2

Alarm Makan

Dear Indra,

Aku suka Spiderman, sebesar aku suka padamu. Haha. Aku hanya bergidik melihat simbol laba-laba di kostumnya.

Soal bahu, kalau sengaja bersandar ya tidak apa-apa. Hanya saja, kalau di keramaian, seringkali aku harus menggeser bahu untuk memberi jalan pada orang-orang yang bergerak berlawanan arah atau memberi ruang untuk orang-orang asing yang berdesakan di sampingku. Aku tak terlalu suka, entah mengapa. Merepotkan ya?

Kamu penasaran soal tempat tinggalku? Aku tinggal dengan Ibu, semestinya begitu. Realitanya, aku sering sendiri. Panjang ceritanya, juga tidak baik diceritakan dalam surat. Kalau kamu sungguh ingin tahu, lebih baik kita ngobrol di tempat lain saja. Bukannya kamu juga tinggal sendiri? Merantau sendiri?

Jadi bagaimana hasil presentasimu kemarin? Cari kekasih sana, supaya ada alarm makan, dan lain-lain :p

Jangan lupa janjimu, ya!

(Mey)

N.B. Ini bulan penuh cinta, ya. Semoga cinta kita jatuh di tempat yang tepat (:

[by @meyDM]

Iklan
2

Eight Legged Freaks!

Dear Indra,

Ketakutanmu unik sekali. Haha. Tapi, jangan pasang musik terlalu keras saat badai, nanti kau sulit mendengar (kalau ada) hal buruk terjadi di dekatmu.

Aku juga punya phobia unik. Laba-laba. Aku takut laba-laba. Laba-laba (super) kecil, besar, di televisi, di buku gambar, bahkan aku bergidik melihat logo di kostum Spiderman. Haha. Aku juga mudah gelisah di tempat ramai, di tempat orang-orang berdiri berdesakan, juga di manapun yang memaksa bahuku menyentuh bahu orang lain saat berjalan. Ini merepotkan, ya? X’)

Turut berduka ya, soal Ibu. Seperti apa beliau? Ah, aku jadi rindu ‘rumah’. Dasar kamu, nakal! Haha.

Jadi, bagaimana harimu? (:

(Mey)

N.B. Sesuai janjiku, kuselipkan foto (:

[by @meyDM]

2

Lolongan Misterius

Dear Indra,

Kau meminta hujan dariku? Baiklah, kuberi satu cerita tentang hujan.

Beberapa jam sebelum kutulis surat ini, hujan angin melanda kotaku, sebagian wilayah juga mengalami hujan es. Bagi sebagian orang, ini memang bukan bencana dahsyat. Tak ada seujung kuku derita korban banjir ibukota. Namun, tetap mengerikan bagiku.

Aku sering tinggal sendiri, sejak SMP, sejak keluargaku pindah dari rumah masa kecil kami. Masa-masa beberapa jam lalu adalah masa-masa paling menakutkan sejak saat itu. Tinggal sendiri belum pernah seseram sore tadi.

Rumah yang sekarang kutempati ini dikelilingi lapangan luas dan lahan kosong. Sungguh habitat yang kondusif untuk merajut angin dan menyulam petir. Haha. Aku tidak bercanda. Rumahku sering diterpa angin kencang. Begitu kencangnya, sampai terdengar lolongan misterius (entah apa pengaruhnya, I’m not good at physics so I can’t explain. Yang pasti, makin kencang angin bertiup, makin kencang pula lolongan itu terdengar) dan pintu kaca di rumah bergetar hebat. Tentang petir, jangan ditanya, kilau kilatnya saja jadi pemandangan sehari-hari saat hujan, apalagi riuh gemuruhnya.

Tadi sore, angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Tiba-tiba saja atap fiberglass di belakang rumah pecah dan terbang entah ke mana. Hujan makin deras dan rumahku mulai kebanjiran. Berikutnya, sudah bisa ditebak, mati listrik. Aku tak berani menyalakan lilin karena angin begitu kencang. Untunglah hujan angin perlahan mereda. Rumahku selamat, meski kotor dan luka-luka. Hehe.

Bagaimana denganmu? Apa cerita masa kecilmu? Masa-masa menakutkan apa yang pernah kaulalui? (:

(Mey)

[by @meyDM]