0

Darimu, Tuhan Meminta SeparuhNya Kembali

Di sisa malam yang tinggal sepenggalah
Seorang perawan mengaduh, setengah
Separuh dirinya terpagut usia
Separuh dirinya menua lebih cepat dari yang mampu diterka

Malam itu, kenyerian menggelitik perutnya
Kengerian menarik-narik baju dalamnya
Mereka, birahi yang memohon disentuh
Hilang arah di penjuru tubuh, serupa kapal putus sauh

“Inikah yang kaujeritkan, kekasih?”
“Inikah yang kausebut betapa malam itu teramat pedih?”
Wanita itu terbahak, sepasang matanya mendidih
Tak jelas apakah ia menangis, atau merintikkan bebuih putih

“Beri maaf, Tuhan, beri maaf hambaMu nan laknat.”
“Teramat penuh separuh lain dalam sebagian diriku.”
“Separuh rusuk kekasihku, separuh tapak kaki ibu.”
Tampak separuh-separuh itu berlomba mengecup tengkuknya, hingga jatuh penat

Mungkin ini sebentuk hukuman, bagi perawan yang kerap berlagak lupa ingatan
Lupa dengan apa, untuk apa ia didewasakan
Kini, saat sebagian dirinya penuh terisi
Tuhan meminta separuhNya kembali

[Mey] [@meydianmey]

0

Buah Karya Tuhan

Mengenalmu,

sebagianku beranjak kekal,

mengabai ajal,

buah karya Tuhan paling bengal.

Biar aku memelukmu,

sekali waktu,

sebelum pelangi seluruhnya biru.

 

Haruskah kenangan menjelma angin begitu dingin?

Buah karya Tuhan yang tak tersentuh ingin.

Beribu gagasan rumit,

menepikan rindu yang tak sedikit.

Kenang menyisa air mata,

tak terjamah tatap-tatap fana.

 

Buah karya Tuhan penepi pilu.

Sungging lengkung bibirmu,

(kembali) utuhkan aku.

0

Menyambung Ujung Juli

Sebuah Kolaborasi Puisi yang ditulis oleh @meydianmey dan @penagenic

@meydianmey:
satu, dua, tiga tawa tak lekang dalam ingatan
porandanya malam dalam buaian
penyambung lidah fana dengan Tuhan

satu, dua, tiga letusan memburu jeda-jeda
ruang antara kami dan neraka
tangan kanan Tuhan masih dipenuhi cahaya

satu, dua, tiga derap membahana
memburu surga di sudut-sudut gerbong kereta tua
ratap, kutuk, doa, tak lagi beda serunya

satu, dua, tiga tawa kembali tawa
jelang surga yang serupa surga
ngeri dalam kepala sejenak terpinggirkan dalam dada
nyeri tak terlupa, mereka mengintai dari balik jendela

*

@penagenic:
dalam putaran yang kau hitung, puan
waktu seakan lumpuh
bersimpuh tepat pada angka yang melahirkan tanya

mengarat pada dingin yang tak pernah menyerah
membekukan akhir Juli yang kian menipis, lemah

sementara takdir, terlalu senang mengirim tangis bagi mata
menerkam setiap kemarahan yang tak pernah punya alasan

kenangan yang ditiriskan ingatan, masih menjadi tanya
apakah ini dosa?
atau himpitan mimpi yang belum ketemu jawabnya?

aku tergelitik dengan hitunganmu, puan
yang jatuh seperti doa-doa malam
tempat sujudku menyampaikan gelisah kepada Tuhan

kusepuh bersama airmata yang tak membicarakan kepergian
karena sebaiknya hidup, adalah melipat pertanyaan menjadi jawaban
kepada Tuhan, kita serahkan lembar demi lembar

[Mey] [@meydianmey]