3

Benci Dilukai? Jangan Melukai!

Ini salah satu kutipan favorit saya dari serial animasi Naruto Shippuuden.

When you’re in pain, you tend to hurt others.

After you hurt others, you’ll be surrounded by guilty feelings.

In the end, it’s time to realize that because of the pain, you should have learned to treat other people more kindly.

~Jiraiya Sensei

Benci dilukai? Jangan melukai!

Sumber gambar: http://bit.ly/XROcLm

5

#13HariNgeblogFF ~ Cuti Sakit Hati

Tue, 08/01/2013, 17.30
To: Mama
“Maaf, Ma. Seleksi beasiswa ke Canberra kemarin… gagal lagi. Aku mau cuti jadi anak baik Mama dan Papa. Tolong aku, Ma, jangan bilang Papa. Aku benci dikejar-kejar bodyguard. I love you, Kirana pasti pulang (:”

***

“TANGKAP DIA!”

Terdengar lelaki berteriak dan menunjuk-nunjuk ke arah Kirana. Ia panik, lalu bergegas menaiki angkutan umum yang kebetulan berhenti di pertigaan Sumbersari. Ternyata lelaki tadi mengejar seorang anak kecil berpakaian kumal, mungkin pencopet, atau entah siapa, sudah tak penting lagi. Angkutan umum yang ditumpangi Kirana bergerak perlahan menjauhi pertigaan Sumbersari.

“Duh, untung bukan bodyguard Papa. Belum juga seminggu kabur, masa iya sudah tertangkap. Harus turun di mana aku sekarang? Ah, di sini sajalah,” batin Kirana. “Kiri, Pak! Terima kasih.”

“Sudah lama ngemall, hihi…” ujar Kirana dalam hati sambil tersenyum simpul.

Kirana tampak bahagia, bahagia sekali. Ia tak perlu menghabiskan harinya dengan berbagai kursus dan tumpukan tugas sekolah. Hari ini, semua kursus dan tugas itu berganti menonton film dan cuci mata di mall.

“Wah, sudah malam ternyata. Harus buru-buru ke supermarket nih sebelum tutup. Di hotel kan makanan mahal-mahal…” gumam Kirana, berjalan ke arah supermarket. Langkahnya terhenti saat terdengar tangisan wanita dari televisi yang dipajang di etalase sebuah toko elektronik.

“Hei, itu kan Mama…” gumam Kirana sambil mendekati etalase. Tiba-tiba…

“MAMAAA… PUNGGUNG KAKAK ITU BOLONG!” Seorang anak kecil menjerit sambil menunjuk-nunjuk Kirana, lalu berlari ke arah ibunya.

Kirana kebingungan. Beberapa pengunjung mall yang berdiri di dekat Kirana pun tak kalah terkejutnya. Perlahan ia berbalik memunggungi etalase sambil meraba punggungnya. Tubuh Kirana mulai limbung saat terlihat darah segar membekas di telapak tangannya.
***

“(terdengar samar-samar suara dari televisi) …… telah ditemukan mayat perempuan tanpa identitas dalam kamar hotel berbintang di kawasan…… diduga mayat perempuan tersebut adalah anak bungsu Bapak Walikota yang dilaporkan menghilang sejak tiga hari lalu……

[Mey] [@meyDM]

5

Cintaku Lebih Lapang daripada Bentang Selangkang Pelangi

Selepas hujan pagi ini, di antara taman bunga dan kaki-kaki pelangi, semestinya tak perlu lagi memetik nyeri.

Namun kau berbeda, perihal nyeri, tak selalu ada kata semestinya, seperti bahagia yang tak akur dengan kata selamanya.

Lalu di mana pentingnya cinta? Kau kata, pada pagi, sebelum hujan hari. Setidaknya bahagia sempat terasa asli, meski sebatas ilusi, dan hanya sekali.

Mungkin kita benar telah tua. Pelangi menghilang dan senja nyalang. Apa yang bisa kita lakukan? Bertahan.

Bersabarlah sepanjang malam. Sebab esok pasti pagi. Kita berbahagia kembali, sambut kemungkinan hujan dan pelangi.

Tak perlu takut pada buah-buah nyeri. Jika tak kaupetik, mereka tak lebih melukai daripada bayangan kaki-kaki pelangi.

Kau tahu, ini tak semata perihal selangkang pelangi. Pandai-pandailah memilih petikan nyeri, relakan ketakutanmu menepi.

Sayang, cintaku lebih lapang daripada bentang selangkang pelangi, hingga seluruh doamu pun sanggup kuamini.

Sumber gambar: http://bit.ly/Y7ar10

[Mey] [@meyDM]

0

Luka Parut pada Pipinya Bercerita

Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan “My Letter to Juliet”, dapat dibaca di sini.

*

Untuk ke sekian kalinya, cangkir itu kaupecahkan, bahkan sebelum kepul hangatnya tandas kautelan. Sisa kopi panas yang kuseduh sepenuh hati itu membarakan meja kayu kita, setelah semalaman aku giat membersihkannya.

Apa (lagi) salahku hari ini? Kauambil sekeping pecahan cangkirnya, lalu kausayatkan ke pipi kiriku. Ajaib sekali, aku tak lagi merasa ngilu. Mungkin saraf perasaku sudah habis kaulukai, atau tak ada daging tersisa lagi, mungkin yang baru saja kausayat tak lain ialah tulang pipi. Berikutnya, yang kutahu, kau sudah pergi. Sementara aku, terduduk berurai badai, sendiri.

Apa (lagi) salahku hari ini? Berkali-kali kupandang layar ponsel pintar ini, kata atau kalimat apa yang sebaiknya kukirimkan padamu. Aku menyerah. Mungkin yang kausayat tadi bukan hanya tulang pipiku, isi tengkorakku pun turut tercabik, entah. Imajinasiku terhenti pada susunan 5 kata dan 3 tanda baca berikut ini: “Apa (lagi) salahku hari ini?” Sudah kukirimkan dan seperti biasa, aku gelisah menanti jawabanmu.

“You just don’t understand. I’ll end this chat. Give me more time, ok?” Ajaib sekali (lagi), jawabanmu begitu panjang untuk pertanyaanku yang tak lebih dari susunan 5 kata dan 3 tanda baca. Bukan hanya jawabanmu, kali ini, perih yang kausisakan pun lebih panjang dari biasanya.

“You just don’t understand.” Ya, aku memang tak mengerti. Apa yang bisa kumengerti, jika tak satu bebanpun kaubagi. Dan kau (selalu) menyalahkanku karena tak mengerti. Andai sedikit saja kau (ingin) tahu seberapa besar beban yang kusembunyikan di balik bahu mungil ini, bahkan seorang kau yang begitu agung boleh jadi tak kuasa lagi tersenyum, seperti yang biasa kulakukan setiap kau mulai lelah dan menebar amarah. Ya, tak kukira, seorang kau yang (kupikir) begitu agung tak jua mampu membendung duka, menebar amarah semena-mena.

“I’ll end this chat.” Wow! Less than a month ago, you said to me, “I can easily remember what you’ve said. I never end our chat, baby.” Ternyata, sudah sebegini jauh perubahanmu. Tiba waktuku membeli kacamata baru, perputaran semesta sebegini banyak luput dari pengamatanku. Why are we doing this, honey? Let’s just separate, if both of us are too tired to move.

“Give me more time, ok?” Perlukah kalimat ini kauucap berulang-ulang, seolah aku ini wanita yang sebegitunya kurang pengertian? Kalau aku tak memberimu waktu, aku tak lagi ada di rumah ini, menyeduhkan kopi setiap malam, untukmu. Sayang, aku tak bisa memberimu selamanya.

Pip pip pip…

One new message received

From : -Gio-

“How are you?”

“Aku terlalu lama berenang, Gio. Tepian tak kunjung terlihat. Kakiku kram. Aku hampir tenggelam. Save me, please…”

Pip pip pip…

Message has been sent to -Gio-
*

BERSAMBUNG

0

Darimu, Tuhan Meminta SeparuhNya Kembali

Di sisa malam yang tinggal sepenggalah
Seorang perawan mengaduh, setengah
Separuh dirinya terpagut usia
Separuh dirinya menua lebih cepat dari yang mampu diterka

Malam itu, kenyerian menggelitik perutnya
Kengerian menarik-narik baju dalamnya
Mereka, birahi yang memohon disentuh
Hilang arah di penjuru tubuh, serupa kapal putus sauh

“Inikah yang kaujeritkan, kekasih?”
“Inikah yang kausebut betapa malam itu teramat pedih?”
Wanita itu terbahak, sepasang matanya mendidih
Tak jelas apakah ia menangis, atau merintikkan bebuih putih

“Beri maaf, Tuhan, beri maaf hambaMu nan laknat.”
“Teramat penuh separuh lain dalam sebagian diriku.”
“Separuh rusuk kekasihku, separuh tapak kaki ibu.”
Tampak separuh-separuh itu berlomba mengecup tengkuknya, hingga jatuh penat

Mungkin ini sebentuk hukuman, bagi perawan yang kerap berlagak lupa ingatan
Lupa dengan apa, untuk apa ia didewasakan
Kini, saat sebagian dirinya penuh terisi
Tuhan meminta separuhNya kembali

[Mey] [@meydianmey]