kelicikan. Entah sudah seberapa hitam isi hati ini.

Entah berapa lama waktu yang masih tersisa untuk meminta maaf, bersyukur, dan berterima kasih, akan kuusahakan seoptimal mungkin. I love myself. I love all the things I have, all the things I’ve done. I love all the people around me. And I thank God who has arranged this kind of life for me.

Ini pembelajaran baru bagiku, sekaligus penyadaran. Tentang hidup, tentang pola pikir, tentang persahabatan, tentang kebahagiaan. Aal Izz Well.

Sumber gambar:

http://yesasia.com

http://parapenonton.blogspot.com

http://renalapaisano.blogspot.com