Standar
0

Serial (13): Duka Purwarupa Bulan

(Terinspirasi dari serial drama Korea The Moon That Embraces The Sun)

Apa yang membuatmu kelabu?
Bulan pejam dalam rongga dada
Rupa-rupanya
rindu kerap tersesat
tak tera tujunya

Apa yang membuatmu biru?
Anak-anak sungai
riuh melintas bahu
jelang tapak-tapak berbatu
Adakah rindumu turut luruh?

Bulan murung
Sudikah kanda tengok
biarkan sembunyi
di punggung lesung pipit
Bersesak rindu
urung terlantun

Mengepaklah di sisiku
duhai purwarupa bulan
Merapatlah
matahari khusyuk memetik biru
usaikan rindumu

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan
Standar
0

Serial (9): Azimat Hidup

(Terinspirasi dari serial drama Korea The Moon That Embraces The Sun)

Sulur-sulur basah
bergelayut 2 depa
dari ujung tapak
Menjerat
menusuk-nusuk bahu
Bertanya
“Bagian mana yang gagal dikecap rindu?”

Aku
bersimpuh 2 depa
dari ujung tapak
Aku
dalam igaumu
ialah aku yang pejam
ribuan purnama di balik bahu
Aku
tak lagi aku

Aku
menapak keningmu
Henti berigau!
Hujan enggan simpuh
rongga dadanya terpasung

Peluhmu
amat sarat luka
tak lagi aku

Posted from WordPress for BlackBerry.

Standar
2

Storybook Children (6): Bertukar Isi Kepala

(Terinspirasi dari kisah Spongebob Squarepants)

Bahu yang kokoh
menyembunyi raut pasimu
melapuk ditelan jaman

Cemburukah kau pada pagi?
Berdamailah
setia berkawan matahari

Tunduklah!
Palingkan raut pasimu!
Semesta ini sarat gemerlap
aku tak hendak bertukar tempat

Saling menggelitik di titik nol
Jemariku, jemarimu
berlainan masa temu

“Mari bertukar tempat”
parau bisikmu
terpantul-pantul

Posted from WordPress for BlackBerry.

Standar
0

Serial (8): Bisikan Gerimis

(Terinspirasi dari serial drama Korea The Moon That Embraces The Sun)

Teruntuk cinta
yang urung menyata
ampuni aku, semesta

Titahku menyisa luka menggelepar
sarat bara

Langitpun enggan menyaksikan khianatku
Luka benar belumlah pudar
Sayang, nyala apimu tangguh
bergumul salju

Aku menculik bulan
untuk kunikmati seorang diri
Kusembunyikan rapat-rapat
di balik peraduan
Rindu ini
tak luput dari sedan

Posted from WordPress for BlackBerry.

Standar
0

Serial (6): Mahkota Putra Mahkota

(Terinspirasi dari serial drama Korea The Moon That Embraces The Sun)

Bapa menyabda
“Kamulah matahari
mengangkangi bumi
Pengemban segala rupa isi perut semesta”

Aku menangkap jeritan bumi
Bakaran abu kerap dilahapnya
Mereka giat menjerit
menyuara bara
Bagaimana boleh aku mengembannya?

Aku menangkap jari jemari matahari
Menggelitik segala rupa
di sebalik selubung
riuh mengetuk ketuk
Bagaimana boleh aku mengembannya?

Teruntuk bumi yang gagal kujejak
Teruntuk matahari yang rikuh kudekap
Bagaimana boleh aku mengembannya?

Posted from WordPress for BlackBerry.

Standar
3

I’m Not an Alien, I’m just a Worker

Hmmm, satu bulan. Yah, kurasa sekitar satu bulan, mungkin lebih sedikit, mungkin kurang sedikit. Waktu begitu cepat berlalu saat kita mendadak dapat kesibukan berlebih, saat kita mulai bermetamorfosis dari sesosok bed-aholic menjadi seorang workaholic. Ya, waktu sangat cepat berlalu.

Masih tercium pekat aroma bed-aholic itu, baru beberapa hari lalu, masih di gedung yang sama. Bagaimanapun juga, hari-hari itu (sepertinya) sudah berlalu. Sudah saatnya kita memikirkan jalan kita masing-masing, kata seorang sahabat. Kadang-kadang, di sela saat-saat (mau tak mau) workaholic itu, terasa juga sindrom rindu-rutinitas-bed-aholic. Melek siang, berangkat kampus, masuk kelas, plonga-plongo, keluar kelas, nongkrong, nongkrong lagi, nongkrong lagi dan lagi, pulang, bikin tugas, tidur tengah pagi, and so on. Sayangnya, hidup berjalan dengan dramatically dynamic. Dan hidupku, berjalan dua kali lebih dinamis secara dramatis (oke, ini terjemahan ala Google Translate).

Tidak ada lagi bangun siang, apalagi tidur tengah pagi. Tidak ada lagi plonga-plongo maupun nongkrong. Dan tidak lagi ada kampus. Hidupku, sebagian besar, sekarang diisi dengan bangun subuh, berangkat kantor, kerja (sambil ngusap keringat dan geleng-geleng kepala), denger adzan maghrib, lembur, pulang, masuk angin, mandi, tidur super awal, and so on. Hidupku berubah dengan dramatis.

Well, sebagian orang bilang saya sombong, sok sibuk, cuek, dan lain-lain, dan sebagainya, et cetera. Ok, it’s normal. Untuk seorang saya yang sering terlihat cengengesan dan kekanak-kanakan, perubahan status dari seorang mahasiswa menjadi mahasiswa sekaligus karyawan secara mendadak mungkin agak unbelievable. Meskipun menjengkelkan, saya memakluminya. Saya masih seorang saya yang sangat rendah hati, tidak bermaksud untuk jadi seorang saya yang acuh. Saya hanya seorang karyawan :D

Sebagian lagi bereaksi lebih positif, sedikit lebih memotivasi. Mereka berkata,”Wah hebat ya, sudah kerja, kapan nih traktiran gaji pertama? Ati-ati kuliah macet lho, ntar ga lulus-lulus kamu.” Yah, komentar yang sungguh menyenangkan di awal, kemudian membanting dan mengguling-guling di akhir. Ini masih reaksi normal, saya juga maklum. Tidak ada maksud untuk putus kuliah (juga tidak ada niat untuk bikin acara traktiran gaji pertama). Sekali lagi, ini adalah sebuah tanggung jawab, saya hanya seorang karyawan :D

This is a new world for me. New life, new people, new activities. I didn’t mean to forget all the past. I’m trying to be responsible for every choice I’ve made. Well, I’m not an Alien, I’m just a worker :D

Standar
0

Hari Terakhir

Ada yang mengkritisi paradigmaku hari ini. Hahaha. Honestly, it is not a cynical laugh. Although it might sound cynical when you really hear me laughing here.

Ada semacam perasaan senang saat membaca message dari seorang teman siang ini. Mengkritisi paradigmaku. Dia bilang aku ini kolot, egois, dan gengsian. Hahaha percaya tak percaya, postingan ini kutulis sambil cekikikan =D

Kesalkah ? Tidak, sedikitpun tidak.

Tersinggung ? Sama sekali tidak.

Dia juga bilang aku orang yang NATO, no effort.

Kalau orang lain yang dengar, mungkin teman itu sudah digaplok pakai rotan sampai pingsan.  Hahaha =D

But, thanks anyway for that dearest friend. Seperti yang kukatakan padanya barusan, aku memang perlu ditegur. Perlu dikritisi dan memang sedang ingin dicerca. Akhir-akhir ini terlalu banyak pujian yang membuatku sedikit lupa pada prinsip-prinsip utama yang selama ini melekat erat di benakku, terutama soal effort tadi.

Masalah dimulai saat aku tanpa sengaja mendiamkan seorang teman. Sama sekali tidak bermaksud mendiamkan sebenarnya. Hanya entah sejak kapan dia tidak menghubungiku lagi dan akupun tidak menghubunginya. Entah malas, entah memang gengsi, entah aku yang suka sok sibuk selama ini. Hal ini kemudian berlanjut hingga berbulan-bulan lamanya.

Sering ada rasa tak nyaman. Sering aku ingin menghubunginya, entah itu dengan telepon atau sekedar sms biasa saja. Namun entah mengapa tak kunjung kulakukan. Sesekali dia menghubungiku, namun komunikasi kami kembali terputus begitu saja. Bahkan saat inipun, saat entah bagaimana komunikasi kembali terjalin dan dia dengan berapi-api mengkritisi paradigmaku, kami hanya saling bicara melalui message facebook. Padahal bisa saja dengan mudah aku meneleponnya atau bagaimanalah.

Lucu ? Memang.

Konyol ? Iya.

Unik ? Sangat, menurutku.

Hal inipun sudah kuutarakan padanya siang ini, hanya lewat message facebook. Semalam aku sempat mengirim sms untuknya. Tahukah anda apa yang kukatakan padanya ? Isi sms itu hanya mengabarkan bahwa saya, Mey, sudah membalas messagenya di facebook. Hahaha ya ampun (lol)

Sebenarnya ada apa ini ? Mengapa lidahku jadi kelu dan tanganku mendadak lumpuh. Entah sejak kapan aku berubah autis dan apatis, hanya gemar berkomunikasi dengan tulisan. Bukan tidak mau berkomunikasi dengan kata – kata, hanya saja ada perasaan takut. Entah takut, entah bimbang. Rasanya aku kehilangan pegangan saat berhadapan dengan orang lain.

Tak terhitung berapa kali aku menolak ajakan bertemu dengan orang lain, sekalipun sebagian besar orang yang mengundang adalah teman-teman baikku sendiri. Bukan karena aku sombong atau mungkin malas, hanya saja ada perasaan takut dan bimbang. Entah mengapa.

Dan sekarang, setelah mendengarkan cercaan halus dari seorang teman tentang paradigmaku yang kolot dan perilakuku yang tampak no effort, aku mulai menyadari satu hal dan memikirkan beberapa hal. Bukan hal baru memang, hanya beberapa hal lama yang sempat terlupakan.

Effort dan tindakan aktual, sekalipun sangat kecil dan tidak terlalu tulus, kenyataannya jauh lebih berarti daripada segumpal kata-kata dan sebongkah perasaan yang sekedar disimpan dalam hati.