0

Separuh Wajahmu Selalu Menemukanku

Aku mengenang separuh wajahmu dalam ingatan

Bersama tempias pendar lampu yang kaucuri di setiap tikungan

Alangkah remang jelmaan surga paling sederhana, katamu

Di dalamnya, jemari kita riuh beradu

 

Memandang separuh wajahmu selalu membangkitkan bebait janggal

Menunggu ditumpahkan selepas air mata ini tanggal

Dalam layar putih, kau termangu

Kadang memandangku, lain waktu memandang kenanganku

 

Separuh wajahmu beradu dengan asap dan tudung tebal

Menyisa harum kenang penghangat bantal

Pantas saja, tidurku tak nyenyak

Tersengat bau tengkukmu, lelapku retak

 

Separuh wajahmu memanjang di kaki senja

Mungkin matahari bosan melukis bayang-bayang kita

Ia memilih benam, menuju remang

Tanpa tahu, di dalamnya tersembunyi surga kita yang hilang

 

Separuh wajahmu tampak kerap mengakrabi keremangan

Mungkin, di sanalah kau menemukanku, kau mengkhianati rembulan

Separuh wajahmu selalu meninggalkanku

Lain waktu, ia mengejar waktu, lagi-lagi menemukanku

0

Tertawa(lah)(kah) Kau Melihatku Sekarat

Bumi, belulang, berhala, dan segala yang mengabu dikecup waktu,
tak mampu lelapkan hari akhir,
meski hanya sejenak,
sekejap lebih lama dari yang mampu terpikir,
meski cukup sekadarnya detak.

Apa yang muncul dalam benakmu,
sepanjang satu-dua isapan cerutu,
sesaat jelang putus alir nadiku?
Tawakah?
Membahana sarat luka?
Air matakah?
Membadai gemuruh cita?

Sayang, lengkung bibirmu sungguh datar,
terpasung lesung pipi beku terkapar,
tak goyah meski bahuku gemetar.
Sayang, beri aku bingkisan,
berhias pita-pita senyuman.
Sebab mimikmu tak teramalkan,
menunggu diterjemahkan,
dalam bahasa kecupan.

[Mey] [@meydianmey]

0

Aku Benci Kau Mendua

Aku benci kau mendua,
menepikan rindu yang riuh bahana.

Aku benci kau mendua,
mengijinkan luka menukar lengkung bibir cita.

Aku benci kau mendua.
Kau tiada kala mala gelayut mata.

Aku benci kau mendua,
sebagianmu terasa tak nyata.

Aku benci kau mendua,
ingkar pada muara tautan lengan kita.

Aku benci kau mendua,
mendusta yang kausebut dengan selalu cinta.

Aku benci kau mendua.
Aku begini nestapa, kau begitu tiada.

Aku benci kau mendua.
Hatimu memuat senyum yang gagal kueja.

Aku benci kau mendua.
Segala kenang air mata yang enggan kuraba.

Aku benci kau mendua.
Lebih baik kita lenyap saja,
lalu bersama dalam tiada.

Aku benci kau menduakannya,
dengan merayakan kita.

[Mey] [@meydianmey]

0

Terima Kasih untuk Kamu, Kamu, dan Kamu (2)

Terima kasih, kamu, kesekian-kalinya melintas isi kepala,

menegaskan luka yang mulai kuanggap maya.

 

Terima kasih, kamu, menjelma kawan di perhentian luka,

penutup sekian kalinya bahagia, semoga.

 

Terima kasih, kamu; bahagia yang datang tetiba,

membungakan percaya di sudut-sudut gelap rongga dada.

 

Terimakasih, kamu, setetes indah dalam cangkir air mata,

menunggu tumpah.

Indah tetap terbaca indah,

meski berkubang ayat gelisah.

 

Terima kasih, kamu, memberi perpanjangan waktu pada sabar,

meringankan beban rindu serupa serpih kelakar.

 

Terima kasih, kamu, menyelipkan sedikit hatimu dalam setiap sahur dan bukaku.

Terima kasih, menyempatkan indah menjenguk lesung pipiku.

 

Terima kasih, kamu,

setitik merah jambu dalam garis pendek kelabuku.

0

Terima Kasih untuk Kamu, Kamu, dan Kamu (1)

Terima kasih, kamu, karena selalu pergi,

dan kali ini mungkin tak kembali.

Rupa-rupanya kaupun tahu,

mana yang terbaik untuk seorang aku.

Terima kasih, kamu, yang membuatku badai, seketika.

Semesta benar tahu mana yang terbaik untuk kita.

Bersama, memang tak ada sejak semula.

Terima kasih, kamu, yang membahana tawa, tetiba.

Semesta belum menyiratkan hari depan.

Semoga, kita tak pernah (terlalu lama) bersebrangan.

Terima kasih, kamu, kesekian kalinya melintas isi kepala,

menegaskan luka yang mulai kuanggap maya.

0

Bahagianya adalah Bahagiaku

Egoisme. Hasrat manusiawi untuk mengejar kebahagiaan sejati. Ketamakan. Kemunafikan.

Adakah yang bisa menunjukkan seberapa lebar jarak di antaranya?

Aku mengenalnya di saat yang kurang tepat, memang benar.

Aku memutuskan bahwa dialah yang kuinginkan di saat yang benar-benar tidak tepat, itu juga benar.

Aku bertanya padanya dan semua orang yang menyisihkan waktu untuk mendengar keluh kesahku, apakah aku salah? Apakah perasaanku salah? Dia dan mereka bilang tidak.

Aku bercermin dan bertanya pada diriku sendiri, apakah tindakanku benar? Bayang-bayangku mengangkat sebelah tangannya dan mencengkeram ujung kerahku. Ia menamparku dan memaki betapa aku seorang wanita rendah.

Aku bersandar di ujung ranjang. Menghela nafas dalam-dalam sambil memandang ke luar jendela. Sering kulakukan hal ini ketika aku resah. Teringat saat aku sering memaki wanita-wanita yang kuanggap rendah karena berbagai alasan, salah satunya karena senang mengganggu hal-hal yang bukan milik mereka. Dan saat ini akulah wanita rendah itu.

Sama sekali tak terbayang ingin mengganggunya. Hanya sejenak terpikir untuk meyakinkannya bahwa ada aku di sini untuknya. Itu saja, tidak lebih. Tetapi keadaan berubah di luar kendaliku. Tanpa kusadari hatiku dan hatinya telah tertaut sejauh dan sedalam ini. Dan kehadiranku mulai mengganggu.

Seberapa jauh antara egoisme dengan hasrat alamiah manusia untuk mengejar kebahagiaan sejatinya ? Dan seberapa jauh lagi jaraknya dengan ketamakan ? Atau seberapa dekat jaraknya dengan kemunafikan ?

Yang pasti kuhendaki adalah kebahagiaannya, entah denganku, entah dengan orang lain. Melihatnya bahagia jauh lebih penting daripada egoisme maupun naluri manusiawiku. Melihatnya bahagia dengan pilihannya. Melihatnya bahagia dengan jalan terbaik yang telah digariskan Tuhan untuknya.

Meskipun sesungguhnya belum sedikitpun kusiapkan diri dengan kondisinya yang jauh dariku. Meskipun sesungguhnya naluri manusiawiku menjerit pilu. Meskipun bahkan saat ini aku tak tahu apa yang kurasakan, kuinginkan, dan harus kulakukan untuknya. Meskipun dengan sadar kuakui perlahan aku sedang berjalan mendekati nerakaku sendiri.

Yang terpenting bagiku, dia tersenyum.

Akan kubiarkan dia menjauh, jika memang itu yang dimintanya. Dan aku akan menghilang. Menjalani hidupku dengan senyuman. Mencoba bahagia, menikmati jalan kebahagiaan yang telah aku pilih dengan sadar diri. Karena senyumnya adalah bahagiaku.

Sumber gambar:

http://kangwahyu.com

http://xinevitablexlovex.deviantart.com