1

Genap

Dear Indra,

Genap sudah 30 hari, 15 surat kutulis untukmu. Seperti ini rupanya nikmat berbagi. Terima kasih, kamu sudah jadi partner yang terampil mengorek harta karunku.

Terima kasih juga pada kak @heykila (tukang pos kami yang baik hati), bosse @poscinta, dan seluruh pembaca yang pernah meluangkan waktu membaca surat-surat random kami.

Lucu sekali rasanya, kalau bukan karena #merentangpelukan, mungkin kita takkan saling kenal. Berikutnya, kalau bukan karena #duahati, mungkin takkan saling bicara sebanyak ini. Tuhan itu genit, bukan? Haha.

Terima kasih sudah memberi 30 hari dan 15 surat yang menyenangkan. Kau sebut ini akhir? Tuhan lebih tahu bagaimana meletuskan awal dari hal-hal yang dianggap umatNya berakhir.

Sekali lagi, terima kasih banyak, Indra!

(Mey)

N.B. Pada segala hal yang kausebut akhir, aku menyebutnya awal (seperti katamu), jika kau berkenan (:

[by @meyDM]

0

Mencintai dengan (tak) Sederhana

Dear Indra,

Ada hadiah (lagi) untukmu. Sebuah puisi yang mungkin sudah kaukenal dan baca berulang kali.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
Kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
Kepada hujan yang menjadikannya tiada

~SDD

Mungkin aku tak mampu mencintai dengan sederhana. Labirin dalam kepalaku, tak banyak orang yang ma(mp)u menjelajahnya. Di genggamanku, cinta berubah tuba, tak lagi manis dan menyenangkan. Namun, jika diberi kesempatan, aku ingin mencintai sesederhana yang aku mampu.

(Mey)

[by @meyDM]

2

I Do, I Can

Dear Indra,

Maafkan suratku sebelumnya, begitu singkat, teramat padat. Lenganku cedera. Sudah berlangsung 3 hari dan semakin parah. Karena itu aku tak mampu bercerita banyak lewat surat. Mungkin tidak hanya kemarin, tetapi hingga beberapa hari ke depan, suratku tidak akan panjang. Dimaafkan tidak? Hehe.

Jadi, kau sedang jatuh hati rupanya. Seorang teman pernah berkata padaku, hendaknya momen puitik mampu kita temukan pada segala macam suasana. Suka maupun duka, mendapatkan maupun kehilangan, hendaknya mampu kita rayakan semua dengan suka cita. Temukan momen puitikmu saat jatuh hati, jaring ide kreatif di sana.

Kau tahu, Indra, jatuh hati itu bukan pilihan. Kita tak bisa memilih akan jatuh hati pada seseorang tertentu atau pada waktu tertentu. Demikian pula patah hati. Aku tak bisa berjanji tak akan mematahkan hatimu suatu saat nanti. Bukan tak mau berjanji, melainkan tak mampu. Namun untuk perihal yang kautanyakan dalam suratmu kemarin, kujawab “I do, I can”.

Bagaimana?

 

(Mey)

N.B. Sekali lagi, maafkan suratku yang teramat singkat ini.

2

Buka Bungkusnya!

Dear Indra,

Surat ini tak berisi kata-kata manis seperti yang kautulis kemarin. Kadang, kalimat-kalimat indah dicukupkan Tuhan untuk dinikmati saja, atau aku yang tak mampu membalasnya. Entahlah…

Surat ini teramat singkat, sesingkat usia manusia di dunia. Sengaja tak kuperpanjang, agar hari ini kau tak melulu membaca duka.

Surat ini berisi hadiah, 1 lagu pengantar tidur, terbungkus kertas kado warna apapun yang kausuka. Bayangkan saja dalam kepalamu, perlahan bungkusnya kaubuka, lalu nada-nada berlompatan merimbunkan hutan batinmu. Nikmati hadiahku setiap malam sebelum pejam. Semoga mimpimu indah selalu. Semoga pagimu hangat selalu.

(Mey)

N.B. Ini hadiahmu!

2

Alarm Makan

Dear Indra,

Aku suka Spiderman, sebesar aku suka padamu. Haha. Aku hanya bergidik melihat simbol laba-laba di kostumnya.

Soal bahu, kalau sengaja bersandar ya tidak apa-apa. Hanya saja, kalau di keramaian, seringkali aku harus menggeser bahu untuk memberi jalan pada orang-orang yang bergerak berlawanan arah atau memberi ruang untuk orang-orang asing yang berdesakan di sampingku. Aku tak terlalu suka, entah mengapa. Merepotkan ya?

Kamu penasaran soal tempat tinggalku? Aku tinggal dengan Ibu, semestinya begitu. Realitanya, aku sering sendiri. Panjang ceritanya, juga tidak baik diceritakan dalam surat. Kalau kamu sungguh ingin tahu, lebih baik kita ngobrol di tempat lain saja. Bukannya kamu juga tinggal sendiri? Merantau sendiri?

Jadi bagaimana hasil presentasimu kemarin? Cari kekasih sana, supaya ada alarm makan, dan lain-lain :p

Jangan lupa janjimu, ya!

(Mey)

N.B. Ini bulan penuh cinta, ya. Semoga cinta kita jatuh di tempat yang tepat (:

[by @meyDM]

2

Eight Legged Freaks!

Dear Indra,

Ketakutanmu unik sekali. Haha. Tapi, jangan pasang musik terlalu keras saat badai, nanti kau sulit mendengar (kalau ada) hal buruk terjadi di dekatmu.

Aku juga punya phobia unik. Laba-laba. Aku takut laba-laba. Laba-laba (super) kecil, besar, di televisi, di buku gambar, bahkan aku bergidik melihat logo di kostum Spiderman. Haha. Aku juga mudah gelisah di tempat ramai, di tempat orang-orang berdiri berdesakan, juga di manapun yang memaksa bahuku menyentuh bahu orang lain saat berjalan. Ini merepotkan, ya? X’)

Turut berduka ya, soal Ibu. Seperti apa beliau? Ah, aku jadi rindu ‘rumah’. Dasar kamu, nakal! Haha.

Jadi, bagaimana harimu? (:

(Mey)

N.B. Sesuai janjiku, kuselipkan foto (:

[by @meyDM]

2

Lolongan Misterius

Dear Indra,

Kau meminta hujan dariku? Baiklah, kuberi satu cerita tentang hujan.

Beberapa jam sebelum kutulis surat ini, hujan angin melanda kotaku, sebagian wilayah juga mengalami hujan es. Bagi sebagian orang, ini memang bukan bencana dahsyat. Tak ada seujung kuku derita korban banjir ibukota. Namun, tetap mengerikan bagiku.

Aku sering tinggal sendiri, sejak SMP, sejak keluargaku pindah dari rumah masa kecil kami. Masa-masa beberapa jam lalu adalah masa-masa paling menakutkan sejak saat itu. Tinggal sendiri belum pernah seseram sore tadi.

Rumah yang sekarang kutempati ini dikelilingi lapangan luas dan lahan kosong. Sungguh habitat yang kondusif untuk merajut angin dan menyulam petir. Haha. Aku tidak bercanda. Rumahku sering diterpa angin kencang. Begitu kencangnya, sampai terdengar lolongan misterius (entah apa pengaruhnya, I’m not good at physics so I can’t explain. Yang pasti, makin kencang angin bertiup, makin kencang pula lolongan itu terdengar) dan pintu kaca di rumah bergetar hebat. Tentang petir, jangan ditanya, kilau kilatnya saja jadi pemandangan sehari-hari saat hujan, apalagi riuh gemuruhnya.

Tadi sore, angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Tiba-tiba saja atap fiberglass di belakang rumah pecah dan terbang entah ke mana. Hujan makin deras dan rumahku mulai kebanjiran. Berikutnya, sudah bisa ditebak, mati listrik. Aku tak berani menyalakan lilin karena angin begitu kencang. Untunglah hujan angin perlahan mereda. Rumahku selamat, meski kotor dan luka-luka. Hehe.

Bagaimana denganmu? Apa cerita masa kecilmu? Masa-masa menakutkan apa yang pernah kaulalui? (:

(Mey)

[by @meyDM]

5

Sambar Aku!

Dear Indra,

Aku penyuka film / serial drama sekaligus thriller, juga penggemar musik ballad sekaligus rock. Kira-kira seperti malaikat dan iblis dalam 1 tubuh, aku ini kontradiktif. Jadi, aku masih bisa dan dengan sangat senang hati menemanimu menonton film action atau thriller nanti. Haha.

Aku belum pernah mengunjungi tumblr-mu. Penasaran. Apa alamatnya? Sampah bagi penulis sebaik kamu, bisa jadi harta buat orang lain :p

Kemarin aku bilang sudah memikirkan sesuatu untuk kutulis dalam suratku berikutnya, kan? Aku menyiapkan hadiah. Potongan salah satu lagu favoritku, judulnya Thunder dari Boys Like Girls. Aku suka sekali versi akustiknya.

Your voice was the soundtrack of my summer
Do you know you’re unlike any other?
You’ll always be my thunder, and I said

Your eyes are the brightest of all the colors
I don’t wanna ever love another
You’ll always be my thunder

So bring on the rain
And bring on the thunder

 

Perjalanan kita masih panjang. Aku akan melukis pelangi di sisi kananmu dan menggamit lengan kirimu. Tidak boleh ada lagi badai dan belukar berbiak di sisa jalan kita.

 

(Mey)

0

Pelangi, Bulan, Badai, dan Belukar

Dear Indra,

Dua surat terakhirku singkat sekali, ya. Bukan berarti bosan, justru aku bingung menemukan cara membuatmu tak jemu membaca suratku. Haha.

Aku menulis surat ini sambil menonton (500) Days of Summer. Tagline-nya menarik sekali.

This is not a love story.

This is a story about love.

 

Pun kutipan-kutipannya.

Just because she likes the same bizarre crap you do doesn’t mean she’s your soul mate.

There are no miracles, there’s no such thing as fate, there’s no such thing as love. It’s fantasy…

 

Sudahkah kau menontonnya? Cinta sering dikaitkan dengan kata selamanya. Selamanya, sepanjang hidup, sepanjang usia. Realitanya, hanya berlangsung selama seseorang masih menginginkan.

Coba ingat-ingat, apa saja yang kutulis dalam 3 surat terakhirku (termasuk surat ini)? Kau menunjukkan pelangi dan bulan, sementara aku memberimu badai dan belukar. Haha.

Jangan maafkan kelemahanku. Jangan maafkan kelemahanku.

(Mey)

0

Ini Bukan Doa, Tuan…

Dear Indra,

Untuk ukuran seseorang yang menyebut dirinya pendiam, entah mengapa, aku merasa kau (seperti) selalu (ingin) menulis banyak hal dalam suratmu, banyak pemandangan indah. Dan untuk seorang aku, sedikit sekali pemandangan yang bisa kulukis untukmu, pemandangan yang itu-itu saja. Kalau bukan karena hobi surat-menyurat yang kautularkan ini, entah kapan akan kusadari hidupku tak lagi menumpang di bangku-bangku jet coaster yang dinamis dan mendebarkan. Hidupku sudah tenang di pangkuan bianglala, duduk tenang, bergerak perlahan, dan melihat pemandangan indah yang itu-itu saja.

Lagu ya… Ada 1 lagu yang sering kudengarkan akhir-akhir ini, judulnya “Distance” dari Christina Perri & Jason Mraz.

Please don’t stand so close to me, I’m having trouble breathing

I’m afraid of what you’ll see, right now

I’ll give you everything I am

All my broken heartbeats until I know you’ll understand

Ini memang bukan doa, ini luka dan kecemasan, seperti itulah cinta, bagiku…

(Mey)

2

Sumur di Ladang Mulai Kering, Bung!

Dear Indra,

Masih sering hujan di kotamu? Di sini hujan sepanjang weekend. Mungkin bumi tampak dehidrasi, jadi langit terus-menerus meluapkan air. Haha.

Kautahu yang kubenci dari musim hujan dan angin seperti ini? Suhu dingin. Lututku, yang cedera berkepanjangan ini, nyeri sepanjang malam dan tak nyaman setiap digerakkan.

Sejujurnya, aku kehabisan ide. Apa lagi yang ingin kaudengar dariku? Seandainya surat mampu membawa nada-nada, aku akan bernyanyi untukmu, itu jauh lebih mudah. Haha.

Turunkan hujan salju dalam kepalaku, Indra. Will you?

(Mey)

6

#13HariNgeblogFF ~ Cintaku Mentok di Kamu

Teruntuk kamu, yang tak memberiku kata selesai

Tiga belas kali. Ya, tiga belas kali dalam tiga belas minggu terakhir, aku berkendara menuju kotamu ditemani tas travel berisi pakaian dan perlengkapan yang kusiapkan tiga belas minggu sebelumnya. Tiga belas kali kulewati jalan yang sama, beristirahat sejenak di rest area yang sama, pun mengisi bensin di tempat yang sama. Aku berhenti di depan pagar yang sama, memberanikan diri untuk membunyikan bel, namun urung. Entah apa yang membuatku gentar, kehilanganmu atau fakta bahwa kau sudah menghilangkanku dari benakmu.

Kau berhenti mengirim surat, mengganti nomor kontak, bahkan menonaktifkan seluruh akun social media dan email. Aku tahu, kemudahan jarang menyertai langkah kita. Jarak dan segala tetek bengek perjodohan yang dirancang orangtuamu, aku memahaminya. Mungkin ini giliranmu untuk memahami kedatangan surat ini sebagai keterpaksaan dan keputusasaan yang mendesakku tiga belas minggu belakangan. Aku menunggumu, Nara. Entah untuk kembali bersama memerangi badai atau, setidaknya, memberiku kata selesai.

(Dina)
***

Dear Dina,

Maaf. Maaf aku hanya bisa memberimu kata maaf. Aku, pada akhirnya, menikahi Tia bukan karena paksaan orangtuaku. Kebersamaan kami sejak kanak-kanak membuatku tak sadar seberapa dalam perasaanku padanya. Aku menghilang karena aku terlalu pengecut untuk meminta maaf. Maaf, aku hanya bisa memberimu kata maaf. Kebahagiaanmu adalah doa yang selalu kuamini, maka berbahagialah…

(Nara)

N.B.: Ini benar tulisan tangan Tia. Kuharap kau mengerti seberapa dekat kami.

“Halo, hei, kabarku baik. Suratmu sudah sampai. Sudah kusalin sesuai instruksimu. Tapi, bukannya ini terlalu kejam? Nara, aku akan segera menikah dengan Dio. Cepat atau lambat, Dina akan tahu.”

“Hei Tia, kau sedang memamerkan pacar selebritimu? Dina tak akrab dengan acara gosip, tenang saja.”

“Ah terserahlah. Sebenarnya kamu ke mana? Kapan hari, kata temen kantor, kamu kecelakaan. Tapi tiba-tiba hilang, Om dan Tante juga sulit dihubungi. Nggak ada alamat di suratmu kemarin, nelfon pakai nomor asing. Ada apa sih?”

“Nanti juga kamu tahu, kalau sudah waktunya. Sudah ya, Tia. Thanks for your help. Kapan-kapan, kutelfon lagi. See you…”

*klik* (suara telepon dimatikan)

“Terima kasih, Ma… I love you…”

“Nara, anakku sayang, ikhlaskan Dina, biar Mama jadi tangan dan kaki kamu, selamanya…”

[Mey] [@meyDM]

2

Aku Butuh Tinta Saat Tersesat

Dear Indra,

Aku menulis sesuatu. Bukan untukmu, memang. Tulisan ini tidak sedang kutujukan untuk suatu sosok tertentu. Bukan karena kau tak penting, sama sekali bukan karena itu. Hanya, seorang teman sering berpesan padaku: “Pada dasarnya, manusia tak pernah menulis, melukis, maupun mencipta sesuatu yang ditujukan untuk manusia atau makhluk lainnya. Manusia menulis, melukis, maupun mencipta sesungguhnya untuk mencari dan menemukan tujuannya, muaranya.”

Teruntuk engkau, yang mencintai keheningan
Aku mengerti, engkau mencintai hening sebesar ranting-ranting mencintai dedaunan
Seperti tangis pilu yang terdengar pada malam-malam musim gugur
Tak satu daunpun ingin jatuh, tak satu rantingpun cukup kuat untuk memeluk
Seperti itulah Tuhan melukiskan takdir sepasang kekasih
Tak semua angan bisa menyatu dalam ingin, kadang beberapa angan dicukupkan dalam dingin kenangan

Teruntuk engkau, yang mencintai keheningan
Aku berhenti melangkah di batas terluar hutan batinmu
Sebab aku tak mampu menerka akan jadi apa tubuhku kelak jika terus menapak
Aku ingin menjadi sebatang pohon, tempat bersandarmu
Dengan bebatuan api di sekelilingnya, untukmu menghangatkan diri
Namun, bisa saja aku ditakdirkan sebagai jamur beracun, membuatmu luka dan mati

Teruntuk engkau, yang mencintai keheningan
Aku butuh tinta saat tersesat
Aku akan melukis untuk menemukanmu
Pemandangan indah yang memahat senyum di setiap topengku
Aku ingin melukismu.
Aku akan melukismu.

(Mey)

[Mey] [@meyDM]

2

Cintaku Sepanjang Bentang Kereta Ekonomi

Dear Indra,

Siang ini mendung. Hujan yang kutunggu-tunggu belum juga menyapa. Padahal sudah kusengaja tak keluar rumah hari ini. Ah, manusia memang makhluk egois. Saat sedang tak beraktivitas, mengharap hujan datang. Lain waktu, saat sibuk, riuh mencerca hujan. Haha.

Hei, ceritamu berkendara dengan bus mengingatkanku pada pengalaman unik saat traveling ke Bandung beberapa minggu lalu. Salah satu hobiku adalah traveling sendirian. Berbekal 1 ransel kecil (ya, cukup 1 ransel kecil, haha), aku pergi ke Bandung. Sendiri, ditemani selembar tiket kereta api ekonomi dan 2 buah buku puisi. Kau (dan banyak orang yang mendengar cerita ini) pasti berpikir aku perempuan yang nekat. Haha, yes, I am! Tapi, nekat yang penuh pertimbangan, jadi tenanglah. Tuhan dan doa orang-orang yang menyayangiku jadi pelindung terampuh dalam setiap perjalanan yang kutempuh (:

Saat itu, aku duduk sebangku dengan seorang laki-laki. Ternyata kami sekampus, kebetulan ia dan sahabatku di kampus dulunya teman satu sekolah. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk saling akrab. Beberapa jam berlalu, seorang penumpang lain yang naik dari Blitar duduk di sebrang kami. Ia juga laki-laki, di sinilah petualanganku dimulai. Laki-laki yang duduk di sampingku, sebut saja Arya. Laki-laki yang duduk di sebrangku dan Arya, sebut saja Dika. Apapun nama yang kugunakan, toh kau tak mengenalnya, iya kan? Haha.

Jadi begini, Dika ini ramah sekali. Sepanjang perjalanan, ia sering mengajakku dan Arya mengobrol. Saat kereta kami sudah mendekati Bandung, Arya berbisik padaku, “Kayanya si Dika naksir kamu deh. Liat aja, bentar lagi pasti minta nomer hp atau pin BB. Haha!” Dan benar saja, setelah turun dari kereta, Dika meminta pin Blackberry-ku. Karena tak enak menolaknya, akhirnya kuberikan saja, kemudian kami berpisah jalan.

Setibanya aku di hotel, Dika mengirim pesan. Katanya, “Ntar malem ketemuan yuk!” Kudiamkan saja, tak kubalas. Haha. Beberapa menit kemudian, ia mengirim pesan lagi. Aku mulai malas dan berpikir untuk menghapusnya dari daftar kontakku setelah membaca pesan yang ia kirim. Tetapi, aku berubah pikiran. Kau tahu pesan apa yang Dika kirim padaku?

Katanya, “Mmm, maaf kalau kamu jengkel atau salah paham, Mey. Tapi aku beneran pengen ketemu kamu. Juga, tolong ajak Arya ya. Aku pengen kenal dia lebih jauh. Mmm, yes I am gay. Aku naksir Arya… Kamu keberatankah? Maaf ya…” Hahahahahaha, mana bisa aku tak tertawa setelah membaca pesan itu? Akhirnya kusanggupi ajakan bertemu itu dan tak lupa kuajak Arya. Kisah selanjutnya? Ah, itu bukan urusan kita lagi. Haha!

Kau senang menggambar, ya? Aku jadi penasaran. Saat kau tengah melamun, merenungkan ide-ide untuk konsep barumu berikutnya, gambar-gambar seperti apa yang terlintas dalam benakmu? Di tempat seperti apa biasanya kau senang merenung? Apa dahimu berkerut saat kau tengah berpikir keras? Haha. Bawel sekali aku ini.

Lain waktu, lukiskan sesuatu untukku. Gambar seperti apa yang terlintas di benakmu saat kau tergelak membaca suratku. Will you?

Oh, satu lagi, kalau kau tak terbiasa memperhatikan orang-orang di sekitarmu, biar kulakukan untukmu. Itulah fungsinya dua hati, saling melengkapi (:

Selamat melamun, Indra. Selamat melukis!

(Mey)

[Mey] [@meyDM]

1

Sepasang Kekasih dan Sepiring Gulai Ikan

Dear Indra,

Selamat dini hari… Iya, aku tahu kau benci kebiasaan buruk tidur larut malamku. Berhenti mengomel dan segeralah tidur. Haha.

Seperti apa hari Minggumu? Seringkah kau tersenyum seperti biasa? Semoga saja begitu. Hari ini seorang teman bertanya padaku, “Masih belum benci dengan jarak, Mey?” Jawaban seperti apa yang sebaiknya kuberikan, jika kau jadi aku?

Kupikir, ada ribuan alasan yang bisa dicari-cari jika manusia ingin membenci (atau menyukai) sesuatu. Aku tak ingin membenci jarak, meskipun karenanya, aku sering tak punya teman setiap mengunjungi perpustakaan, saat ingin bersantai dan menulis di kafe, atau sekadar menikmati masakan padang favoritku.
Kemarin (siang ini :p), akibat hujan deras, hampir setengah hari kuhabiskan di rumah makan padang langgananku dekat kampus. Seperti biasa, kupesan seporsi gulai ikan tanpa nasi lalu duduk di sudut belakang. Iya, aku (lagi-lagi) tahu kau tak suka kebiasaanku menghindari nasi. Haha. Sudah, berhentilah mengeluh dan dengarkan saja ceritaku hari ini.

Di depanku, ada sepasang kekasih yang, nampaknya, sedang kurang akur. Mereka hanya sesekali saling bicara, berbisik pula. Sesungguhnya aku penasaran, sayangnya pembicaraan mereka tenggelam oleh percakapan pengunjung lain yang lebih lantang. Lamat-lamat kudengar mereka menyebut-nyebut kata jenuh di antara bisikan-bisikannya. Jenuh, juga jarak, adalah hal-hal yang jarang kupikirkan. Bukan karena tak penting, hanya, kau tahu manusia begitu mudah membenci (maupun menyukai) hal-hal yang sering mereka pikirkan. Itulah sebabnya aku jarang memikirkan jarak, maupun jenuh. Aku tak mungkin menyukainya, pun tak ingin berlebihan membencinya. Bagaimana denganmu? Apa yang sering dan jarang kaupikirkan?

Seringkah kau memikirkan jarak? Atau jenuh, seperti sepasang kekasih di depanku ini? Mereka benar-benar unik. Sedari tadi hanya duduk diam sambil sesekali berbisik tanpa memesan apapun. Pemilik rumah makan maupun pengunjung lain tak mempermasalahkan itu, padahal rumah makan ini cukup ramai. Unik, bukan? Mungkin karena mereka sama-sama langsing, tidak makan banyak tempat duduk, dan tidak bising. Entah mengapa, aku suka sekali memperhatikan sepasang kekasih di depanku ini.

Tiba-tiba petir menggelegar. Aku terkejut sekali. Kau tahu, aku benci kilat, petir, dan segala macam suara keras yang menyertainya. Lebih terkejut lagi ketika salah satu dari sepasang kekasih di depanku ini, entah yang mana, berkata, “Sudah waktunya kita berpisah sementara…” Ah, jangan kaupikir mereka sedang bertengkar. Haha. Terlihat sekali mereka saling mencintai, juga saling membutuhkan. Atau, saling mencintai karena saling membutuhkan. Atau (lagi) saling membutuhkan sehingga lama-kelamaan saling mencintai. Entahlah, manapun yang benar, pada akhirnya mereka tetap saling mencintai.

Sepasang kekasih di depanku ini, sepasang mur dan baut yang memperkuat sudut meja di rumah makan. Saat terpisah, mereka saling membutuhkan. Sepasang mur dan baut yang terpisah tak akan mampu memperkuat meja, bukan? Namun kadang, jika tak dirawat dengan benar, sepasang mur dan baut yang terlalu lama bersama bisa saja berkarat, lalu mereka tersiksa dan meronta ingin berpisah. Setelah berpisah sementara, setelah karat dibersihkan dari sela-sela jari mereka, saat itulah sepasang mur baut kembali saling merindukan, saling membutuhkan.

Itu ceritaku hari ini. Apa ceritamu? (:

(Mey)

[Mey] [@meyDM]

1

My Letter to Juliet

Listen. Listen to me very carefully. I live in London, a gorgeous, vibrant, historic city that I happen to love living in. You live in New York, which is highly overrated… But since the Atlantic Ocean is a bit wide to cross every day, swimming, boating or flying, I suggest we flip for it… And if those terms are unacceptable, leaving London will be a pleasure, as long as you’re waiting for me on the other side. ‘Cause the truth is, I am Madly, Deeply, Truly, Passionately in Love with You.from Letters to Juliet (imdb)

Film Letters to Juliet (2010) terinspirasi dari Juliet’s Balcony, sebuah objek wisata romantis di Italia, dengan sebuah balkon (tempat Juliet menunggu Romeo) serta dinding penuh tempelan dan coretan (tempat wisatawan menempelkan surat cinta atau menggambarkan pengakuan cinta mereka). Film ini berkisah tentang petualangan cinta seorang wanita yang berawal (dan berakhir) dari kunjungannya ke Juliet’s Balcony dan membaca sepucuk surat cinta misterius yang tersembunyi di balik dinding bata.

So, this blog post should’ve been about love letter, or love itself, or should’ve not?

I’m sorry, I didn’t know love had an expiration date.from Letters to Juliet (imdb)

This is a love letter, from a woman to a man. They aren’t lovers. This is a love letter, from a woman to her bestfriend, from Aina to Gio.

*

Dear Gio,

Sedang apa? Masihkah kau sibuk dengan botol bir dan bulir keemasan melahap tapak-tapak polosmu? Sudahkah kausiapkan buah tangan untukku?

I feel so insecure, for God’s sake. Oke ini (seharusnya) surat cinta, akan kutulis dengan bahasa yang lebih manis, untukmu.

“Memangnya tahu apa kita soal cinta? Kenapa surat cinta ini ditujukan padaku?” Aku tahu, pertanyaan semacam ini pasti menggelitik benakmu, selanjutnya tertumpah dalam new text messagemu (padaku) beberapa menit kemudian. Haha. Terbayang tawa kecilmu yang keheranan, how can I be this insecure?

Aku jatuh hati, Gio, pada Ia-yang-namanya-tak-boleh-disebut. Aku jatuh hati, sekali lagi. Bukan sebab lakunya, tatapnya, ataupun nyanyiannya. Ia membuatku merasa aman, mencintainya membuatku merasa aman, meski diam-diam.

Ya, benar ucapmu, aku menyedihkan. Sekali lagi merantai diri pada masa lalu. Memang apa lagi yang bisa kulakukan? Apa lagi yang mungkin kulakukan? Mencintai Ia diam-diam, membuatku merasa aman. Aku cukup terbiasa dengan diamnya, cukup merelakan ke(pura-pura)tidaktahuannya, pun cukup memahami pilihannya tentang akhir kami. Kalaupun Ia tahu dan peduli, bagiku itu sekadar bonus dari semesta. Aku terbiasa dengan hening dan rasa aman semacam ini.

(mencoba) Mencintai orang baru sering membuatku gelisah. Oh, hentikan tawamu sejenak, Gio. Aku tak mampu memikirkan kata yang tepat selain gelisah (yang mungkin bagimu terdengar terlalu ‘hijau’).

Mencintai orang baru menimbulkan kembang api dalam benakku. Aku mulai berharap, ini menyengsarakan. Aku mulai menunggu, ini menjemukan. Aku mulai membuat rencana-rencana, menyesuaikan rencana lamaku dengan mimpi-mimpi baru, ini menakutkan.

Gio, aku sangat terbiasa dengan hidup yang almost flat beberapa tahun ini. Selama mencintai Ia-yang-namanya-tak-boleh-disebut, aku cukup tenang menumpahkan doa dan rasa dalam hening, dalam bebait puisi yang paling bening. Tak perlu mengangankan menculik sebagian tatap, laku, pun nyanyiannya. Sebab sebagiannya telah ranum kuamankan dalam kotak pandora, di dasar rongga dada. Sudah cukup kenang pelukan pun kecupan kurekam dalam pita-pita ingatan. Sudah cukup kureguk bahagia yang tak pada tempatnya. Sudah cukup, Gio.

Aku merasa aman, karena sedari awal sudah siap tidak dipedulikan. Aku merasa aman, karena sedari awal sudah siap menyembunyikan kenyataan. Aku merasa aman, karena sedari awal sudah cukup jelas ini yang terbaik bagiku, baginya, bagi kebahagiaan. Aku terbiasa menghabiskan rindu berselimut rasa aman, meski perlahan terlupakan.

Sempat, Gio, aku memberanikan diri mencoba hal baru. Hal baru yang pastinya kautertawakan di tempat rebahmu. Haha. Lanjutkan saja tawamu, akupun tertawa, membodoh-bodohkan diri sendiri. Aku menceburkan diri dalam keremangan yang tak pasti, ingin berburu cahaya, yang sedari awal jelas susah tertangkap mata. Segala yang menarik pada awalnya, terutama saat aku (merasa) menemukan seberkas cahaya. Sayangnya, berkas itu memburam. Entah terbawa arus atau aku menyelam terlalu dalam. Aku menggigil, Gio. Dinginnya keremangan ini memangsa persediaan rasa amanku. Aku mulai mengkhayalkan beribu cekikan halus menyengat tengkuk, melemahkan indera perasaku. Dan, Gio, aku benar melumpuh. Entah nyata, entah sebab khayal semata.

Saat itulah aku mulai mengingatnya, cinta diam-diamku. Ia yang kukunci-mati dalam kotak pandora. Haruskah kubuka atau biar Ia lenyap saja?

Cinta memang dengan mudahnya memberi ribuan kebahagiaan, namun seringkali sulit memberi setitik rasa aman. Aku menuruti saranmu, Gio. Biar masa lalu lenyap saja, terpagut pasir isap dalam rongga dada. Biar kunikmati saja keremangan ini, berenang lebih lama dan berburu tepi.

Sampai jumpa di akhir perjalananmu, Gio.

-Aina-

(BERSAMBUNG)

Bagian kedua berjudul “Luka Parut pada Pipinya Bercerita” dapat dibaca di sini.

0

Love Letter II

Dear Cinta,

Mungkin sekarang kau sedang tidur. Mungkin juga belum. Entahlah, mendadak aku ingin mengirim surat untukmu.

Bagaimana kabarmu di sana? Semuanya lancar? Kau tak sedang bermasalah, kan?

Hmm… Cukup seulas senyum saja sudah cukup membuatku lega. Setidaknya kau baik-baik saja. Terawat dengan baik di sana.

Baru saja aku memimpikan Ayah. Kami duduk bersama di sofa, menonton pertandingan sepak bola favorit kami sambil makan lumpia mini. Kami tertawa dan bersorak bersama. I think I miss him..

Hari ini, sepanjang hari aku tertawa, bersenang-senang bersama sahabat. Aku senang, senang sekali. Hanya, ada sedikit perasaan aneh. Entahlah, sepertinya aku teringat ayah dan ibu.

Rasanya aneh. Di satu sisi aku tertawa dan bersenang-senang sepanjang hari, sementara di sisi lain, orang-orang yang kusayangi sedang berjuang keras.

Tak bahagiakah mereka? No, they’re happy,very much.

Apa mereka tak pernah bersenang-senang? No, they always had their good times with their own way of thinking.

Jadi apa yang membuatku merasa aneh? Hmm… Ada sedikit perasaan bersalah saat aku menyadari, di sini aku sering sekali bersenang-senang tanpa tujuan yang jelas sementara di sana orangtuaku sedang berjuang keras dan tetap bisa menikmati hidup mereka.

Mereka berjuang demi hal-hal yang mereka anggap penting dengan cara mereka sendiri, sementara aku? Apa yang sudah kuperbuat di sini, Cinta? Just having fun. What a miserable thing…

Aku juga ingin berjuang, berjuang bersama mereka demi hal-hal yang kuanggap penting dengan cara yang kupilih sendiri. I’m their only daughter, for God’s sake.

Cinta, aku lelah. Kurasa aku butuh berbaring sejenak lagi. Sampai berjumpa lagi, entah kapan…

With Love,

Cinta…

 

Sumber gambar: http://senoritaglamourista.blogspot.com

0

Love Letter I

Dear Cinta,

Mungkin sekarang kau sedang tidur. Hari ini hujan dan muram. Pasti kau malas keluar rumah. Seperti kebiasaanmu selama ini, sambil mendengar lagu favoritmu, Jason Mraz – A Beautiful Mess.

Jason Mraz

(Our favorite singer, at that time)

Maaf aku tak bisa menemanimu di rumah. Kau tahu aku punya kebiasaan buruk sukar mengingat jalan (jangan tertawa!). Tetapi aku di sini, berdiri menatap ke luar jendela, berharap angin meniupkan sejuk di antara muramnya suasana hatimu.

Beberapa malam lalu, aku memimpikanmu. Kau duduk di sampingku, di ruang kelas kita yang biasa. Entah mengapa, kau hanya memandangku dan terdiam. Apa artinya, Cinta?

Hmmm, sudah malam, Cinta. Aku perlu mandi dan makan malam. I’ll see you tomorrow.

With Love,

Cinta

 

Sumber gambar: http://coverlaydown.com