0

Pelangi, Bulan, Badai, dan Belukar

Dear Indra,

Dua surat terakhirku singkat sekali, ya. Bukan berarti bosan, justru aku bingung menemukan cara membuatmu tak jemu membaca suratku. Haha.

Aku menulis surat ini sambil menonton (500) Days of Summer. Tagline-nya menarik sekali.

This is not a love story.

This is a story about love.

 

Pun kutipan-kutipannya.

Just because she likes the same bizarre crap you do doesn’t mean she’s your soul mate.

There are no miracles, there’s no such thing as fate, there’s no such thing as love. It’s fantasy…

 

Sudahkah kau menontonnya? Cinta sering dikaitkan dengan kata selamanya. Selamanya, sepanjang hidup, sepanjang usia. Realitanya, hanya berlangsung selama seseorang masih menginginkan.

Coba ingat-ingat, apa saja yang kutulis dalam 3 surat terakhirku (termasuk surat ini)? Kau menunjukkan pelangi dan bulan, sementara aku memberimu badai dan belukar. Haha.

Jangan maafkan kelemahanku. Jangan maafkan kelemahanku.

(Mey)

Iklan
0

Ini Bukan Doa, Tuan…

Dear Indra,

Untuk ukuran seseorang yang menyebut dirinya pendiam, entah mengapa, aku merasa kau (seperti) selalu (ingin) menulis banyak hal dalam suratmu, banyak pemandangan indah. Dan untuk seorang aku, sedikit sekali pemandangan yang bisa kulukis untukmu, pemandangan yang itu-itu saja. Kalau bukan karena hobi surat-menyurat yang kautularkan ini, entah kapan akan kusadari hidupku tak lagi menumpang di bangku-bangku jet coaster yang dinamis dan mendebarkan. Hidupku sudah tenang di pangkuan bianglala, duduk tenang, bergerak perlahan, dan melihat pemandangan indah yang itu-itu saja.

Lagu ya… Ada 1 lagu yang sering kudengarkan akhir-akhir ini, judulnya “Distance” dari Christina Perri & Jason Mraz.

Please don’t stand so close to me, I’m having trouble breathing

I’m afraid of what you’ll see, right now

I’ll give you everything I am

All my broken heartbeats until I know you’ll understand

Ini memang bukan doa, ini luka dan kecemasan, seperti itulah cinta, bagiku…

(Mey)

2

Sumur di Ladang Mulai Kering, Bung!

Dear Indra,

Masih sering hujan di kotamu? Di sini hujan sepanjang weekend. Mungkin bumi tampak dehidrasi, jadi langit terus-menerus meluapkan air. Haha.

Kautahu yang kubenci dari musim hujan dan angin seperti ini? Suhu dingin. Lututku, yang cedera berkepanjangan ini, nyeri sepanjang malam dan tak nyaman setiap digerakkan.

Sejujurnya, aku kehabisan ide. Apa lagi yang ingin kaudengar dariku? Seandainya surat mampu membawa nada-nada, aku akan bernyanyi untukmu, itu jauh lebih mudah. Haha.

Turunkan hujan salju dalam kepalaku, Indra. Will you?

(Mey)

2

Aku Butuh Tinta Saat Tersesat

Dear Indra,

Aku menulis sesuatu. Bukan untukmu, memang. Tulisan ini tidak sedang kutujukan untuk suatu sosok tertentu. Bukan karena kau tak penting, sama sekali bukan karena itu. Hanya, seorang teman sering berpesan padaku: “Pada dasarnya, manusia tak pernah menulis, melukis, maupun mencipta sesuatu yang ditujukan untuk manusia atau makhluk lainnya. Manusia menulis, melukis, maupun mencipta sesungguhnya untuk mencari dan menemukan tujuannya, muaranya.”

Teruntuk engkau, yang mencintai keheningan
Aku mengerti, engkau mencintai hening sebesar ranting-ranting mencintai dedaunan
Seperti tangis pilu yang terdengar pada malam-malam musim gugur
Tak satu daunpun ingin jatuh, tak satu rantingpun cukup kuat untuk memeluk
Seperti itulah Tuhan melukiskan takdir sepasang kekasih
Tak semua angan bisa menyatu dalam ingin, kadang beberapa angan dicukupkan dalam dingin kenangan

Teruntuk engkau, yang mencintai keheningan
Aku berhenti melangkah di batas terluar hutan batinmu
Sebab aku tak mampu menerka akan jadi apa tubuhku kelak jika terus menapak
Aku ingin menjadi sebatang pohon, tempat bersandarmu
Dengan bebatuan api di sekelilingnya, untukmu menghangatkan diri
Namun, bisa saja aku ditakdirkan sebagai jamur beracun, membuatmu luka dan mati

Teruntuk engkau, yang mencintai keheningan
Aku butuh tinta saat tersesat
Aku akan melukis untuk menemukanmu
Pemandangan indah yang memahat senyum di setiap topengku
Aku ingin melukismu.
Aku akan melukismu.

(Mey)

[Mey] [@meyDM]

0

Temaram Tengah Malam

Seharusnya aku tidur. Ya, seharusnya aku memejamkan mata dan beristirahat. Tubuh ini sudah cukup lelah walaupun akal serasa tak henti berkelana.

Di sinilah aku, bersandar di dinding lembab dan berkoar-koar di blog. Ditemani seorang teman dari Lawang dan Geisha nembang di belakang.

Entah sejak kapan aku merasa hariku sedikit terasa kosong. Entah sudah berapa lama aku merasa waktu-waktu ini menjadi satu perseratus sia – sia. Ya, satu per seratus. Nilai yang cukup masuk akal dan rasional untuk effortku selama ini.

Aku merasa tertekan. Semakin lama semakin tertekan. Entahlah, bukan karena suatu masalah atau hal besar lainnya. Mungkin bosan, jenuh yang tertumpuk – tumpuk, mungkin juga ada ribuan cacahan pikiran tertumpuk di otakku yang saking banyaknya sampai aku tak bisa mengingat sekepingpun.

Aku merasa sangat tertekan dan beranjak depresi. Ya, depresi dalam senyum dan tawa. Itulah aku. Ironis bukan ? Seperti ironi dalam ironi.

Dan setiap kali aku merasa hidupku sangat ironis, hal pertama yang kulakukan adalah menulis. Merangkai kata-kata sinis yang membuatku (dan orang lain mungkin) semakin merasa seolah teriris.

Dan semakin kutulis, kisahnya jadi semakin tragis.

Aku ingin menulis cerita yang menyenangkan. Bukan untuk orang lain, setidaknya untuk diriku sendiri. Aku ingin menghibur orang lain, membuat mereka larut dalam bahagiaku, atau setidaknya aku ingin menghibur diriku sendiri.

Persis seperti temaram dini hari ini. Entah mengapa membuat orang – orang yang masih terjaga seringkali merasa sendu, seolah terbenam sepi dalam kesendirian bersama temaram dini hari ini.

 

Sumber gambar: http://hanyaandrea.blogspot.com